
Panas terik siang itu, mentari tepat bersinar di atas kepala membuat udara terasa begitu panas, terlebih pelataran parkir SMA Prima Cendana. Hari itu siswa kelas 11 pulang lebih awal karena ada rapat guru. Maya menyodorkan sebuah buku catatan kecil pada Ryan yang bersiap masuk ke dalam mobilnya.
“Foto aja ini. Besok dan seterusnya jangan sampai kena hukuman lagi,”kata gadis kepang dua sambil menyodorkan catatan kecilnya.
“Ngapain sih masih peduli sama aku,May? Kalaupun aku dikeluarkan dari sekolah ini juga bukan urusanmu,”sahut Ryan dengan wajah dingin tanpa senyum.
“Biar orang tua kamu gak malu. Bisa belajar disiplin dengan mencatat setiap PR di sini.”
Gadis itu menatap dengan sorot matanya yang teduh dan hati yang tulus, namun pertolongannya disia-siakan Ryan.
“Yang aku butuhin itu les tambahan, bukan sekedar mencatat dari buku,May.”
“Kalau begitu coba kamu ikut bimbel aja,” sahut Maya sambil membalikkan badan.
“Tunggu dulu! Gimana kalau kita baikan?Yang aku butuhin itu support dari seseorang bukan bimbel,”papar Ryan dengan panjang lebar sambil menyungging senyuman.
Maya menggelengkan kepala, digigitnya bibir bawahnya, lalu terdiam tanpa memberikan jawaban.
“Kok diem? Gak cinta aku lagi nih?”ledek Ryan sambil mengangkat dagunya.
Muka gadis itu langsung memerah dan buru-buru pamit.
“Udah dulu ya…Nanti aku fotoin aja agendanya. Udah ditunggu taksi online nih,”katanya sembari berlari-lari kecil ke pintu gerbang.
“Udah…Ikut aku aja,May! Kita baikan lagi kenapa sih?Please…”pinta Ryan sambil memasang wajah terganteng versi dirinya sendiri.
Ryan berlari mengejar Maya yang tetap bertekad pulang naik taksi, dicekapnya pundak gadis itu dan diseretnya tangannya menuju mobilnya.
“Gak mau! Aku udah pesan taksi! Jangan maksain sih!”serunya dengan mata melotot.
Supir taksi dengan seragam warna biru membuka jendela sebelah kiri dan melongokkan kepalanya,”Benar ini pesanan Nona Maya?”
“Benar,Pak. Bye,Rian! Tar aku fotoin jawaban yang kamu belum paham deh.”pamit gadis itu sambil melambaikan tangan ke arah si ganteng.
Ryan berdiri terpaku menatap kepergian taksi online itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.
Langkah cowok keren itu menjadi lunglai ketika memasuki mobil mewahnya.
Ia berpikir keras untuk mencari cara terbaik menyerahkan surat panggilan dari guru BP kepada sang papa agar tidak mengagetkannya. Sudah pasti papanya sibuk dan siang hari banyak kolega bisnis di kantornya, namun malam hari juga bukan jaminan merupakan waktu yang tepat untuk menyampaikan berita buruk itu. Papa sering kali lembur atau ada meeting di luar kantor, belum lagi kalau teman-teman papa mengajaknya pergi mencari hiburan di karaoke eksklusif yang pasti membuatnya pulang malam bahkan bisa dini hari. Bisa-bisa sang papa malah tak bisa hadir esok pagi di sekolah.
“Oke deh. Aku langsung ke kantor papa,”gumam Ryan sambil memasang seat belt.
Lamborgini warna hitam milik Ryan memasuki pelataran parkir yang luas sebuah pabrik susu milik sang papa. Seorang satpam menyapanya dan tersenyum sambil membungkukkan badan memberi hormat pada anak tuannya.
“Siang,Pak. Papa ada di kantor?”tanya cowok itu.
__ADS_1
“Siang,Den. Coba nanti cek lagi ke receptionist,”sahutnya sambil tersenyum ramah.
Si ganteng memarkirkan mobilnya di tempat yang sepi dan berada di bawah naungan pohon rindang agar tidak kepanasan. Ditinggalkannya tas ransel sekolahnya di jok bagian belakang mobil, kini ia hanya memegang secarik surat dalam amplop persegi warna putih dengan kop nama sekolahnya. Pintu terbuka secara otomatis, kakinya dilangkahkan ke sebuah meja tinggi dengan dua receptionist wanita berseragam warna merah dengan rambut disasak.
“Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?”tanya salah seorang di antaranya dengan name tag tertulis nama Gianidita.
“Selamat siang. Saya Ryan Sanders. Apa papa saya ada di atas?”
Receptionist bernama Gianidita itu sontak membelalakkan matanya,”Oh maaf…Saya tak tau. Ternyata adik ini putra boss besar?”
Lalu ia nampak menekan sebuah nomor, dan berbicara dengan seseorang. Biasanya sekretaris pribadi Pak Robert yang menerima telpon dari receptionist mengenai schedule harian dan boss besar juga tak menerima tamu dadakan di luar appointment,kecuali untuk anaknya sendiri, Ryan.
“Adik silakan naik ke lantai tiga. Bapak sedang ada di ruangan itu.”
“Ting….”
