
Pagi ini cuaca sangat cerah, mentari pagi menyiratkan semburat kemerahan di ufuk timur, embun pagi masih menetes di dedaunan. Para art di Asrama Milenial sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Maemunah sibuk memasak di dapur. Dia adalah art tertua yang dibawa Ryan dari rumah papa, perempuan berusia sekitar 45 tahun ini telah mengabdi pada keluarganya selama dua puluh tahun dan untungnya dia jago masak. Berbagai masakan dari tanah air tercinta dapat dibuatnya, mulai dari rendang hingga woku-woku, tak heran papa terus mempertahankan Maemunah meskipun saat ini gajinya telah melampaui UMR ibukota. Sementara itu Nurmah, adalah art yang baru berusia 18 tahun dan bekerja masih hitungan bulan, namun gerakannya gesit dan ia termasuk art yang paling piawai dalam mengoperasikan alat-alat rumah tangga yang terbuat dari listrik, tugasnya adalah merapikan rumah dan membantu pekerjaan art lainnya. Sedangkan Kustinah adalah seorang perempuan berusia sekitar 27 tahun yang tugas kesehariannya adalah mencuci dan menyetrika pakaian seluruh penghuni asrama.
Hari ini,Ryan telah mengganti kursi rodanya yang lama dengan kursi roda elektrik sehingga peran Mas Budi hanya mendampinginya kemanapun Ryan pergi.
“Jadi saya panggilkan Mas Drio untuk menyelesaikan administrasi,Tuan?”
“Boleh. Ditunggu di ruangan saya.”
Mas Andi menuju ruangan paling belakang dimana meja makan untuk anak-anak asrama berada. Dua buah meja kayu berbentuk persegi panjang, masing-masing memuat delapan kursi, sehingga totalnya ada 16 kursi, untuk melengkapi kursi sebanyak jumlah penghuni di asrama ini, ada sebuah kursi yang ditempatkan pada bagian ujungnya. Sudut mata milik perawat itu diarahkan untuk mengamati seluruh ruangan, namun di sana hanya ada tiga mahasiswa yang duduk menikmati sarapannya. Seorang art lewat sambil membawa sendok dan garpu yang telah bersih , dan akan dimasukkan ke dalam tempatnya.
“Mbak Nur?”tanya perawat itu hati-hati.
“Iya,Mas. Ada apa?”
“Tuan minta dipanggilkan Mas Drio.”
“Maksudnya Den Ryan?”
“Iya. Ada masalah administrasi yang belum dibereskan.”
“Mas yang itu memang jarang keluar kamar,Mas. Saya aja gak tau apakah sekarang dia ada di kamar atau belum.”
“Udah sana! Cari aja atau titip pesan, pokoknya dipanggil boss.”
Nurmah pun berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan ruang depan dengan bangunan kos yang berada di bagian belakang,berupa bangunan dua tingkat dengan 17 kamar tidur.
“Drio…Yang paling baru masuk kos di kamar paling ujung,”gumam Nurmah sambil menunjuk sebuah kamar yang paling jarang dibuka pintunya.
Art muda itu mengintip dari celah-celah jendela setelah beberapa kali mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam kamar. Sementara di bagian laundry Kustinah merasa kewalahan dengan pekerjaannya yang menumpuk. Maklumlah penghuni kos belasan mahasiswa dan tiap hari mereka mengeluarkan pakaian kotor dua stel, belum lagi kalau ada sprei atau selimut yang dicuci. Sebuah ruangan yang khusus digunakan untuk laundry itu berada di bagian depan asrama yang berupa kios kecil yang berderet dengan kios lain yang berjumlah empat buah, di sana para art diperkenankan untuk menerima cucian pakaian dari mahasiswa di sekitarnya, sehingga dua hingga tiga art yang dipekerjakan Ryan lebih sering berkutat di sana. Sedangkan kantin merupakan sebuah ruangan di depan asrama yang berupa kios-kios kecil dan disewakan untuk pihak luar yang akan berjualan makanan. Maemunah si tukang masak, perempuan berbadan gemuk itu mencari Nurmah untuk membantu pekerjaan laundry. Namun setelah dicari di dapur dan kamar pembantu, perempuan muda itu tak menampakkan batang hidungnya. Art itu kelabakan karena sebentar lagi akan disibukkan dengan acara memasak untuk makan siang, dikelilinginya asrama dari bagian depan hingga bagian belakang. Jalannya tergopoh-gopoh sambil menebar pandangan ke sekitarnya hingga tatapannya tertuju pada Nurmah yang sedang mengintip dari balik jendela.
“Heh..Dicariin kemana-mana, setrikaan numpuk. Malah ngintip kamar cowok,”tegur Maemunah sedikit kesal.
