Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 80: Kekuatan Cinta


__ADS_3

Setelah pesta barbeque usai…


Semuanya kembali ke vila masing-masing dan bersiap untuk tidur. Doni,Tino,Martin, dan Ryan telah terbaring dan memejamkan mata karena kelelahan. Demikian pula dengan Maya,Ika, dan Dinar. Pak Fatih seperti biasanya tidur sendirian di kamar atas dengan tenang. Guru olahraga itu hampir tak pernah terbangun tengah malam, sekalipun hanya untuk buang air kecil di kamar mandi.


Maya menggeliat dan memiringkan tubuhnya membelakangi jendela. Dalam tidurnya ia bermimpi terbang dan berkeliling di banyak tempat, menjumpai orang-orang baru yang tak dikenalnya,juga daerah-daerah baru yang sangat asing baginya. Kemudian dirinya masuk ke sebuah tempat yang sangat asing, seperti kastil kuno yang bangunannya sangat tinggi. Kakinya melangkah dengan kaki yang telanjang, sehingga telapak kakinya terasa dingin ketika menyentuk lantai marmer kuno yang sangat besar dan indah. Seorang dengan jubah hitam dan berkerah tinggi duduk di singgasana, tertawa ke arahnya dengan gigi bertaring dan sorot mata merah menyala bagaikan sinar lampu.


“Mau apa kau kemari?Prajurit…Cincang gadis itu untuk makanan kita!”


Maya terkejut dan berlari sekuat tenaga, keringat dingin mulai menetes memenuhi pelipis dan seluruh tubuhnya hingga pakaiannya terasa dingin kebasahan.


“Hah….”


Maya terbangun dalam kondisi terduduk, dilihatnya Ika dan Dinar sedang terlelap dalam tidurnya. Kamar tidur yang gelap membuatnya semakin takut, terlebih kandung kemihnya terasa penuh yang membuatnya harus ke kamar kecil di tengah malam seperti ini.


“Krek….”


Dibukanya pintu kamarnya, kepalanya dikeluarkan sedikit dari pintu untuk mengamati keadaan di sekeliling rumah. Kakinya agak ragu untuk menggapai kamar kecil yang terletak dekat kamar paling ujung yang selalu terkunci. Dirinya sedikit trauma atas kejadian dua hari lalu, suara ketukan di pintu yang sangat keras tanpa ada manusia yang mengetuknya. Maya berjalan dengan pandangan lurus tanpa menengok ke kanan maupun ke kiri.


“Ah…lega. Syukurlah malam ini aman,”batinnya.


Namun ketika keluar kamar, dilihatnya sosok menyerupai Ryan sedang membuka pintu depan.


“Ryan mau keluar malam-malam begini?”gumam Maya sambil mengendap-endap mengikuti sang pacar.


Dilihatnya telapak kaki Ryan,”Benar, itu Ryan. Kakinya menyentuh lantai,”gumamnya lagi.


Ryan tampak berlari secepat kilat ke arah bukit, dan Maya mengikutinya.


“Ryan….Tunggu!”teriak Maya yang masih mengenakan piyama tidurnya.


Cowok itu mengenakan kaos lengan panjang warna hitam dan celana training warna krem, terus berlari tanpa mempedulikannya.


“Ryan…Kamu masih cinta aku gak sih?”


Cowok itu pun menghentikan larinya, dan berbalik ke arah Maya.


“Lebih baik kamu kembali ke vila. Aku punya urusan yang belum selesai.”


“Gimana aku bisa tega ninggalin kamu sendirian,Ryan? Bukannya cinta kita itu satu.Kita harus solid saling menolong.”


“Tapi ini bahaya buat kamu,May. Aku sendiri belum tau mereka itu siapa. Tapi jiwaku terus dipanggil mereka untuk datang ke bukit.”

__ADS_1


“Aku akan menemanimu kemana pun kau pergi,Ryan.”


“Jangan,May! Aku gak mau kamu celaka.”


“Please…Aku gak akan celaka kok.”


“Baiklah. Tapi minum susu ini dulu,”pinta Ryan sambil merogoh susu sachet dari dalam kantong celananya.


Maya meminumnya sampai habis, hanya menyisakan tetesan warna merah di bibirnya yang mungil. Tubuhnya makin kuat dan ia merasakan kakinya menapak tanah dengan sama tinggi.


“Ryan…Lihatlah, aku bisa berjalan dengan normal tanpa timpang!” seru gadis itu dengan wajah gembira.


Ryan turut bersuka cita, dan memeluk gadis itu. Diciumnya puncak kepala Maya dan merangkulnya.


“Berjanjilah padaku. Bilamana kau ketemu makhluk paling menyeramkan sekalipun. Kau jangan berteriak. Kaburlah kalau situasi terjepit. Jangan hiraukan aku,”pinta Ryan sungguh-sungguh.


“Gak bisa kalau harus ninggalin kamu sendirian,Ryan.”