Pintu lift terbuka lebar di lantai tiga, beberapa staff terlihat sedang sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing dalam ruangan bersekat yang dilengkapi dengan komputer PC dan printer. Hanya ada seorang office boy berseragam biru muda yang lalu lalang sibuk mengantarkan minuman. Ryan melongok ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi dalam kantor sang papa. Ada beberapa staff wanita yang sedang berkerumun dalam ruang terbuka tanpa sekat, mereka berbisik-bisik dan tertawa melihat kehadiran Ryan. Seorang wanita berpakaian blazer warna coklat muda mendekatinya, usianya sekitar tiga puluh tahun dan wajahnya nampak manis meskipun sedikit gemuk.
“Kamu Ryan Sanders? Perkenalkan saya Bianca, sekretaris pribadi papa kamu yang baru?”
“Yang lama kemana,Bu?”
“Dia sudah resign bulan lalu. Mengikuti kepindahan suaminya ke Sumatra.”
“Lima menit lagi. Sedang ada relasi bisnis di dalam. Kamu duduk dulu di ruang tunggu. Nanti saya informasikan lagi.”
Ryan memasuki sebuah ruangan cukup luas dengan kursi yang membentuk huruf L dengan sebuah meja besar dan jendela kaca besar yang menghadap taman. Ruangan itu tampak sepi dan dingin dengan 2 pendingin udara yang terpasang pada dinding bagian atas. Cowok itu terpekur menatap lantai, berusaha merangkai kata-kata agar sang papa tidak kaget mendengar berita buruk yang akan ia sampaikan nanti.
“Tok…tok…tok….”
Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Ryan. Cowok itu terkesiap, memandang wanita tadi dengan wajah serius.
“Silakan ke ruangan bapak. Sudah ditunggu,”katanya sambil tersenyum dan melangkah keluar ruangan.
Ryan mengikutinya sambil memegang amplop warna putih di tangan kanannya. Wanita itu membukakan pintu untuknya dan mempersilakannya masuk. Papa nampak sangat gagah duduk di kursi direktur berwarna hitam dengan sandaran tinggi dan kaki beroda.
“Selamat siang,Pa.”
“Siang juga,Nak. Papa kangen.”
Pak Robert memeluk erat sang putra dan mengelus kepalanya lalu mempersilakannya duduk di sofa besar yang berdampingan dengan meja kerjanya.
“Mau minum apa,Ryan? Sudah makan belum? Papa baru beli nasi timbel komplet. Yuk kita makan bareng,”ajak sang papa.
Ryan menuruti ajakan papanya untuk makan berdua di ruangan pribadinya. Santapan yang lezat terasa hambar karena pikirannya sedang kalut.
__ADS_1
“Kok kamu sekarang jadi pendiem? Apa kabar pacarmu yang cantik itu?”
“Deg…”
Sontak Ryan kaget dan jantungnya terasa berhenti sejenak, lidahnya kelu, tak mampu menjawab.
Dihabiskannya makanannya yang tinggal satu sendok lagi, lalu dibukanya botol air mineral dalam tiga kali teguk.
“Maya minta putus,Pa.”
“Hah? Kok begitu?”tanya sang papa dengan wajah keheranan.
Pak Robert mengira dengan ketampanan dan kekayaan saja cukup membuat setiap perempuan akan takluk dan mengemis cinta pada putranya yang masih muda dan menarik.
“Karena kita keturunan vampire,Pa.”
Pak Robert tertawa terbahak-bahak sehingga matanya menyipit dan mengeluarkan air mata.
“Kok lucu? Mama kamu kan manusia. Kau ini sudah keturunan keenam. Sudah berupa manusia 90% bukan vampire lagi.”
“Ya itulah. Karena Maya menjauh. Hari ini Ryan diskors kelupaan bikin PR dan siangnya ditampar Alisha. Maaf,Pa.”
Wajah Ryan tampak tertunduk, ia siap mendengar omelan sang papa.
Papanya kembali tertawa,”Jadi kedatangan kamu ke sini hanya menyampaikan kabar patah hati?”
“Bukan itu,Pa. Karena Ryan membalas tamparan Alisha, jadi besok kedua orang tua kami dipanggil menghadap guru BP. Ini surat penggilannya. Sekali lagi,maaf,Pa.”
Papa menerima surat panggilan dalam sebuah amplop putih persegi dan membacanya.
“Baiklah. Besok pagi papa pasti datang. Sebelum pukul 8 pagi papa sudah sampai sekolahmu.”
Pak Robert tetap berwibawa, wajahnya tampak tenang tanpa kemarahan sedikitpun.
“Papa kok gak marah?”tanya Ryan keheranan.
“Ini namanya pelajaran kehidupanm,Nak. Kita bisa besar kita bisa sukses karena kritik, teguran yang membangun.”
“Terima kasih,Pa.”
“Kamu juga,Nak. Harus bisa disiplin dan mandiri tanpa bantuan Maya. Masa depan ada di tanganmu! Pabrik ini kelak akan jadi milikmu!”
Ryan mengangguk-angguk tanda mengerti, perkataan sang papa menguatkan hatinya.
“Benar..meskipun aku bukan siswa paling piawai dalam bidang pelajaran. Aku punya masa depan dan aku harus jadi orang sukses,”batin Ryan dengan tersenyum.
__ADS_1