“Sstt…Bukan,Mbak. Lagi dapat tugas boss buat manggilin Mas Drio.”
__ADS_1
“Ketuk aja. Kenapa?”tanya Memunah dengan logat Jawanya yang medok.
“Lha udah saya ketuk gak ada jawaban,”sahut Nurmah tak kalah sewot.
“Lha dipanggil ada apa?”tanya Maemunah dengan suara berbisik.
“Belum bayar kos katanya.”
“Oh…”
Maemunah manggut-manggut sambil membungkukkan punggungnya agar dijadikan sandaran kaki bagi Nurmah untuk naik ke atas dan melihat dari celah-celah lubang angin. Nurmah yang bertubuh kecil dengan mudah naik dan berpegangan pada dinding. Namun, punggung Maemunah terasa licin karena pakaian yang dikenakannya terbuat dari bahan yang sangat licin sehingga art mud aitu terjatuh menimpa Maemunah yang berada di bawah.
“Bruuk…”
Suara tubuh mereka yang terjatuh di atas lantai ternyata lebih mengagetkan Mas Drio untuk bangun. Pemuda itu membuka pintu dengan rambut keritingnya yang masih berantakan sehingga nampak mengembang dan menjulang tinggi sedangkan matanya menyipit kesilauan.
“Maaf. Ada apa ya,Mbak?”
Art itu meringis menahan sakit, sedangkan Maemunah hanya terantuk lantai namun kondisi dahinya sama sekali tidak luka.
“Dipanggil sama boss,”kata Maemunah sambil bangkit berdiri.
“Masalah apa ya?”tanya Mas Drio seakan kurang paham.
“Ya pokoknya temui aja Den Ryan di ruangannya. Mungkin masalah uang kos. Kami permisi dulu,Mas.”
“Iya..Iya..Nanti saya ke sana.”
Mas Drio kembali masuk ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian keluar dalam kondisi yang terlihat lebih rapi. Pemuda berkulit gelap dan berambut keriting itu berjalan ke arah ruangan yang biasa dipergunakan pemilik rumah untuk menerima pendaftaran penghuni baru.
Kini Drio telah berdiri tepat di depan pintu dengan tubuh dibalut kaos oblong warna hijau muda dan celana pendek warna hitam. Diketuknya pintu dengan pelan-pelan.
“Tok…Tok…Tok….”
__ADS_1
“Silakan masuk.”
Terdengar sahutan dari dalam, Mas Andi membukakan pintu dan mempersilakan tamunya masuk. Perawat itu pamit keluar ruangan, untuk memberi kesempatan majikannya berbicara empat mata dengan anak kos.
“Selamat pagi.”
“Pagi. Silakan duduk.”
“Makasih,Mas. Maaf saya belum bisa bayar kos,”sahutnya dengan wajah terpekur menatap lantai.
“Kamu tau kan aturan kos ini harus bayar minimal enam bulan sekali.”
“Iya. Saya paham,Mas. Tapi saya minta dispensasi. Rumah orang tua saya di Papua terkena gempa bumi dan butuh banyak biaya untuk renovasi.”
“Terus kenapa kamu tidak cari kos lain aja yang lebih murah?”
Ryan merasa sedikit bersalah melontarkan pertanyaan seperti itu, nampak kejam tapi bagaimanpun ini adalah sebuah bisnis dan ia tak mau rugi.
“Saya janji akan bayar secepatnya,Mas.”
Ryan mengangguk-anggukkan kepala, dan menatap wajah pemuda itu. Drio berusia sekitar tiga atau empat tahun lebih tua darinya, tubuhnya agak kurus karena sering begadang.
“Kamu kuliah dimana?”
“Saya sudah selesai,Mas. Tinggal skripsi. Kerjaan saya menulis, juga jurnalis. Saya kumpulkan uang dari sana.”
“Pantas saja kamu jarang keluar kamar. Baiklah saya beri keringanan untukmu, boleh bayar bulanan.”
“Wah..Terima kasih banget,Mas. Saya permisi dulu, secepatnya saya transfer uang kos.”
Ryan mengangguk sambil tersenyum, dirabanya dadanya yang terasa sedikit sesak, telah lama ia tidak meminum susu warna merah. Tubuhnya tidak sekuat kalau ia rajin meminumnya. Sopir papa yang hendak dikirimkan pun belum juga datang. Cowok ganteng itu kini membuat strategi baru agar tidak tidur sekamar dengan sang perawat demi bisa menyembunyikan koleksi susunya dalam sebuah kulkas kecil di dalam kamar.
“Aku yakin kakiku bisa sembuh lebih cepat kalau rutin minum susu itu,”batin Ryan sambil memperhatikan kedua kakinya.
__ADS_1