
Di Desa Sukapura,Lampung Selatan, para tamu juga sedang menikmati hidangan ayam goreng yang nikmat,disajikan sang pemilik rumah yang tengah menggelar acara pernikahan. Karti nampak sangat cantik dalam busana adat tulang bawang,kulitnya yang sawo matang tampak sangat eksotik. Membuat para tamu berdecak kagum dan nyaris tak mengenali wanita itu. Don tampak duduk dengan gagahnya di pelaminan, wajahnya tampak berbinar-binar bangga, hari itu resmi menyandang warga Desa Sukapura sekaligus suami sah dari janda beranak dua.
Hiburan orkes dangdut yang melantunkan irama dangdut slow membuat suasana menjadi riuh, beberapa pemuda maju mendekati sang biduan yang mengenakan pakaian dengan warna mencolok, mengajaknya bergoyang bersama dan sesekali ikutan menyanyi. Gelak tawa para hadirin pun pecah, beberapa tamu wanita saling berbisik-bisik dan tersenyum.
“Liat tuh suaminya si Karti. Orang kota banyak duit!”kata seorang ibu setengah baya yang berbisik pada anak perawannya.
Sang anak perawan hanya menganggukkan kepala dan memandang pada pasangan pengantin yang berbahagia.
Don tampak pongah, ia merasa orang banyak uang di kampung ini. Hidangan di meja dipesannya dari pusat kota Lampung, nyaris semua menu makanan ada di sana. Bahkan kambing guling dan es krim warna-warni pun tersedia sehingga membuat para anak betah berlama-lama di pesta hajatan yang melimpah ruah dengan tamu yang berdatangan dari berbagai desa lain. Tenda biru yang terpasang di depan rumah Karti dipasang melebar hingga ke ujung gang. Bunga-bunga dan janur kuning pun dapat disaksikan saat seseorang baru melangkahkan kaki di ujung gang.
Seorang preman pasar ditugaskan di tepi jalan untuk mengatur sepeda motor dan para tamu yang lalu lalang, layaknya seorang tukang parkir.
“Niku aga dipa (Mau kemana kalian)?”sapanya pada sepasang pemuda pemudi yang berpakaian rapi dan berjalan turun dari angkot.
“Nyak mejong!”(Mau duduk di hajatan)
Sang preman pun mengantarkan dua tamunya berjalan menyusuri jalan setapak di desa itu yang sudah dihias sepanjang jalan. Nampak teduh dan indah, terlebih di sepanjang jalan digelar karpet warna merah. Cuaca siang itu sangat terang, udara tak terlalu panas,namun tidak juga hujan.
“Siapa tamu tadi?”bisik Don ke telinga Karti.
“Mantan suami saya. Itu selingkuhannya dulu. Sekarang jadi istri sahnya.”
Don menganggukkan kepala tanda mengerti, istri baru laki-laki itu jauh lebih muda dibandingkan Karti yang kini menjadi istrinya. Perempuan yang disebut pelakor itu bahkan masih sangat imut dan genit, wajahnya selalu menebar senyum yang menggoda, dandanannya menor dengan bulumata palsunya yang sangat panjang rambutnya pun dicat blonde seperti layaknya perempuan barat. Meskipun kurang klop dengan warna kulitnya yang gelap, namun perempuan itu nampak sangat percaya diri.
“Kerja apa istrinya?”
__ADS_1
“Dulu tukang pijat di spa. Mantan suami saya teman sekerjanya.”
“Oalah sama-sama tukang pijat,”gumam Don sambil menelan salivanya.
Dua anak Karti nampak berlarian di ruang tengah sambil diawasi sang nenek. Tak sekalipun mereka bergeming untuk mendekati sang bapak.
“Kurang akrab sama bapaknya. Jarang balik rumah.”
“Masa gak pernah video call sama anak-anak?”
“Enggak juga. Memang begitu orangnya.”
Don hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia juga sedikit terpaksa menikahi Karti, demi dirinya bisa menginap dengan aman di rumah perempuan yang jauh dari ibukota, yang penting sah dan tak digerebek warga, terhindar pula dari intaian mata para intel ibukota.
Biduan kedua, seorang laki-laki muda naik ke atas panggung dengan mengenakan setelan warna biru muda dengan pernak-pernik, penampilannya mengingatkan pada seorang penyanyi dangdut jaman dulu yang telah tiada. Para tamu menikmati hidangan sambil mendengarkan lantunan musik yang merdu serta wajah-wajah rupawan para penyanyinya. Don ikut mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama dangdut.
