Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 131: Permintaan Maaf Yang Tulus


__ADS_3

Saskia berdiam diri di kamarnya, jari jemarinya meremas kertas dan membuangnya ke tempat sampai yang terletak tak jauh dari pintu masuk.Tubuhnya yang ramping telah dibalut piyama lengan panjang warna biru, warna kesayangannya. Kamarnya tampak sunyi dan sepi. Andi,adiknya sibuk dengan dunianya sendiri. Bapaknya entah sudah kembali ke rumah atau belum. Ibunya sudah pasti telah terlelap di kamar. Sedangnya satu-satunya art di rumah itu, Mbok Sumi pasti sudah rebahan di kamar, sejak dua minggu lalu encoknya selalu kumat. Ia menuliskan sebuah laporan praktikum berulang kali dan ternyata salah lagi. Otaknya benar-benar tak berfungsi, ada begitu banyak permasalahan yang menumpuk di dalam otaknya. Ibunya yang sering marah-marah tanpa sebab, bapaknya yang sering bersikap kasar terhadap Saskia, dan adik laki-laki satu-satunya yang sering pulang malam. Kuliahnya di Fakultas Ekonomi nyaris kena DO gara-gara jarang masuk kampus. Saskia merasa beban yang harus dipikulnya terlampau berat, hanya ia satu-satunya harapan bagi kedua orang tuanya.


“Aku harus jadi dokter!”seru Saskia dalam hati sambil meremas kepalanya berkali-kali.


Rasa panas dalam kepalanya akibat stress tidak dapat ia lampiaskan kepada siapapun, pacar tidak ada, orang tua yang tak mau mengerti, adik yang asyik sendiri, dan tiga sahabatnya yang hanya mengambil keuntungan darinya.


Saskia menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk miliknya, tak terasa air matanya mengalir membasahi kedua belah pipinya. Ia masih teringat betul sang bapak yang memukulinya ketika ia masih duduk di kelas 6 SD dahulu.


“Kamu jangan bikin malu bapak ! Mengapa rankingmu turun? Cuma ranking 3 tidak seperti biasanya ranking 1?”teriak sang bapak sambil melecut pantat Saskia kecil dengan ikat pinggang.


Dan sang ibu yang menatapnya dari kejauhan hanya bisa mengomel, bukannya menolong atau melarang perbuatan sang bapak.


Didikan militer dari sang bapak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang egois, keras kepala dan kejam. Meskipun sang bapak selalu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan materi berkecukupan, Saskia tiada pernah merasa bahagia.


“Ibu dengerin Saskia kalau lagi ngomong! Jangan cuma bisa ngomel mulu!”seru gadis itu ketika berusaha untuk menjelaskan mengapa prestasi sekolahnya saat SMP turun.


Namun sama saja sang ibu tak mau mengerti, Saskia yang hanya seorang manusia biasa dan bukan anak jenius sangat wajarlah kadang kala tidak menempati urutan pertama.


Namun kedua orang tuanya selalu marah-marah dan menuntutnya menjadi manusia sempurna. Mungkin itu juga penyebabnya, Andi, adik Saskia satu-satunya tumbuh menjadi pemuda yang begajulan dan pemberontak. Andi yang selalu tidak pernah dihargai orang tuanya,akhirnya mencari kepuasan sendiri di luar dengan minum-minuman keras di klub malam yang sangat rawan dengan obat-obatan terlarang. Pernah suatu hari, Andi mengemudikan mobilnya dalam keadaan mabuk berat dan menyerempet orang tua yang sedang lari pagi. Lagi-lagi sang bapak membantunya agar luput dari jerat hukum.


“Salah si pelari. Ia berlari terlalu ke tengah,”ucap sang bapak.


Saskia terkadang iri hati, adik satu-satunya yang sudah jelas memiliki kelakuan tidak benar, tidak pernah mendapatkan omelan. Sasaran satu-satunya hanya Saskia, sehingga gadis itu pernah memutuskan untuk bunuh diri saat lulus SMA. Saat itu Saskia tidak lolos SNMPTN dan kedua orang tuanya selalu memarahinya. Hingga sebuah pertolongan datang, guru Bimbelnya menasehati dengan petuah keagamaan yang menyuruhnya lebih banyak beribadah. Alhasil Saskia diterima di Fakultas Kedokteran Umum lewat jalur SBMPTN.

