Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 148: Nightmare


__ADS_3

Gadis itu membelalakkan mata ketika dilihatnya sepuluh art di rumah Om Robert itu membawa semua piring kotor ke dapur. Mereka tampak berbagi tugas, ada lima art yang membawa piring dan gelas kotor dari halaman ke dalam dapur, dan sisanya kebagian tugas mencuci dan mengeringkan semua peralatan makan sebelum dimasukkan kembali ke dalam lemari dapur. Di tengan dapur basah, terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang terbuat dari marmer warna hitam yang elegan dengan urat putih, di atasnya penuh dengan piring bekas makan yang kemerahan. Ada beberapa ekor belatung bergerak di atas piring-piring itu.


“Hoeks…”


Gadis itu merasa mual dan ingin muntah seketika, ia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya erat-erat, wajahnya seketika memerah.


“Mungkinkah mereka makan daging mentah?”gumam Aya sambil mengintip dari balik jendela dapur.


“Daging itu mulai membusuk pula. Ciih…”


Gadis itu merasa sangajt jijik melihat pemandangan di dapur, ada perasaan ngeri bercampur penasaran yang membuatnya ingin mengetahui misteri di balik semuanya ini.


Mereka tampak riang gembira membersihkan semua peralatan dapur tanpa banyak cakap. Anehnya mereka bekerja laksana sebuah mesin, rapi, cepat, dan kaku. Maya celingukan untuk melihat kalau-kalau Om Robert atau Ryan akan memergokinya. Gadis itu makin penasaran ketika salah seorang art menuang sebuah minuman dari dalam kulkas ke dalam gelas mereka, dan air yang keluar juga berwarna merah.


“Darah? Atau sirup?”batin gadis itu dengan jantung yang berdegup makin kencang.


Maya makin penasaran dan mengambil sebuah balok kayu untuk berjinjit. Jendela itu lumayan tinggi, dan pintu dapur dalam keadaan tertutup.


“Braak…”


Balok kayu terbalik, gadis itu nyaris jatuh terjerembab, untunglah Maya dengan gesit melompat dan berlari mencari tempat berlindung. Seorang art membuka pintu dan keluar. Maya mengamatinya dari kejauhan, ia bersembunyi di balik dinding yang menuju halaman belakang. Sebuah ruangan yang sangat gelap dan menyeramkan, serta berbau sampah. Maya menengok ke belakang, tumpukan sampah yang sangat tinggi.


“Waduh…Pasti sebentar lagi art itu menuju kemari. Ia akan membuang sampah di sini. Matilah aku,”teriak Maya dalam hati.


Art itu celingukan dan keluar mengambil balok kayu itu, diangkatnya balok kayu itu dan dibawanya ke dalam dapur. Maya buru-buru naik ke atas pohon untuk berlindung, ia takut ketahuan mereka. Dari atas pohon, gadis itu melihat ke bawah, benar saja ia membawa ke-9 art lainnya untuk berpencar mencari tahu siapa yang baru saja memakai balok kayu untuk mengintip kegiatan mereka. Jantung gadis itu berdetak sepuluh kali lipat lebih cepat dari biasanya, terlebih ketika salah seorang art itu menengadahkan kepalanya ke atas. Gadis itu menyembunyikan dirinya di balik dedaunan yang lebat.


“Kreek..”

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara dahan di atasnya diinjak, Maya membalikkan tubuh ke belakang, dilihatnya sepasang mata mengintainya dalam kegelapan. Gadis itu berkeringat dingin, jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu. Ia hendak berteriak namun di tahannya. Hidupnya saat itu bagaikan keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya. Dipandangnya ke bawah, sepuluh art itu masih berpencar dan sibuk mencari si pemakai balok kayu.


Maya sudah pasrah bila malam itu ia harus mati.


“Bodohnya aku!Kenapa gak langsung tertidur setelah pesta usai?”gumam Maya sambil menyesali dirinya sendiri.


Air matanya mulai membasahi kedua pipinya, ia hanya bisa berdoa dan berharap Allah akan memperpanjang usianya.


Belum sempat Maya berteriak, orang di belakangnya telah membekap mulutnya erat-erat dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Penyakit darah rendahnya kembali kambuh, kepalanya pening dan perutnya mual,pandangannya pun gelap dan berbintang-bintang. Ia hanya bisa menatap seorang cowok tampan rupawan yang mengangkat tubuhnya ke angkasa dan membawanya terbang sehingga ia dapat melihat langit malam lebih dekat.


“May…Ini aku,Ryan.”


“Aku hampir mati dibuatnya,”sahut Maya menahan isak tangis.


“Lain kali gak perlu kepo dengan kehidupan art di rumah ini. Mereka kerja tanpa pernah minta berlibur seperti art lainnya saat lebaran,”papar Ryan.


“Terima kasih Ryan,”ucap gadis itu sambil memasuki kamarnya dan menutupnya kembali.


