Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 98: Kepanikan di Kos


__ADS_3

Mentari kembali ke peraduannya,membuat semburat langit jingga yang sangat elok dipandang mata. Maya telah menyelesaikan kuliahnya hari itu dan kembali ke kos dengan membawa sekantong bekal untuk makan malamnya yang dibeli dari warung terdekat di sekitaran rumah kosnya. Di teras nampak Bu Laksmi sedang duduk di atas kursi rodanya dengan sang art di belakangnya.


“Selamat sore Bu,”sapa Maya sambil menganggukkan kepala untuk memberi hormat.


“Sore. Kamu udah pulang?”tanyanya sambil tersenyum ramah.


“Sudah,Bu. Permisi saya ke atas dulu.”


Bu Laksmi hanya mengangguk sambil memandang lurus ke depan, menatap tanaman anggreknya berbunga dengan subur.


Di kamarnya, Maya membersihkan diri lalu bergegas membuka kertas pembungkus makanan dan meletakkan di atas sebuah piring dan menyantapnya. Ditatapnya setiap sudut kamarnya yang masih berantakan, pakaian kotor masih menumpuk belum sempat masuk laundry, kertas-kertas bekas belajar semalam juga masih berserakan. Meja yang ia pakai untuk alas makan adalah sebuah meja makan kecil dengan dua kursi yang ia beli secara online karena ibu kos tidak menyediakannya. Selagi gadis itu membuka botol air mineral dan hendak meminumnya, sebuah pesan masuk berbunyi dari ponselnya. Maya melirik ke arah jam yang ditunjukkan oleh ponselnya.


“Pukul tujuh lewat dua puluh sembilan menit,”batinnya.


Artinya di New York masih pagi di jam yang sama, beda 12 jam lebih awal daripada di Indonesia.


“May…Aku udah sampai di New York dan menempati apartemen bertiga dengan mahasiswa lain dari Indonesia.”


Maya mengetikkan sebuah balasan melalui whattsup untuk Ryan yang kini sudah memulai masa pre university-nya di negeri Paman Sam.


“Teman-teman cowok atau cewek?”


“Cowoklah. Masa cewek. Kamu jealous?”


“Iyalah. Jangan lirik-lirik bule di sana.”


“Iya. Aku mau breakfast dulu,May. Love u.”


“Love u,too.”

__ADS_1


Waktu terus bergulir, Maya membersihkan kamarnya dan membuang semua sampah ke depan tangga dimana sampah lantai dua dikumpulkan dalam sebuah tong berukuran besar, dengan harapan sang art segera mengambilnya dan membuangnya ke bak sampah besar di depan rumah. Suasana kos malam itu senyap, semua penghuninya sedang sibuk dengan tugas kuliahnya masing-masing. Di lantai bawah terdengar suara mencicit dari token listrik yang meraung-raung minta diisi. Melewati kamar Wulan, lampu nampak masih gelap menandakan gadis itu belum pulang. Setiap hari sepulang kuliah, Wulan selalu berangkat kerja di sebuah mall yang mempekerjakan dirinya sebagai customer service dengan shift malam. Maya cukup prihatin sekaligus simpati dengan cara gadis itu membagi waktu dengan urusan kuliahnya yang padat.


Maya merebahkan dirinya di atas tempat tidur setelah menyelesaikan semua tugas kuliah untuk keesokan harinya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan matanya mengantuk, ditariknya selimut dan matanya mulai dipejamkan.Ia tertidur pulas untuk beberapa jam hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika terdengar suara gaduh dari lantai satu. Maya membuka matanya yang terasa masih sangat lengket dan tubuhnya pun serasa enggan untuk bangun. Diliriknya jam dinding yang terpasang di atas pintu kamarnya, dalam keremangan ia dapat melihat dengan jelas.


“Pukul sebelas lewat lima menit.”


Maya memasang telinganya, seperti suara percakapan dari banyak orang di bawah. Rasa ingin tahunya muncul, gadis itu mendadak menjadi segar dan bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah saklar lampu.


“Ceklek.”


Kamar berubah sangat terang, ditempelkannya daun telinganya di dekat pintu, suara itu masih samar-samar namun sangat gaduh. Maya membuka pintu dan berjalan ke arah tangga sehingga ia dapat melihat dengan jelas, lima penghuni kos keluar dengan mengenakan piyamanya, nampak sedang bercakap-cakap dengan ibu pemilik kos. Satu di antaranya nampak sibuk menelpon sebuah nomor dan bercakap-cakap dengan serius. Lalu terdengar suara sang art seperti berteriak ketakutan.


