
Saat istirahat pertama Alisha mondar-mandir di koridor sekolah, raut wajahnya yang cantik dengan hidung bangir nampak mendung semendung pagi itu dengan awan kelabu. Gadis yang terkenal dengan sebutan miss popular itu berjalan tergesa-gesa ke arah parkiran mobil. Dua sahabatnya,Sandra dan Niken diam-diam menguntitnya. Mata gadis arogan itu menatap pelataran mobil yang masih sunyi karena semua siswa dan guru telah masuk.
“Ortu lu udah datang,Lis?”tanya Niken mengagetkan Alisha.
“Belum nih,”sahutnya dengan wajah cemas, anak rambutnya dibiarkan bergerak-gerak dibuai angin yang lumayan kencang berhembus.
Nampaknya hari akan hujan, awan mulai gelap dan mentari pagi pun bersembunyi di balik awan. Alisha menengok jam tangan yang melingkar dengan manis di pergelangan tangan kirinya.
“Pukul 09.55 menit. Lima menit lagi bel tanda masuk dimulai dan mama harus sudah hadir di ruang BP,”batinnya dengan wajah sedih.
“Udahlah pasti mereka datang kok. Yuk kita ke kantin dulu,”ajak Sandra sambil meletakkan kedua telapak tangannya ke dalam saku roknya karena kedinginan.
Seragam pramuka di hati Jumat yang membungkus tubuh Alisha tampak sempurna membuat gadis itu tampak anggun dan cantik, namun wajah cantik itu berubah kusut karena masalah yang sedang ia hadapi hari itu.
“Udahlah gue pasrah kalau mama gak jadi datang. Kita bakal pisah sekolah kayaknya,”kata Alisha dengan sorot mata sayu, harapannya sia-sia dan ia merasa pasrah.
Ketiga cewek itu membalikkan badan kembali masuk kelas. Sebuah suara yang dikenal Alisha mengagetkan gadis itu.
“Alisha! Tunggu mama,Nak.”
Gadis songong itu membalikkan badan dan seketika wajahnya berubah ceria,”Eh mama…”
Dipeluknya sang mama dan digandengnya wanita paruh baya itu menuju ruang BP.
“Kok gak ada suara mobil,Ma? Naik apa tadi?”
__ADS_1
“Mama gak bawa mobil. Dianter Pak Ujang tadi, nanti dijemput lagi.”
“Oh..pantesan. Yaudah Alisha balik ke kelas dulu ya,” pamit sang putri kepada sang mama yang hari itu tampak cantik dalam gaun motif batiknya yang dominan dengan warna kuning dan putih.
Mama mengetuk pintu ruang BP sementara Alisha telah kembali masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Bu Trisna mempersilakan mama Alisha masuk dan mereka terlibat pembicaraan serius.
“Ibu tolong pantau perkembangan mental anak ibu kalau di rumah.”
“Baik,Bu. Akan lebih saya perhatikan. Saya akan membawanya ke psikolog secepat mungkin.”
“Baiklah,Bu. Saya mengucapkan terima kasih atas kehadirannya. Semoga ke depannya putri ibu akan lebih baik lagi.”
Mama Alisha menekan nomor Pak Ujang untuk menjemputnya kembali di sekolah.
“Baiklah kalau begitu. Kami sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih pada Bu Trisna.”
Sekembalinya Alisha di rumahnya yang besar dan megah, ia kembali merasa kesepian meskipun ada sembilan art tinggal di bagian belakang rumahnya. Chat manis yang biasa dikirimkan Affandra kini tak lagi menghiasi whatssup dan Instagram milik gadis itu, Mereka telah mengakhiri hubungan. Satu-satunya cowok keren yang dianggap pantas oleh Alisha hanya Ryan. Cowok tampan rupawan pebasket handal yang kaya raya, namun sama sekali tak menaruh harapan padanya. Ryan malah lebih bersimpati pada Maya, gadis lugu si bintang kelas yang selalu menjadi bahan bully-an bagi Alisha. Jujur gadis ini merasa sirik akan kepiawaian Maya dalam semua mata pelajaran. Nilainya di rapor tiada tandingan padahal gadis itu sama sekali taka da bimbingan belajar privat seperti dirinya. Terlebih sang papa yang sering membandingkan dirinya dengan Maya, menambah kebenciannya pada gadis itu.
