
Bimbel di sekolah hari ini berakhir sudah, ujian nasional sudah di depan mata. Maya memandangi modul pelajaran yang tergeletak di atas meja belajar. Minggu depan UN telah dimulai, dilanjutkan dengan ujian sekolah yang merupakan pengulangan materi dari kelas 10. Kelas akhirnya di SMA terasa amat singkat, hanya 8 bulan belajar secara efektif.
“Ujian sekolah tak terlalu menentukan kelulusan kalian ya!”kata Bu Rita,sang wali kelas.
Namun beliau berpesan agar seluruh siswa tidak menyepelekan ujian sekolah. Bagi yang telah lolos SNMPTN pun diharapkan tidak menyepelekan UN. Minggu ini adalah masa tenang, dimana sekolah diliburkan untuk kelas 12 sementara adik-adik kelasnya tetap diwajibkan masuk sekolah. Semua siswa kelas 12 belajar di rumah. Maya pun belajar dengan tekun di kamarnya, pagi,siang,sore, hingga malam. Ia hanya berhenti ketika harus membersihkan badan atau makan. Sesuatu yang ia lupakan adalah mengecek keadaan mama karena dilihatnya sang mama baik-baik saja.
Hingga di hari ketiga UN yang merupakan hari akhirnya mengikuti ujian nasional, Maya berlari-lari menemui sang mama di kamarnya karena sampai ia usai sarapan pun mama belum keluar dari kamarnya.
“Tok…Tok…Tok….”
“Ma….Maya mau berangkat sekolah dulu,”pamitnya,namun tiada ada jawaban dari dalam.
Gadis itu buru-buru menemui Mbak Wati yang sedang sibuk memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci.
“Mbak…mama belum bangun? Sampaikan saja kalau akum au berangkat sekarang.”
“Yuk…Mbak temanin masuk ke dalam. Kemarin sih mbak anterin dia ke dokter. Kata dokter kondisi mama tambah parah,”sahutnya sambil mengeringkan tangan.
“Yang bener,Mbak? Bukannya mama sekarang doyan makan lagi?”tanya Maya dengan hati berdebar.
“Tet…Tet…”
Klakson dari mobil Ryan yang telah berhenti di depan pagar.
Maya berlari menuju teras dan berseru,”Masuk dulu,Ryan. Aku mau pamitan.”
Ryan pun keluar dari mobil, cowok itu berdiri di depan pintu dengan mengenakan seragam putih abu-abu. Di dadanya tersemat name tag nomor peserta ujian, tubuhnya tampah tinggi atletis dan wajahnya amat rupawan.
“Kreek…”
Pintu kamar mama dibuka, di dalam keremangan dilihatnya tubuh mama tergolek di bawah selimut warna coklat muda. Mbak Wati membuka korden sehingga cahaya terang menyelinap masuk ke seluruh ruangan kamar. Maya duduk di tepian ranjang sambil memegang tangan sang mama untuk berpamitan. Sontak gadis itu panik karena jari jemari sang mama tampak dingin membeku, dirabanya hidung mama.
__ADS_1
“Mbak….Liat sini…Mama gak bernapas lagi. Mama meninggal dunia,”teriak Maya sambil menangis.
Ryan bergegas masuk ke dalam kamar, dia lalu berjongkok di samping Tante Wulan sambil meraba denyut nadi pergelangan tangan perempuan itu, wajahnya memucat dan tubuhnya telah kaku.
“Mama meninggal,May. Tapi kita harus tetap masuk hari ini. Cuma 3 jam dan kamu harus konsentrasi.”
Maya bangkit dari tempat tidur mama sambil menyeka air matanya,”Mbak..Tolong hubungi Pak RT minta bantuan untuk pemakaman mama. Aku tinggal dulu buat ujian.”
Mbak Wati pun langsung berlari menemui Pak RT yang menyarankan telpon ke rumah sakit untuk memindahkan jasad Tante Wulan ke rumah duka yang ada di samping rumah sakit.
Maya duduk di samping Ryan dalam keadaan hidung yang memerah dan mata yang sembab. Ryan mengenggam tangan kanan gadis itu,”Kau harus kuat,May. Masih ada satu hari UN dan ujian sekolah.”
