
Maya duduk terpaku menatap monitor sebuah laptop yang ada di pangkuannya. Bola matanya yang bulat dinaungi sepasang bulu mata lentik beberapa kali mengerjap dengan bibir mungilnya yang terkatup rapat, hanya jari jemari lentiknya yang lincah menggerakkan mouse di atas mouse pad hitam yang diletakkan di atas pangkuannya.
“May…Serius amat? Jadi serem nih,”ledek Ryan di belakang kemudi.
Gadis itu menoleh dan tersenyum manis, memamerkan sepasang lesung pipit yang tercetak dengan jelas di kedua pipinya yang putih bersih.
Ryan mengelus kepala gadis itu dengan tangan kirinya, lalu terkekeh.
“Yaudah. Semangat aja! Boleh aku anterin gak ke tempat lomba?”tanya Ryan dengan wajah lurus menghadap jalan raya.
“Mana boleh?Nanti juga berangkat dianterin mobil sekolahan,”sahut Maya sambil memperhatikan Ryan yang sedang fokus mengemudi.
Cowok itu tampak sangat tampan dalam seragam putih abu-abunya, hidungnya mancung dengan alisnya yang lebat dan garis rahang yang kuat dan tegas. Kulitnya yang terang, tangannya yang berotot, dan kumisnya yang habis dicukur itu membuatnya tambah macho. Hati Maya meleleh dibuatnya.
“Sungguh ketampanan yang sempurna. Sungguh beruntung cowok itu berlabuh di pelabuhan hatiku,”batin Maya sambil mencuri pandang ke arah Ryan.
“Hayo…Ngeliatin mulu dari tadi ya?”ledeknya lagi sambil terkekeh.
“Ah enggak…Cuma cuci mata aja biar gak stress mau lomba,”sahut Maya ngasal.
“Cuci matanya liatin aku kan?”
Cowok itu kembali tertawa hingga matanya menyipit, dan membusungkan dadanya.
Maya hanya bisa menelan salivanya,”Kalau bener..Gak salah juga dong. Kan cowok sendiri.”
Gadis itu memberanikan diri membuat jawaban yang dinilainya terlalu berani, tapi apalah daya daripada kalah skak.
Ryan memang terlihat dingin bagi yang belum kenal, tapi di mata gadis itu, Ryan adalah sosok cowok yang hangat dan melindungi.
“Boleh banget,May. Liatin aku terus. Nanti pasti menang kok.”
“Kali ini tuan rumahnya hebat,Ryan. Tiga tahun berturut-turut pemenangnya dari sekolah itu juga. Aku dan Yusuf cuma punya target tiga besar. Gak berani lebih takut kecewa,”papar gadis itu panjang lebar.
Ryan membelalakkan matanya dan berseru,”Itu udah hebat,May! Pokoknya tiga besar deh.Aku dukung!”
Mulut gadis itu masih komat kamit menghapalkan materi sambil menatap monitor laptop, hingga tak sadar mobil milik Ryan telah terparkir rapi di halaman sekolah.
“Ayo turun!”seru Ryan sambil melepaskan seat belt.
Maya tersentak kaget, buru-buru dimatikannya laptop dan memasukkan ke dalam tas.
“Tunggu,Ryan. Aku deg-degan banget nih,”seru Maya sambil berusaha menenangkan dirinya.
Gadis itu menghela napas panjang sebelum turun dari mobil. Ryan membantunya mengangkat laptop miliknya.
“Gausah. Nanti aku dikira cewek manja pula,”cegah Maya sambil merebut laptop dengan lembut dari tangan Ryan.
“Oh ya,May. Sampai ketemu nanti malam! Jangan lupa kabari hasil lombanya,”teriak Ryan ketika mereka berpisah di depan kantor kepala sekolah.
__ADS_1
“Doain ya!”
“Pasti!”
