
Hari Sabtu yang indah, Maya merasa santai tidak disibukkan dengan tugas-tugas kuliahnya yang selalu menumpuk. Hari yang sangat membahagiakan, Ryan akan datang menjemputnya dan membawanya ke Jogja. Ia telah mendiskusikannya dengan Wulan yang telah dianggapnya saudara. Menurut gadis itu, tidak apa bila Maya menginap di rumah calon suaminya, terlebih mereka telah menikah secara agama. Karena itulah Maya menjadi yakin , dan kini ia sedang mempersiapkan beberapa potong pakaian dan dimasukkannya ke sebuah tas berukuran cukup besar.
Maya bernyanyi-nyanyi kecil di kamar mandi sambil membersihkan tubuhnya. Dalam hitungan menit, ia telah tampil wangi dan cantik dalam balutan gaun terusan warna biru langit dengan ikat pinggang kuning. Rambutnya yang kini sebahu diberi hiasan bando dengan warna sesuai dengan ikat pinggangnya. Gadis itu memutar tubuhnya di depan cermin untuk memastikan penampilannya. Maya tampak cantik dan imut hari itu. Sinar Mentari yang hangat baru saja bangun dari peraduannya dari ufuk timur, burung-burung pun berkicau riang.
Wulan mengetuk pintu untuk mencatat susunan menu untuk minggu depan.
“Kreek..”
Maya membukakan pintu untuknya, dilihatnya Wulan juga telah rapi dengan setelah kaos berwarna merah muda yang mirip dengan pakaian training.
“Kamu cakep banget hari ini,May. Aku mau bikin menu buat menu minggu depan. Kamu ada usulan apa?”tanya Wulan sambil mencatat.
“Aku ma uke Jogja,Lan. Besok sudah balik kos lagi. Menu apa aja aku suka, asal semuanya juga suka,”sahut Maya sambil tertawa.
__ADS_1
“Gak ada ide sama sekali,May?”tanyanya keheranan.
“Maksudnya masakan apa aja aku doyan,”imbuh Maya.
“Maksudnya andai kamu pengen makanan gado-gado atau pepes ikan gitu,”ujar Wulan dengan wajah polosnya.
“Artinya sama aja dengan masakan mbak yang sebelumnya,”ucap Maya sambil menarik kursi dari meja belajar untuk Wulan .
“Yaudah kalau begitu. Aku pamit mengedarkan pertanyaan ke kamar lain,”pamit Wulan sambil membuka pintu.
“Eits tunggu! Ini uang patungannya,”kata Maya sambil menyodorkan beberapa uang kertas lembaran pada Wulan.
“Terima kasih,May. Kamu tidak pernah terlambat bayar,”ujarnya sambil tertawa.
__ADS_1
Sore harinya mobil Ryan sudah tiba di depan rumah kos yang dihuni Maya. Gadis itu telah menunggunya di ruang tamu. Lalu ia bangkit dari kursi dan berpamitan dengan Ibu Laksmi dan sang art. Mereka melambaikan tangan kea rah gadis itu. Ryan turun dan mengantarkan sekantong plastik berisi beberapa macam kue untuk sang ibu kos.
“Terima kasih,Nak. Jangan repot-repot,”kata sang ibu kos.
“Gak apa-apa,Bu. Bagikan saja pada penghuni kos.Saya pamit dulu,Bu.”
Ryan membalikkan tubuh menuju mobil dan meninggalkan sekantong plastik berisi puluhan roti yang dibelinya dari sebuah mall sebagai oleh-oleh.
“Maaf . Aku gak nemenin kamu ngasih oleh-oleh. Abisnya gatau kamu bawa roti,”ucap Maya.
“Gak apa-apa. Hal kecil tidak usah diperbesar,”sahut Ryan ambil menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
Malam pertama di kota Jogja, mereka berjalan-jalan sambil berbuka puasa di luar rumah, memandang indahnya langit Jogja dan berkeliling kota. Pulangnya mereka mengenang masa SMA dengan bermain basket di halaman rumah Ryan yang luas. Kondisi lutut Maya telah mengering dan mulai terkelupas, kaki mulusnya berangsur pulih. Ryan mengajari gadis itu bagaimana menjadi seorang pebasket yang handal, bagaimana menggiring bola, mendribble bola, dan memasukkan ke dalam keranjang. Dan semua itu makin lancar karena mendapatnya tambahan energi luar bisa berkat susu warna merah. Aura vampire membuat keduanya bisa berlari lebih cepat dan melompat lebih tinggi.
__ADS_1