Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 86: Rencana Om Robert


__ADS_3

Mama turun dari taksi dengan dipapah Maya dan Mbak Wati. Dua perawat bergegas menyambut mereka dengan mendorong blangkar dan mengangkat tubuh mama ke atasnya.


Gadis itu buru-buru mendaftarkan mama di bagian receptionist. Hari itu juga mama terpaksa harus menjalani rawat inap sehubungan dengan penyakitnya yang makin kritis.


Maya menekan nomor telpon Ryan untuk memberitahukan keadaan mama.


“Aku di rumah sakit XYZ saat ini. Kondisi mama makin gawat.”


“Baik. Aku segera menyusul ke sana.”


Di ruang rawat inap, karena keterbatasan biaya, Maya memesan kamar perawatan kelas dua dengan tiga tempat tidur, yang kebetulan belum ada pasien lain yang menempati ruangan itu jadi mama sendirian di sana.


“Sore,Tan. Gimana keadaannya?”


“Sore juga…Beginilah keadaan tante,Nak. Kalau terjadi sesuatu dengan tante. Titip Maya ya!” pesan mama sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.


Ryan menitikkan air mata, demikian pula Maya dan Mbak Wati.


Cowok itu keluar kamar dan kembali lagi dengan membawa dua perawat yang memindahkan mama ke ruangan lain.


“Mau dibawa kemana mama saya,Zus?”tanya Maya.


“Bapak ini meminta kami memindahkan ibu ini ke ruangan VIP,”sahut salah seorang dari perawat itu.


“Ryan…Biayanya kan mahal di ruangan VIP,”bisik Maya sambil menarik lengan Ryan ke sudut kamar.


“Gak apa-apa. Nanti aku yang bayar.”


“Aduh…Kenapa sih kami harus selalu merepotkan kamu?”


“Kata papa,kita ini udah jadi keluarga besar. Jadi sepatutnya saling membantu,” sahut cowok itu sambil menggandeng tangan Maya ke ruangan VIP yang dituju.


Mbak Wati berjalan di belakang sambil membawa tas yang berisi pakaian milik mama.


Maya duduk di tepi ranjang yang digunakan sang mama, sedangkan Ryan dan Mbak Wati duduk di atas sofa berbentuk L yang berada di ruangan itu secara berhadap-hadapan.


“Kami tinggal dulu,Bu. Kalau ada perlu, pencet saja bel yang terletak di dekat kepala ibu,”pamit perawat itu sambil berjalan ke arah pintu keluar.


“Oh ya,Zus. Kapan jadwal dokter visit?”tanya Maya pada seorang perawat yang berjalan paling belakang.


“Tunggu ya sekitar jam 5,”sahutnya sambil menutup pintu.


Mereka duduk dengan tenang sambil menunggu dokter datang memeriksa mama.


“Driing…Driing..”


Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Ryan.

__ADS_1


“Tante..Papa saya sedang dalam perjalanan kemari. Mau menengok.”


“Aduh…Tante banyak merepotkan kalian.”


“Gak apa-apa,Tan. Semoga cepat sembuh ya!”


Sebuah ketukan di pintu, seorang perawat berpakaian putih-putih dengan tutup kepala putih mengantarkan seorang dokter onkologi masuk ke ruangan itu.


“Perkenalkan saya dokter Andi, spesialis onkologi di rumah sakit ini. Saya periksa pasien dulu ya…”


Mama diperiksa tekanan darahnya oleh perawat sedangkan dokter memeriksa dengan stetoskopnya.


“Jangan lupa ambil darahnya untuk diperiksa di laboratorium,”kata dokter pada perawat di sebelahnya.


“Ibu jangan berpikiran macam-macam. Berusaha untuk sembuh dan banyak istiraha ya! Saya akan kembali lagi besok pagi,”pamitnya sambil meninggalkan ruangan.


Waktu menunjukkankan pukul 6 sore dan langit di luar jendela makin gelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Maya menutup korden jendela setelah menatap mobil-mobil yang lalu lalang di jalan raya untuk beberapa detik.


“Tok…Tok…Tok…”


Sebuah ketukan di pintu dan Mbak Wati bergegas membukakannya.


“Halo semuanya…” suara khas Om Robert yang berwibawa bergema di seluruh ruangan.


Di belakangnya seorang supir berpakaian serba hitam dengan nametag di dada kanan, membawa sebuah bingkisan berisi aneka buah-buahan dan meletakkannya di nakas sebelah tempat tidur mama.


Om Robert menganggukkan kepala pada sang supir yang berjalan menuju pintu keluar dan menutupnya kembali.


