
Pagi yang indah, Mentari pun bersinar cerah dan bergerak dari ufuk timur menerangi bumi, embun di dedaunan masih menempel, udara pagi yang sejuk, burung-burung yang bernyanyi riang, mengantarkan dua sejoli itu lari pagi mengelilingi kompleks. Beberapa penghuni sudah keluar dan beraktifitas, sebagian lainnya memanfaatkan waktunya dengan mengayuh sepeda atau berlari di tepi jalan atau mengelilingi taman. Ryan mengajak Maya berlari ke bukit yang terletak agak jauh dari rumah, di belakang bukit itu terdapat sebuah danau yang airnya bening.
“Ayo cepetan larinya,”seru Ryan yang berlari di depan.
Gadis itu mempercepat langkahnya, jarang pelari menuju bukit karena di sana agak sepi dan jauh dari pemukiman penduduk.
“Kita pindah aja ,jangan lari ke sana. Serem,”ujar Maya sambil menghentikan larinya, napasnya terengah-engah.
“Kan ada aku. Di sana suasananya mirip bukit dekat sekolah kita dulu,”sahut Ryan sambil berteriak.
Maya menurut saja keinginan Ryan untuk bernostalgia ke bukit, meskipun hati kecilnya sedikit ketakutan.
Ryan telah sampai lebih dahulu di bukit, suasana sekitarnya masih sepi. Maya berharap ada orang lain yang lewat di situ agar suasana lebih hidup. Akhirnya gadis itu pun sampai, dilihatnya sebuah bukit tandus, dengan ilalang kering di sekitarnya, namun bersih tanpa tumpukan sampah di sana sini.
“Liat Ryan! Kalau bersih begini, artinya jarang ada manusia lewat ke sini,”teriak Maya pada Ryan yang berlari ke arah danau di belakangnya.
Rupanya cowok itu tak mendengarnya karena jarak terlalu jauh, sehingga Maya tergerak untuk mengejarnya
“Ayo buruan! Bagus pemandangan di sini,”seru Ryan sambil duduk di atas batu sambil memandang danau.
Maya berhasil menyusulnya, ia mengambil tempat di dekat Ryan, sebuah batu yang lebih besar. Gadis itu mengatur napasnya satu-satu, pemandangan di hadapannya jauh lebih indah daripada di bukit tadi. Air danau yang bening, dan pepohonan hijau di sekelilingnya.
“Tapi aneh sepi banget,”keluh Maya sambil mengambil sebutir kerikil.
__ADS_1
“Untuk apa kerikil itu kau kumpulkan,May?”tanya Ryan sambil menatap wajah gadis cantik itu.
“Mau coba lempar ke danau. Siapa di antara kita bisa melempar paling jauh ke sana,”sahut Maya sambil tertawa.
“Ayo…Kita coba. Kamu duluan deh,”seru Ryan sambil bangkit berdiri.
Maya bersiap-siap melempar,”Bluung….”
Batu kerikil terlempar hingga ke tengah danau.
“Kini giliran kamu,”ucap Maya sambil memberikan butiran kerikil untuk Ryan.
Cowok ganteng itu mengambil ancang-ancang agar dapat melempar sejauh mungkin.
Kerikil yang agak besar itu jauh lebih jauh lagi hampir mendekati bibir danau sebelah sana.
“Yeyy….Aku menang!”seru Ryan sambil bersorak gembira.
Seketika itu juga Maya berteriak kaget ketika dilihatnya tiga ekor binatang menyerupai buaya naik ke daratan.
“Yuk cepet lari,Ryan. Aku takut. Itu mirip buaya,”seru Maya sambil menunjuk binatang mirip buaya tapia gak kecil dan tubuhnya lebih licin.
“Itu biawak bukan buaya,”sahut Ryan tergelak.
__ADS_1
“Tapi bisa menggigit juga kan?”
“Mereka gak seganas buaya,May.”
“Tapi aku takut…”rengek gadis itu.
Maya berlari menjauh, sementara Ryan masih berada di dekat danau memperhatikan gerak gerik biawak yang dianggapnya lucu. Tiba-tiba ketiga biawak itu berubah menjadi kaum volturi yang menganggap semua leluhur Ryan adalah kaum pecundang karena menikah dengan bangsa manusia. Kaum volturi kesal karena golongan vampire asli mulai punah karena banyak keturunan mereka yang mati.
“Hahahah..Akhirnya kutemukan juga kau,”seru Aro sambil tertawa bengis.
Di belakangnya berdiri Caius dan Marcus yang menyeringai sehingga dua gigi taringnya yang runcing nampak dengan jelas.
Buru-buru Ryan berlari cepat dan menarik tangan Maya, yang bersembunyi di balik punggung coeok itu.
“Apa urusan kalian? Leluhurku tidak ada permusuhan dengan golongan kalian!”seru Ryan dengan geram.
Saat itu juga tangan kokoh Ryan menggendong Maya dengan lari secepat mungkin melebihi kecepatan cahaya, sehingga sepintas nampak seperti terbang.
“Betul kan kataku? Pasti ada sesuatu yang tak beres di danau,”gerutu gadis itu.
Angin dingin berkelebat di sekitar mereka.
“Tapi percayalah, mereka tak akan membunuh kita,”sahut Ryan dengan nada menghibur.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka telah sampai di taman yang berada di kompleks rumah Ryan. Mereka bernapas lega lepas dari tiga biawak jadi-jadian.