Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 90: Ujian Akhir Sekolah Tanpa Mama


__ADS_3

Sehabis makan malam, Maya duduk di ruang tengah yang berdekatan dengan kamar sang mama. Suasana rumah kini makin sepi, taka da lagi canda tawa dan suara teduh sang mama yang biasa menasehatinya dengan berbagai petuah. Kini hanya menyisakan dua potret mama dan papa dalam bingkai berukir berwarna keemasan yang tergantung di dekat buffet televisi. Ada suatu yang hilang di dasar hati terdalam dari gadis itu, kesepian dan kehilangan yang teramat sangat. Dua minggu sudah mama meninggalkannya, namun Maya belum berani menginjakkan kaki untuk memasuki kamar mama, meskipun masih ada polis asuransi jiwa yang harus ia urus agar mendapatkan santunan setelah menunjukkan akte kematian sang mama.


Maya belajar dengan tekun di kamarnya yang terletak di lantai dua, beban pikirannya yang berat membuatnya makin hari makin kehilangan nafsu makan. Hingga suatu hari mendekati ujian akhir sekolah, tekanan darah Maya kembali turun, kepalanya berputar dan perutnya mual, pandangan matanya pun menjadi gelap dan berkunang-kunang ketika ia menuruni tangga.


“Mbak….Mbak Wati tolong aku!” teriaknya sambil berpegangan di tangga.


Mbak Wati yang sedang menyetrika buru-buru naik ke atas dan memapah gadis itu kembali ke kamar.


“Kalau butuh sesuatu, panggil aja mbak. Kalau ada apa-apa kan mbak juga yang pusing.”


Maya mengangguk dan menarik selimutnya, kepalanya masih berputar, ia tak berani bergerak sedikitpun karena makin bergerak, menengadah ataupun menunduk, vertigonya makin menjadi-jadi.


“Ambilkan aku segelas susu,Mbak. Juga ponsel saya di meja,”pinta Maya sambil berusaha memejamkan mata.


“Baik…Pakai sedotan juga ya?”


Gadis itu mengangguk dan berusaha menghubungi Ryan, telpon tak diangkat cowok itu sehingga ia harus meninggalkan pesan singkat di whatssup.


Mbak Wati duduk bersimpuh di samping tempat tidur gadis itu sambil memegang gelas berisi susu dan sedotan. Art yang baik hati itu membantu gadis itu minum sampai habis.


“Terima kasih,Mbak. Nanti malam temani Maya tidur di kamar ya!”


Art itu hanya mengangguk sambil berpamitan kembali ke belakang meneruskan pekerjaannya.


Maya berusaha bengkit dari tempat tidurnya untuk meneruskan membaca materi kelas 10 dan 11.


“Bruuk…”


Kembali gadis itu terjatuh di atas karpet kamarnya, pandangannya berkunang-kunang dan gelap, ia nyaris pingsan, napasnya terasa sesak dan kulitnya memucat.


“Kayaknya aku bakal mati hari ini, menyusul papa mama,”tangis Maya dalam hati.


Akibat terlalu banyak menanggung kesedihan,gadis itu turun tekanan darahnya. Ia telah pasrah bila Allah mengambil nyawanya sebelum dirinya lulus SMA.


“Pernikahanku bakalan batal dan Ryan bakal menjadi duda,”pikirnya sambil berusaha bernapas dengan tenang.


“Kreek…”


Pintu kamar dibuka, sosok Ryan berdiri di depan pintu kamar, wajahnya panik dan ia buru-buru menutupnya kembali.


“May…Apa yang terjadi?”

__ADS_1


Gadis itu hanya mendengar suara Ryan lamat-lamat, selanjutnya ia tak tahu lagi apa yang terjadi dengannya.


Maya membuka matanya yang terasa berat, bau obat dan karbol menyeruak di seisi ruangan yang serba putih.


“Aku dimana?”tanyanya pada seorang perawat yang membuka tirai penyekat antar pasien di sebuah Unit Gawat Darurat (UGD).


“Pasiennya sudah siuman,Pak.”


Ryan masuk dengan wajah berseri, pahatan wajahnya yang tegas dengan hidung bangir nampak sangat tampan, tubuhnya yang tinggi atletis mengenakan kaos oblong putih dengan rompi berbahan jeans biru tua yang senada dengan celana panjangnya.


“Akhirnya kamu sadar juga,May.”


Cowok itu membangunkan posisi Maya agar terduduk.


“Tekanan darahmu tadi 80/50 , hipotensi yang akut. Tadi sempat diinfus glukosa.”


“Iya jadi lumayan.”


“Makanya jangan banyak pikiran,May. Bisa-bisa kamu yang bakal sakit parah.”


