Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 95: Pengalaman Pertama ke Pasar


__ADS_3

Alarm berbunyi nyaring dari ponsel milik Ryan, tangannya meraih saklar yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya. Waktu tepat menunjukkan pukul 3 dini hari.


“Ceklek…”


Lampu kamar hotel pun menyala dengan remang-remang, sudut matanya ditebarkan ke seluruh ruangan, Ryan mencari secarik kertas yang sempat dititipkan Maya kemarin malam. Bergegas cowok itu berganti pakaian dan bersiap ke pasar. Dipesannya taksi online, dua puluh menit menunggu. Waktu yang terlalu lama, ide cemerlangnya muncul, ia akan menggunakan kekuatannya untuk berlari secepatnya ke pasar terdekat membeli sayur bayam dan roti.


“Tiing…”


Pintu lift terbuka lebar, Ryan melangkahkan kakinya menyusuri lobi hotel, suasana senyap dan remang-remang, dua receptionist berjaga di belakang meja. Ryan tersenyum ketika melewati mereka. Melewati pintu keluar yang terbuka secara otomatis, seorang satpam bertubuh tinggi besar menyapanya.


“Selamat pagi,Pak. Perlu saya panggilkan taksi?”sapanya ramah.


“Pagi… Saya sudah pesan. Taksi menunggu di luar sana,”kata Ryan mencari alasan sekenanya.


Dengan mengendap-endap, cowok itu mengamati keadaan sekelilingnya. Di luar halaman hotel, jalanan raya tampak sepi, tak ada satupun kendaraan yang lewat saat dini hari, udara dingin menyergap masuk melalui celah pakaian , hawa dingin menusuk tulang. Ryan mengancingkan kancing jaketnya tinggi-tinggi, diliriknya jam yang melingkar di tangan kanannya, pukul tiga lewat lima belas menit, artinya ia harus buru-buru sampai ke pasar. Cowok itu berlari sekencang mungkin, dalam hitungan detik ia telah sampai di pintu depan sebuah pasar modern terbesar di kota itu. Ryan masuk melalui pintu masuk sepeda motor, penjaga parkir memandangnya dengan wajah heran dan mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Mas…Gak bawa motor?”


“Oh…Saya naik ojek motor tadi.”


Tukang parkir kembali keheranan, kepalanya celingukan melihat ke kanan dan ke kiri, jalanan nampak lengang, baru ada dua-tiga mobil mengangkut sayuran yang menurunkan barang dagangannya ke pasar.


Ryan tak ambil pusing dengan petugas parkir yang nampaknya curiga dan ingin tahu urusan orang lain. Lapak-lapak pasar masih sepi, hanya beberapa pedagang sayuran yang mulai menata dagangannya, sayur-sayur itu dicuci dengan air agar tampak segar dan diletakkan di atas meja kayu yang berukuran cukup besar dan diberi alas plastik putih.


“Pak…Beli sayur bayamnya dong seikat.”


“Nih…Masih segar, 3000 rupiah.”


“Ini,Pak, Ambil saja kembaliannya. Apa bisa bantu masak tumis bayam?”


“Wah..Maaf…Mas minta tolong ke warung sana,”saran penjual sayur sambil menunjukkan jari telunjuknya ke sebuah warung makan yang sudah buka.


Ryan buru-buru menuju warung itu,”Mbak…..Bisa bantu saya?”


Seorang wanita berusia sekitar 30-an tahun menengok dan meletakkan sudipnya kembali di atas wajan.

__ADS_1


“Masakan belum ada yang matang,Mas. Mau menunggu?”


“Bukan begitu. Bantu masakin bayam bisa?”


“Oh…Saya juga bikin sayur bayam tapi agak siangan.”


Ryan kembali melirik ke arah jarum jam, jantungnya berdebar makin keras,”Ya Allah…Waktunya tinggal tiga puluh menit lagi,”batinnya.


“Mbak..Tolonglah, ini buat OSPEK dan kami orang luar kota. Ini saya bayar,”pinta Ryan sambil mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah.


Sontak bola mata si pemilik warung makan berbinar terang, bibirnya menyungging senyuman ketika menerima uang itu. Dengan gesit ia menerima sayur bayam itu dan memotongnya menjadi bagian-bagian lebih kecil dan mencucinya.


“Tunggu sebentar ya! Mau ditaruh di atas tupperware atau wadah stereofoam begini?”


“Saya gak bawa tupper ware,Mbak.”


“Yaudah saya tambahin nasi. Gratis kok.”


Ryan bersyukur hari ini Maya bisa makan nasi yang lebih baru.


“Wah…Toko roti masih tutup semua,Mas. Tapi saya punya bekal roti, dibawa saja.”


Beruntungnya Ryan pagi itu, seakan Dewi Fortuna berpihak padanya, bibirnya menyungging senyuman bahagia ketika menerima sekantung plastik kresek warna merah berisi nasi dan sayur bayam serta roti.


