Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 68: Kerasukan


__ADS_3

Suatu hari diadakan kembali pertandingan basket antar sekolah dimana Affandra terpaksa menggantikan posisi salah seorang anggota tim yang jatuh sakit. Cowok itu melakukannya atas inisiatifnya sendiri demi menjaga nama baik sekolah.


“Lo masuk tim basket lagi,Ndra?”tanya Alisha ketika mereka berpapasan di kantin.


“Gantiin anggota tim yang sakit,Lis.”


Affandra hanya menjawab sekenanya, tubuhnya yang berotot basah oleh keringat, siluet tubuhnya tercetak nyata. Wajah tampannya tampak dibanjiri oleh keringat yang bercucuran. Tangan kekarnya membuka tutup botol air mineral yang dihabiskannya hanya dalam beberapa kali teguk,lalu kembali berlari ke tengah lapangan. Alisha terduduk di sudut kantin sambil bersidekap menatap lapangan basket. Gadis itu sedang menikmati semangkuk bakso bersama dua sahabatnya,Sandra dan Niken.


“Lu ngelamunin Affandra lagi,Lis?”tanya Niken sambil memasukkan potongan bakso ke dalam mulutnya.


Alisha termangu,tak memberikan jawaban secara langsung.Gadis itu malah melemparkan pertanyaan untuk kedua temannya.


“Menurut kalian gimana? Gue yang putusin Affandra. Masa gue yang minta balikan lagi?Gengsi gak sih?”


Sandra tertawa terkekeh hingga tersedak minumannya sendiri,”Uhuk…Uhuk….”


“Gengsi bakalan basi,Lis. Coba lu dekati lagi dia. Beri perhatian,”saran Sandra dengan muka memerah karena tersedak minuman dingin.


Affandra kembali melewati kantin untuk mengambil bola basket. Alisha buru-buru mengejarnya. Gadis itu langsung menabraknya hingga bola basket terjatuh dan menggelinding agak jauh.


“Lo apa-apaan sih? Kalau jalan pakai mata bisa gak?”seru Affandra dengan ekspresi marah.


“Eh sorry…sorry. Gue bantu kejar bolanya ya!”


“Gak perlu! Gue bisa kejar sendiri. Udah jangan deket-deket gue ,lagi bau. Keringetan.”


Cowok itu malah mengusirnya, yang membuat Alisha semakin penasaran untuk mendekatinya lagi.


Sepulang sekolah, Alisha kembali mendatangi Affandra yang masih berlatih di lapangan basket.


“Ndra..Gue beliin lu minuman. Nih ambil aja.”


“Sejak kapan lo pura-pura baik ke gue,Lis?”


“Bukannya sejak dulu. Ehm…maksud gue sejak kita jadian.”


“Hah? Kapan kita pernah jadian? Bukannya lo yang putusin waktu itu? Gegara ada siswa baru,”sahut Affandra sambil melengos.


“Maafin gue,Ndra. Asal lo tau. Ryan itu ternyata sepupu gue.”


Affandra tertawa mengejek, menyeka keringatnya dan berlalu dari hadapan Alisha. Namun gadis itu buru-buru mencekal tangan Affandra.


“Tunggu,Ndra! Kasih gue kesempatan sekali ini aja. Gue mau buktiin ke lu. Gue bisa jadi pacar yang terbaik.”


“Lepasin! Di antara kita udah gak ada hubungan lagi,Lis. Better lo cari cowok lain yang bisa lo permainkan seenaknya.”


Affandra menepis tangan Alisha dan kembali berlari ke tengah lapangan.


Ryan memperhatikan dari jauh, dan ia sungguh paham apa yang dilakukan sepupunya. Alisha seorang cewek egois yang bakal melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya.

__ADS_1


Maya menggendong tas ranselnya dan meletakkannya di deretan kursi depan lapangan basket. Ryan telah berpesan untuk menunggunya di sana agar bisa pulang sekolah bersama.


Langit tampak cerah, matahari tepat di atas kepala,namun udara tak terlalu panas, sedang-sedang saja. Wajahnya yang cantik dengan bola matanya yang bulat kini menyipit karena silau, sepasang alisnya yang lebat dan bulumata lentik menaunginya, bibirnya merah muda menyungging senyuman yang memamerkan sepasang lesung pipit yang menghiasi pipinya yang merah merona diterpa hangatnya mentari.


Ryan mengambil posisi duduk di sebelah gadis berkepang dua ketika latihan basket usai. Diam-diam Alisha masih di sekitar lapangan dan terus mengintai Affandra. Gadis cantik itu seketika merasa iri menyaksikan kemesraan Maya dengan Ryan.


Peluh yang mengucur dari dahi Ryan, disekanya dengan satu pax tisu yang dibawanya di dalam tas ransel milik gadis itu.


“Gila romantisnya mereka,”gumam Alisha yang bersembunyi di balik pepohonan sambil menanti Affandra lewat di dekatnya.


Di dalam loker milik Alisha…


Ada sesuatu yang sering bergerak sendiri tapi gadis itu tak menyadarinya. Ada sebuah gantungan kunci yang bentuknya sama persis dengan patung yang dibelinya dari Mesir beberapa tahun silam. Di dalamnya dihuni roh jahat tanpa sepengetahuan pemiliknya. Roh vampire wanita yang berkuasa di Mesir jaman dahulu, vampire murni yang masih menghisap darah manusia.


