
Meja makan persegi yang besar dengan sepuluh kursi itu tampak sepi. Di atas meja marmer cipolin warna kecoklatan itu telah terhidang aneka hidangan makan, empat art telah siap melayani,mereka berdiri di belakang kursi menyambut tuannya datang dan duduk di sana.
Mama berjalan diiringi sang papa, keduanya mengenakan piyama yang seragam, garis-garis biru tua dengan warna dasar putih, wajah mama polos tanpa riasan lagi dan rambutnya dinaikkan ke atas dengan sebuah jepitan bermanik-manik. Art siap menghidangkan hidangan pembuka berupa sup asparagus dalam mangkuk-mangkuk kecil sebanyak tiga buah. Mangkuk di meja Alisha masih kosong, gadis itu belum menampakkan batang hidungnya sejak pulang sekolah.
“Coba kau ketuk pintu kamarnya Bi,”pinta mama pada seorang art paruh baya yang bergegas menuju pintu lift rumah itu.
Tak beberapa lama kemudian Alisha memasuki ruang makan, wajahnya yang cantik tampak kusut, tubuhnya yang tinggi semampai dibalut baby doll dengan motif kartun warna merah muda. Di tangan kanannya tergenggam sebuah amplop persegi berwarna putih.
“Yuk dimana dulu supnya,Nak.”
Alisha duduk di samping mamanya, persis di depan posisi duduk sang papa. Amplop putih diletakkan di atas pangkuannya. Gadis itu makan tanpa semangat meskipun makanan yang terhidang sangat enak seperti biasanya.
“Anak mama sekarang jadi pendiam?”tanya mama sambil mengelus punggung Alisha yang tengah menikmati hidangan penutup berupa potongan buah segar.
“Uhuk…Uhuk….”
Gadis itu langsung tersedak karena kaget.
Papa menatap dengan sorot mata penuh selidik, sepertinya ia tahu telah terjadi sesuatu pada putri kesayangannya.
Lalu mama bersiap memberi kode agar para art mengangkut semua piring dan gelas kotor dari atas meja.
Suasana meja makan kembali sunyi, keempat art telah membawa semua perkakas kotor ke dapur basah dan mencucinya di sana. Papa mencuci tangannya di wastafel lalu pindah duduk ke sebuah sofa besar yang menghadap televisi layar datar ukuran besar.
“Sepertinya kamu ada masalah di sekolah?”tanya papa sambil menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
Alisha menatap mata sang papa dengan perasaan campur aduk. Gadis itu mendekati tempat duduk sang papa sambil bersembunyi di belakang punggung sang mama.
“Ma..Pa…Alisha minta maaf. Tadi berantem lagi dengan Ryan. Ini surat panggilan dari BP untuk orang tua.”
Mata gadis itu terpejam ketika menyerahkan amplop putih dengan kop nama sekolahnya. Alisha takut dengan reaksi wajah sang papa yang emosional. Ditutupnya kedua telinganya ketika sang papa mulai membuka mulut.
“Eits…Alisha. Don’t do that! Kalau orang tua berbicara harus didengarkan!”seru sang mama sambil menurunkan tangan Alisha.
__ADS_1
“Kamu ini mau sampai kapan terus-terusan membuat masalah?”tegur papa dengan suara keras.
“Alisha cuma kesel tadi,Pa.”
“Kenapa gak kau tahan aja emosinya. Anak terpelajar,kelakuan jangan seperti suku bar-bar. Macam tak pernah papa didik di rumah,”papar papa panjang lebar sambil melengos.
“Yaudah,Pa. Biar besok mama saja yang datang ke sekolah.”
“Kamu terlalu memanjakan dia,Ma! Jadinya begini hasilnya,”protes papa sambil mengalihkan pandangan menatap televisi.
Rupanya papa sudah jenuh dengan segala kebandelan Alisha selama ini. Sedangkan sang mama masih terus memaklumi kenakalan putri tunggalnya dengan terus membelanya.
“Kamu sih,Ma. Andai anak kita ada dua atau tiga.Mungkin Alisha lebih gampang diatur.”
“Yah…Mama kan sibuk,Pa.Kalau sering hamil bakal tertunda terus kerjaan mama.”
“Kerja…Kerja…Kerja terus alesan mama. Bukannya selama ini urusan rumah tangga dan lain-lain itu dari uang papa?”
