
Pagi itu Maya sudah disibukkan dengan urusan dapur bersama sepuluh art yang dipekerjakan Om Robert. Berbagai hidangan lebaran seperti ketupat, opor ayam, gulai kambing, rendang, sambal goreng ati, sate ayam, dan ayam goreng serta aneka kue kering yang dibuat sendiri di dapur dengan mentega pilihan terbaik.
“Bukannya bapak kalau merayakan lebaran malam hari?”tanya seorang art yang tua.
Maya hanya mengangkat bahunya, dan menebarkan pandangan ke art lainnya. Gadis itu baru tersadar, wajah mereka sangat mirip, hanya beda di usia ada yang sudah beruban dan bertambah melebar tubuhnya, ada yang masih muda dan bertubuh lebih langsing dan lincah.
“Mereka seperti punya taring yang lebih panjang dari gigi serinya,”gumam Maya dalam hati.
“Lebaran malam hari? Mengapa rumah Ryan dan Om Robert selalu terletak di puncak bukit dan jauh dari pemukiman lainnya?”tanyanya dalam hati.
Maya meninggalkan mereka, para art yang mengerjakan pekerjaan di dapur secara terstruktur dan sangat rapi bagaikan robot yang telah merekam semua perintahnya.
Di meja makan…
Om Robert dan Ryan telah menunggunya di meja makan.
“Ayo,May. Kita sarapan,”ajak Ryan sambil menarik kursi makan di samping kanannya tepat di hadapan Om Robert.
Di meja telah tersedia nasi uduk lengkap dengan lauk pauknya, dan segelas susu di samping kiri piring serta segelas jus wortel di samping kanan piring mereka masing-masing. Gadis itu makan dengan terdiam seakan sedang ada yang ia pikirkan.
“Kamu mikirin apa,May?”tanya Om Robert tiba-tiba.
Papa Ryan duduk di hadapan Maya dan memperhatikan calon menantunya yang telah mengenakan pakaian serba baru yang menjuntai hingga ke lantai.
__ADS_1
“Hemm..Boleh Maya bertanya?”
“Boleh,”sahut Om Robert sambil mengelap mulutnya dengan serbet makan.
“Tadi di dapur ada art yang bilang kalau lebaran di sini harus malam hari. Apakah benar?”tanya gadis itu berhati-hati.
Om Robert melirik ke arah Ryan dan memberi kode agar cowok itu yang menjelaskannya nanti.
“Abisin makannya dulu,May. Nanti aku jelasin,”ucap Ryan sambil meneruskan makannya.
Maya melanjutkan sarapannya dengan hati yang berdebar. Ia menatap wajah Om Robert yang sangat mirip dengan Ryan hanya mereka berbeda tingkat usianya, persis sama dengan sepuluh art di dapur.
“Hal aneh..Mengapa wajah mereka sangat mirip? Sementara semua saudaranya meskipun mirip hanya sedikit-sedikit. Demikian pula keluarga teman-temanku. Sepertinya ada yang aneh dengan keluarga ini,”batin Maya yang duduk menikmati makanan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Di ruang tengah…
“Bajunya ganti dulu biar gak gerah,”bisik Ryan di telinga gadis itu.
“Kita gak jadi lebaran?”tanya Maya sambil mengedarkan matanya ke seluruh ruangan mencari keberadaan Om Robert yang tiba-tiba menghilang.
“Nanti malam,”sahut Ryan dengan tenang.
Gadis itu buru-buru mengganti pakaian panjangnya dengan kaos warna putih dan celana jeans warna biru tua, lalu bergegas kembali ke ruang tengah untuk mendengarkan cerita dari sang kekasih. Jantung Maya berdebar lebih cepat dari biasanya ketika ia duduk di hadapan Ryan di ruang tengah yang menghadap televisi 70 inch. Cowok rupawan itu menghela napas panjang, lalu menatap gadis di hadapannya dalam-dalam. Maya mengangkat wajahnya yang sedari tadi terpekur menatap lantai marmer di rumah Om Robert. Kakinya terasa dingin bersentuhan dengan lantai, dan menggeser duduknya agar kakinya menyentuh karpet yang menghangatkan telapak kakinya.
__ADS_1
“Jadi gini,May…Kamu kan udah terlanjur dalam masuk ke dalam kehidupanku. Kamu tahu aku keturunan vampire. Tapi aku minta kamu merahasiakan soal ini,”ucap Ryan sambil menyandarkan punggungnya pada sofa besar warna krem yang ia tempati sekarang.
Udara dingin berhembus dari pendingin udara di ruangan itu, Ryan bersidekap untuk menghangatkan tubuhnya. Maya hanya bisa mengangguk, ia sudah paham sejak lama tapi banyak hal belum ia ketahui di keluarga ini.
“Tapi aku kan lebih manusia daripada seorang vampire. Kelak anak kita juga lebih mirip manusia daripada keturunan sebelumnya,”kata cowok itu melanjukan ceritanya.
Seketika Maya bergidik mendengat kata vampire, karena ia terbayang-bayang cerita film mengenai vampire si penghisap darah yang sadis.
“Nanti jam 12 malam aku tunggu kamu di halaman belakang. Kelima leluhurku akan menjumpai kita, beri anggukan dan senyuman saja untuk mereka. Kalau kamu takut cukup pejamkan mata,”papar Ryan sambil tersenyum.
“Iya..Tapi boleh aku nanya lagi?” tanya gadis itu memberanikan diri.
“Mengapa semua art di sini wajahnya sama dan memiliki gigi taring?”
Ryan menatap wajah cantik Maya dan mengangkat alisnya, ia tersentak dengan pertanyaan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Ternyata gadis itu sangat memperhatikan mereka.
“Mereka dari bangsa yang sama, tapi tidak berbahaya. Mereka mengabdi turun temurun dan tidak pernah pergi dari rumah ini,”papar cowok ganteng paripurna itu menjelaskan.
“Sudah kuduga! Mereka semuanya vampire!”seru Maya dalam hati.
“Yaudah,May. Kamu istirahat aja, setelah makan malam kita berpetualang,”ujar Ryan.
Maya hanya menganggukkan kepalanya, dan berbalik ke kamarnya bagaikan sebuah robot yang menurut perintah tanpa bisa mengelak atau protes.
__ADS_1
Malam itu, cuaca cerah, langit yang gelap dipenuhi bintang-bintang di langit. Ada cahaya terang dari bulan yang bersinar penuh. Om Robert dan Ryan mengenakan pakaian panjang yang masih baru, demikian Maya, ketiganya mengenakan warna senada, warna merah darah. Tepat pukul 12 malam, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, rambut gadis itu terburai dan bergerak ke sana kemari laksana ombak di lautan. Maya menutup matanya karena takut debu masuk ke matanya. Dari kejauhan terdengar gelak tawa riang dari banyak orang yang terdengar semakin lama makin jelas.