Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 136: Kenangan


__ADS_3

Malam itu sangat dingin karena hujan turun terus menerus, kilat pun menyambar-nyambar, Maya mengintip dari korden kamarnya yang menghadap ke perkampungan. Dilihatnya bulan bersinar penuh, langit nampak sangat gelap, dan rumah-rumah di bawah sana menutup pintu dan jendelanya rapat-rapat. Pohon-pohon nampak tertiup angin sangat kencang, dahannya miring ke kiri karena angin kencang datang dari arah kanan. Maya kembali menutup korden kamarnya. Ia sedang menyelesaikan sebuah tugas laporan ilmiah sebagai tugas akhir di semester 1, artinya sebentar lagi ia akan memasuki perkuliahan semester 2. Itu artinya enam bulan lagi Ryan akan kembali berangkat ke Amerika untuk meneruskan kuliahnya.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Maya termenung, tangan kanannya menyangga dagu, terkenang peristiwa dua tahun yang lalu dimana Ryan pertama kali menjadi siswa baru, siswa paling tinggi dan paling tampan di sekolahnya. Hampir semua siswi di sekolahnya terkagum-kagum dan ingin mendekatinya, termasuk Alisha, siswi paling cantik,paling kaya, dan paling populer sekaligus merangkap cheerleader sekolah.Suatu hari di jam istirahat pertama, Maya masih sibuk mencatat dari papan tulis, ketika cowok tampan paripurna itu datang ke mejanya dan memperkenalkan diri.


“Hai…Kenalin aku Ryan Sanders, nama panggilanku Ryan. Boleh aku duduk di sini?”sapanya ramah.


Maya mengangkat dagunya, bola matanya yang bulat dan bening menatap wajah tampan itu seakan tak percaya, dipikirnya cowok kaya yang tampak dingin itu sedemikian angkuh, terlebih dirinya saat itu tak lebih dari seorang cewek yang hanya berkutat di pelajaran, pincang pula.


“Hai juga. Namaku Maya Trisha Purnomo. Biasa dipanggil Maya. Aku sekretaris OSIS di sini. Kamu siswa baru ya?”


“Iya,”sahut Ryan singkat sambil terus mengamati wajah Maya yang cantik.


Gadis itu nampak salah tingkah, namun cepat-cepat ia mengalihkan perhatiannya kembali, dan berkutat pada buku catatannya. Sebagai aktivis OSIS dirinya sering meninggalkan kelas dan harus mengejar ketertinggalannya di saat istirahat.


“Boleh aku minta bantuan kamu kalau ada pelajaran yang kurang paham?”


“Mengapa harus aku?”tanya Maya sambil melebarkan senyum manis dengan sepasang lesung pipitnya.

__ADS_1


“Itu saran dari wali kelas. Katanya kamu juara kelas di sini,”ujar Ryan yang masih duduk secara terbalik, sehingga ia bisa menatap Maya dengan leluasa.


“Beliau bilang begitu?”tanya Maya sambil memegang pulpen.


Ryan mengangguk, cowok itu rela menghabiskan jam istirahatnya demi mendekati dan mendapatkan hati gadis itu.


Sejak saat itulah Ryan sering menjemput Maya untuk mengajarinya, terutama bisa saat ujian tiba. Maya jadi teringat, bila hujan tiba,Ryan akan melarangnya pergi ke sekolah dengan sepeda, lalu menjemputnya dan mengantarnya kembali pulang ke rumah. Cowok tampan yang awalnya sangat dingin dan sedikit arogan, namun ternyata sangat baik dan sopan sehingga mendapatkan tempat di hati sang mama. Maya kembali sedih teringat masa-masa dimana sang mama masih hidup. Orang tua tunggal yang selalu berjuang agar dirinya memperoleh Pendidikan yang terbaik, hingga akhirnya mama menutup mata. Maya kini yatim piatu, papa pergi begitu cepat di saat dirinya masih kelas V sekolah dasar, kecelakaan yang membuatnya pincang dan menjadi bahan olok-olok terutama Alisha yang cantik dan kaya raya. Maya menyeka air mata dengan punggung jarinya, wajahnya tengadah untuk menahan air mata agar tidak mengalir.


Kini ia hanya memiliki Ryan, cowok baik hati yang menempati relung hatinya yang paling dalam. Cowok yang kini tidak bisa hadir setiap saat. Gadis itu kembali merindukannya, hanya Ryan-lah penyemangat hidupnya saat ini, seorang manusia setengah vampire, Maya telah menerima apapun kondisinya, bukan karena keluarganya yang kaya raya namun karena cinta dan pengorbanan Ryan untuknya sangat besar. Maya kangen untuk melihat wajahnya malam itu, diraihnya ponsel yang terletak di sudut meja belajarnya. Dilihatnya Ryan masih online, diberanikannya untuk menelpon cowok itu terlebih dahulu.


Telepon dari seberang sana belum juga diangkat, mungkin Ryan sedang melakukan suatu pekerjaan dan tidak sedang memegang ponselnya. Maya mengetikkan pesan singkat untuknya, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hujan masih belum juga reda, namun bunyi petir semakin berkurang, tinggal hujan rintik-rintik disertai angin yang masih terdengar menimpa daun jendela kamarnya.


“Driing…Driiing…”


Bunyi telpon berdering Ketika Maya mulai tertidur, dalam keadaan setengah sadar , gadis itu meraih ponselnya yang terletak di atas meja belajar, persis di sebelah kiri tempat tidurnya.


“Halo…”

__ADS_1


Maya menjawabnya dengan suara sedikit parau karena mengantuk.


“Halo,May…Ada apa? Belum tidur?”sahut Ryan dari seberang sana yang memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


Sontak gadis itu membuka matanya, hatinya berbunga-bunga sang kekasih membalas telponnya.


“Gak apa-apa. Cuma kangen.”


Ryan tertawa terkekeh, lalu ia berkata,”Tiga hari lagi nanti aku datang ke kosmu. Kita jalan-jalan lagi.”


“Yang bener? Seneng banget akhirnya kamu bisa datang,”sahut gadis itu sambil tertawa.


“Benerlah. Sekarang lagi belajar bantu papa di kantor. Udah dulu,May. Hari sudah malam. Kamu istirahat biar besok gak telat bangun. Sampai jumpa,”pamit Ryan .


“Sampai jumpa juga,”sahut Maya dengan hati melonjak bahagia.


Maya kembali menarik selimutnya dan membenamkan tubuhnya di bawah selimutnya yang hangat. Hatinya sangat gembira menanti kedatangan sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2