Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 92: Hari Pertama di Rumah Kos


__ADS_3

Tak terasa kelulusan usailah sudah, Maya mulai mengontrakkan rumahnya selama 3 tahun dan memulai hidup barunya di Jogja sebagai mahasiswi kedokteran umum. Pagi itu, Ryan menjemputnya dengan diantar supir sang papa. Cowok itu tampak sangat tampan dalam balutan t shirt oblong warna hitam dan celana jeans biru tua. Maya pun nampak cantik dalam busana yang kembar. Suasana bandara lumayan ramai, mereka berjalan sambil mendorong kopernya dan memasuki area boarding. Perjalanan yang akan membawa mereka ke sebuah kota lain dalam hitungan 1 jam 10 menit ke depan.


Sesampainya di sana, gadis itu menyewa sebuah kamar kos dekat kampus, dan membatalkan rencana semula mengontrak rumah dengan alasan biaya. Ia tak ingin hidup membebani Ryan,suaminya, dan bertekad mandiri dengan usaha sambilannya membuka kursus online bahasa Inggris. Rumah kos yang ia tempati memiliki lima puluh kamar yang terletak di lantai satu dan dua. Gadis itu menempati . Sebuah rumah kos dengan bangunan kuno bercat putih dengan kusen warna coklat gelap. Meskipun masih banyak bangunan modern di sekitarnya, namun Maya memilihnya karena rumah kos di sebelahnya penuh sedangkan harga sewa apartemen dekat kampus jauh lebih mahal.


“Tok…Tok…Tok…”


Dua remaja itu mengetuk pintu, Maya meletakkan kopernya di lantai, tepat di sebelah kiri tubuhnya yang sedang berdiri menghadap pintu.


“Kreek…”


Suara pintu dibuka, seorang art muda dengan rambut diikat satu dan dibalut daster motif bunga membukakan pintu dan tersenyum.


“Selamat siang,Neng. Sudah booking sebelumnya?”


“Sudah,Mbak. Saya Maya yang tempo hari sempat telpon dengan ibu pemilik kos.”


“Silakan masuk. Sebentar saya panggilkan beliau. Bu Laksmi jarang keluar kamar soalnya.”


Maya dan Ryan mengambil posisi duduk menghadap pintu keluar. Ruang tamu itu cukup luas dengan kursi jati berukir dengan motif kepala garuda di tiap kepal kursi, sebuah meja jati putih yang berukir dan sebuah meja console kuno dengan sebuah tempat payung.


Maya mengamati seorang wanita tua berusia sekitar 65 tahun, berparas manis dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh garis kerutan halus di seluruh wajahnya, tubuhnya yang sedikit gemuk dibalut daster panjang bermotif batik, sementara rambutnya yang sudah beruban diikat ke atas membentuk sebuah konde cepol. Penampilannya sangat sederhana, jauh berbeda dengan perempuan kota yang sangat merawat diri.


“Perkenalkan saya Ibu Laksmi,pemilik kos di sini. Saya hanya tinggal berdua dengan pembantu saya.Mbak Atin dan tukang kebun saya,Pak Darto.”


“Suami dan anak ibu dimana?Maaf bertanya,”tanya gadis itu sambil menggeser duduknya mendekati meja.


“Suami dan anak saya sudah lama meninggal dunia. Tepatnya empat puluh tahun lalu, sebuah kecelakaan mobil yang ditabrak truk yang oleng di jalan tol,”sahutnya sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.


“Oh…Maaf, telah membuat ibu bersedih.”


“Gak apa-apa,Nak. Karena itu ibu putuskan membuat rumah kos agar ibu tidak kesepian.”


“Di sekitar sini apakah banyak warung makan,Bu?”tanya Ryan yang nampaknya mencemaskan keadaan Maya di kos kelak.


“Banyak,Nak. Di sebelah kanan itu juga ada warung makan milik ibu yang dikelola para karyawan. Buka 24 jam malahan.”


“Oh… Yaudah,May. Kamu bisa tenang kos di sini.”


Maya tersenyum, dan kini ia paham mengapa Bu Laksmi harus duduk di kursi roda selamanya. Kaki kanannya harus diamputasi karena seluruh tulang kakinya remuk, dan kini ia harus menggunakan kaki palsu dan duduk di kursi roda. Usianya yang lanjut tak memungkinkannya untuk terus-menerus berdiri dan berjalan menggunakan kruk yang menyita seluruh tenaganya.

__ADS_1


“Kalau ada perlu hubungi aja Mbak Atin yang akan membantumu membersihkan kamar dan kamar mandi di dalam. Mengenai cuci setrika silakan laundry di rumah sebelah.”


“Laundry sebelah milik ibu juga?”


Perempuan tua itu mengangguk dan menggeser roda kursinya, kembali memasuki kamarnya. Mbak Atin membantu membawakan koper naik ke lantai dua.


