Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 154: Tersesat


__ADS_3

Langit mulai jingga kemerahan karena sang mentari telah beranjak dari peraduannya di ufuk timur.


“Aduh panas di sini,”seru gadis itu sambil menunjuk ke arah lain yang lebih teduh.


Ryan membelokkan arah terbangnya, sementara burung-burung camar di belakangnya masih terbang bergerombol.


“Cit..kreek..kreek..cit…”


Suara teriakan burung camar berbarengan dengan gulungan ombak di pantai, mengusik keduanya terbang di angkasa.


“Lihatlah! Sepertinya kita hampir sampai,”seru Ryan sambil terbang merendah.


Gadis itu membuka matanya dan merasakan sinar yang menyilaukan menembus netra matanya yang kehitaman.


Angin berhembus sepoi-sepoi ketika keduanya terbang merendah menjauhi arah datangnya sang mentari. Sebuah hamparan rumput nan hijau menjadi tempat pendaratan mereka. Sekawanan kambing sedang asyik memakan rumput, sementara dari kejauhan mulai nampak perumahan penduduk.


“Benar ini arah ke rumahmu?”tanya gadis itu sambil mengikat rambutnya yang dipermainkan angin.


“Di balik perumahan itu kan cluster perumahanku,May.”


“Mbeeekkk…”


Sekawanan kambing itu lari menjauh ketika mereka berjalan mendekati kawanan kambing.Sinar mentari yang hangat membuat sebagian jalanan kampung yang sebagian belum diaspal menjadi kering. Ayam dan bebek yang mencari makan di sepanjang jalan menjadi sebuah pemandangan yang umum dijumpai.


“Sepertinya ini bukan jalan menuju ke perumahanmu,Ryan. Lihat saja di sana pegunungan. Rumahmu bukannya jauh dari pegunungan?”tanya gadis itu sambil menjulurkan leher mengamati keadaan sekelilingya.


“Kita liat saja nanti. Sebentar aku tanya pada orang di sebelah sana,”sahut Ryan sambil mendekari sebuah gubug dengan seorang bapak tua yang sedang mengelap sepedanya.


Maya mengamati sebuah rumah dengan dinging dari bambu dan atap daun rumbia itu. Halaman depannya cukup luas dengan sebuah meja persegi dan sebuah tikar, di depan pintu masuk tampaklah seorang bapak tua mengenakan kaos single warna putih dipadukan dengan sarung kotak-kotak sedang mengelap sepeda tuanya.


“Selamat pagi,Pak. Maaf saya mau bertanya ini desa apa ya?”tanya Ryan dengan hati-hati.


Bapak tua itu memalingkan kepalanya dan menatap Ryan dengan pandangan curiga


“Jangan takut,Pak. Kami orang baik-baik,mahasiswa yang tersesat. Kami mau pulang ke Jogja,”ujar Ryan sambil tersenyum.


Sejenak laki-laki itu meletakkan lapnya yang kumal di atas roda lalu bangkit berdiri.


“Ini Desa Sleman. Jogja tak jauh dari sini.Pakai bis atau taksi saja,kalian akan sampai ke sana,”ujarnya dengan wajah yang masih tanpa senyum.


“Baiklah,Pak. Kalau begitu,kami mengucapkan terima kasih. Kami pamit dulu,”ujar cowok tampan itu sambil menganggukkan kepala.


Bapak tua itu hanya menganggukkan kepala dan kembali mengelap sepeda tuanya.


“Kita tersesat,”ucap Ryan ketika mereka sudah bersitatap.


“Vampire bisa juga tersesat?”tanya Maya dengan tertawa.

__ADS_1


Gadis itu mengangkat alisnya dan tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit. Ryan mendengus kesal, ditinjunya dengan pelan bahu gadis itu.


“Jangan menyindir ah..Aku kan lebih manusia daripada vampire,”sahut Ryan sambil menarik tangan gadis itu.


Ryan menarik tangan gadis itu untuk berpindah tempat karena tempat mereka berdiri sangat lemah jaringan internetnya.


Keduanya mencari daerah yang bisa memperkuat sinyal internetnya. Ryan membuka ponsel dan berusaha memesan taksi.


“Takut gak sih kalau dapat taksi yang supirnya jahat lagi?”tanya Maya dengan perasaan cemas.


“Kali ini enggaklah.Aku bakal cari taksi dari perusahaan ternama,”ujar Ryan sambil menggeser monitor ponselnya.


Dengan jantung yang berdetak lebih kencang,keduanya berharap mendapatkan pengemudi yang kompeten dan berkualitas.


