Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 21: Menghilangkan Bukti Kejahatan


__ADS_3

Di rumah keluarga Alisha


“Mama papa ada waktu malam ini?”tanya Alisha membuka percakapan seusai menikmati makan malam bersama keluarganya.


Gadis itu sungguh tak enak hati membicarakannya di meja makan dimana para art berada di belakang mereka untuk melayani makan malam. Papa memiringkan kepala dan menatap putrinya dengan wajah keheranan. Ia mengelap mulutnya dengan serbet dan meletakkan sendok dan garpu terbalik secara menyilang untuk menyudahi makan malamnya.


“Kamu mau ajak papa ngobrol malam-malam?”tanya sang papa sambil berdiri dan mengelus kepala Alisha.


“Bukan,Pa. Alisha ada masalah yang sangat penting.


Mama mengangkat alisnya dan paham akan maksud putrinya, lalu mengajak mereka ke kamarnya. Para art pun membereskan semua peralatan makan majikannya dan berbalik ke dapur. Suasana meja makan kembali sepi, namun firasat seorang mama berkaitan dengan ikatan batin antara mereka mengatakan ada sesuatu yang kurang beres terjadi pada putrinya.


Papa duduk di sofa kamarnya dan menyalakan televisi. Mama berdiri di samping Alisha yang duduk di tepi tempat tidur.


“Ada masalah lagi di sekolah?”tanya sang mama dengan lembut sambil menyetel remote ac.


Alisha mengangkat dagunya dan memandang wajah mama dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu sengaja mengikat rambutnya ke atas dan mengenakan piyama untuk menandakan hatinya sedang gundah dan ingin buru-buru tidur.


“Alisha minta mama dan papa jangan marah.”


Papa yang high blood dan temperamental terkesiap, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati sang putri. Mama menahan tubuh papa agar tidak terlalu dengan putrinya.


“Biarkan dia bicara dulu,Pa. Please.”


Papa menurut dan ia mundur dua langkah, dadanya naik turun dan mulutnya terkunci.


“Alisha minta tolong papa sembunyiin mobil kita yang BMW B 7889 NYZ.”


“Apa yang terjadi sayang?”tanya sang mama sambil mengelus kepala putri kesayangannya.


“Alisha..Lisha minggu lalu bayar dua orang pembunuh bayaran buat habisin Maya pakai uang tabungan.Dan Alisha pakai mobil itu di lokasi.”


“Apa? Anak kurang ajar kau! Selalu bikin masalah dan merugikan orang tua!”bentak papa.


“Udahlah,Pa. Kita cari solusinya,”pinta mama dengan menangis.


“Kamu itu dari dulu selalu memanjakan dia! Itu anak cuma memanfaatkan uang kita,Ma. Memanfaatkan jabatan mama untuk ambisi dia yang sudah keterlaluan!”


Mama menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Plak…”

__ADS_1


Papa maju dan menampar Alisha di sela kelengahan mama untuk melindungi putrinya.


Alisha menangis dan berlari keluar ke arah balkon, papa dan mama mengejarnya.


Gadis itu berdiri dengan berlinangan air mata,rambutnya acak-acakan.


“Pokoknya kalau papa gak mau bantuin.Alisha mau bunuh diri,”ancam gadis itu sambil memanjat balkon dan berdiri di atasnya.


“Pak satpam…Tolong keluarin kasur di bawah!”


Mama berteriak-teriak agar dua satpam yang berjaga di depan rumah menyiapkan kasur di bawah dan menangkapnya. Lima art perempuan naik ke lantai dua memberikan bantuan dengan menahan kaki Alisha agar tidak bisa diangkat sedangkan art laki-laki memegang tangan Alisha hendak menurunkannya.


“Lepasin! Lepasin! Alisha mau mati aja!”teriaknya dengan wajah penuh ingus dan air mata.


Tarik menarik terjadi hingga piyama Alisha nyaris melorot ke bawah. Gadis itu membuat gerakan menendang sehingga seorang art kena tendangan dan nyaris terjatuh.


“Mama minta kamu turun!”


Alisha tak mengubris perintah sang mama dan tetap nekad berdiri di atas balkon.Untunglah rumah mereka sangat luas sehingga segala keonaran yang terjadi malam itu tak didengar oleh para tetangga.


