Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 111: Recovery


__ADS_3

Hari demi hari berjalan begitu lambat, setiap hari Ryan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas ranjang ruang ICU, dinding-dinding yang putih bersih, sprei yang putih dan aroma karbol dan obat-obatan yang menyengat. Ryan menebarkan pandangan ke seluruh ruangan. Hari ini ia sangat bersyukur bisa menikmati kembali indahnya dunia. Tatapannya terpaku pada seorang perawat berpakaian putih yang membawa sebuah map berisi medical record pasien. Perawat itu menemui Om Robert dan meminta ijin memindahkan Ryan ke ruang rawat inap.


“Hari ini kamu boleh dipindahkan ke ruang rawat inap,”kata papa dengan wajah gembira, bola matanya berbinar-binar dan bibirnya mengembangkan senyuman.


“Benar,Pa?”tanya Ryan sambil menggeser tubuhnya untuk duduk.


Namun cowok itu kembali meringis kesakitan, kedua tulang kakinya mengalami cedera sehingga harus digips.


“Udah…Jangan terlalu memaksakan diri,”pinta papa sambil mengelus pundak Ryan dengan lembut.


Dua orang perawat, satu seorang wanita dan lainnya perawat laki-laki, datang dengan mendorong sebuah blangkar dan memindahkan tubuh Ryan ke atasnya. Keduanya mendorong ranjang beroda itu menyusuri lorong rumah sakit, Om Robert mengikutinya dari belakang. Seorang perawat menggerakkan tangannya di depan tombol tanpa sentuh pada pintu lift. Tak menunggu lama, pintu lift terbuka, tiga orang di dalamnya keluar, dan kini mereka berempat masuk ke dalam. Ryan dalam kondisi telentang dan tubuh tertutup selimut warna putih nampak memejamkan mata untuk mengurangi rasa pusing akibat didorong kesana kemari.


“Tiing…” pintu lift terbuka.


Kini dua perawat itu mendorong blangkar ke sebuah ruang rawat inap yang berukuran paling besar di ruangan itu, ruang VVIP, yang terdiri dari sebuah tempat tidur, sebuah sofa ukuran besar, sebuah televisi dan sebuah kulkas satu pintu yang terletak di dekat pintu kamar mandi. Tubuh Ryan kembali dipindahkan ke atas ranjang ruang rawat inap dan mereka menutupinya dengan selimut. Kedua kaki cowok itu dibiarkan terbuka tanpa tertutup selimut untuk mempermudah petugas medis memeriksa kondisi lukanya. Dua perawat itupun pamit keluar dari ruangan, dan mendorong kembali blangkar tadi untuk dikembalikan ke tempatnya semula.


Robert Sanders berjalan ke arah jendela dan membuka korden agar sinar matahari dapat masuk dan menerangi ruangan itu. Ryan menyipitkan matanya karena silau, punggung tangan kanannya digunakan untuk menutupi kelopak matanya.


“Pa..”


“Iya sayang,”sahut papa.


Tak biasanya papa menyebut Ryan dengan sebutan “sayang”, mungkin laki-laki paruh baya itu sangat bersyukur atas pemulihan Ryan dari kecelakaan berat yang menimpanya.


“Kapan kira-kira aku mulai bisa jalan?”tanya Ryan dengan penuh harap, dagunya diangkat sambil memandang sang papa yang berdiri tepat di depan jendela kamar.


Sejenak Robert Sanders berpikir untuk mengatur kata-katanya agar tidak menimbulkan pemikiran negatif dalam diri Ryan.


“Kita tunggu setelah gips kamu boleh dilepaskan. Sekitar dua minggu lagi mungkin. Nanti kita tanyakan pada dokter,”sahut papa panjang lebar sambil berjalan ke arah sofa.


Laki-laki paruh baya itu duduk bersandar pada sofa sambil membusungkan dada, matanya menatap lurus ke ranjang tempat Ryan dirawat.


“Kira-kira aku bakal cacat gak,Pa?”

__ADS_1


Sebuah pertanyaan pendek yang menghujam hingga ke ulu hati sang papa, membuatnya hampir menangis membayangkan seandainya putra kesayangannya harus pincang atau mungkin tak bisa berjalan lagi seumur hidupnya. Buru-buru perasaan itu ditepisnya, sang papa berusaha tenang dan mengembangkan senyuman optimis untuk Ryan.


“Percaya saja,Nak. Kau pasti sembuh total,”sahut sang papa sambil berjalan mendekati putranya


Ryan hanya bisa menganggukkan kepalanya, wajahnya masih tetap tampan meskipun kepalanya masih dibalut perban.


Malam itu, dokter spesialis yang merawat Ryan mengadakan kunjungan dengan didampingi seorang perawat. Mereka membuka perban yang melilit di kepala Ryan.


“It’s going better,”kata sang dokter sambil tersenyum pada Ryan.