Hari itu hanya dua guru dan dua siswa yang mendapat kesempatan mendampingi siswa yang ikut LKIR di sebuah sekolah ternama di ibukota. Mereka akan berangkat menggunakan mobil sekolah.
Pak Thomas telah bersiap dengan kunci mobil di tangan kanannya. Guru senior berusia sekitar 45 tahun itu tampak serius berbincang-bincang dengan Miss Dewi,guru senior mata pelajaran Biologi yang biasa mengajar di kelas akhir SMA. Miss Dewi,wanita berusia 40 tahunan, bertubuh agak subur dan berkulit kuning langsat itu tampak membetulkan letak kacamatanya. Lalu mereka tertawa bersama. Dua siswa yang tak lain adalah pengurus OSIS telah siap di depan kantor kepala sekolah. Mereka akan memberi semangat untuk tim lomba KIR yang terdiri dari dua personil. Dua pengurus OSIS ini adalah Affandra selaku ketua OSIS dan Dina, sie bagian pembinaan prestasi akademik.
“Oh…Jagoannya udah kumpul semua. Yuk kita berangkat!”ajak Pak Tomas sambil menuruni anak tangga menuju parkiran mobil.
“Udah pada makan belum nih?”tanya Miss Dewi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Udah,Miss.”
“Belum,Miss.”
“Lho…Ada yang udah. Ada yang belum? Ambil aja sendiri-sendiri ya! Ada 12 kotak makanan bekal dari sekolah kita. Bisa dimakan sampai siang,”papar guru biologi itu sambil tertawa.
Artinya sepanjang perlombaan mereka akan memakan menu yang sama.
Yusuf yang bertubuh agak gemuk dan berkacamata tebal itu langsung menerima nasi kotak pemberian Miss Dewi dan memakannya di dalam mobil.
“Bocah itu memang dari SD doyan makan,”gumam Maya yang diam-diam mengamati cara Yusuf makan.
“Aku makan dulu,May. Tadi belum sarapan,”katanya.
“Yaudah makan aja yang banyak. Biar kamu gak lemes pas menjawab pertanyaan juri,”sahut Maya sambil tertawa.
“Semangat ya May,”seru Affandra yang mengagetkannya dari arah belakang.
“Iya,Ndra. Doain aja!”kata Maya sambil memusatkan perhatiannya pada hapalan yang ada di depan mata.
“Kalau lapar kalian makan aja. Gausah sungkan-sungkan. Ayo Maya,dimakan.”
“Iya,Miss. Nanti aja.Maya masih kenyang.”
“Kita jam berapa baru kebagian giliran,Suf?”tanya Maya sambil menatap Yusuf yang sedang mengunyah makanan.
Cowok itu terlihat lucu dengan pipi tembam penuh makanan, Maya nyaris tergelak dibuatnya.
“Kira-kira jam sebelas ya,Pak?”tanya Yusuf pada Pak Tomas yang duduk di belakang kemudi.
“Ya sekitar itulah. Bisa lebih juga. Tapi kalian harus siap 30 menit sebelumnya,”sahut Pak Tomas sambil terus menatap jalan raya.
“Makanya,May. Kamu lebih baik makan lagi. Takut kelaparan malah lemes pas presentasi,”imbuh Miss Dewi yang berlagak layaknya mak-mak yang takut anaknya kelaparan.
“Iya,May. Lebih baik dimakan aja biarpun sedikit,”imbuh Dina yang duduk di jok paling belakang.
Akhirnya Maya menerima nasi kotak pemberian Miss Dewi dan memakan separuhnya.
__ADS_1
Mobil pun memasuki pelataran parkir sebuah SMA dengan gedung mewah bertingkat layaknya sebuah apartemen dari kejauhan.
“Kalian turun dengan tertib ya! Kalau mau maju, kalian ke restroom dulu. Takut gak ada ijin pas udah masuk lomba.”pesan Pak Tomas sambil mengunci pintu mobil.