__ADS_1


“Saskia yang malang. Bisa jadi diriku sebenarnya menderita kelainan kejiwaan,”batinnya sambil mengutuki diri sendiri.


Waktu terus berjalan, jarum jam terus berputar, akhirnya Saskia memberanikan diri untuk menelpon Maya, satu-satunya mahasiswi di angkatannya yang terkenal paling jenius. Diraihnya ponsel miliknya, namun diurungkan kembali niatnya. Saskia merasa malu, ia demikian jahat terhadap Maya.


“Aku harus tanya siapa lagi? Tiga sahabatku? Mereka juga otaknya pas-pasan. Sialan!”umpat Saskia sambil meremas kembali kertas yang salah.


“Tanya Boy? Aduh mana mau dia yang udah terima perlakuan kasarku.”


Saskia terduduk di lantai persis di belakang pintu. Besok pagi laporan praktikum harus selesai dan dikumpulkan. Tidak ada perpanjangan waktu sama sekali.


Saskia mengurung diri semalaman, besok ia harus mengemudikan mobilnya sendiri pula , padahal jarak rumahnya ke kampus juga lumayan jauh. Tangannya sampai gemetaran akibat terlalu lama menulis. Dilihatnya whatsapp miliknya, ternyata Maya masih online. Dengan takut ia sapa gadis itu.


“Hai…Selamat malam.”


Saskia mencoba menuliskan laporan dengan data-data yang ia catat selama mengikuti praktikum, namun laporannya gagal lagi, ada beberapa zat kimia yang lupa ia catat. Observasinya juga kurang lengkap.


“Mampuslah aku kalau sampai gagal di semester ini. Bisa-bisa bapak bakal membunuhku!”


Saskia mulai menangis terisak-isak, ia sengaja memutar lagu dengan keras melalui laptop miliknya agar kedua orang tuanya tidak mendengar suara tangisannya.


“Driing…”


Sebuah sinyal masuk menandakan ada pesan masuk ke dalam ponselnya. Saskia buru-buru meraihnya dan membuka whatsapp, hatinya melonjak gembira, ternyata Maya sama sekali bukan gadis pendendam. Ia sangat baik dan pemaaf. Saskia merasa sangat malu, seakan ia mendapatkan pukulan yang sangat hebat dan membenamkannya jauh ke dasar bumi.

__ADS_1


“Halo. Selamat malam. Apa yang bisa Maya bantu?”


Jari jemari Saskia seakan bergetar ketika mengetikkan pesan untuk minta bantuan.


Dan lagi-lagi gadis itu bersedia membantunya dengan tulus, seakan telah melupakan semua kesalahan Saskia yang membuat lututnya borokan bernanah.


“Maya tercipta untuk menjadi seorang malaikat,”batin Saskia dengan mata berkaca-kaca.


Gadis itu sungguh sangat terharu dan malu atas kejahatannya selama ini. Dengan tulus, Maya mau mengirimkan jawaban untuknya. Meskipun ia berpesan agar Saskia menuliskan dengan kalimat yang sedikit berbeda agar terhindar dari plagiarisme. Penjelasan yang Maya berikan sangatlah jelas melebihi penjelasan seorang dosen yang mengajar di depan kelas.


“Kalau belum paham juga, silakan video call aku. Sebentar lagi aku mau tidur,”pesan Maya melalui whatsapp.


“Sudah kok. Terima kasih banyak,May. Aku minta maaf atas semua kejahatanku selama ini.”


“Sudah kumaafkan kok. Selamat malam.”


Saskia menitikkan air mata bahagia, malam itu ia dapat melewati tugas berat di kampusnya dengan sukses. Ia sungguh terharu memiliki seorang teman dengan hati malaikat.


“Pantas saja calon suaminya ganteng dan kaya. Hatinya sangat baik dan pemaaf. Pantas Allah memberinya berjuta kenikmatan,”gumam Saskia.


Malam itu Saskia dengan semangat menuliskan kembali laporan praktikum minggu lalu dengan bahasanya sendiri.


“Terima kasih ya Allah. Telah Engkau turunkan malaikat penolongku malam ini.

__ADS_1


__ADS_2