
Maya duduk di tepi sungai dengan pakaian yang basah, bola matanya basah menahan tangis karena lututnya tergores dan mengeluarkan darah. Buru-buru Ryan merobek kaos yang dikenakannya untuk membalut luka pada lutut gadis itu. Kini ia mengenakan kaos berlubang yang basah, sementara jaket yang ia kenakan diberikan untuk menutupi tubuh gadis itu yang kedinginan.
“Terima kasih,Ryan. Tapi kasian kamu bajunya bolong dan kedinginan,”ucap gadis itu sambil bersidekap untuk menghangatkan tubuh.
“Gak apa-apa. Laki-laki harus kuat. Kita tunggu sampai tim SAR sampai sini.”
Gadis itu mengernyitkan dahi,”Yakin mereka akan datang secepat mungkin?”
Ryan mengangkat bahunya, bola matanya bergerak menekuni sekelilinya, sungai dengan airnya yang deras, bangkai pesawat yang rusak, sebagian penumpang yang berada di luar tubuh pesawat sambil menunggu pertolongan. Banyak penumpang yang terluka parah masih berada di dalam pesawat.
Seorang perempuan dengan tubuh terluka berusaha memindahkan tubuhnya dengan merangkak, pakaiannya kotor, penuh lumpur dan debu, wajahnya juga menghitam penuh debu, seorang laki-laki menolong memapahnya untuk duduk dan mengobati lukanya.
“Mengapa tak satupun penumpang berusaha mencari penduduk dari desa terdekat?”tanya gadis itu lagi sambil meringis menahan sakit.
“Kamu pikir jalan ke sana dekat,May? Mereka terluka. Aku juga tak tau desa mana yang terdekat. Kau lihat sendiri, sekitar kita seperti hutan,”papar cowok ganteng itu panjang lebar.
Maya mengangkat kepalanya, ia tengadah menatap langit yang terhalang oleh pepohonan berdaun lebat.
“Hari mulai gelap,Ryan. Aku takut,”ujar gadis itu dengan suara bergetar.
Cowok itu mendekat dan berusaha menghiburnya,”Sebentar lagi pasti ada helicopter datang.”
“Kruuk..”
Perut gadis itu berbunyi, perutnya melilit kelaparan.
“Kamu lapar,May?”
Gadis itu mengangguk dan mengangkat dagunya untuk menatap cowok di depannya.
“Tapi kita tak punya persediaan makanan. Atau aku coba masuk ke dapur kabin pesawat untuk mencari sisa makanan di dalam lemari?”
Maya menganggukkan kepala, namun sorot matanya menatap lesu.
“Kenapa?”tanya Ryan lagi.
“Aku takut semua makanan itu sudah rusak karena oven dan microwave sudah tak bisa digunakan. Listrik dan mesin pesawat pasti sudah mati,”sahut gadis itu sambil tertunduk pasrah.
“Atau kamu ingin agar aku berlari mencari penduduk melewati hutan sana?”tanya Ryan sambil memegang tangan Maya yang terasa sangat dingin.
Punggung tangan Ryan diletakkan di dahi gadis itu,”Kamu demam,May!”
__ADS_1
Gadis itu mengangguk dan mengeluh kepalanya pusing,”Mungkin lututku infeksi, nampaknya bernanah juga.”
“Mengapa bisa begitu,May?”
“Karena Lukaku kena bakteri. Harusnya dibersihkan pakai alcohol atau NaCl. Di dalam pesawat mungkin ada. Coba kamu minta pada pramugari,”ujar Maya sambil meringis menahan perih.
Ryan berjalan mencari para pramugari dalam penerbangan kali ini.
“Bapak liat pramugari pesawat tadi?”tanya Ryan pada seorang bapak di luar pesawat.
Laki-laki itu menggelengkan kepala, lalu Ryan berjalan lebih jauh lagi. Seorang ibu tengah menyusui anaknya yang masih balita, duduk di atas tanah dengan posisi dadanya ditutupi kain selendang bermotif naga dan burung.
“Maaf, ibu sempat melihat pramugari ada yang turun?”tanya Ryan .
Ibu itu menggelengkan kepala, lalu menunjuk ke arah pesawat.
Demi rasa sayangnya pada gadis itu, Ryan tanpa pikir panjang langsung kembali ke dalam pesawat untuk mencari para pramugari. Kakinya melesat cepat kembali menaiki tangga pesawat, namun alangkah terkejutnya, ternyata hampir semua orang di dalam sana sebagian besar telah diam tak bergerak,penuh dengan luka-luka.
“Bukannya terakhir mendarat semua penumpang selamat? Atau semua ini hanya halusinasi”batin Ryan.
Cowok itu dengan bergidik langsung mencari kotak penyimpanan obat,kakinya terasa bergetar ketika harus melewati jenasah yang bertebaran di sana sini. Ada yang sedang dalam posisi duduk, ada pula yang dalam posisi terjepit. Seorang pramugari ditemukan dalam posisi penuh luka. Ryan mengurungkan pencariannya dan memutuskan untuk kembali ke bawah.
