Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 85: Kondisi Mama Makin Gawat


__ADS_3

Suatu sore di sebuah tempat bimbingan belajar…


Ryan menggenggam tangan erat telapak tangan Maya,sorot matanya sangat teduh, dan kata-kata yang diucapkannya sangat dalam dan bermakna.


“Berjanjilah,May. Kau harus kuat dan terus mempertahankan prestasimu. Apapun yang terjadi dengan mama.”


“Iya..Aku berjanji,”sahut Maya sambil menggigit bibir bawahnya,menahan tangis. Ia mengingat beberapa hari sebelumnya dimana ia tiap hari berdebat dengan sang mama sejak divonis kanker rahim.


Sejak itu, mama semakin sering ke rumah sakit dengan diantarkan Mbak Wati menggunakan taksi online. Beliau tak mau menjadi beban bagi Ryan yang harus mengantar jemput tiap kali diperlukan.


Sebelum mama memutuskan untuk berobat rutin di rumah sakit dengan metode kemoterapi, dirinya sempat berdebat dengan mama. Maya ingin mama menjalani pengobatan dengan ramuan herbal yang alamiah, namun mama menolaknya.


“Kamu pikir kanker stadium 3 dengan mudahnya sembuh dengan pengobatan herbal? Buang-buang waktu dan uang saja.”


“Tapi kalau mama memilih kemoterapi, kulit mama bakal menghitam dan rambut mama bisa botak,”cegah Maya sambil mengkrenyitkan dahi.


“Daripada harus operasi,May. Sel kanker pasti akan tumbuh lagi,”kata mama yang masih ngotot memilik kemo.


“Yaudah,Ma. Jalani aja yang terbaik menurut mama. Maya cuma bisa bantu doa.”


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan pun berganti bulan. Tanpa terasa satu semester telah Maya lalui di kelas 12. Kini mulailah pihak sekolah memberikan tambahan bimbel sepulang sekolah. Semua siswa kelas 12 telah dipensiunkan dari kegiatan ekstrakurikuler dari semester awal, demikian pula Maya telah meninggalkan jabatannya sebagai sekretaris OSIS. Ryan pun telah meninggalkan jabatannya sebagai kapten basket sekolah. Kini keduanya hanya fokus untuk lulus ujian negara dan masuk ke perguruan tinggi favorit mereka. Tanpa terasa mama memasuki bulan ketujuh pengobatan dengan kemoterapi.


“Kasihan mama…Tubuhnya kian kurus, kulitnya makin menghitam dan sering mual dan muntah. Rambutnya pun makin rontok,mendekati botak,”gumam gadis itu sambil menitikkan air mata di kamarnya. Setumpuk buku kumpulan ujian nasional yang ia beli di sebuah toko buku besar, yang menurut mamanya harus ia pelajari karena semua soal nanti memiliki pola sama dengan soal-soal lima tahun yang lalu.


“Sudahlah,May. Jangan bersedih terus. Yakin aja mama pasti sembuh,”hibur Ryan ketika cowok itu datang di suatu malam Minggu di teras rumah.

__ADS_1


“Masalahnya kenapa harus muncul di saat-saat akhir aku akan ujian nasional. Laundry kan butuh pengelola, gak bisa diserahkan begitu saja pada art.”


“Namanya cobaan hidup. Bisa datang kapan saja,May.”


“Tapi kalau mama benar-benar meninggal, aku sama siapa?”sontak gadis itu menangis sesengukkan.


“Udahlah,May. Kan masih ada aku,”sahut Ryan sambil menyodorkan sekotak penuh tisu yang baru dibukanya.


“Tapi di rumah aku sendirian. Bakal jadi yatim piatu.”


Gadis itu menangis makin keras dan menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


“Udah ya..Kamu sekarang berpikir yang positif aja. Yakin mama sembuh,”hibur Ryan sambil mengelus puncak kepala gadis itu.


Maya merebahkan kepalanya ke dada bidang milik Ryan, semerbak aroma parfum menyeruak ke rongga hidungnya. Dirinya merasa nyaman sesaat dan teringat masa-masa di mana papa selalu membenamkan kepalanya saat gadis itu bersedih.


