
Maya memperhatikan cowok ganteng berkulit sawo matang di depannya, tubuhnya kekar dan rambutnya ikal. Tubuhnya yang tinggi dan kekar dibalut kemeja warna krem dan celana panjang kain berwarna coklat tanah. Sosoknya sangat maskulin dan lumayan tampan, namun gadis lesung pipit berkulit putih itu sama sekali tak tertarik padanya.
“Dia siapa?”tanyanya pada Wulan sambil berbisik.
“Itu kan Si Boy! Teman satu angkatan kita yang lebih banyak gabung ke kelas sebelah,”sahut Wulan sambil mengerjapkan mata.
“Ouwh…..”
Maya hanya mengangguk dan tidak bisa mengingat sedikitpun mengenai cowok itu. Bahkan ketika otaknya dipaksa bekerja keras mengingatnya, semuanya akan sia-sia.
“Ini map kamu,”kata Boy sambil mengulurkan map warna biru ke tangan gadis itu.
Maya menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
“May…Ini aku Boy. Kita pernah jalan bareng. Kamu lupa?”
Gadis itu hanya memandang seseorang di hadapannya tanpa pernah mengenalnya, sangat asing.
“Yuk ah….ke kelas !”seru Wulan sambil menarik tangan Maya.
Boy yang tampaknya kurang berharga di mata Maya, sesungguhnya merupakan salah satu mahasiswa yang diidolakan oleh hampir semua fakultas. Terutama karena cowok itu aktif dalam kegiatan Mapala atau Mahasiswa Pecinta Alam. Salah satu penggemar berat Boy adalah Saskia, cewek kedokteran satu Angkatan dengan Maya yang lebih banyak berada di kelas sebelah. Seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran berjumlah 100 dibagi menjadi dua kelas dan mereka hanya bertemu dalam mata kuliah akbar atau mata kuliah umum.
Saskia merupakan sosok cewek tomboy yang dibesarkan dalam lingkungan militer yang keras. Ayahnya seorang TNI AD bergelar mayor jenderal dan sang ibu adalah pemilik sebuah sanggar bela diri karate paling besar di kota ini. Telah beberapa kali mereka mendaki gunung bersama. Saskia diam-diam mencintai Boy, yang menganggapnya tak lebih dari sekedar teman. Parahnya Saskia merupakan seorang cewek yang posesif dan mudah naik darah.
Pada suatu kesempatan, Maya dan Wulan makan siang di kantin rektorat yang megah laksana sebuah mall. Tak disangka Boy pun diam-diam menguntit mereka dan menyatakan keinginannya bergabung dalam satu meja.
“Boleh ya…Aku gabung dengan kalian?”ucapnya dengan sopan.
Maya hanya mengangguk, sementara itu Wulan hanya terdiam dan sibuk dengan ponselnya.
Malangnya di tempat yang sama, Saskia bersama tiga rekan ceweknya yang tergabung dalam gank lobi-lobi, yang terdiri dari Echa, Reni, dan Ira duduk di meja seberang.
Echa yang berpenampilan lebih mirip seorang laki-laki menginjak kaki Saskia sehingga cewek itu berteriak kecil kesakitan. Saskia adalah seorang cewek manis dengan tinggi 160 cm dan berambut bob yang sangat pendek.
“Aduh…Apa-apaan sih kamu! Main injak kaki orang,”gerutu Saskia dengan mata melotot kea rah Echa.
Kedua rekan lainnya hanya tertawa melihat pertikaian keduanya.
“Itu tuh…Kau lihat gebetanmu pedekate sama Maya. Gadis Jakarta yang konon dulu si pincang yang selalu juara kelas.”
Echa mulai memprovokasi, gadis badung nan tomboy itu memiliki karakter kurang baik sejak awal masuk kuliah. Sehingga
“Sotoy…Darimana kau tau soal itu?”tanya Saskia dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Ada deh…Dari temen aku beda fakultas,”sahut Echa santai sambil mengunyah permen karet.
Saskia menoleh ke arah meja seberang, ditatapnya dalam-dalam Boy yang sedang tertawa riang sambil bercanda dengan dua gadis di depannya.
Saskia yang pemberang bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri meja Maya.
Ia berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah dan bola mata terbelalak, kedua tangannya berkacak pinggang.
Boy menoleh dan menegur,”Salah apa kita?”