“Gimana sakitnya udah berkurang Ibu Wulan?”tanya papa sambil tersenyum.


“Belum ada diagnose lanjutan,”sahut sang mama.


“Mari duduk dulu Om,”pinta Maya dengan suara ramah dan bersahabat.


“Kalian mau makan apa?Biar Maya pesan online.”


“Wah…Om buru-buru…Ada reuni kecil dengan teman lama. Kalian aja makan bersama. Ada resto kecil di bawah sini,”papar Om Robert panjang lebar.


“Ah..papa. Sekali-sekali makan bareng kita kenapa sih?”rengen Ryan dengan manja sambil menggelendot di bahu sang papa.


Gadis itu hanya tersenyum dan memamerkan kedua lesung pipitnya yang sangat dalam.


“Maksud kedatangan papa kemari itu. Mau minta ijin ke Ibu Wulan..”


“Ijin apa,Pa?”tanya Ryan penasaran.


Om Robert menegakkan posisi duduknya di sofa, tatapan matanya lurus menatap Tante Wulan yang terbaring di tempat tidur.

__ADS_1


“Jadi begini. Mengingat kondisi Tante Wulan yang kritis dan orang tua Maya hanya satu. Papa mengusulkan kalian menikah di KUA, tapi diam-diam jangan sampai pihak sekolah tahu.”


“Hah? Tapi kami masih sekolah Om,”protes gadis itu sambil menaikkan alisnya.


“Om tahu…. Setelah nikah kalian tetap pulang ke rumah masing-masing kok.”


“Jadi gunanya menikah apa,Pa?”tanya Ryan keheranan.


“Untuk membuat Tante Wulan lebih tenang dan memepercepat penyembuhannya. Seandainya sesuatu terjadi dengan beliau, Maya telah resmi menjadi menantu saya.”


Mama hanya tersenyum, hatinya gamang. Sementara Maya hanya terdiam di sofa tanpa mampu berkata-kata.


“Menurut kamu gimana,Ryan?”


“Aku gak tau harus berbuat apa,Pa. Lalu menikah resminya kapan?”


“Tergantung kampus Maya nanti mengijinkan mahasiswanya menikah selama studi atau gak?Kalau belum boleh ya kalian nikah setelah Maya lulus kuliah.”


Ryan terkekeh,”Jadi nikah boongan,Pa?”


“Begitulah…Nikahnya beneran, tapi diam-diam. Kalian tetap tinggal terpisah dan jaga nama baik kalian.”


Ryan menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Maya dan Mbak Wati saling berpandangan dan merasa aneh.


Seketika ruangan VIP yang dihuni Tante Wulan mendadak hening, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


“Jadi kalian setuju semua?”tanya Om Robert yang kini sudah beranjak berdiri.


“Gimana baiknya papa aja deh.Gimana,May?”


“Asal gak ketauan pihak sekolah aja,Om. Kan sekolah tinggal 4 bulan lagi.”


“Baiklah kalau begitu. Semua om yang urus ya! Om pulang dulu. Jaga mama kalian baik-baik.”


Bagaikan seorang diktator, pendapat Om Robert dapat membuat semuanya bungkam dan mematuhi sarannya. Yang pasti mereka pasrah dan yakin kalau saran Om Robert pasti berbuah kebajikan. Mendadak nikah bukan sebuah cita-cita bagi kedua remaja yang kini masih duduk di kelas 12. Mereka lebih fokus untuk belajar agar ujian akhir menghasilkan nilai yang optimal dan bagaimana memperoleh kursi terbaik di perguruan tinggi.


“Mama setuju Maya dinikahkan dadakan?”tanya Maya yang membuat sang mama kaget dan membelalakkan matanya lebar-lebar.


“Mama gak tau harus berkata apa,May. Mama cuma merasa lebih tenang kalau kau punya keluarga baru.”


“Tuh kan…Mamamu setuju kok. Kamu bakal jadi seorang istri,”ledek Ryan sambil tertawa.


Maya memukul pelan bahu sang kekasih sambil tertawa.


“Inget..Istri dalam tanda kutip. Kalian gak boleh berbuat macam-macam sebelum ada pesta pernikahan resmi,”timpal mama sambil menatap ke arah dua remaja itu.


“Iya,Tan. Ryan janji kok buat menjaga Maya sampai tua. Mencintai bukan merusak tapi melindungi.”

__ADS_1


“Terima kasih,Nak. Tante harap kalian bahagia dan tercapai semua cita-cita.”


__ADS_2