Gadis itu berpegangan dinding dan bersiap melompat, dua satpam di bawah meneriaki art agar memegang tubuh Alisha lebih kencang lagi. Alisha benar-benar sudah kalap hendak menjatuhkan diri dari ketinggian 4 meter di atas tanah.


“Stop Alisha! Papa minta maaf. Turun!”


Alisha menengok ke samping melihat papanya yang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat hidup. Benteng pertahanannya runtuh seketika, gadis itu pun mengurungkan niatnya.


Alisha berhasil digendong dan turun dari balkon,mama langsung memeluknya.


“Alisha jangan bunuh diri,sayang. Mama tak punya siapa-siapa lagi selain kamu,”isaknya sambil terus menciumi pipi putrinya.


Art dan satpam pun bubar dan kembali ke tempat masing-masing. Mereka saling berbisik-bisik dan mengelus dada saking kagetnya dengan peristiwa nekad yang terjadi secara mendadak.


Papa mendekat dan memeluk Alisha,”Maafkan papa sayang.”


Papa ikutan menangis dan mengusap air mata dengan punggung tangannya.


“Bagaiamanpun fatalnya kesalahan Alisha. Papa mama siap melindungimu,Nak.”


Alisha merasa lega dan menghentikan tangisnya.


“Aktingku ternyata berhasil meyakinkan papa mama,”gumam gadis itu dalam hati, matanya berkedip dengan licik.

__ADS_1


Di kamar mama menunggu putri kesayangannya berganti pakaian tidur yang telah basah. Alisha muncul dengan wajah basah oleh air sehabis mencuci muka. Matanya tampak sembab dan hidungnya memerah, suaranya pun masih parau.


“Lalu rencana mama selanjutnya apa?”


“Ini bukan perkara kecil,Nak. Mama bakal kehilangan banyak uang. Harus cari backingan petinggi polisi dan mungkin juga menyewa pengacara untuk membela kamu.”


“Dengarkan itu,Nak. Kami semua sayang kamu. Tapi tindakan kamu kali ini sudah masuk ranah perkara pidana,”timpal papa yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


Alisha duduk di tepi tempat tidur dengan wajah bersalah. Ia sangat membenci Maya bukan hanya karena cintanya ditolak si ganteng. Tapi karena ia tak pernah sanggup mengalahkan gadis itu yang selalu menduduki peringkat nomor satu di kelas.


“Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dengan Maya?”tanya mama sambil ikutan duduk di sebelah Alisha.


Alisha hanya terdiam sehingga membuat mama mengulangi pertanyaannya.


“Karena rebutan cowok?”


Alisha menggelengkan kepalanya.


“Karena apa? Ayo jawab!”seru papa.


“Karena kalian selalu membandingkan Alisha sama Maya. Itu terus berlanjut tiap semester dan Alisha tidak kuat lagi!”seru gadis itu marah dan beranjak bangkit dari tempat tidurnya. Alisha berdiri dengan wajah marah, sorot matanya penuh kebencian.


“Harusnya kamu bersaing secara sehat! Bukan dengan menculik atau membunuh. Bisa-bisa malah dibui.”


“Tapi mama kan pasti bisa mengeluarkan Alisha dari bui,”bela gadis itu lagi.


“Sudahlah. Sekarang kita pikirkan mau dikemanakan BMW putih kita,Pa?”mama berusaha melerai pertikaian.


Papa mondar-mandir di kamar Alisha,sambil memegang janggutnya yang sama sekali tidak ditumbuhi rambut.


“Apa kita jual di luar kota?”saran papa.


“Jangan,Pa. Alisha sayang sama mobil itu. Kan masih baru.”


“Kita sembunyiin aja jauh di desa,Pa.”


“Nah…Bagus itu saran mama. Kalau perlu ke luar pulau,”kata papa sambil menjentikkan jarinya.


Mama dengan mudah bisa mencari orang yang mau diberi upah atas penitipan mobil milik Alisha dan menyuruhnya bungkam.


Kekuasaan dan harta yang dimiliki orangtua Alisha akan membuat penyelidikan polisi mengalami hambatan. Hal ini telah dipikirkan Ryan jauh-jauh hari, hukum di negeri ini makin ke atas akan makin tumpul. Untuk itu ia akan mencari solusi dengan caranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2