Maya mengangguk dan beranjak dari tempat tidurnya, Ryan menuntunnya hingga parkiran mobil.


Maya menebarkan pandangannya ke samping kaca mobil, deretan pohon dan orang-orang yang lalu lalang, ambulance yang menguing-nguing membawa orang sakit.


“Ayo tutup jendelanya! Nanti ada orang iseng,bahaya lho!”tegur Ryan sambil menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Ryan…Andai aku mati, apa yang akan kamu lakukan?”


“Kok bicaramu begitu? Kamu kan sehat,May. Nanti aku bawain susu merah dan kamu simpan dalam kulkas. Okay?”


“Tadi aku nyaris pingsan. Yang ada dalam pikiranku cuma kematian.”


Cowok itu terkekeh sehingga matanya menyipit,tangan kanannya yang kekar memegang kemudi , sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan gadis itu.


“Berpikirlah positif,May. Semangat untuk sehat, semangat untuk ujian akhir.”


“Iya deh..Tapi tolong sampaiin ke Om Robert, pernikahan kita diundur tahun depan.”


“Lho..Kenapa?”


“Menurut tradisi timur. Pernikahan harus dilakukan minimal setahun setelah kejadian duka cita.”

__ADS_1


“Oh..Begitu, jadi aku nanti berangkat ke Amrik statusnya single atau married nih?”ledek Ryan sambil terkekeh.


“Statusnya apa ya? Kan kita udah menikah resmi.”


“Iya…Tapi belum boleh serumah kata almarhumah mama kamu kan?”


Maya telah memesan sebuah kulkas kecil untuk diletakkan di dalam kamarnya dan memasukkan semua susu pemberian Ryan ke dalamnya untuk menghindari pertanyaan dari Mbak Wati. Kini ia harus memulia hidup baru dan membiarkan 3 art-nya membuka laundry ketika ia berangkat sekolah. Kadang di dalam diam, Maya berpikir keras bagaimana cara melanjutkan usaha mamanya sementara ia kuliah di Jogja bertahun-tahun. Toh gadis itu tak bisa terus menerus membebani mertuanya, meskipun ia sangat mampu membiayai kehidupan kuliah dan sehari-hari bagi sang menantu. Maya merasa tak enak hati, karena pesta pernikahan belum digelar dan posisinya belum sepenuhnya menjadi istri dari Ryan. Ia bertekad untuk menyewakan rumah sang mama dan menyewa kamar selama kuliah di Jogja. Dan yang pasti dengan berat hati ia akan memberhentikan 3 art-nya.


Saat beban pikirannya menumpuk, masalah keluarga campur aduk dengan pelajaran sekolah, menjadikan gadis itu kembali terpuruk dengan penyakit darah rendahnya. Obat satu-satunya adalah minum susu pemberian Ryan yang telah dicampur dengan darah sapi.


“Asin-asin manis dan amis. Aku terpaksa meminumnya meskipun kadang harus memencet hidung lebih dulu,”gumam Maya sambil memandangi bekas pembungkus susu yang selalu dibuangnya diam-diam tanpa sepengetahuan Mbak Wati.


Di mobil keesokan harinya...


Ryan seperti biasa menjemput gadis itu saat berangkat sekolah.


“Gimana,May? Makin sehat kan?”


Maya hanya mengangguk namun ia sulit menjelaskan bahwa kini ia kecanduan susu merah.


“Tapi..Andai kamu kuliah di sana, aku kuliah di Jogja dan Om Robert ada di Bogor. Gimana aku bisa mendapatkan susu itu?”


“Pakai paket titipan kilat dong. Masukin kulkas dalam kamar terus kamu kunci.”


“Kalau ada teman tanya-tanya?”


“Kamu jawab aja susu rasa semangka.”


“Kalau mereka mau ikutan minum gimana?”


“Aduh…Kamu ribet amat,May. Belum tentu mereka sekepo itu. Kalau mau aman kamu kontrak rumah di sana.”


“Biayanya makin tinggi,Ryan. Kamu kan tahu peninggalan mama gak banyak.”


“Sudah kamu terima uang warisan mama dari asuransi itu?”


“Sudah,Ryan..Tapi jumlahnya gak seberapa hanya tiga ratus juta.”


“Yaudah. Gak apa-apa. Syukuri aja. Nanti dari kontrakan itu tiap kamar bisa kamu jadikan tempat les sepulang kuliah.”


“Boleh juga idenya.”

__ADS_1


Sementara itu Aro, Markus dan Caius yang mencium adanya bau darah di kamar Maya, diam-diam sering datang dan mengintai kamar itu.


Maya sering terkaget-kaget ketika dilihatnya korden yang sudah ditutup itu kembali terbuka tanpa sebab.


__ADS_2