“Kotak obat pasti ada dalam lemari pendingin,”gumamnya.
“Plang…”
Semua yang ada dalam lemari pendingin berjatuhan, sudut mata Ryan digerakkan ke seluruh ruangan dalam dapur itu, takut ada kejadian seperti dalam film-film yang dilihatnya, mayat kembali bangun dan menjadi zombie.
“Ups..akhirnya aku berhasil mendapatkan alkohol, obat merah, perban,plester, dan gunting,”seru Ryan dalam hati lalu segera turun ke bawah.
Sampai di pinggiran sungai, anehnya Ryan tak berhasil menemukan seorang manusia pun di sana.
“Halusinasi mempermainkanku! ****!”seru Ryan dalam hati.
Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal karena marah, Ryan berteriak hingga suara teriakannya mencapai langit.
“Arrgh…..”
Kekuatan vampire-nya membuatnya dapat memecahkan semua halusinasi yang ada di depan matanya. Kembali ia menemukan gadis itu masih duduk di atas batu sambil meringis menahan sakit.
“Gila,May. Pesawat itu membuatku berhalusinasi. Bukannya semua penumpang selamat kan? Tadi aku melihat mereka semua di atas mati dan aku lihat ke bawah juga tidak ada manusia, terus aku berteriak dan semuanya kembali normal,”papar cowok itu sambil mengobati luka Maya.
__ADS_1
“Serius?”
Ryan mengangkat dagunya dan mengangguk.
“Jangan-jangan apa yang kamu lihat itu merupakan penampakan kejadian beberapa jam kemudian. Artinya kita semua akan mati kalau tim SAR tidak berhasil menemukan kita,”sahut Maya sambil menelan salivanya.
“Nah,May. Sekarang lukanya sudah bersih. Kita langsung ke rumah sakit agar kamu mendapatkan obat seperlunya,”ujar Ryan sambil tersenyum.
“Terima kasih,Ryan.Tapi cobalah kamu liat langit itu,makin gelap dan nampak akan turun hujan.”
“Kalau begitu, dengan terpaksa aku akan membawamu terbang keluar dari sini,”bisik cowok tampan it uke telinga Maya.
“Jangan! Nanti mereka curiga dan membocorkan jati dirimu ke media sosial,”sahut gadis itu dengan suara lirih.
“Baiklah. Aku akan gendong kamu sampai ke dalam hutan. Lalu kita terbang dan mencari pertolongan agar semua penumpang di pesawat itu selamat,”ujar Ryan sambil menggendong Maya keluar dari bibir sungai.
“Koper-koper kita bagaimana?”tanya gadis itu dalam gendongan.
“Kita lupakan sementara,May. Yang penting dokumen penting ada di dompet kita,”sahut Ryan sambil berjalan ke dalam hutan yang gelap.
Hawa dingin terasa menusuk hingga ke dalam tulang, menembus pakaian tipis dan berlubang yang dikenakan cowok itu. Makin ke dalam hutan, suasana makin gelap dan menyeramkan.
“Hati-hati,Ryan. Aku takut ada binatang buas di sana,”seru Maya mengingatkan.
“Iya. Sepertinya ada ular. Aku mendengar desisnya dari kejauhan. Sekarang bersiaplah untuk terbang,”ujar Ryan yang langsung melesat ke udara.
“Wah….rasanya lebih mirip naik becak di angkasa,”seloroh gadis itu sambil tertawa.
“Iya..sama sekali tidak ada turbulence. Dan sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit yang terdekat,”sahut Ryan sambil menukik menghindari burung camar yang terbang di malam hari.
“Awas Ryan! Kenapa di daerah ini banyak sekali burung camar?”tanya Maya.
Gadis itu menutupi wajahnya dengan dua telapak tangannya untuk berjaga-jaga jangan sampai burung-burung itu mematuknya.
“Kan di bawah kita lautan,May. Burung camar seringkali terbang melintasi lautan dan mengikuti arus perahu nelayan yang pergi mencari ikan malam hari,”papar cowok itu seraya menjelaskan.
“Serem banget,Ryan. Jumlahnya ribuan,”seru Maya ketakutan.
“Tenang aja. Sebentar lagi kita akan sampai ke daratan dan burung-burung itu akan pergi. Kita cari rumah sakit terdekat agar lukamu cepat sembuh,”hibur Ryan.
Gadis itu memejamkan mata karena kepalanya sudah pusing menyaksikan ribuan burung camar melintas di atas kepalanya.
__ADS_1
“Burung-burung ini suka mengganggu penerbangan juga,May. Liatlah sudah ada banyak gedung-gedung di bawah kita. Semoga aku bisa menemukan sebuah rumah sakit atau minimal klinik 24 jam yang buka di malam hari,”seru Ryan dengan bola mata bersinar.
Cowok itu akhirnya berhasil melepaskan diri dari kerumunan burung camar dan melayang rendah untuk mencapai bumi.