Saskia segera menarik rambut Boy yang meringis kesakitan. Wulan hanya tersenyum nyinyir. Sedangkan Maya hanya terbengong-bengong di kursinya.
“Lepasin! Rambutku bisa rontok kalau begini terus,”teriak Boy sambil meringis kesakitan.
Saskia melepaskan tarikannya, kini ia berada di samping Boy dan menggebrak meja di hadapan cowok itu sehingga tiga gelas berisi minuman di atasnya terpental ke atas, airnya menciprat keluar, membasahi meja.
“Udahlah sono! Kau pindah meja aja!”usir Wulan.
Boy tetap bersikukuh berada di dekat Maya. Gadis itu menggeser kursinya menjauh dari Boy.
“Dasar cowok gatau malu! Mereka udah menjauh tapi kamunya gatau malu!”seru Saskia sambil menjewer telinga Boy.
“Aduh…Aduh…Sakit. Apa hakmu memaksa aku? Memang kita ada hubungan apa?”tanya Boy sambil memegangi telinganya yang kesakitan.
“Mampus kau kalau jadi suaminya! Belum jadi pacar aja udah begitu. Yuk kita pergi,May!”kata Wulan sambil menarik tangan sahabatnya.
“Tunggu!”teriak Boy berusaha mengejar keduanya.
Saskia benar-benar marah, dipitingnya tangan si Boy dan dibantingnya ke atas tanah. Persis seperti dua orang berduel dalam arena bela diri.
“Hahahahahahahaha…”
Terdengar tawa ketiga rekan Saskia dari kejauhan. Spontan semua pengunjung kantin menyoraki keduanya. Seorang satpam datang mendekat dan melerai keduanya.
Wulan dan Maya telah berjalan menjauh dari kantin…
“Gila aja si Saskia. Posesif banget,”celetuk Wulan sambil bersungut-sungut.
“Ya namanya korban bucin,Lan.”
Maya menjawab dengan enteng tanpa mengetahui lebih lanjut tubuh Si Boy yang babak belur gara-gara jadi korban cinta cewek tomboy.
Masih di kantin rektorat..
__ADS_1
“Kasian juga Boy,”ucap Reni sambil memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Emosi wanita kalau sudah berbicara, semua akan end…”ucap Ira sambil tertawa sinis.
Di hadapan mereka, Boy dipapah oleh satpam untuk duduk di kursi sementara Saskia kembali ke mejanya semula dengan sorot mata menatap Boy penuh kebencian. Pokoknya antara cinta dan benci bercampur menjadi satu bagaikan es campur. Untungnya Si Boy juga belum sempat menikmati makanan, kalau tidak, bisa jadi semua makanan keluar dari perutnya akibat dibanting tadi.
Boy memegang punggungnya yang kesakitan, ia berjalan ke arah meja kasir dan membayar semua minumannya.
“Mas gak jadi pesan baksonya?”tanya kasir.
Boy melirik ke arah jam yang melingkar di tangan kirinya.
“Tinggal sepuluh menit lagi masuk kelas,Mbak.”
“Tapi sudah kami buatkan,Mas.”
“Ah sudahlah. Kalian makan saja. Saya bayar sekarang.”
Sang kasir hanya menggelengkan kepala sambil memencet mesin register.
Boy berjalan sempotongan dengan perut kelaparan.
“Kriuuk…Kriuuk…”
Rupanya cacing di perut cowok itu telah meronta-ronta ingin ikut menikmati makanan dari si pemilik lambung. Boy tidak tahan lalu berbalik ke kantin tadi.
“Mbak,bakso saya mana?”
“Untung belum kami makan. Tunggu sebentar,”kasir itu masuk ke dalam.
Tak lama kemudian seorang pelayan membawakan semangkuk bakso pesanan Boy ditambah sebuah air mineral dalam botol.
“Lho kok ada air mineralnya?”
“Kami gratiskan untuk mas. Soalnya dua temen cewek yang tadi bayarnya kelebihan.”
Boy hanya mengangguk-angguk. Kini ia berpacu dengan waktu dan menghabiskan baksonya dalam waktu secepat mungkin.
“Akhirnya….”
Boy merasakan perutnya kenyang tapi keringat membanjiri keningnya, bibirnya pun menjadi korban saus sambal yang pedas dan kuah yang panas.
Boy kembali ke kelas dengan tubuh kesakitan dan bibir merah layaknya seorang petinju yang habis kena bogem mentah lawannya.
__ADS_1