Luka bekas jahitan di bagian belakang kepala mulai mengering, perawat diijinkan untuk membuka perban. Kini Ryan sudah tak lagi mengenakan perban di bagian kepala. Bagian yang terluka itu terpaksa digunduli sehingga kini batok kepala cowok itu menjadi pitak di bagian belakang. Keadaan koma yang selama ini dialami Ryan diakibatkan karena benturan sangat keras yang menyebabkan batang otak mengalami cedera, ada gumpalan darah yang harus disedot, dan perlukaan di area tersebut menyebabkan kerusakan RAS (Reticular Activating System), bagian otak yang bertanggung-jawab membuat seseorang tetap sadar.


“Thank you,doctor.”


Kedua petugas medis itu keluar ruangan, meninggalkan papa dan Ryan yang mulai merasakan satu-persatu kebahagiaan dari Allah melalui kesembuhan demi kesembuhan yang terus berproses.


“Setelah kamu bisa jalan, kita balik ke Indonesia dulu Ryan,”kata papa dengan suara pelan.


“Istirahat dulu di rumah sampai kamu benar-benar pulih. Soal kuliah bisa ngulang tahun berikutnya.”


“Baik,Pa. Tapi sewa apartemen itu masih panjang,Pa.”


“Kita berikan untuk Ahmad. Anggap aja kita amal untuknya.”


Ryan mengganggukkan kepala tanda mengerti.


Keesokan harinya, perawat mengantarkan makanan untuk Ryan dan sang papa menyuapinya. Laki-laki paruh baya itu belum juga sarapan, dia hanya memiliki beberapa roti yang dibelinya dua hari lalu di sebuah toko roti di lantai bawah rumah sakit ini.


“Tok…Tok…Tok…”


Papa meletakkan piring di atas meja dan bergegas membukakan pintu. Nampak sesosok wajah ceria milik Ahmad, pemuda dengan kulit sedikit gelap dan rambut ikal itu menebarkan senyum. Di tangannya terdapat sebuah koper kecil berisi beberapa pakaian dan peralatan mandi milik Ryan yang dibawanya dari apartemen.


“Pagi,Om. Saya mau mengambil pakaian kotor milik Ryan. Ini saya bawakan yang baru,”kata Ahmad sambil menutup kembali pintu kamar.

__ADS_1


“Silakan. Kamu udah sarapan,Mad?” tanya papa sambil menyodorkan sebungkus plastik berisi beberapa roti.


“Terima kasih,Om. Ahmad sudah sarapan di apartemen,”sahutnya sambil memindahkan pakaian kotor milik Ryan ke dalam sebuah plastik besar berwarna hitam.


Pemuda itu menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kembali lagi. Ia mendekati ranjang tempat Ryan dirawat, bibirnya menyungging senyuman, bola matanya yang hitam pekat tampaj berbinar-binar. Ahmad turut bahagia menyaksikan Ryan kembali sadar dan dapat berbicara kembali.


“Syukurlah kau tidak amnesia,”bisik Ahmad sedikit berkelakar.


Ryan membalasnya dengan tertawa dan melanjutkan sarapannya, kini Ahmad yang menyuapinya dengan telaten. Semangkuk kecil mashed potato, daging cincang, sup ayam dan dessert sebuah banana cake melengkapi menu sarapannya hari itu.


“Oh ya..Aku bawakan tim ayam yang aku buat dari rumah. Biar kau cepat sembuh,”kata Ahmad sambil membuka koper.


Pemuda itu mengeluarkan sebuah Tupperware yang berisi plastik putih berisi ayam yang dikukus sehingga mengeluarkan kaldunya yang lezat.


“Porsinya banyak. Bisa untuk om juga,”katanya sambil memandang wajah Om Robert.


“Terima kasih anak baik,”sahut Om Robert sambil tersenyum.


Di minggu berikutnya, luka di kedua kai Ryan mulai membaik, gips mulai dilepaskan dan Ryan mulai latihan berjalan dengan bantuan kruk. Terbaring sebulan di atas ranjang membuat tubuhnya terasa ringan dan limbung ketika harus menapak dengan kedua kakinya seperti sedia kala. Ia bagaikan balita yang baru mulai berjalan, bahkan kepalanya ikut pusing saat harus membuat keseimbangan.


“Pelan-pelan saja. Jangan dipaksakan,”saran papa sambil menggapit ketiak Ryan untuk menopang.


“Sepertinya aku butuh fisioterapi,Pa.”


“Pasti. Nanti sore perawat akan membawamu ke sana.”


Tiga hari menjalani fisioterapi membuat Ryan berangsur membaik, kini dirinya bisa melepaskan alat bantu.


“Hore…Aku bisa berjalan lagi!”seru Ryan.


Tapi cara berjalannya terasa berbeda, seakan salah satu kaki lebih panjang dari yang lainnya, entah kaki kiri atau kanan yang lebih pendek.


“Apakah aku akan jadi laki-laki pincang?”gumam Ryan sambil terpekur menatap lantai dengan wajah sedih.

__ADS_1


__ADS_2