
Tepat pertengahan semester pertama…
Ryan telah bangun sejak pagi-pagi buta. Setelah jogging di halaman rumah dan berlanjut berenang di kolam renang pribadi di milik papa,cowok itu mandi dan sarapan berdua dengan papa sambil menyiapkan apa saja yang akan mereka bawa untuk lamaran nanti siang. Maklumlah ini hari Minggu sehingga cowok itu bebas untuk menginap di rumah sang papa sambil melepas kangen. Ryan dan sang papa memutuskan untuk melamar Maya secepatnya, mengingat kondisi Tante Wulan yang sudah mengidap kanker rahim stadium 3. Mereka ingin menunjukkan keseriusannya di depan orang tua satu-satunya yang dimiliki Maya.
Dengan mengendarai mobil yang dikemudikan supir pribadi sang papa, Ryan menginjakkan kakinya di rumah Maya. Tiga orang art telah siap di depan pintu untuk menyambut tamu mereka. Om Robert mengenakan kemeja lengan panjang merk kenamaan dunia dengan warna dominan putih dan kuning dipadukan dengan celana kain berwarna hitam sedangkan Ryan tampah sangat tampan dalam balutan kaos polo merk kenamaan dunia yang warna hijau muda dipadukan dengan jeans warna biru tua. Maya dan sang mama keluar menemui mereka di ruang tamu. Gadis itu tampak sangat cantik dalam gaun hijau muda yang sederhana sementara sang mama mengenakan rok terusan warna putih dengan sweater warna warni. Rambut Maya yang panjang tampak di-curly sehingga tampak berombak menambah manis kecantikan alaminya. Wajahnya sedikit dipoles dengan bedak dan lipstick warna natural.
“Jadi…Kedatangan kami kemari untuk meminang anak ibu untuk putra saya,Ryan. Apakah ibu menerimanya?”
“Iya…Saya menerimanya dengan syarat mereka pacaran baik-baik,”sahut Tante Wulan sambil tersenyum.
Ketiga art menyuguhkan minuman dan aneka cemilan dalam toples kristal.
“Ini ada sedikit pemberian dari kami untuk putri ibu. Harap diterima baik-baik,”kata Pak Robert lagi.
Ryan tersenyum ke arah Maya yang membuka kotak perhiasan dengan gembira.
“Rencana kami akan mengadakan acara pertunangan setelah mereka lulus nanti. Jadi sebelum putra saya berangkat ke luar negeri.”
“Saya mengucapkan terima kasih dan merasa sangat terhormat, putri saya diterima menjadi bagian dari keluarga kalian. Tapi..Apakah ini tidak terlalu cepat,Pak?”
Om Robert menatap Ryan seakan meminta pendapatnya, lalu kembali berbicara pada Tante Wulan.
“Kami sudah memikirkan matang-matang,Bu. Saya pribadi menyukai karakter putri ibu yang sangat mirip dengan almarhumah istri saya,Annisa. Dan saya yakin kelak Maya bisa menjadi istri yang sempurna untuk Ryan.”
Tante Wulan menganggukkan kepala dan tersenyum,”Syukurlah kalau begitu. Tante doakan kalian kelak langgeng sampai maut memisahkan.”
“Nah..Maya mulai saat ini,kalau kamu ada kepentingan jangan ragu lagi untuk menghubungi kami. Om dan Ryan akan selalu menerima kalian dengan tangan terbuka. Mulai sekarang kita akan menjadi keluarga besar karena kamu adalah calon menantu om,”papar Om Rober panjang lebar sambil tertawa.
Laki-laki paruh baya itu masih sangat tampan dan gagah, nyaris sangat mirip Ryan, penampilannya pun sangat perlente dengan semua atribut yang menempel di tubuhnya adalah merk ternama. Cincin pernikahan masih melingkar di jari manisnya meski sang istri telah belasan tahun pergi meninggalkannya dan menuju surga lebih dahulu, Om Robert adalah manusia separuh vampire,namun hatinya sangat tulus dan setia melebihi manusia normal pada umumnya.
“Begitu aja,Bu. Dari kami. Maaf, saya masih ada urusan di kantor. Mohon pamit dulu.”
“Kok buru-buru,Pak. Silakan dinikmati dulu . Maaf kami keluarga sederhana,”kata Tante Wulan merendah.
__ADS_1
Maya mengamati pemberian orang tua Ryan di kamarnya…
“Seperangkat perhiasan berlian, ada kalung, anting, cincin dan gelang. Wow…Berkelip-kelip,”seru Maya dengan hati yang gembira.