Gadis itu mengangguk dan suaranya berubah parau,”Aku gatau lagi. Yang pasti kalau tidur di rumah itu bakal terus ingat mama.”
“Kau harus kuat,May. Lupakan sejenak dan fokus UN.”
Maya menguatkan hatinya memasuki halaman sekolah dan berusaha konsentrasi mengerjakan semua soal UN hari itu yang terdiri dari dua mata pelajaran yang lumayan berat, Fisika dan Kimia.
“Kamu sedang ada masalah,May?”tanya Pak Wisnu, guru Biologi yang biasa mengajar di kelas 10.
“Mama saya meninggal hari ini,Pak.”
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kapan beliau dimakamkan?”
“Mungkin besok pagi,Pak.”
Maya berusaha menahan tangis dan berusaha konsentrasi untuk mengerjakan soal ujian berikutnya.
“Kamu yang tabah ya,May. Kami segenap guru pasti datang melayat.”
Seusai ujian, Maya buru-buru menghubungi Ryan agar mereka segera sampai di rumah karena masih banyak urusan yang harus diselesaikan di rumah sakit, termasuk mencari tanah pekuburan untuk mama.
__ADS_1
“Tenangkan hatimu,May. Nanti aku minta tolong anak buah papa untuk carikan tanah kuburan dan tim pengajian di rumah duka.”
“Terima kasih,Ryan. Aku sedih banget…Mama belum sempat liat kita nikah, belum sempat liat aku kuliah, apalagi liat aku lulus,”isak gadis itu sesengukkan, tubuhnya terguncang-guncang.
“Tabah ya,May. Nih minum dulu,” kata Ryan sambil menyodorkan sebotol air mineral yang diambilnya dari belakang kursi.
Gadis itu membuka tutup botol air mineral dan meminumnya dua tegukan lalu menutupnya kembali dan meletakkannya di samping tempat duduknya. Bola matanya yang bulat berbinar kini meredup, matanya berubah sendu dan kemerahan, hidungnya bengkak kemerahan. Ryan mengelus puncak kepala gadis itu dan menghiburnya.
“Kata orang tua, jangan tangisi terus orang yang sudah meninggal dunia, takut arwah mereka tidak tenang di alam sana.”
Maya sontak tersadar, selama ini mama sering mengatakan padanya agar tegar menjalani hidup. Gadis itu menyeka air mata dengan setumpuk tisu yang diambilnya dari sebuah kotak tisu yang terletak di bagian atas mobil milik Ryan.
“Benar,Ryan. Aku harus kuat, aku harus bisa memulai hidup baru tanpa mama. Tapi kalau kita berpisah, aku bakal sendiri lagi. Huhuhu…”isak tangis gadis itu pun pecah kembali.
“Kan kita bisa video call kapan saja. Udahlah.. Jangan menangis terus nanti kamu bisa sakit,lho!”
Maya mengangguk lemah, disandarkannya punggungnya di jok depan dan mengangkat dagunya sambil menatap jalan raya di depannya.
Esok paginya, Maya berdiri di samping pemakaman dengan mengenakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam, rambutnya yang panjang diikat menjadi satu dan ditutup dengan kerusung warna hitam. Di sana tampak Ryan dan Om Robert yang mengenakan pakaian senada dan menutupi mata sembab mereka dengan kacamata hitam. Serombongan siswa dan guru tampak hadir di tengah mereka.
Isak tangis gadis itu kembali pecah ketika jasad mama dimasukkan ke liat lahat, dan mereka menutupnya kembali dengan tanah.
“Huhuhuhu….”isaknya dalam dekapan Ryan yang membenamkan kepalanya di dadanya yang bidang.
“Sudahlah,May. Kami semua turut bersedih tapi harus ikhlas agar arwah mamamu tenang di alam sana.”
Maya menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah makam yang masih merah, tubuhnya terguncang-guncang menahan tangis, airmatanya membasahi gaun hitam yang dikenakannya. Di sampingnya terdapat sebuah keranjang berisi bunga mawar putih dan bunga anyelir warna kuning yang siap ia letakkan di atas makam mama.
Ryan ikut meletakkan bunga itu di atas tanah makan Tante Wulan yang masih merah.
“Semoga mama tenang dan damai di sana,.Maya janji akan sering-sering mengunjungi mama di sini.”
__ADS_1