“May..Aku tunggu di sini dulu ya!”


Gadis itu mengangguk dan mengikuti sang art ke lantai dua. Ada sebuah tangga yang bercabang dua,mengarah ke deretan kamar sebelah kiri dan sebelah kanan, sama besarnya.


Sebuah ruangan berukuran 3x4 meter dengan kamar mandi di dalamnya, dan sebuah jendela besar yang menghadap area perkampungan.


“Mbak..Ini nggak berisik kalau pagi?”


“Enggak sih,Neng. Paling kalau ada yang hajatan,”sahut sang art sambil memasang seprei.


Gadis itu memasukkan pakaiannya ke dalam lemari yang sebelumnya ditebar dengan kamfer wangi. Dalam hitungan menit, ruangan tampak bersih dan segar.


“Sebelah sudah ada penghuninya juga?”


“Sudah,Neng. Oh ya..saya permisi dulu, mau mengerjakan pekerjaan lain.”


Gadis itu mengunci pintunya dan menuruni anak tangga. Ryan masih duduk di ruang tamu dengan sebuah koper kecil di sisinya.


“Yuk,May anterin aku cari hotel di sini?”


“Kamu nginep berapa lama di sini?”


“Sampai kamu masuk kuliah aja,May. Buat bantu-bantu cariin peralatan OSPEK.”


“Bisa seminggu lebih lho…Apa gak sewa homestay aja?”


“Hotel lebih nyaman,May. Gak apa-apa.Toh buat kamu ini.”


Akhirnya Ryan berhasil mendapatkan sebuah hotel bintang lima tak terlalu jauh dari tempat kos gadis itu, yang bisa disewa secara mingguan. Type kamar yang dipilihnya cukup besar dengan sebuah kamar tidur, kamar mandi dan sebuah ruang tamu untuk menonton televisi di dalamnya. Kamar itu berada di lantai satu, di belakang ruang receptionist, jendelanya yang besar menghadap kolam renang. Sehingga dari dalam kamar, Ryan bisa menikmati orang-orang yang lalu lalang di sana. Kaca itu sifatnya one way sehingga tak akan nampak bila orang luar hendak melihat ke dalam kamar hotel.


“Sebenarnya kalau kita sudah pesta pernikahan. Ini bakal jadi bulan madu kita,May.”


Gadis itu hanya tertunduk malu lalu tertawa memperlihatkan lesung pipit yang menghiasi kedua pipinya yang putih.

__ADS_1


“Satu tahun lagi. Bersabarlah! Oh ya…nanti kita makan di hotel atau jalan-jalan di Malioboro?”


“Oh iya,May. Aku denger banyak makanan di sana. Yuk kita keluar sambil ngeliat seperti apakah itu keraton Jogjakarta.”


Mereka makan di sebuah warung makan yang sangat ramai dengan pengunjung. Ada dua tempat pilihan, duduk di kursi atau dengan lesehan. Dua remaja itu memilih makan lesehan di atas sebuah tikar anyaman bambu yang disusun secara memanjang. Sambil menunggu pesanan tiba, seorang pelukis jalanan menawarkan jasanya untuk melukis wajah.


“Mau saya Lukis,Neng?”


“Berapa harganya,Mas?”


“Seratus ribu.”


“Kemahalan. Bagaimana kalau lima puluh ribu saja?”


“Udahlah saya kasih tujuh puluh lima ribu saja. Udah murah.”


“Baiklah,Bang.”


Akhirnya pelukis itupun membuat sketsa dengan pensilnya, gadis itu menikmati hidangannya, dan tetap menjadi sasaran lukis. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari whatssup berbunyi, Maya membuka ponselnya.


“Dari siapa,May?”tanya Ryan sambil meneguk minuman dari gelas dengan sedotannya.


“Dari Ardi,murid kursus online,”sahut Maya sambil memotong dada ayam goreng dengan garpu dan sendoknya.


“Oh..Lalu apa katanya?”


“Dia ada di tempat ini juga. Mau kenalan langsung,”sahut Maya sambil tertawa.


Tak lama kemudian mereka selesai bersantap malam dan keluar dari warung makan itu. Tiba-tiba ada sebuah suara menyapa Maya dari kejauhan.


“Hai…Kamu Maya?”


“Iya…Kamu Ardi?”


“Benar..Kenalin ya..Ini suamiku, Ryan.”


“Salam kenal ya! Aku Ardi , anak kos di sekitaran sini.”


“Oh…Pantes gercep,”sahut Ryan sambil terkekeh.

__ADS_1


Kedua cowok itu saling berjabat tangan. Terbersit sedikit kecemasan di hati Ryan seminggu lagi akan meninggalkan Maya, sementara di kota ini ada cowok lain yang lumayan ganteng dan tentunya akan semakin dekat dengan Maya.


__ADS_2