“Iya..Uang mama kan untuk kita juga,Pa. Buat investasi property di mana-mana. Demi Alisha juga,”sahut mama membela diri.
Mama duduk di samping papa dan menarik Alisha duduk bersama mereka.
“Alisha masih bisa kita nasehati baik-baik,Pa. Jangan diomelin terus. Gak baik buat perkembangan mentalnya.”
“Yuk kita ke kamar Alisha. Besok kamu ada ulangan apa,sayang?”tanya mama lembut.
“Gak ada,Ma. Hanya PR Kimia tapi udah dikerjain tadi di tempat les.”
“Yaudah kalau begitu. Alisha boleh tidur kalau sudah lelah.”
“Baik,Ma. Papa..Alisha pamit ke atas dulu.Mau tidur.”
Gadis itu memeluk kedua orang tuanya sebelum berangkat tidur.
__ADS_1
Dibukanya pintu kamar Alisha yang bernuansa merah muda dan putih warna kesayangannya. Ditutupnya korden kamarnya karena hari mulai gelap. Sebuah jendela sangat besar yang menghadap jalan raya di lantai dua, ada sebuah balkon di depan kamarnya yang sangat jarang ia gunakan.
Gadis itu mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Ditariknya selimut dan tubuhnya dimiringkan ke kanan menghadap jendela yang telah tertutup. Matanya mulai tertutup ketika samar-samar terdengar seperti seorang perempuan memanggil namanya.
“Alisha…Alisha….Kemarilah!”
Alisha tampak gelisah dalam tidurnya, gadis itu seakan melayang-layang di udara. Di sana ia bertemu seorang wanita cantik dengan rambut hitam legam dan lurus,bola matanya yang hitam pekat nampak bersinar dinaungi sepasang alis yang lebat dan teratur rapi, kulitnya agak gelap namun terlihat sangat cantik. Tiba-tiba sorot matanya berubah merah menyala, ia menatapnya dan seakan masuk ke dalam tubuhnya. Alisha merasakan dadanya menjadi berat dan gerakannya di udara pun menjadi berat. Alisha kini menyentuh lantai, dan ia berjalan dengan sebelah kaki yang lebih berat.
“Siapa lu? Keluarlah!”teriak Alisha dalam mimpinya.
Perempuan dalam dirinya tertawa terbahak-bahak, giginya menyeringai dan tampak lebih panjang di kedua gigi taringnya.
“Aku Akasha. Ratu Vampire dari Mesir.”
“Lo bohong! Lo setan darimana? Pergi lo!”teriak Alisha tak mau menyerah.
“Aku bukan setan! Aku ratu vampire! Aku cuma mau minta bantuanmu untuk memisahkan Ryan dari Maya.”
“Mengapa harus gue? Perempuan setan!”
“Karena kau adalah perempuan terpilih untuk membalaskan dendam leluhurku! Ryan itu vampir pemberontak! Dia telah mengotori citra vampire dengan menikahi manusia. Kami vampire sejati!”
“Gak mau! Pokoknya gue gak mau ngurusin urusan orang lain!”seru Alisha sambil berteriak-teriak dengan penuh kemarahan.
Akasha terkekeh, giginya menyeringai dan sorot matanya bagaikan lampu. Tubuhnya melesat ke sana kemari keluar masuk tubuh Alisha sambil meledek. Tubuhnya yang elok meskipun hitam legam,dibalut pakaian ala Mesir Kuno berupa gaun tanpa lengan yang panjang dengan belahan rok yang tinggi di sebelah kiri sehingga memamerkan pahanya yang padat dan menarik.
“Kau tak bisa menolaknya karena itu adalah takdir!”
“Gak mau!”
Tubuh Alisha yang tertidur dengan gelisah berbalik ke kanan dan ke kiri, matanya terasa berat untuk dibuka, tubuhnya seakan melekat erat pada tempat tidurnya, hanya bisa digeserkan namun tak bisa bangkit. Gadis itu berteriak dalam mimpinya, namun tak seorang pun mendengar. Akhirnya Alisha dengan sekuat tenaga membuka matanya dan bangun. Kini ia terduduk menghadap jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh satu menit.
“Hanya mimpi?”gumamnya.
__ADS_1
Alisha merasakan tubuhnya dibanjiri keringat dingin, meskipun udara di dalam kamarnya sangat dingin. Dan mimpi itu begitu nyata, gadis itu tak paham apakah itu sebuah mimpi atau kenyataan.