Alisha berdiri menatap balkon kamarnya dengan wajah sorot mata penuh kebencian, tangannya terkepal dan dadanya naik turun. Ia merencanakan sesuatu dan menekan sebuah nomor rahasia.
“Iya..Yang pasti saya butuh dua orang,”kata Alisha menjawab suara di seberang sana.”
“Siap laksanakan mala mini,Non. Asal uangnya sesuai.”
Malam itu tepat pukul 8 malam, papa dan mamanya kebetulan ada acara kondangan anak teman kantor, Alisha mengendap-endap keluar dari kamar dan menguncinya. Gadis itu hanya lapor satpam penjaga kalau ia akan keluar sebentar membeli sesuatu di supermarket dan melanjutkan perjalannya. Sampai di suatu tempat ia mengganti mobilnya dan turut serta menumpang mobil pada dua laki-laki yang bercadar dan bertopi hitam sehingga yang nampak hanya sepasang mata mereka. Sebuah mobil minibus ukuran besar warna hitam telah siap dengan segala peralatannya, Alisha duduk mengenakan jaket kulit hitam dan topi hitam, rambutnya yang panjang sengaja diikat dan dimasukkan ke dalam topi. Kacamata hitam menutupi kedua matanya, serta sebuah masker kain warna hitam menutupi hidung dan mulutnya, nyaris sempurna menutup jati dirinya.
__ADS_1
Pukul 20.55 menit, ketiga orang itu mengamati rumah merangkap laundry milik mama Maya yang sudah ditutup. Tampak dari kejauhan sepeda Maya menuju arah perkampungan penduduk. Di bagian depannya ada sebuah keranjang warna hitam berisi pakaian yang telah bersih dan disetrika, siap diantarkan kepada langganan sang mama. Salah seorang laki-laki yang bertubuh lebih kecil meloncat tepat di depan sepeda Maya yang kaget dan menhentikan sepedanya.
“Apa-apaan ini? Jangan halangi saya!”teriak Maya.
Laki-laki itu meletakkan telunjuknya tepat di depan bibir,”Ssttt! Jangan berteriak atau saya akan…”
Laki-laki itu menirukan gerakan orang sedang menggorok leher.
Maya membuka mulutnya untuk berteriak agar seisi kampung keluar dan menolongnya, namun dengan sigap laki-laki satu lagi yang bertubuh tinggi besar telah membekapnya dengan sebuah sapu tangan yang telah ditetesi obat bius. Seketika tubuh Maya lemas dan jatuh terkulai, sepeda yang dipegangnya terjatuh di jalan dan laundry yang telah rapi dalam plastik terguling ke bawah dan jatuh di antara tanaman yang tumbuh di sana.
Dua laki-laki itu menggotong tubuh Maya, satu orang laki-laki yang bertubuh lebih kecil dan lincah itu memegang bagian kepala, sedangkan yang bertubuh tinggi besar menggendong bagian pantat dan kaki serta memasukkannya ke dalam mobil. Samar-samar Maya masih mendengar suara wanita yang pernah didengarnya.
“Masukin ke mobil cepet!”
Lalu terdengar suara pintu mobil ditutup dengan keras, Maya ingin bangun namun tubuhnya sulit digerakkan, sebuah plakban direkatkan erat di mulutnya. Kini kedua tangan dan kakinya diikat dengan tali.
“Abang cari jurang yang agak jauh dari sini. Kita buang tubuhnya hidup-hidup biar dimakan binatang buas!”
Tak berapa lama dua laki-laki itu menggendong tubuh Maya kembali dan membuangnya ke dalam jurang yang tidak seberapa dalam namun jauh dari perkampungan penduduk. Ketiga orang tadi kembali ke tempat awal dimana mobil Alisha diparkirkan.
“Nih duitnya…Tutup mulut kalian jangan buka suara!”
“Siap,Non. Terima kasih,”sahut mereka berbarengan dan tancap gas.
Di rumah Maya, sang mama mondar mandir sambil beberapa kali melihat jam dinding. Ditekannya nomor ponsel Maya namun tiada diangkatnya. Keringat dingin mama Maya memikirkan nasib putrinya yang memaksakan diri untuk mengantarkan laundry sendirian.
__ADS_1
Ryan di rumahnya juga berusaha menghubungi Maya beberapa kali, namun tak juga diangkatnya. Saat itu juga perasaannya tak enak namun perasaannya harus ditahan hingga keesokan harinya.