Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 49 : Gosip Heboh


__ADS_3

Sore itu, dalam sekejab mata postingan foto berdua antara Ryan dan Maya dengan mengenakan t shirt bermotif dan warna senada menarik perhatian seluruh jagat dunia maya, terutama teman-teman sekolah dan seluruh isi sekolah termasuk dunia perbasketan sekolah. Niken yang sore itu sedang santai duduk-duduk di teras rumah sehabis mengikuti les tambahan, membuka Instagram sambil minum thai tea yang dipesannya secara online.


“Hah? Uhuk…Uhuk…”serunya kaget hingga tersedak minuman.


Gadis itu buru-buru menekan nomor ponsel milik Alisha dan Sandra untuk mengabarkan berita yang menghebohkan itu.


“Halo,Lis…Buruan geh lo liat Instagram milik Ryan. Gila! Mereka balikan dan sekarang ada di Bandung berdua.”


“Hah?”


Tak kurang lengkapnya tanpa memberitahu anggota popular satu lagi yaitu Sandra yang tomboy dan terkenal tukang cari gara-gara juga.


“Halo,San. Buruan deh liat Instagram milik Ryan.”


“Oh..Gue udah tau dari Alisha. Malahan di facebook dia juga ada,makin lengkap pula.”


Niken garuk-garuk kepala menyaksikan semua ini, kebucinan tingkat dewa milik Ryan membuatnya telah mempertaruhkan apa saja demi pujaan hatinya. Hand bouquet berisi uang senilai hampir tujuh puluh juta rupiah diplesetkan Niken dengan perkataan bahwa Maya telah ditiduri Ryan di Bandung dan dibayar senilai uang itu. Gadis tengil itu memposting gossip tak sedap dalam twitter, Instagram dan facebook miliknya, namun dengan nama yang disamarkan karena ia takut terjerat oleh Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).


Alisha yang sedang duduk di meja belajarnya sehabis menata semua buku pelajaran untuk keesokan harinya dibuat tercengang oleh ulah sahabatnya,Niken.


“Seorang gadis pincang dibayar 70 juta sehabis ditiduri cowoknya,”gumam Alisha dengan alis berkrenyit.


“Gila si Niken…Bisa-bisa kena pasal pencemaran nama baik tuh anak!”


Diraihnya ponsel yang tergeletak di samping meja belajarnya, di atas sebuah nakas dekat tempat tidurnya.


“Kriing…Kriing…”


Niken tak juga mengangkat panggilannya, diketiknya pesan singkat untuk gadis itu.


“Bisa-bisa besok gantian Niken yang dipanggil ke ruang BP,” batinnya.


Maya yang sedang dalam perjalanan menuju rumah, membuka ponselnya matanya tertuju pada sebuah postingan milik Niken.


“Eh..Niken gila banget ngatain kita. Bikin gosip kalau aku dipakai dan dibayar di Bandung.”


“Ah..Yang bener. Gimana kata-katanya?”tanya Ryan dengan mata yang terpusat ke jalan raya.


“Seorang gadis pincang dibayar 70 juta setelah ditiduri cowoknya.”


“Ah gila tuh anak! Bisa urusan sama BP besok. Bisa kena pasal UU ITE!” seru Ryan dengan wajah memerah menahan marah.

__ADS_1


Tangannya yang kekar mencengkeram erat kemudi yang saat ini sedang dipegangnya, Ryan nampak benar-benar marah mendengat gosip yang sengaja dibuat-buat itu.


“Ada foto kita gak?”


“Ada..Tapi muka kita ditutupi pakai gambar hati warna merah.”


“Yah kalau begitu sih susah dituntut juga. Lagian BP hanya mau ngurusin hal-hal berkaitan dengan sekolah,May!”


“Iya..Aku tau. Tapi pasti ada sangsi sosial buat kita.”


“Maksud kamu?”


“Aku difitnah ditidurin kamu.”


“Ya mereka kan tak punya bukti itu,May. Lagian kita ke Bandung cuma makan-makan kok.”


“Iya..Tapi besok dan seterusnya pasti mereka akan nge-bully.”


Bola mata bulat milik Maya kini berubah sendu, gadis itu terdiam dan tampak sedih.


Ryan meraih jari jemari lentik milik Maya dan menggenggamnya erat-erat untuk menguatkan hati gadis itu.


Maya hanya mengangguk dan menatap wajah Ryan yang sangat tenang.


Malam harinya, mama Wulan mengetuk pintu kamar putrinya.