Ryan melangkah keluar dari pasar dengan terburu-buru, jam di pergelangan tangan kanannya menunjukkan pukul 3.45 menit, waktu yang sangat mepet, ojek motor di sekitar pasar masih kosong, order online pun makan waktu tak sedikit. Diikatnya kantong plastik kresek warna merah dan didekapnya di dada, sambil celingukan ke kanan ke kiri, cowok itu berlari secepat kilat melebihi kecepatan cahaya sehingga menimbulkan kesan cowok itu sedang terbang.


Maya telah selesai mandi dan berganti pakaian, diseduhnya cereal untuk sarapan pagi. Di atas meja telah siap sejumlah perkakas untuk OSPEK nanti, termasuk jas almamater. Gadis ini menunggu bekal siangnya dengan jantung berdebar kencang. Sepuluh menit lagi, gerbang kampus fakultasnya akan ditutup. Bagi mahasiswa yang terlambat tidak diberikan dispensasi untuk melanjutkan OSPEK tahun ini, namun diwajibkan mengulang OSPEK di tahun berikutnya.


Gadis itu memakai kaos kaki dan sepatunya,lalu menuruni tangga menuju lantai bawah. Suasana kos masih sepi, seluruh penghuninya masih terlelap, sang art pun belum bangun. Maya duduk di teras depan rumah sambil menunggu kedatangan Ryan yang tak kunjung tiba.


“Plok…Plok…Plok…”


Suara derap langkah sepatu yang beradu dengan lantai keramik, Maya menengok ke belakang, rupanya Wulan teman sebelah kamarnya.


“May, duluan ya! Jangan telat lho! serunya membetulkan letak tas ranselnya.

__ADS_1


“Aku masih nungguin bekal siang,nih.”


“Aku aja bawa makanan kemarin malam.”


“Sayurnya takut basi,Lan.”


“Aku bawa sayur pare gak cepat basi. Basi dikit makanlah gak akan mati ini,”selorohnya sambil tergelak.


Maya hanya tertawa sambil melambaikan tangan, jantungnya berdebar makin kencang dan keringat dinginnya mulai keluar, takut gagal OSPEK.


Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya,”Pukul tiga lebih lima puluh empat menit. Ya Allah tinggal enam menit lagi.”


Air mata mulai menggenang di kedua pelupuk mata gadis itu, jauh-jauh ia meninggalkan rumah sampai menyewakan harta satu-satunya itu pada orang lain, di kampung halaman orang malah menjadi orang gagal, pupus sudahlah cita-citanya membahagiakan almarhum papa dan mama. Maya terduduk lesu sambil menatap pintu pagar kos dengan pandangan yang hampa.


Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya,”May…Ini bekal makan siangnya. Buruan ke kampus sekarang!”


Gadis itu menoleh ke samping kanan, Ryan telah berdiri di depan pagar rumah kos, sosoknya kurang jelas terlihat karena jalanan di depan rumah masih gelap, tak ada satupun lampu jalanan. Maya menghapus air mata dengan punggung tangannya, bibirnya kembali menyungging senyuman. Buru-buru gadis itu berlari menjemput Ryan, dipeluknya cowok itu erat-erat dengan perasaan yang bahagia dan penuh haru.


“Makasih,Ryan…Kau telah menyelamatkan hidupku.”


“Sama-sama. Cepatlah kau ke kampus. Gausah banyak basa-basi. Semangat,May!”


Maya mengangguk dan berlari agar tidak terlambat memasuki gerbang kampus. Napasnya tersengal-sengal ketika dirinya sampai di kampus.


“Kurang 1 menit lagi, riwayatku bakal tamat. Puffttt…”


Gadis itu menghela napas lega, sambil meletakkan tas dan barang bawaannya di suatu tempat, serta kembali bergabung dengan kelompoknya untuk melanjutkan OSPEK di hari kedua.


Ryan memandangi Maya dari belakang hingga punggung gadis itu benar-benar menghilang dari pandangan. Cowok itu sadar hari masih pagi dan masih sulit menemukan ojek motor jam segini. Akhirnya Ryan memanfaatkannya untuk jogging hingga sampai hotel. Jalanan masih gelap, hawa dingin menyergap. Baru ada beberapa orang yang mengayuh sepedanya ke pasar dengan barang dagangannya di keranjang belakang sepeda. Ada pula beberapa pengendara sepeda motor yang lewat, rata-rata kendaraan pribadi. Ryan terus berlari di pinggir jalan raya dan memasang gelang fluorescent di lengan kanan dan kirinya agar pengendara kendaraan bermotor dapat melihatnya di jalan dan menghindari resiko tertabrak.


“Lumayan juga, bisa olahraga pagi,”gumam Ryan sambil menyeka keringat yang menetes di dahinya.


Melewati sebuah pohon beringin yang sangat besar di alun-alun, Ryan merasa ada sepasang mata yang mengamatinya.


“Jangan-jangan maling atau rampok yang bersembunyi,”batinnya sambil menengok ke belakang.

__ADS_1


Naluri vampire mengatakan bahwa sosok itu bukan manusia, tapi sepasang mata yang menyorot bagaikan lampu, sebuah warna merah yang menyala.


__ADS_2