“Kasian mama…”batin Maya sambil menitikkan air mata.


Seakan deritanya tak berkesudahan, setelah papa diambil lebih dulu oleh Yang Maha Kuasa,kini 7 tahun berselang giliran sang mama diterpa penyakit kritis.


Mbak Wati terpaksa harus menginap di rumah untuk menjaga mama, beliau memberikan gaji ekstra karena pekerjaannya sekarang menjadi berlipat ganda. Untungnya wanita berusia 25 tahun itu belum bersuami, meskipun sang kekasih kadangkala datang menjenguknya. Tapi mereka cukup paham dengan keadaan mama, tak sekalipun Mbak Wati meminta ijin jalan-jalan di luar meninggalkan mama sendirian.


“Ini,Mbak. Maya belikan sate. Tadi Maya dan Ryan habis makan di sana. Enak banget dan empuk lho..”kata gadis itu sambil mengulurkan sekantong plastik berisik 10 tusuk sate ayam.


“Makasih,Non. Udah baik banget sama mbak.”

__ADS_1


Maya hanya mengangguk, dan makin lama ia makin sayang pada Mbak Wati yang telah dianggapnya sebagai seorang kakak.


Tak segan Mbak Wati membantu menyuapkan makanan untuk sang mama tanpa diminta, meskipun mama masih bisa melakukannya sendiri. Rasa mual membuat mama sering malas makan, itu yang membuat tubuhnya makin kurus dan tekanan darahnya turun drastis.


“Ayolah,Ma. Dimakan dikit aja…”rayu Maya suatu sore ketika dilihatnya mama benar-benar mogok makan.


“Atau makan aja apel atau pisang ini. Mama buatkan cereal ya?”


Lagi-lagi mama hanya menggelengkan kepala, wajahnya kuyu dan sorot matanya kosong.


“Ma.. Sebentar lagi Maya ujian dan jadi mahasiswi lho…Mama harus sembuh biar bisa liat Maya wisuda nanti,”bujuk gadis itu sambil mengelus punggung sang mama.


Akhirnya wanita itu mau untuk makan meskipun hanya beberapa suapan, bibirnya yang pucat menyungging senyuman, tatapan matanya sedikit bersinar ketika memandang putri kesayangannya.


Setiap hari Maya melakukan hal sama, sekolah, pergi ke bimbel, belajar di rumah, menemani mama, menemati Ryan itupun hanya kadang-kadang. Seolah cowok itu tahu kalau mama lebih membutuhkan perhatian dari Maya. Ryan pun kini mau merubah dirinya untuk lebih banyak membaca semua materi yang diperolehnya dari sekolah. Memang ia tak bisa berubah drastic, tapi setidaknya punya semangat untuk terus memperbaiki diri.


Hingga suatu sore ketika Mbak Wati ijin untuk mandi dan membersihkan kamarnya, mama yang sedang berada di dalam kamar mandinya berteriak-teriak. Maya bergegas turun ke lantai satu, begitupun Mbak Wati yang tubuhnya masih dibalut dengan handuk.


“Ada apa,Ma?”tanya Maya dengan wajah sangat panik.


Mama sedang berdiri dan berpegangan pintu kamar mandi, wajahnya pucat pasi. Di lantai kamar mandi berserakan darah yang bergumpal-gumpal. Gadis itu segera memapah sang mama ke kursi.


“Mbak…Tolong ambilkan plastik apa aja buat alas kursi!”


Mbak Wati memotong sebuah plastik kresek warna hitam menjadi dua bagian dan meletakkan di atas sebuah kursi. Daster yang dikenakan mama tembus warna merah, darah yang keluar dari organ intimnya merembes bagaikan wanita yang sedang datang bulan, nyaris menyerupai darah orang sedang melahirkan.

__ADS_1


“Mbak cepat pakai bajunya. Ambilkan juga baju mama. Kita ke rumah sakit sekarang juga!”


__ADS_2