Baru kali itu dia melihat berlian asli seumur hidupnya, bagaikan kejatuhan bulan Maya hari itu.
Pemberian Om Robert itu tidak main-main, nilainya mencapai ratusan juta rupiah karena semuanya asli berlian dan karatnya lumayan tinggi, semuanya tertera dalam sertifikat di dalam kotak itu.
“Kau bersyukur,May. Hidupmy sangat beruntung kalau menjadi menantu mereka. Ehm..Maksud mama kalau kelak kau jadi istri Ryan.”
“Tapi lebih beruntung lagi kalau Maya bisa didampingi mama sampai kelak Maya lulus kuliah bahkan menikah dan punya anak.”
Mata mama langsung berkaca-kaca, dipeluknya tubuh putri tunggalnya dan diciumnya keningnya berkali-kali.
“Mama sangat beruntung melahirkanmu,May. Kaulah harta mama yang terbesar, melebihi apapun di dunia ini. Mama akan berjuang untuk terus hidup mendampingimu.”
Maya sangat terharu dan meneteskan air mata.
Malam itu menjadi malam yang indah sekaligus penuh tantangan , tantangan untuk mempertahankan hubungannya dengan Ryan yang pasti akan LDR, tantangan untuk setia pada cowok itu sekaligus menunggu mukjizat kesembuhan untuk sang mama tercinta.
Seperti biasa Ryan menjemputnya untuk berangkat ke sekolah bersama-sama karena rumah Maya satu jurusan dengan sekolah bila dilihat dari peta jalan rumah Ryan.
“Mulai sekarang aku boleh dong kiss?”
“Boleh..Tapi jangan di bibir takut timbul nafsu,Ryan. Aku tak ingin sekolah kita berantakan,”sahut Maya dengan lembut.
Ryan yang hampir kebablasan menjadi tersadar, cinta itu menjaga dan bukan merusaknya. Cinta itu harus saling melengkapi dan mendukung meraih cita-cita.
“Ingat selalu nasehatku,Ryan. Kita manusia tak akan pernah sempurna tapi kita harus mencoba yang terbaik yang kita bisa.”
“Dan kita harus menjadi lebih baik dari sebelumnya kan?”timpal Ryan sambil terkekeh.
Mobil melaju menembus keramaian di pagi hari dimana banyak anak sekolah dan kaum pekerja mulai memadati jalan raya.
__ADS_1
“Kalau kita berpisah sementara kelak. Berjanjilah untuk selalu memberi kabar untukku tiap hari,May.”
“Kamu juga,Ryan. Karena cowok pasti lebih banyak godaaannya.”
“Iya.Aku paham itu.”
“Berjanjilah juga buat datang menemuiku meskipun hanya satu tahun sekali,”pinta gadis itu sambil menatap Ryan yang duduk di belakang kemudi.
“Iya,May. Aku berjanji. Toh kuliah di sana jauh lebih cepat daripada kuliah di sini,May. Mungkin sekitar 3 tahun aku udah lulus dan 4 tahun udah dapat gelar master.”
“Dan aku mungkin baru di tahun ke-6 bisa disumpah sebagai dokter,”sahut Maya sambil tertawa.
“Dan aku akan menikahimu tak peduli kamu udah jadi dokter atau belum.”
“Kok gitu?”
“Nanti aku keburu tua,May.”
Maya memukul bahu Ryan dengan pelan.
“Bukan begitu,Ryan. Di tahun ke-4 aku bakal lulus sarjana kedokteran,abis itu co-*** dua tahun baru setelah itu disumpah jadi dokter.”
“Katanya mau jadi spesialis kandungan?”
“Oh iya…Setelah punya anak,aku akan kuliah lagi sampai jadi dokter spesialis kandungan.”
“Wah..Aku bakal ditinggal-tinggal mulu nanti.”
“Gaklah,kita akan selalu bersama nanti.”
Ryan menggenggam jari jemari lentik milik Maya, tangan itu terasa hangat,sehangat sinar mentari pagi yang menyelinap masuk melalui kaca mobil.
Sebuah tanggung jawab besar untuk mempertahankan sebuah hubungan yang diawali sangat dini, di usia SMA, dan mereka akan mempertahankannya dengan melalui berbagai gelombang kehidupan yang suatu saat bakal menerjang.
__ADS_1
Ya, karena hidup adalah sebuah pergumulan yang akan selalu dihadapkan dengan berbagai persoalan, besar ataupun kecil, masalah manusia selama ia bernapas akan selalu ada.