“Harus bisa ! Aku gak akan bisa mati. Kau harus ingat itu,May!”


Gadis itu pun mengangguk, kini ia yakin kekasihnya bisa hidup abadi, dan ia tak perlu terlalu mencemaskan keselamatannya.


Sesampainya di atas bukit…


“Keluarlah kau! Jangan jadi pecundang!”


Tak lama kemudian terdengarlah suara seperti orang tertawa dalam jumlah banyak, suaranya sangat memekakkan telinga, bahkan bisa merusak gendang telinga manusia.


“Cepat kau tutup telingamu,May!”seru Ryan sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya erat-erat.


“Hahahahaha….Senang sekali bertemu kau Robert Junior!”


Ryan berputar mencari asal suara, “Tunjukkan wujudmu!”


“Aku di sini. Ini aku,Marcus dan ini adikku Caius,”seru si rambut coklat yang nampak lebih tua dibandingkan si rambut blonde.


“Kalian ini siapa lagi? Punya dendam apa sama aku?”tanya Ryan.


“Kami ini teman-teman Aro. Pendiri volturi. Dendam kami sangat banyak! Kau dan leluhurmu pembunuh Akasha, Jane dan Alec! Kau celakai juga Aro! Kau harus mati di tangan kami,”seru Marcus sambil menyeringai.


Gigi taringnya tampak berdarah, artinya ia baru saja melahap makhluk hidup. Sorot mata keduanya merah menyala dan penuh dendam.

__ADS_1


“Aku dan leluhurku tak punya perjanjian apapun dengan kalian. Kami beda ras. Sekarang pergilah! Jangan buang-buang tenaga denganku,”papar Ryan panjang lebar.


Maya sedikit bersembunyi di balik punggung sang kekasih, kakinya sedikit gemetar.


“Aduh…Kok mereka seram amat sih? Mimpi bukan sih?”gumam Maya sambil menepuk pipinya sendiri.


“Sakit..Artinya aku bukan sedang bermimpi,”batinnya sambil mendengus kesal.


Dua orang di hadapan Ryan berusaha mendekati cowok itu dan meraih kepalanya.


“Hup…”


“Andai kau liat kepalaku nanti putus. Biarkan saja karena nanti pasti tersambung kembali,”bisik Ryan sambil berlari menghindari dua lawannya.


Maya sontak kaget dan jantungnya berdebar lebih keras. Meskipun paham maksud perkataan sang kekasih, dirinya sangat tidak tega dan tak akan bisa tega menyaksikan kekasihnya terpenggal.


Ryan sadar,kedua musuhnya mengincar lehernya. Mereka ingin dirinya mati kalau bisa selamanya musnah. Dalam kondisi terjepit karena dikeroyok, Ryan berusaha menghubungi sang papa dengan telepati. Maya ketakutan dan berlari di balik pohon. Namun sayang, seekor tokek terjatuh dan hampir mengenai kepalanya.


Gadis itu membungkam mulutnya sendiri dengan tangan kanannya sekuat mungkin agar teriakannya tak mengeluarkan suara.


“Om Robert..Tolong anakmu. Datanglah ke bukit di Vila XYZ sekarang juga,”bunyi pesan singkat Maya yang dikirim melalui ponselnya.


Gadis itu merasa heran,dua penjahat itu sama sekali tak menghiraukannya. Namun Maya terpanggil untuk melindungi Ryan yang makin terjepit dikeroyok dua penjahat yang dianggapnya bukan lawan yang seimbang. Maya berlari secepat mungkin dan menubruk Ryan serta menjadikan tubuhnya sebagai tameng.


“Jangan lakukan itu,May! Berhenti!”teriak Ryan dengan suara keras yang menggema ke seluruh angkasa.


Namun sayang tubuh Maya telah terlanjur melesat jatuh menimpa Ryan yang menjadikan dirinya sasaran telak dari dua penjahat. Demi cintanya, gadis itu telah merelakan nyawanya sendiri sebagai umpan.


“Wush….”


Secepat kilat Om Robert datang dan menahan dua pasang tangan yang hendak memenggal kepala gadis itu.


“Om Robert?”kata Maya dengan wajah gembira dan heran campur aduk menjadi satu.


Gadis itu sudah pasrah untuk mati demi membela cintanya, namun takdir dan keberuntungan nampaknya masih berpihak padanya.


“Terima kasih,Om.”


Gadis itu pun bergerak cepat dan memukul puncak kepala Marcus yang menyebabkan laki-laki itu marah dan menyeringai ke arahnya. Caius pun marah karena tangannya nyaris putus di tangan Robert yang ternyata masih sekuat dulu.


“Awas kalian kalau berani membunuh anakku!”ancam Robert sambil berlari dan menghilang.

__ADS_1


Dua penjahat itu berubah menjadi gulungan asap hitam yang bergulung-gulung pergi entah kemana.


__ADS_2