Di ruangan lomba yang berupa sebuah hall besar telah dipenuhi oleh para siswa yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Sepertinya ada sebuah ruangan khusus di dalam dimana para peserta yang dipanggil akan masuk ke sana dan mempresentasikan karyanya di hadapan para juri.
Mereka duduk berderet dalam sebuah bangku panjang sambil menunggu giliran. Di ruangan terbuka itu hanya ada dua buah ceiling fan sehingga udara sedikit panas. Mentari bersinar sangat terik, awan putih berarak-arak, udara pun menjadi kering. Yusuf yang bertubuh agak subur merasa kegerahan, berkali-kali ia mengipasi dirinya dengan sebuah kipas kertas ukuran kecil.
“Tenang aja Suf,”bisik Miss Dewi sambil terkekeh mengetahui siswanya mulai grogi.
Maya mengamati sekelilingnya dengan sudut matanya. Siswa sekolah ini yang mengenakan baju batik seragam yayasan, tampak perlente dan penuh percaya diri. Seragam sekolahnya warna putih-putih dengan badge yayasan.
Gadis itu memejamkan diri untuk berdoa dan menyemangati dirinya agar tetap yakin saat berjuang. Berkali-kali Maya menghela napas panjang untuk menenangkan diri.
“Kelompok keenam belas!”
“Giliran kita,Suf!”seru Maya sambil menarik tangan Yusuf yang terlihat kaku di kursi.
“Oh iya. Mari Pak, Bu..Kami masuk dulu,”pamit keduanya.
“Percaya diri aja kalian! Semoga sukses!”seru Pak Tomas dan Miss Dewi berbarengan.
Affandra dan Dina memberi semangat dengan mengepalkan tangan kanan mereka sambil tersenyum.
Maya mengucapkan selamat siang kepada para juri dan mulai menyalakan OHP. Gadis itu mempresentasikan karyanya mengenai “Reduplikasi DNA pada Kelelawar” dengan disertai data-data paling aktual dan paling update, penjelasannya sangat jelaas dan terperinci disertai bukti-bukti ilmiah dan nama-nama Latinnya. Kini giliran para juri untuk menanyakan hal-hal yang ingin mereka ujikan. Maya dan Yusuf dapat menjawab pertanyaan para juri dengan nyaris sempurna. Presentasi yang berlangsung lebih dari satu jam itu mendapat tepuk tangan meriah.
Gadis itu dapat menghela napas dan merasakan dirinya kembali tenang, detak jantungnya kembali normal. Kini ia duduk berderet kembali sambil menanti keputusan juri.
“Deg-degan gak,May?”tanya Miss Dewi sambil tertawa.
“Iyalah,Miss.”
“Coba kalau ada Ryan pasti gak deg-degan,”goda Pak Tomas.
Para siswa tertawa, wajah Maya bersemu merah. Tak disangkanya kepala sekolah pun tahu hubungannya dengan Ryan terendus juga.
“Gak apa-apa. Sebentar lagi mereka akan kuliah kok,Pak. Namanya anak muda,”kata Miss Dewi membela Maya.
“Iya. Gak apa-apa. Kita juga pernah muda kan,Bu?”
Akhirnya dua guru itu tertawa terkekeh-kekeh.
“Hasil lombanya hari ini juga,Pak? Barangkali besok baru diumumkan,”tanya Affandra.
“Sebentar ya. Saya tanda dulu ke dalam,”pamit Pak Tomas sambil berjalan ke depan arena lomba LKIR.
Tak lama kemudian beliau kembali lagi,”Katanya sih maksimal jam 4 sore ini. Jadi kita tinggal saja? Masih 3 jam lagi.”
“Bisa dapat jawaban dari sms gitu,Pak?”tanya Miss Dewi dengan wajah penasaran.
__ADS_1
“Bisa jadi. Udah ada kok nomor ponsel ketua panitia lombanya. Yuk balik aja ke sekolah.”
“Yuk..Yuk…”sahut para siswa berbarengan.