Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 105: Perkenalan Dengan Ameera


__ADS_3

Nun jauh di sebuah kampus terkenal di Kota New York…


Ryan memasuki kelas dengan langkah lebar karena sebentar lagi kuliah dimulai. Beberapa mahasiswa dari berbagai belahan negara berkumpul di dalam ruangan itu. Mereka adalah mahasiswa baru yang harus menjalani matrikulasi atau istilah lainnya adalah 1 tahun masa pre-university agar kelak dapat menyesuaikan kemampuannya dengan kurikulum sekolah bisnis yang berlaku. Ryan mengamati langkah kaki yang berderap dari kejauhan, ruangan kelasnya memiliki banyak jendela yang sengaja dibuka, sementara itu pendingin udara dimatikan karena cuaca agak dingin.


“Prok…Prok….Prok…”


Suara sepatu vantofel yang beradu dengan lantai terdengar jelas di telinga. Seorang dosen wanita berambut pirang memasuki ruangan kelas. Seketika seluruh mahasiswa baru duduk dengan tertib dan memberi salam.


“Can I sit here?” sapa seorang gadis cantik berkulit agak gelap menyapa Ryan.


“Oh…Sure,”sahut Ryan.


Sudut mata cowok itu mengamati gadis di sebelahnya, Ryan belum sempat mengenal namanya. Yang jelas gadis itu nampak sangat menarik di matanya. Tubuh yang tinggi semampi sekitar 178 cm bak seorang peragawati berkulit hitam, dengan bola mata hitam pekat yang bulat dinaungi bulu mata lentik alami dan sepasang alis lebat dan hidung mancung. Bibirnya nampak dipulas dengan lipstick warna nude, mengesankan ia seorang gadis berdarah Afrika atau Timur Tengah. Buru-buru rasa kekagumannya ia tepiskan karena Ryan ingat ia harus menikah dengan Maya, kekasihnya tahun depan.


“Baru kali ini aku kagum pada wanita.Tapi bukan cinta,”gumam Ryan yang sedikit salah tingkah.


Cowok itu belajar untuk berkonsentrasi selama mendengarkan penjelasan dosen.


Saat mata kuliah usai, semua mahasiswa berhamburan keluar ruangan dan mencari ruangan lain sesuai dengan mata kuliah yang harus diikuti berikutnya.


“My name is Ameera,”kata gadis itu sambil menjabat tangan Ryan.


“Oh My God. Pandangan matanya menusuk hingga tembus ke jantungku,”seru Ryan dalam hati.


“Oh….Mmhm….My name is Ryan.I’m from Indonesia,”sahut Ryan sambil beranjak bangun dari duduknya.


Gadis itu berjalan di sampingnya sambil membetulkan tali tasnya yang melorot ke bawah.


“I’m from Konya, Turkey.”


“Oh…Where do u live?”


“In an apartment near here,”sahut Ameera sambil menyibakkan rambutnya yang hitam dan lebat berkilau.


Ryan serasa berjalan di samping seorang catwalk model. Baru kali ini cowok itu menemukan cewek setinggi ini.


Ryan memperhatikan gerak langkah Ameera yang mirip seoang peragawati sehingga cowok itu memberanikan diri untuk bertanya karena sangat ingin tahu.

__ADS_1


“Are you a model before?”


“Nope,”sahut Ameera sambil tertawa.


Gadis itu memperlihatkan barisan giginya yang tampak putih mengkilat, kontras dengan warna kulitnya yang gelap.


“You look so georgeous!”seru Ryan.


“Oh..Thanks. Where do you live?”


“That apartment!”sahut Ryan sambil menunjuk sebuah bangunan tinggi nan megah yang berada di ujung jalan.


“That’s my apartement, too!”seru Ameera sambil tertawa.


“Wow…”


Tak disangka Ameera adalah penghuni apartemen di lantai bawah, sedangkan Ryan menghuni di bagian atas. Cowok itu merasakan kegembiraan mendapatkan teman baru yang cantik nan eksotik. Kesepiannya selama ini terhapus sudah, kerinduannya terhadap Maya sang kekasih yang membuatnya dilanda lara nestapa kini bagaikan terguyur oleh secercah api kehidupan baru. Ameera menyirami hatinya dengan sejuta kebahagiaan baru yang bisa ia nikmati setiap hari. Kebersamaan setiap berangkat dan pulang kuliah membuat mereka semakin hari semakin akrab.


Sejak persahatannya dengan Ameera terjalin, hari-harinya merupakan kenangan manis yang terukir indah di negeri orang. Meskipun Ryan masih sering mengabari keadaannya pada sang kekasih, namun hubungan mereka semakin lama menjadi semakin hambar. Malam itu Ryan duduk di meja belajar sambil membawa diktat kuliahnya, pikirannya menerawang jauh mengenang tawa Ameera yang renyah, kulitnya yang eksotik dan tubuhnya yang padat berisi. Tak sengaja cowok itu membandingkannya dengan Maya yang imut dan putih. Gadis itu terkesan pemberani dan piawai dalam segala mata pelajaran namun selalu malu-malu jika dipuji. Bersama Ameera,Ryan lebih merasakan kebebasan, namun ia memiliki janji suci dengan Maya dan mereka telah bertunangan.