“Alisha….Alisha…”


Mata gadis cantik itu kembali berubah warna menjadi merah menyala, sorot matanya penuh kebencian menatap Ryan yang sedang asyik berdua dengan Maya. Suasana lapangan basket telah sepi. Tim basket sekolah telah pulang ke rumah masing-masing. Yang tersisa hanya satpam yang berjaga di pintu gerbang dan penjaga sekolah yang sedang mengepel lantai entah di ruangan mana.


“Kau harus bunuh cowok itu! Jangan biarkan golongan vampire bersatu kembali dengan manusia. Vampire bisa punah!”bisik Akasha yang kini berdiam di dalam tubuh Alisha.


Alisha keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkahkan kaki dengan kaku ke arah Ryan.


Gadis cantik itu memutar kepalanya bagaikan seorang robot, ke kiri dan ke kanan.


“Kreek…Kreek…”


Maya menoleh ke arah Alisha, yang dilihatnya sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan aneh.


“Alisha….Kaukah itu?”


Ryan ikut menoleh ke arah Alisha, dilihatnya gadis itu berjalan dengan kaku bagaikan mayat hidup, tatapan matanya merah.


“May…Cepat kau pulang aja duluan. Lari!”


“Kamu gimana,Ryan?”


“Udah aku gak bakal kenapa-kenapa. Cepat kau pulang duluan aja!”


Alisha mendekatkan wajahnya ke leher Ryan sambil menyeringai, sorot matanya merah menyala dan giginya bertaring panjang. Gadis itu seakan hendak menggigit lehernya.


“Alisha…Sadar,Lis!”seru Ryan sambil mendorong bahu Alisha agar tak menggigit lehernya.


Gadis itu kini mencengkeram kerah leher Ryan dan mengangkatnya ke atas. Keduanya bagaikan melayang di angkasa.


“Kau siapa hah?”teriak Ryan dengan muka memerah menahan amarah.


“Ggrr…”


Sebuah eraman keluar dari bibir Alisha.

__ADS_1


“Jawab kau siapa?”teriak Ryan sambil mempertahankan diri agar tidak jatuh terbanting.


“Akasha….Semua leluhurmu itu pemberontak! Bangsat! Kau cemari darah keturunan vampire!”


“Akasha itu siapa?”tanya Ryan terbata-bata.


Cowok itu nyaris kehabisan napas karena lehernya tercekik di udara, matanya mulai berair dan tangannya berusaha melakukan perlawanan.


“Papa…”seru Ryan dengan segenap tenaga yang tersisa.


Cowok itu menyadari seorang vampire bisa dikalahkan bahkan menghembuskan napas di tangan vampire lain. Karena itu ia sangat berharap papa mendengar panggilannya dan datang menolongnya.


“Wushh….”


Dalam hitungan detik sosok menyerupai Ryan telah berdiri di dekat Ryan dan berusaha menarik tubuh Ryan dari cengkeraman Akasha,sang ratu vampire.


“Lepasin anakku!”


“Ggrrr…”


Erang Akasha yang bersemayam di dalam tubuh Alisha. Om Robert menarik paksa tubuh Ryan yang sudah tak berdaya dari tangan Akasha, dan dipanggulnya tubuh Ryan sebelum diletakkan di atas tanah di pinggir lapangan basket.


“Uhuk…Uhuk….”


Ryan terbatuk-batuk, wajahnya menengadah menatap langit dengan sinarnya yang masih menyilaukan mata, lehernya memerah, matanya masih berair. Ryan menyeka kelopak mata dengan punggung tangannya dan berusaha bangkit,kepalanya pening dan berputar. Cowok itu kembali rebah ke atas tanah. Dilihatnya sang papa sedang berusaha melawan Akasha di udara, gerakannya saling memiting lengan masing-masing. Akasha merasa kewalahan dan berteriak, erangannya sangat mirip seekor harimau betina. Om Robert membantin tubuh Akasha ke tanah.


“Bruuk….”


Akasha dalam wujud Alisha mengeluarkan muntahan berwarna merah, taringnya berdarah dan matanya nanar. Ia mencoba bangkit dan melakukan perlawanan kembali. Om Robert memilin lengannya dan memukul puncak kepalanya.


“Ggrrr…..”


Akasha pun menggelepar di atas tanah, kulit tubuhnya memucat dan beberapa menit kemudian kembali menjadi tubuh Alisha yang lemas tak berdaya.


Ryan bangkit dari atas tanah dan kini ia duduk sambil memandangi tubuh Alisha yang tergeletak bagaikan orang tidur.


Cowok itu merasakan seluruh tubuhnya pegal-pegal, berusaha mendekati Alisha dan hendak membopongnya namun sang papa mencegahnya.


“Biar papa yang menggendong dia!”


“Masalahnya sudah beres,Pa?”


Sang papa menggelengkan kepala, sambil berjalan ke arah mobil milik Ryan untuk meletakkan tubuh Alisha sementara di sana.


“Biarkan ia di sini sampai sadar. Baru kita suruh ke mobilnya.”


“Kita harus berbuat apa lagi untuk menghentikan ini semua,Pa?”


“Kita butuh eyang uti.”

__ADS_1


__ADS_2