Don hanya membalasnya dengan senyuman, beruntungnya Karti tak memperhatikan tingkah laku suami barunya.. Ruang tamu rumahnya yang diubah menjadi pelaminan nampak makin ramai dengan kehadiran para tamu yang hendak berfoto bersama ataupun berpamitan. Sebuah kipas angin yang berdiri kokoh di sudut ruangan tak mampu mengurangi kegerahan itu. Dua pengapit kecil yang berdiri di kanan kiri pengantin sibuk mengipasi Don dan Karti.
Pesta berlangsung berjam-jam lamanya,dua bocah kecil anak Karti mulai rewel, berlarian ke sana kemari, terutama si bungsu yang sepertinya kehausan ingin minta susu ke ibunya.
“Ngeeng…..”
Tangis si bungsu pun pecah membuat tamu yang masih ada di ruangan itu memalingkan wajah, sebagian di antara mereka merasa terusik dengan suara tangis bocah di tengah pesta.
Karti melirik ke arah putra bungsunya,hatinya merasa teriris, terlebih dirinya paham si bungsu hanya minum asi bukan susu kaleng, tak mungkin pula ia meninggalkan tempat dalam kondisi tamu masih ada yang baru datang. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, perih rasanya mendengar tangis menyayat dari darah dagingnya yang sedang kelaparan. Emaknya hanya memberikan botol susu berisi air putih, itu pun hanya bisa mendiamkannya sesaat, selanjutnya akan nangis kembali.
__ADS_1
Pembawa acara mendekati pelaminan, dan memberikan mic-nya tepat di depan mulut Don.
“Nah…Sekarang tiba saatnya bagi pengantin untuk bercerita. Bagaimana kisah hidup mereka hingga sampai pelaminan.”
“Suit….Suit…..”
Tepuk sorak memenuhi ruangan, beberapa tamu tertawa terbahak-bahak, sebagian merasa sangat menanti-nantikan bagian acara ini agar dapat menyusul menikah secepatnya.
“Ayo…Ayo….Ayo….Cerita…Cerita….”
Don memandang ke arah Karti seakan meminta pendapatnya, wanita itu hanya tertawa dan memberi kode agar Don yang harus angkat bicara. Akhirnya Don menerima mic itu dan mulai mengarang cerita.
“Jadi ceritanya…Waktu itu saya sedang patah hati diputuskan gadis kota. Tiba-tiba seorang teman masa kecil, menyodorkan foto Karti yang pernah menjadi teman kami juga. Karti tampak cantik dan ia telah menjanda. Itulah kesempatanku untuk berjuang mendapatkan cintanya,”papar Don panjang lebar.
Para tamu bertepuk tangan, tak kurang pula yang tertawa maupun membuat siulan nyaring.
Karti hanya tersenyum malu-malu, hingga kulit wajahnya makin kecoklatan untuk sesaat.
Si bocah bungsu mulai tampak kelelahan menangis, sang nenek menggendongnya hingga ia terlelap dalam tidurnya. Karti pun melirik dan bisa bernapas lega, meskipun dalam hatinya teriris perih, si bungsu tertidur dalam laparnya.
Waktu terus bergulir, tamu-tamu mulai berpamitan, hanya menyisakan beberapa orang yang memang baru berdatangan menjelang hari mulai sore. Biduan wanita mendapat giliran lagi. Kali ini ia akan membuat aksi yang membuat tamu akan riuh rendah, sigap ditariknya lengan pengantin laki-laki dengan genit.
“Yuk,Mas. Temani aku nyanyi di panggung!”
Don melirik ke arah Karti, dan wanita itu pun mengiyakan. Akhirnya majulah Don ke atas panggung sambil ikut berjoget. Baginya tak sulit untuk bergoyang mengikuti irama musik, pekerjaannya dulu adalah di tempat karaoke yang melatihnya menjadi laki-laki gemar berjoget. Don ikutan menyanyi juga meskipun suaranya seperti kaleng jatuh dari ketinggian.
__ADS_1
“Ini,Mas. Kartu nama saya,”kata sang biduan sambil memasukkan sebuah kartu nama kecil ke dalam saku celana milik pengantin laki-laki.
“Seer….”