“Tok…Tok…Tok…”


Maya pun membukakan pintu sambil tersenyum. Gadis itu baru saja mempelajari materi pelajaran untuk keesokan harinya. Mata sejuk milik mama,kini berubah penuh kecemasan ketika meneliti sang putri dari ujung kepala hingga ujung kaki.Maya yang tampak manis dalam balutan piyama bermotif kartun warna ungu tampak salah tingkah dengan kelakuan aneh sang mama.


“Ada apa,Ma?” Ada yang salah dalam diri Maya?”


Mama menarik napaas dalam-dalam lalu duduk di tepi ranjang putrinya, dibukanya Instagram milik Niken dan ditunjukkan padanya.


“Oh..itu cuma gosip,Ma. Maya gak ngelakuin apa-apa kok.”


“Mama tau,May. Tapi mulai besok kamu harus kuat dengan apapun tuduhan mereka yang membencimu,Nak.”


Maya mengangguk dan tersenyum,”Maya gak mungkin melakukan hal-hal yang belum waktunya,Ma.”


Mata mama berkaca-kaca, ia sadar Maya adalah hasil didikan keras dirinya dan almarhum suaminya, rasanya tak mungkin sang putri nekad mau melakukan hal yang belum semestinya.

__ADS_1


Mata mama dilayangkan pada sebuah hand bouquet yang diletakkan di sudut kamar. Gadis itu langsung paham apa yang ada dalam pikiran mama.


“Soal hand bouquet itu…Ryan cuma ngajak balikan dan bilang kalau edelweiss itu lambang cintanya buat Maya.”


“Dan uang sebanyak itu maksudnya untuk apa,May?”


“Oh itu…Maya juga awalnya menolak. Tapi Ryan bilang itu upah Maya ngajarin dia .”


“Sebanyak itu?”


Maya mengangguk dengan sorot mata bening dan lugu, wajahnya nampak begitu jujur.


“Maksud dia sekaligus bayarnya. Jadi Maya pikir bisa buat ditabung untuk kuliah Maya nanti,Ma.”


Mama menjadi terharu dan mendekap putrinya ke pelukannya, tak terasa air mata sang mama menetes. Wanita paruh baya itu mengembangkan senyum penuh keharuan, ternyata Tuhan mengabulkan doanya agar sang putri satu-satunya dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.


Halaman sekolah dan sepanjang koridor dipenuhi puluhan pasang mata yang memandang Maya dengan penuh selidik dan bisik-bisik ketika keesokan harinya gadis itu melangkahkan kakinya ke sekolah. Padahal hari itu Maya sekolah dengan taksi online tapi kecurigaan mereka tetap sama.


“Ih…diem-diem si bintang kelas kita jablay.Cuih..”


Maya tak mengetahui siapa yang meludah di belakangnya, ia tak mau menanggapi fitnah keji yang hanya bisa menyakitkan hatinya.


“Ih…Pincang gitu..Gue aja yang jelek begini kagak nafsu bro…”


Sebuah suara cowok di belakangnya ketika Maya melewati koridor sekolah yang menghubungkan dengan kelasnya.


Sesampainya di kelas pun, belasan mata memandangnya penuh selidik dari ujung kepala hingga ujung kaki, hampir semua menjauh darinya dan memandang jijik ke arahnya.


“Ryan mana sih?”batinnya sambil menengok ke belakang.


Bangku itu tampak kosong, lima menit lagi bel tanda masuk berbunyi, Maya melangkahkan kaki menuju depan kelas untuk berbaris. Affandra bersitatap dengannya di pintu keluar dan berbisik,”Kamu harus kuat,May! Pertahankan prestasimu. Aku lebih percaya kamu daripada gosip di luaran.”


“Makasih,Ndra.”


Ryan buru-buru masuk kelas dan hampir menabraknya. Cowok itu memandangnya dengan tersenyum, lalu berlari ke mejanya untuk meletakkan tas ransel dan keluar kelas untuk berbaris.


Nampaknya mereka membedakan perlakuan terhadap Maya dan perlakuan terhadap Ryan.


“Mungkin karena Ryan anak orang kaya? Atau karena Ryan itu cowok?”gumam Maya.


Dirinya merasa hanya ia yang dilecehkan dan dianggap sebagai jablay karena menerima uang dalam jumlah besar dari tangan Ryan, itu saja. Tak mungkin baginya mengembalikan uang itu. Ryan pasti tak akan mau, di sisi lain ia juga sangat membutuhkan uang itu. Maya percaya akan perkataan dari Affandra dan Ryan. Affandra bilang bahwa ia harus tetap berprestasi,ia juga ingat perkataan Ryan bahwa semua pasti akan berlalu. Maya memang harus kuat seperti perkataan mama semalam, ia satu-satunya harapan dan masa depan mama.

__ADS_1


__ADS_2