
Maya menginjakkan kakinya di ruang kelas yang masih kosong melompong. Kedua tangannya bersedekap untuk menghangatkan tubuh setelah hampir satu kilometer naik sepeda di pagi yang masih dingin. Langkah kakinya membuat irama tersendiri ketika sneakers yang dipakainya berbenturan dengan jalanan yang disemen di sepanjang koridor sekolah terus hingga ke parkiran mobil dan berhenti di halaman samping sekolah dimana cogan biasa menunggunya.
“Bluuk..bluuk…bluuk…”
Parkiran mobil masih kosong, pasti Ryan si cogan itu datang dalam keadaan mepet di saat bel tanda masuk berbunyi. Sambil duduk di atas kursi besi yang panjang di samping halaman sekolah, Maya membuka buku materi Biologi kelas II A dan mulai membacanya.
Sebuah mobil mewah warna putih berpintu dua memasuki halaman sekolah, dan berhenti tepat di depan pintu masuk. Gadis kepang dua tertarik untuk mengetahui siapa siswa yang mengemudikan mobil keluaran terbaru. Dengan mengendap-endap, gadis itu bersembunyi di balik pepohonan. Seorang siswi cantik berambut blonde dengan tubuh tinggi semampai dibalut seragam putih abu-abu turun dengan membawa tas ranselnya yang terlihat paten, pastinya merk ternama kelas dunia. Diperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dialah Alisha. Tapi ada yang aneh dengan gadis itu, matanya menyala merah. Maya mengucek-ucek matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sosok Alisha berjalan mendekatinya. Ia hanya lewat dan pura-pura tidak melihat Maya yang sedang duduk membaca buku.
“Tapi matanya kembali coklat seperti biasanya,”gumam Maya yang tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya barusan.
Si gadis kepang dua membalikkan badan ke arah parkiran sepeda yang letaknya lebih ke dalam. Masih dua tiga siswa bersepeda yang datang ke sekolah. Maya terus membaca dengan tujuan lebih memahami pelajaran ketika guru Biologi menerangkan di kelas.Tak terasa waktu terus bergulir dan siswa mulai berdatangan. Gadis itu masih nyaman duduk di halaman samping sekolah hingga dirinya dikejutkan oleh tepukan di pundaknya.
“Hai…”
Maya mengangkat dagunya, dan tersentak, cogan sudah berdiri di hadapannya dengan seragam putih abu-abu dan tas ransel hitam di punggungnya.
“Kamu…Bikin kaget aja.”
Keduanya lalu tertawa dan berjalan menyusuri halaman samping sekolah menuju kelas mereka.
“Tumben datang pagi bener,”kata Ryan sambil memasukkan kunci mobilnya ke dalam tas sekolah.
“Iya. Biar jalanan gak macet aja.”
“Makanya aku anter jemput lagi. Mau?”
“Gausah.Lain kali aja. Omong-omong tumben Alisha sekarang datang pagi banget.”
“Oh ya? Mungkin dia kapok karena kena skors tempo hari.”
“Iya mungkin aja. Tapi ada yang aneh sama dia. Matanya menyala merah pas turun dari mobil.”
__ADS_1
“Matamu aja yang salah liat kali,May. Atau pakai contact lens merah?”
“Setau aku gak diijinkan bagi siswa pakai contact lens warna-warni,”papar Maya dengan wajah serius.
“Yaudah lupain aja. Gak penting banget,”sahut Ryan sambil menggandeng tangan Maya agar cepat sampai di kelas.
Sementara itu di rumah orang tua Alisha…
Mama keheranan akhir-akhir ini Alisha makin badung dan kebiasaan makannya berubah.
“Bener,Bi? Alisha makan daging sapi harus setengah matang? Masih alotlah dagingnya,kasian anak itu,”protes mama pada seorang art setengah baya yang bertugas menjadi koki keluarga.
“Maunya begitu,Nyah Udah lama. Ada tiga bulanan. Katanya lebih seger kayak steak di restoran. Medium well apalah gitu istilahnya.”
“Kalau steak kan beda,Bi.”
Papa muncul dan bersiap sarapan, Alisha memang berangkat sekolah duluan jadi sarapan lebih dulu dibanding kedua orangtuanya.
“Itu kata bibi, pola makan Alisha sekarang berubah. Maunya daging sapi setengah matang.”
