Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 59: Teror


__ADS_3

Minggu pagi itu, udara begitu sejuk, embun menetes di dedaunan, burung nuri Pelangi pun berkicau riang di dalam sangkar. Maya sibuk menggeringkan rambut dengan handuk dan mendekati sang mama yang sedang sibuk membuat sarapan berupa nasi goreng sosis untuk mereka berdua.


“Mama buka laundry gak hari ini?”


“Buka setengah hari. Biar kita tetap dapat duit,”sahut mama sambil terus mengaduk dengan spatulanya.


“Ma..Semalam Maya dapat sms dari nomor tak dikenal. Disuruh datang ke jembatan dekat sekolah jam satu siang,”


“Udah jangan kamu ladeni orang iseng macam itu! Takut kejadian kayak dulu lagi.”


“Iyalah,Ma. Cuma Maya masih penasaran aja siapa pengirimnya.”


“Udah..Biar gak penasaran. Kamu delete aja sms-nya. Beres perkara.”


Maya mengangguk-angguk, benar kata mama,anggap aja itu tak pernah terjadi, habis perkara.


Maya duduk di meja makan di depan sang mama, menikmati sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk segar.


“Mmhh…Enak banget nasi goreng buatan mama. Kenapa gak kita jualin aja,Ma?”


“Mama gak ada waktu,May. Kamu pikir jualan makanan gak repot? Laundry aja udah repot.”


“Iya,Ma. Maya paham kok.”


Maya duduk di dekat jendela dekat teras rumahnya sambil mengetik fullpaper makalah untuk lomba karya ilmiahnya yang sebentar lagi akan tiba.


“Drrt…Drrt…”


Sebuah pesan masuk, diliriknya ponsel yang tergeletak di atas meja.


“Whatssup dari Ryan,”gumamnya.


Maya langsung mencurahkan isi hatinya mengenai kegundahannya setelah menerima sms gelap dari nomor tak dikenalnya. Gadis itu mengirim screenshot dari sebuah nomor ponsel dengan awalan +1, Amerika.


“Belum tentu dari luar negeri,May. Jaman sekarang nomor luar sudah banyak diperjualbbelikan di sini,”papar Ryan melalui whatssup.


Diam-diam Ryan menyimpan nomor ponsel milik pengirim teror itu dan menyelidiki dengan nomor ponselnya yang lain.


Ryan iseng menelponnya, tak ada yang mengangkatnya. Ia pun mengulangi panggilannya, sekarang telpon dialihkan.


“Satu jam lagi adalah jam satu siang. Jembatan dekat sekolah? Bukannya tempat itu sedikit seram karena nyaris taka da perumahan penduduk di dekat sana?”


Ryan penasaran dengan ancaman untuk Maya, lalu ia diam-diam mengeluarkan mobilnya dari garasi dan memacunya ke tempat yang dimaksudkan.

__ADS_1


Tepat pukul satu kurang sepuluh menit, Ryan masih terdiam di dalam mobil dalam kondisi mesin mobil masih menyala. Cowok itu memainkan game yang ada di ponsel untuk mengusir rasa penat sembari menunggu siapa si pengirim sms pada Maya.


“Jam satu lewat satu menit,”batin Ryan sambil melirik arlojinya.


“Bener-bener orang iseng.”


Ryan bersiap untuk mendekati jembatan itu untuk menyelidiki kalau-kalau orang itu bersembunyi di balik rerumputan tinggi yang terbentang di sana.


Baru saja cowok itu membuka pintu mobilnya, ia dikagetkan oleh seseorang yang berdiri di belakangnya sambil menadahkan tangan.


“Den…Minta duit buat makan,”katanya sambil menirukan gerakan orang makan dengan memasukkan tangan ke mulutnya.


“Nih…Gue kasih lu seratus ribu,”kata Ryan sambil menyodorkan uang kertas warna merah.


Pengemis itu belum tampak terlalu tua, namun rambutnya gimbal dan pakaiannya kotor. Ia itu melonjak kegirangan ketika diberi uang seratus ribuan.


“Tapi gue minta lo berdiri di jembatan itu. Liatin ada siapa aja di sana.”


Pengemis itu tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang kekuningan tak tersentuh sikat gigi dan odol. Ia pun mengangguk sambil berlari-lari riang menuju jembatan. Dari kejauhan, Ryan mengamatinya dari dalam mobil. Ia tampak sedang berjalan-jalan di sekitar jembatan dan meneliti ada apa saja di sana sesuai instruksi si pemberi uang.


Dua puluh menit sudah cowok itu menunggu kabar dari si pengemis, namun ia belum juga kembali dari jembatan. Ryan cemas,jangan-jangan terjadi sesuatu dengan pengemis itu. Dibukanya pintu mobil dan menguncinya. Ia berjalan ke arah jembatan, dilihatnya pengemis itu malah asyik mencari belalang besar berwarna coklat atau biasa disebut belalang sembah, dan memasukkannya dalam sebuah kantung plastik kresek warna putih.