Ryan kini menyadari bahwa dirinya sebagai seorang pemuda yang masih sangat labil dan mudah berubah pendiriannya. Malam itu juga, langit tampak cerah penuh dengan bintang. Pemandangan kota New York dari atas nampak sangat hidup dengan lampu-lampu yang menyala terang dari sejumlah gedung bertingkat tinggi dan lampu-lampu jalanan yang menerangi kota. Diraihnya ponselnya yang tergeletak di atas meja, cowok itu menghubungi sang papa untuk mencurahkan segala isi hatinya.


“Maksud kamu apa,Ryan?”terdengar jawaban dari seberang sana.


Tampaknya Pak Robert Sanders cukup kaget dengan keputusan sang putra.


“Aku cuma bersahabat dengan Ameera,Pa.Tidak punya maksud lebih. Kalau sekedar suka, tidak salah juga kan?”kata Ryan sambil menyibakkan poni yang menutupi matanya.


“Sudah kuduga hal itu akan terjadi,”sahut papa.


“Maksud papa?”tanya Ryan.


“Karena kalian saling berjauhan, pasti kejadiannya akan begini. Tapi kita harus tanggung jawab. Kau telah menikah secara siri. Kau harus bertanggung jawab terhadap Maya!”


“Ryan paham soal itu,Pa. Toh Ryan gak ngapa-ngapain dengan Ameera kan?”


“Segala yang gak mungkin bisa jadi sangat mungkin karena kalian satu apartmen bukan? Papa kasihan sama Maya dia sudah yatim piatu juga,”sahut papa panjang lebar.

__ADS_1


Cowok itu sontak tersadar akan kesalahannya, dan berusaha menepis perasaan sukanya terhadap Ameera.


“Pokoknya liburan semester tahun depan kalian harus menikah resmi! Papa sudah menghubungi wedding organizer. Udah dulu ya..papa ada meeting satu jam lagi,”kata papa mengakhiri percakapan.


“Iya,Pa. Ryan ingat itu kok.”


Ryan duduk terpekur menatap lantai kamarnya, sementara itu tumpukan diktat kuliahnya masih tersusun rapi, hanya satu yang baru ia buka. Minggu depan adalah ujian semester dan ia harus berjuang keras untuk lulus karena sekarang tak ada lagi Maya yang membimbingnya belajar.


“Betapa bodohnya aku kalau menyia-nyiakan Maya. Aku bisa seperti ini karena dia,”gumam Ryan sambil memukul dahinya pelan.


Cowok itu sadar tabiatnya dahulu yang sering melupakan tugas kuliah dan tak berdisiplin soal waktu, berubah menjadi lebih baik sejak kehadiran Maya di sampingnya. Sedangkan Ameera hanya sosok baru yang belum ia kenal secara dekat. Gadis hitam manis itu hanya elok dipandang mata, namun belum tentu sesuai dengan kepribadiannya. Ryan menghela napas panjang, sudut matanya diarahkan ke sekeliling ruangan yang masih berantakan. Ahmad belum pulang dari kerja. Ia masuk shift kedua dan baru kembali tengah malam nanti. Ryan berjalan ke arah kulkas kecil yang berdiri di sudut kamar, jari jemarinya yang kokoh membuka sebuah susu dalam kemasan sachet, isinya berwarna merah, dibukanya kemasan itu dan diteguknya sampai habis.


“Plok…Plok…Plok…”


Di luar kamar terdengar derap langkah kaki Ahmad yang baru pulang kerja.


“Kreek..”


Pemuda itu memasuki kamarnya dan membersihkan diri. Tak lama kemudian ia mengetuk pintu kamar Ryan.


“Tok…Tok…Tok...”


Ryan membuka pintu, nampaklah seraut wajah hitam manis milik Ahmad yang berambut sedikit keriting.


“Kamarnya mau dibersihkan,Tuan?”


“Silakan. Kamu gak capek,Mad?”


“Kan saya bangun agak siangan tadi,Tuan.”


Mata Ryan tertuju pada sebungkus susu warna merah yang ia buang ke tong sampah, buru-buru cowok itu hendak memungutnya namun Ahmad telah melihatnya lebih dulu.


“Biarkan saya yang membuangnya ke luar,Tuan.”


“Oh…Gak perlu. Hari ini biarkan saya yang membuang sampah dari kamar ini,”sahut Ryan sambil tersenyum.


Wajah Ahmad tampak keheranan memandang kemasan susu yang tampak langka di pasaran.

__ADS_1


__ADS_2