“Ya terserah dialah. Yang penting dia mau makan.”
“Ah papa ini. Bisa cacingan kan?”
“Udah gak apa-apa. Anak sudah besar kok. Bebasin aja mau makan apa.”
Mama hanya terdiam dan makan dengan lesu. Sepertinya pikirannya terkuras oleh banyak masalah, tidak hanya di kantor namun juga urusan keluarga. Alisha,putri tunggal kesayangannya tiba-tiba menjadi sangat badung dan sangat bermasalah, tidak hanya di sekolah namun juga melanggar hukum. Sudah banyak uang yang mama keluarkan untuk putri kesayangannya. Papa pun maklum meskipun sering temperamental karena tidak sabaran.
Saat pulang sekolah…
Maya menuntun sepedanya keluar dari parkiran sepeda dan meletakkan tas ranselnya di keranjang yang terletak di depan sepedanya. Gadis itu mengayuh sepedanya di tepian jalan raya sehingga kedua kepang rambutnya terayun-ayun ditiap angin. Udara siang yang mulai panas menyebabkan kepalanya ikut berdenyut. Gadis kepang dua menepikan sepedanya dan mengambill sebuah topi, diangkatnya kedua kepang rambutnya dan dimasukkan ke dalam topi sehingga ia nampak tanpa rambut. Diam-diam Ryan mengamatinya dari jauh. Cowok itu merasa kasihan melihat Maya yang kepanasan harus mengayuh sepedanya namun apa daya, tawarannya untuk antar jemput ditolaknya mentah-mentah dengan alasan kini ia sudah pulih dari memar-memar.
__ADS_1
Ryan turun untuk membeli minuman dingin dan menikmatinya di dalam mobil sambil menunggu pesanan sepiring siomay tepi jalan tak jauh dari sekolahmya. Spion mobilnya ditegakkan agar ia dapat melihat mobil lain yang bergerak dari belakang mobilnya. Jari jemarinya asyik mengatur gerakan garpu untuk mengambil setiap potongan siomay ikan dari atas piring dan mencoleknya dengan saus sambal.
“Not bad,”gumamnya sambil menyedot teh manis dingin dalam botol.
“Seandainya ada Maya, mendingan makan bakso di pertokoan,”batin cogan yang asyik dengan kesendiriannya.
Hampir separuh makanan yang ia habiskan namun tiba-tiba perasaannya sungguh tidak enak, dilihatnya spion tengah mobilnya, sebuah mobil putih yang mewah, kemungkinan besar milik Alisha yang terkenal kaya raya. Cowok ganteng itu buru-buru meninggalkan piringnya dalam mobil dan mengantongi kunci mobilnya di dalam saku celana panjangnya. Dilihatnya mobil putih mengikuti arah sepeda Maya ke tikungan dan…
“Hups…” tubuh Maya berhasil ia selamatkan dan sepedanya terjatuh.
Sementara itu mobil putih berbelok melaju dengan kencang nyaris menabrak pagar rumah yang letaknya di belokan.
“Aduh..apa-apaan sih?”tanya Maya masih keheranan.
Gadis itu terjatuh tepat menindih tubuh Ryan yang terkapar di tepi jalan raya. Untung ada polisi lalu lintas yang memberhentikan mobil-mobil yang lewat.
Wajah ganteng milik Ryan tepat berada di depan mukanya, wangi tubuhnya yang khas membuat getaran tersendiri untuk gadis itu.
“Ma..maaf,”kata Ryan sambil berusaha bangun dan membetulkan rambutnya yang acak-acakan dan kotor terkena tanah dan kotoran.
“Tadi kamu nubruk aku. Terus sepedaku diserempet mobil putih?”
“Itulah..Makanya aku tarik kamu ke tepi jalan dan jatuh.”
“Ta..tapi gimana kamu bisa tau kalau aku mau ditabrak? Mobilmu mana?”
Si ganteng nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“Aduh….Mesti ngomong apa? Hampir saja ketauan kalau aku…”
“Udahlah yang penting kamu selamat. Makanya lain kali aku anter jemput lagi ya?”
__ADS_1
Maya hanya tersenyum malu-malu, pipinya yang putih kembali bersemu merah. Kali ini ia tak dapat menolak untuk diantar pulang, sepedanya dimasukkan ke bagasi mobil bagian belakang.