“Masya Allah….”


Maya penasaran dan turun ke lantai satu, bergabung dengan lainnya.


“Ada apa ini kok ramai betul?”


Dian adalah anak Fakultas Biologi yang gedungnya bersebelahan dengan Fakultas Kedokteran Umum.Gadis berambut panjang itu berasal dari Bantul, dan merupakan teman SMA Wulan.


“Yang bener? Sekarang dimana? Parahkah?”


“Rumah sakit umum pusat. Yuk kita ke sana!”ajak Bu Laksmi sambil berdiri menggunakan tongkat bantu jalan tiga kaki dengan dipapah sang art.


“Udah telpon orang tuanya belum?”tanya Maya.


“Mereka sedang menuju kemari,”sahut Dian sambil memesan taksi online dari ponselnya.


Akhirnya lima penghuni kos dan ibu kos berdesak-desakan masuk ke dalam taksi, sisanya menunggu di kos dengan harap-harap cemas. Sepanjang jalan yang gelap membuat kelimanya terdiam dengan pikirannya masing-masing selama berada di dalam taksi. Bu Laksmi nampak menggenggam tangan sang art dengan bergetar,wanita tua itu turut prihatin dengan nasib anak kosnya dan turut bertanggung-jawab akan keselamatan Wulan sehingga meskipun ia susah jalan tetap memaksakan diri untuk ikut membezuk Wulan di rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Dian buru-buru menuju ruang receptionist.


“Wulan masih di UGD. Yuk kita ke sana!”


Maya nampak kasihan dengan Bu Laksmi, ia berjalan di sisi kiri ibu pemilik kos, sementara itu sang art ada di sisi kanannya. Ibu kos berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya hingga mereka sampai ke sebuah ruangan yang memanjang dengan sepuluh tempat tidur berderet. Hanya ada tiga pasien salah satunya Wulan yang nampak diperban kaki dan tangannya karena lecet-lecet. Wajahnya nampak membiru di kening dan pipi akibat terjungkal di atas aspal yang meninggalkan luka goresan yang membuat permukaan kulitnya sedikit membengkak dan kebiruan.


“Untunglah kau cuma luka-luka kecil,”kata Dian sambil mendekati ranjang dimana Wulan dirawat.


“Iya..Tapi perihnya minta ampun,”sahut Wulan sambil meringis kesakitan.


“Gimana kejadiannya sih?”tanya Maya ingin tahu, wajahnya tampak serius memandang luka-luka di tubuh gadis itu.


“Kayaknya pengemudi mobilnya mabuk. Tapi dia bayarin semua pengobatan ini.”


“Orangnya dimana?”tanya Bu Laksmi.


“Masih di kantor polisi,”sahut Wulan sambil meluruskan kakinya.


Tiba-tiba muncul dua orang tua yang berjalan tergopoh-gopoh ke ruangan itu, penampilannya sangat sederhana.


“Eh…bapak dan ibu. Maaf merepotkan kalian,”seru Wulan dengan wajah bahagia.


“Aduh,Nduk. Ibu sampai deg-degan gak karuan. Sampai nyewa angkot buat ke sini,”seru sang ibu sambil mengelus dan menciumi kepala sang putri.


“Terima kasih sudah menengok Wulan ya…”kata sang ayah sambil tersenyum.


Orang tua Wulan nampak lega setelah menyaksikan sang putri dalam keadaan sehat. Ibunya menyeka air mata dengan punggung tangannya, tubuhnya yang kurus dibalut hijab berwarna merah muda, di wajahnya nampak jelas kerutan yang menandakan usianya tak lagi muda. Sang ayah mengenakan batik dan celana hitam lengkap dengan pecinya.


Dalam hati Maya berpikir, Wulan jauh lebih beruntung, orang tuanya masih lengkap meskipun mereka hidup sederhana. Gadis itu keluar ruangan sebentar untuk menghirup udara segar karena di dalam UGD penuh sesak dengan manusia. Langit masih gelap dengan taburan bintang-bintang yang menerangi angkasa. Nampak sebuah angkot berwarna merah bergaris biru terparkir di depan UGD berderet dengan sejumlah mobil lainnya.

__ADS_1


“Sebuah pengorbanan orang tua yang penuh kasih sayang. Meskipun punya keterbatasan keuangan tetap menyempatkan diri untuk menyewa angkot,”gumam Maya sambil menitikkan air mata.


__ADS_2