Maya ketakutan, ia berlari-lari sambil sesekali menengok ke belakang untuk mengetahui lokasi lawan yang mengejarnya. Napasnya terengah-engah, gadis itu bersembunyi di belakang pohon besar yang memiliki mata kayu. Maya duduk di bawahnya, bola matanya diputar untuk meneliti seluruh hutan yang kini ada di hadapannya. Mata kayu di dekatnya berubah wujud menjadi rupa seorang nenek tua dengan hidung bengkok. Gadis itu menutup mulutnya dengan kencang agar teriakannya tertahan. Napasnya seakan terhenti, ia kembali berlari untuk menemukan tempat persembunyian yang lain.


“Kejar terus gadis itu!”teriak salah seorang art sambil memegang pisau besar yang biasa dipakai untuk memotong daging.


“Kamu berpencar ke utara. Kalian ke arah selatan dan barat. Aku ke arah timur,”perintah art yang paling banyak memiliki uban di rambutnya.


Maya berusaha naik ke atas pohon dengan susah payah dengan menaiki batang pohon dan menginjak bagiannya yang menonjol sebagai undakan. Pakaiannya masih kimono merah marun yang dipakaianya ketika hendak tidur.


“Auw…”teriak Maya dengan lirih.

__ADS_1


Lutut kakinya terasa perih meskipun ia mengenakan celana panjang kimono. Bahanya sangat tipis sehingga batang pohon beringin yang kasar telah melukai kulitnya yang lembut. Akar beringin menjuntai hingga ke tanah. Selain memiliki akar yang terpendam dalam tanah, pohon beringin memiliki akar gantung yang keluar dari setiap percabangannya dan berfungsi untuk pernapasan. Gadis itu mendongkakkan kepalanya ke atas, pohon beringin itu sangat lebat, ia tak bisa melihat apa-apa, karena semua tampak gelap.


“Sebentar lagi pagi. Biarkan aku duduk tertidur di atas pohon,”gumamnya sambil berpegangan erat pada salah satu dahan yang cukup lebar.


Seorang art bertubuh kecil berdiri di bawah pohon beringin sambil celingukan, sesekali kepalanya tengadah ke atas. Maya bersembunyi di balik dahan yang paling lebat daunnya sehingga tak terlihat. Namun art itu tetap di bawah bahkan duduk di bawah pohon sambil memegang pisau yang ujungnya sangat runcing.


“Gimana aku bisa minta tolong sama Ryan? Ponselku tertinggal di kamar,”keluh Maya sambil menitikkan air mata.


“Sebentar lagi Maya akan menyusul papa dan mama ke Surga,”batinnya sambil memejamkan mata penuh rasa pasrah.


Gadis itu sangat berharap sebentar lagi suara ayam jantan akan berkokok, suara burung akan bernyanyi riang, dan sinar mentari terbit dari ufuk timur. Menunggu tiga jam serasa tiga abad lamanya, lutut gadis itu mulai gemetaran karena pegal berjam-jam ditekuk di atas pohon. Jari jemari tangannya pun mulai kaku karena kelamaan mencengkeram dahan pohon.


Maya menundukkan kepala dengan hati-hati sambil berpegangan erat, dilihatnya art di bawah mulai tertunduk.


“Mungkin sudah tidur, tapi kalau aku turun pasti melewatinya dan ia bawa pisau,”gumam Aya sambil menangis.


Gadis itu tengadah, ada sepasang mata mengintai dari balik dedaunan. Daun-daun di sekitarnya bergerak, gadis itu berharap Ryan yang datang menolongnya. Ada semacam akar gantung di puncak pohon, tampak gelap karena sang mentari belum muncul juga. Kini akarnya makin panjang menjuntai hingga di depan Maya dan ternyata itu adalah rambut. Maya tengadah ke atas, gambaran seorang nenek tua dengan wajah penuh nanah dan lingkaran mata hitam, giginya menyeringai tampak kotor, pakaiannya putih menjuntai, dan kakinya entah tak terlihat.


‘Kun…Kuntilanak!”teriak Maya tanpa sanggup menahan teriakannya.


Art bertubuh mungil di bawah pohon terbangun dan menatap ke atas, ia masih memegang pisau di tangan kanannya.


Maya hanya memiliki dua pilihan, melawan kuntilanak di atas atau melawan vampire di bawah pohon.


“Ryan tolong aku! Ryan tolong aku!”teriaknya berulang-ulang hingga lehernya sakit.


Keringat dinginnya mulai membasahi wajah dan seluruh tubuhnya, jantungnya berdegup kencang dan nyawanya seakan sudah melayang separuh. Maya berontak dan berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


“Bruuk…”


Akhirnya gadis itu terjatuh dari tempat tidur, ia membuka matanya, jam dinding masih menunjukkan pukul dua malam. Ia terkapar di atas lantai marmer yang dingin, Maya berusaha mengatur napasnya satu-satu, ia sadar semuanya hanya mimpi. Tapi seakan-akan benar terjadi.


__ADS_2