
Paginya…
Pak Fatih bangun paling pagi. Guru olahraga yang masih muda itu telah siap lari pagi dengan mengenakan setelah training warna kelabu dan sneakers warna hitamnya. Digerak-gerakkannya kaki dan tangannya di depan villa untuk melakukan pemanasan. Udara pagi yang sejuk, terasa menyegarkan, embun yang menetes di atas dedaunan menambah segarnya pagi itu. Beberapa siswa yang menginap di villa-villa sebelah menyapa Pak Fatih.
“Pagi,Pak…Olahraga nih hehehehe…”sapa Affandra yang berlari ke arah taman.
“Pagi..Jogging bareng bapak yuk.”
“Ayo,Pak.”
Maya mengikat rambut panjangnya dan berjalan ke arah dapur untuk membuat mi kuah cepat saji untuk sarapan pagi bersama. Matanya menyipit ketika dilihatnya pintu depan dibuka dan sinar matahari pagi masuk dengan sinar yang menyilaukan. Ketika ia hendak menutup pintu, dilihatnya Pak Fatih sedang melakukan gerakan senam di depan villa.
“Pagi,Pak. Semalam apakah bapak turun ke bawah?”
Pak Fatih menghentikan niatnya berlari bersama Affandra, dan ia memberi kode agar cowok itu berlari lebih dulu.
“Gak sama sekali. Ada apa?”
Maya menggigit bibir bawahnya, mimik wajahnya nampak ketakutan.
“Jadi semalam saya masuk kamar mandi. Ada yang ketuk-ketuk sangat keras tapi waktu dibuka, gak ada orang.”
“Udah cek kamar anak laki-laki?”
“Saya liat sandal mereka ada empat pasang.”
“Artinya mereka ada dalam kamar dong,”sahut Pak Faith sambil terkekeh.
“Ih..Bapak kok malah tertawa. Serius ..Maya takut kalau di sini ada penunggunya.”
“Udahlah..Gak ada apa-apa kok. Mungkin suara pintu kamar belakang yang tertiup angin,”kata guru olahraga itu berusaha menenangkan muridnya.
“Yaudah deh,Pak. Selamat olahraga pagi.”
Pak Fatih berlari mengejar Affandra yang sudah jauh di depan.
Pintu kamar anak laki-laki terbuka lebar, Doni keluar sambil mengelus-elus perutnya yang buncit.
“Gue laper…Kalian mau beli sarapan dimana?”tanyanya kepada ketiga temannya.
“Beli online ajalah. Ngapain ribet,”sahut Martin sambil mengeluarkan ponselnya.
Ryan keluar kamar dan melihat Maya sedang merebus sesuatu.
“Pagi,May. Lagi bikin apa? Nyenyak tidurnya semalam,”tanya Ryan yang langsung memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan.
“Pagi semua…Kalian mau mie kuah?”tanya Maya sambil tertawa.
“Mereka udah beli sarapan online. Nanti biar aku yang bantuin makan masakan kamu,May.”
“Semalam..Ada yang ketuk-ketuk pintu kamar mandi.”
“Yang bener? Aku juga denger ada langkah kaki orang lari-lari. Kayak banyak orang gitu,”papar Ryan panjang lebar.
__ADS_1
“Tapi kata Pak Fatih itu suara pintu kamar belakang yang tertiup angin.”
“Hah? Memang ada kamar lain di sini?”tanya Tino sambil membetulkan letak kacamatanya.
Tino adalah siswa yang kutu buku dan terkenal penakut, mendengar kamar kosong saja hatinya sudah berdebar tak karuan.
“Jadi pengen buru-buru pulang duluan,”batin Tino yang merasakan kakinya gemetaran.
“Yuk kita coba masuk ke kamar itu!”ajak Martin yang sedang menunggu makanannya tiba.
Maya dan Ryan sedang duduk di meja makan menghadap semangkuk mie kuah cepat saji.
“Jangan ah! Takut,”seru Tino yang disambut dengan anggukan kepala Doni.
“Gausah masuk-masuk kamar kosong. Pamali!”kata Doni dengan nada tinggi.
Ika dan Dinar keluar kamar, Ika telah siap dengan handuknya. Cewek berambut cepak itu ingin buru-buru mandi dan berebut dengan Dinar. Niat keduanya buyar ketika mendengar ada kamar lain yang kosong di dekat kamar mandi.
“Hah? Yang bener? Kamar apaan itu?”tanya Dinar sambil menaikkan alisnya.
Ika yang sok pemberani melangkahkan kaki ke kamar di sudut ruangan sambil membawa handuk mandi di bahunya. Semuanya melongo dan menunggu dengan jantung berdebar keras. Gadis itu menekan gagang pintu ke atas ke bawah yang terasa keras berkarat.
“Pintunya terkunci kok. Mungkin memang sengaja tak dipakai.”
“Jadi gak mungkin kalau semalam pintu itu tertiup angin,”kata Maya sambil menyuapkan mi eke mulutnya.