“Belum kau laporkan juga pengemudi yang salah itu,Ryan?”tanya Maya sambil memandang wajah tampan Ryan yang masih asyik dengan ponselnya.


“Laporan secara online udah dong. Perbanyak doa aja.”


“Kruuk…”


Perut gadis itu berbunyi pertanda kelaparan,”Kita mampir makan dulu yuk! Kamu enggak pernah kelaparan?”


“Aku kan vampire. Lebih tahan lapar,”sahut Ryan sambil terkekeh.


“Ayo deh makan pagi dulu. Sebentar aja,”pinta gadis itu sambil mencari warung makan yang buka.


“Nanti kita harus kembali ke tempat tadi,lho. Karena titik penjemputannya di sana,”ujar Ryan.


“Iya tau. Yuk kita balik aja ke sana,”ajak gadis itu pasrah.


Tiba-tiba dari dalam sebuah gang, seorang ibu berjalan sambil meletakkan nyiru berisi makanannya yang dibungkus dalam daun pisang. Ibu itu berusia sekitar 37 tahun dan tubuhnya yang padat dibalut kebaya tradisional kutu baru yang dipadukan dengan kain kebaya yang mulai lusuh.


“Tuh,May. Ada juga makanan yang lewat,”seru Ryan kegirangan.


“Enak gak tuh?”bisik gadis itu di telinga Ryan.


“Kita harap lumayan enak,””sahut cowok itu sambil melambaikan tangan menyuruh perempuan itu berhenti.


“Mau beli nasi uduk,Mas?”tanyanya sambil tersenyum.


Ryan menganggukkan kepala, lalu ibu itu menurunkan barang dagangannya.


“Ada lauk telur balado,tahu,tempe, ikan tongkol balado, cumi balado, sambel goreng kentang, mie goreng, dan kering tempe. Bebas milih lauknya,”papar ibu itu sambil mengeluarkan sebuah wadah stereofoam.


“Aku mau yang komplit,”seru Maya pada penjual.


“Aku juga sama. Semua lauk masukin aja,Bu.”

__ADS_1


Ibu itu tertawa, lalu mengalasi wadah stereofoam dengan lembaran plastik bening yang baru, lalu menyodorkan pada keduanya. Ryan merogoh kantong celananya dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.


“Wah terima kasih sekali.Pagi-pagi sudah ngelarisin,”ujarnya sambil menempuk-nepukkan uang kertas tadi di atas dagangannya.


“Laris manis..”ujarnya.


Keduanya saling berpandangan dan tertawa, ibu itupun berlalu sambil berteriak mempromosikan dagangannya keliling kampung.


Mereka membuka bungkus daun pisang itu dengan duduk di atas batu di jalanan kampung.


“Isinya sedikit banget nih. Kalau masih lapar, makan aja punyaku,”kata Ryan sambil menyodorkan makanannya.


“Cukup kok,”sahut Maya sambil mengunyah makanan.


“Shit! Lupa beli minuman. Di kampung ini gak bakal ada mini market,”ujar Ryan sambil memasukkan makan berikut ke mulutnya.


“Tapi pasti ada pasar tradisional yang menjual air mineral. Biar aku nanti yang bilang pada pengemudi.”


Ryan menganggukkan kepala, sambil menghabiskan makanannya.


“Makanan ini terlalu sedikit sampai habis pun. Taksi belum datang juga,”ujar gadis itu sambil mendengus kesal.


Ryan memegang tangan Maya dengan lembut,”Nanti biar aku carikan air minumnya.”


“Iya. Terima kasih. Kamu memang pacarku vampire yang paling pengertian,”ujar gadis itu sambil menutup wadah.


Ryan membusungkan dada karena bangga dipuji demikian. Dalam waktu yang bersamaan sebuah taksi warna biru berhenti di depan mereka.


“Hah dia bisa tau kita di sini?”tanya Maya.


“Barusan aku yang suruh dia kemari,”sahut Ryan sambil membuang wadah bekas sampah.


“Ooh…Yuk kita masuk ke dalam taksi!”ajak Maya sambil menarik tangan Ryan.


Pengemudi taksi berseragam batik biru muda tersenyum pada keduanya. Maya menarik napas lega.


“Selamat pagi,”sapanya.


“Selamat pagi juga Mas,”sahut mereka hampir berbarengan.


“Sesuai titik ya?”tanyanya dengan ramah.


“Benar, sesuai titik itu,”ujar cowok tampan itu.


Mereka duduk di barisan belakang pengemudi, Ryan di sisi kanan, tepat di belakang supir, dan gadis itu di sisi kiri Ryan.


"Semoga kita sampai di rumah dengan selamat,"ujar gadis itu dengan suara pelan.

__ADS_1


__ADS_2