“Itu buat apa,Mas?”


Pengemis itu masih berjongkok dan terus mencari belalang sembah. Ryan hanya manggut-manggut dan memasukkan informasi terbaru yang baru didengarnya ke dalam otaknya yang membayangkan bagaimana rasanya belalang sembah bakar.


Ujung mata Ryan ditebarkan ke seluruh lokasi di sekitar jembatan yang hening, tanpa ada manusia melewati jembatan itu. Dalam hatinya ia berpikir, untuk apa jembatan itu dibuat kalau sama sekali taka da manusia yang melewatinya.


“Tak ada apa-apa di sini. Artinya benar itu nomor orang iseng. Atau orang itu hanya beraksi untuk Maya? Tapi buat apa? Gadis lugu tak punya musuh,”gumam Ryan sambil membalikkan badan menuju mobil.


“Tolong…tolong….”


Tiba-tiba terdengar teriakan si pengemis yang berlari ke arahnya. Ryan menatap bungkusan plastik yang kini tinggal plastik kosong.


“Kemana belalangnya,Mas?”


“Jatuh semua. Itu ada…Itu ada…”


“Ada apa.Mas? Ngomong yang pelan dikit.”


Pengemis itu menunjukkan tangannya ke arah rumput tinggi yang terbentang luas di kanan kiri jembatan. Ryan mengikuti pengemis itu yang berjalan sambil terus menunjukkan jari telunjuk dengan tangan kanan ke atas. Dalam hati Ryan juga sedikit cemas, jantungnya berdebar lebih keras, akan menyaksikan sesuatu yang membuat pengemis itu ketakutan hingga terlepas semua belalang sembah yang susah payah ditangkapnya.


Pengemis itu berjongkok dan membuka tumpukan daun jati yang sudah kering, seonggok mayat kucing hitam tergolek tak berdaya dengan kepala yang nyaris putus.

__ADS_1


Darah Ryan terkesiap, nalurinya yang haus darah memuncak, namun ia harus meredamnya.


“Darahnya masih segar. Artinya ada seseorang yang sengaja membunuhnya. Bisa jadi menghisap darahnya juga. Tapi siapa?”gumam Ryan sambil menebarkan pandangan ke sekitarnya, tak ada langkah manusia yang mencurigakan.


“Darahnya masih segar. Artinya dibunuh belum lama. Kalau jalan pasti pembunuhnya melewati jalan ini juga. Kecuali ia bisa terbang,”batin Ryan yang langsung menengadahkan kepalanya ke langit.


“Yaudah,Mas. Bantu kuburin kucing dulu. Gue ambil dulu kain putih di laci dashboard.”


Ryan berlari ke arah mobil dan kembali lagi dengan membawa selembar sobekan kain putih.


“Ini,Mas. Tolong bantu kuburin.”


Pengemis itu tampak malas dan menengadahkan tangannya seakan meminta uang lebih.


Ryan mengeluarkan selembar uang kertas seratus ribuan dan menyerahkan pada pengemis itu. Sonta kia sangat gesit dan bersemangat menggali lubang menggunakan potongan kayu yang dijumpainya di situ.


“Udah beres,Mas.”


Pengemis itu pun berdiri dan memetic beberapa bunga liar di sana dan menaburkannya di atas kuburan kucing hitam.


“Makasih,Mas. Gue balik dulu,”


Pengemis itu tertawa dan berlari-lari sambil membawa dual embar uang kertas warna merah.


Di dalam mobil, Ryan telah siap meluncur, dan ia ingin memberi kabar secepatnya untuk Maya. Ditelponnya gadis itu.


“Pasti ia lagi sibuk membuat karya tulis. Makanya lama baru diangkat,”gumam Ryan sambil menengadahkan kepalanya.


Langit cerah berubah mendung, sebentar lagi saatnya hujan turun rintik-rintik.


“Halo…Ada apa Ryan?”sahut Maya dengan suaranya yang khas.


“Aku di dekat jembatan. Ada mayat kucing hitam dengan kepala nyaris putus?”


“Hah? Udah dikubur?”


“Udah. Kebetulan ada pengemis lewat. Nomor yang itu blokir aja deh. Takut orang mau jahat lagi.”


“Oh begitu. Oke-oke,”sahut Maya.


Hati kecil Maya mengatakan ada orang luar yang ingin memusnahkan dirinya sejak gadis itu dekat dengan Ryan.


“Tapi siapa? Dan apa alasannya?”pikir Maya sambil meletakkan mouse-nya.

__ADS_1


__ADS_2