“Kalian ini suka iseng aja. Mending aku balik duluan,”kata Tino dengan muka memucat.
“Alah…Gak bakal ada apa-apa. Semalam Maya cuma halusinasi.”
“Kalian nakal! Bikin gue takut aja,”seru Tino sambil menutupi telinganya dengan telapak tangan.
Cowok kutu buku itu menunjukkan wajah yang hampir menangis, dia duduk di sofa sambil menekuk kedua kakinya.
“Udahlah…Jangan bikin malu nama laki-laki ah!”seru Martin sambil mengelus punggung Tino.
“Lebih baik kita temui penjaga villa ini. Terus suruh dia buka dan tunjukin ke kita, apa isinya.”
“Yang nunggu villa siapa?”tanya Dinar sambil celingukan.
“Dari awal kita kemari juga villa ini gak ada penunggunya,”kata Maya.
“Maksudnya pengurus villa May,”celoteh Ika sambil tertawa.
Pak Fatih sampai di villa dalam keadaan wajah dan dahinya bertetesan dengan peluh, pakaiannya basah dan senyumnya mengembang.
“Halo…Kalian nyenyak tidurnya?”
“Lumayan,Pak. Maaf kami sarapan duluan. Tapi kami sisakan 1 bungkus nasi uduk untuk bapak,”kata Martin sambil memberikan sebungkus nasi dalam stereofoam putih di dalam kantung plastik kresek warna bening.
“Makasih. Kalian memang paling perhatian.”
“Pak…Maaf,pintu kamar paling belakang terkunci,”kata Maya sambil menunduk.
__ADS_1
“Yang bener?”kata guru olahraga itu lagi.
“Udahlah kita lupain aja soal suara-suara tadi malam. Gimana teman-teman?”tanya Ryan sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.
“Bagus itu.Lupain aja,”sahut Pak Fatih.
Sementara semua muridnya hanya terdiam membisu. Seakan mereka juga masih penasaran tapi takt ahu lagi harus berbuat apa karena pengurus vila pun mereka tidak pernah berjumpa, vila itu disewa secara online.
“Pak, saya ijin jalan-jalan keluar dulu,”pamit Ryan sambil menggandeng tangan Maya menuju arah bukit.
“Hati-hati. Pacarannya jangan aneh-aneh!”ledek guru olahraga itu sambil tertawa disambut tawa semua anak penghuni vila.
“Ah…bapak ada-ada aja,”sahut Maya sambil menutup pintu vila.
Udara sekitar vila terasa sangat sejuk menyegarkan. Ryan mengajak gadis itu berjalan-jalan melewati vila-vila di sebelahnya ke arah bukit. Mereka melalui banyak kebun bunga dan pepohohan rindang.
“Sepanjang kita jalan tadi. Perasaan aku kok seperti ada yang ngikutin kita,May?”
Maya meraba tengkuknya yang terasa dingin,”Ah…Kamu nakutin aja.”
“Beneran. Atau perasaan aku yang aneh gara-gara suara-suara yang aku dengar semalaman?”
“Ah….”rengen Maya sambil menahan tangis.
“Udah..udah ah. Malu udah gede masih nangis.”
Dua remaja yang sedang kasmaran itu meneruskan jalan-jalan paginya sambil menikmati lingkungan hijau di sekelilingnya.
“Bret….Bret…Bret…”
Ryan menangkap bayangan hitam yang berkelebat dengan sangat cepat melebihi kecepatan cahaya. Sudut matanya diarahkan ke sekeliling perbukitan, sosok itu tak menampakkan dirinya. Maya menatap Ryan dengan wajah cemas, gadis itu memegang tangan Ryan erat-erat.
“Apa lagi?”tanya gadis itu dengan wajah ketakutan.
Kini Maya bersembunyi di belakang punggung Ryan.
“Yuk kita pulang ke rumah aja! Batal piknik. Takut…”rengeknya.
“Kita masih tiga malam lagi di sini,”kata Ryan berusaha menenangkam gadis itu.
Kepekaan yang ada dalam diri Ryan sebagai manusia separuh vampire, dapat mendeteksi adanya sosok lain di sekitar mereka.
“Siapapun kau, keluarlah!”bentak Ryan sambil berusaha melindungi gadis itu.
“Hahahahahahaha…”
Sebuah suara sangat keras di lapangan rumput yang luas mengarah ke perbukitan. Ryan mencari sosok itu di sekelilingnya namun sosok itu kasat mata.
“Please…Siapapun kau tunjukkan wujudmu!”
“Hahahahahaha…”
Gulungan asap hitam berubah wujud menjadi makhluk mirip vampire dengan rambut tersisir ke belakang dan gigi taring menyeringai. Bola mata milik Maya makin membulat dan telapak tangannya terasa dingin mencengkeram Ryan.
__ADS_1
“Siapa kau?” bentak Ryan dengan gagah berani.