Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 76: Liburan Kenaikan Kelas


__ADS_3

Rombongan anak kelas 11 Bio 3 bergembira ria. Pagi ini cuaca cerah, mentari menyinarkan sinarnya yang hangat, burung-burung pun berkicau riang.


“Woi…Tunggu gue!”


Alisha and the gang datang belakangan dan nyaris tertinggal bis nomor 3. Ketiganya naik dengan berdesak-desakan saling mendorong, menimbulkan kegaduhan di dalam bis.


“Buruan! Ih…Lambat lu!”teriak Sandra pada Niken di depannya.


Niken membawa tas ransel lumayan besar sehingga agak kesulitan dan terjepit ketika memasuki pintu bis yang sempit.


“Dorong aja!”seru Alisha.


“Jangan kenceng-kenceng! Tar gue nyusruk. Awas lho!”seru Niken tak mau kalah.


“Ayo cepetan kalian!”seru kondektur bis sambil membantu menarik tangan Niken.


Ketiganya duduk berderet dalam bangku paling belakang yang memanjang. Di kanan kirinya telah ditempati anak laki-laki.


Dalam bis nomor 2, duduk Affandra yang kesepian terpisah dari kekasih hatinya,Alisha. Cowok itu duduk di tengah sambil membawa gitar,nyanyiannya yang merdu cukup menghibur teman-teman yang lain.


“Bagi kripiknya!”teriak Doni yang kelaparan pada Joko yang membawa sekantong plastik besar keripik singkong.


“Sabar,Don! Tar dulu!”seru Joko sambil merebut kembali cemilannya.


“Sreet! Bruk…”


Keripik singkong pun berhampuran keluar dari plastik pembungkus yang robek akibat rebutan.


Kondektur yang bertopi dan bertubuh ceking itu memalingkan wajah dan melotot.


“Kalian ini udah besar tapi kelakuan seperti anak kecil aja! Apa gak bisa pengumuman di atas!”


“Dilarang membuang sampah sembarangan!”seru Doni sambil mengeja.


“Nah itu tau! Sekarang kalian bersihkan dan buang dalam plastik!”


“Sapunya mana?”tanya Joko dan Doni serempak.

__ADS_1


“Nih..Pakai aja,”kata sang kondektur sambil menyodorkan sebuah sapu kecil dan pengkinya.


“Gantian nyapunya!”bentak Joko dengan marah.


Doni hanya terdiam sambil berjongkok di samping Joko.


“Gara-gara lu! Gue gak jadi makan keripik singkong,”gerutu Joko sambil bersungut-sungut.


Bis nomor satu merupakan bis yang penuh dengan bunga-bunga asmara. Maya duduk dengan manis di samping kekasih hatinya. Gadis itu tampak cantik dengan rambut panjangnya yang diurai. Sebuah bando warna merah melingkar di kepalanya, senada dengan kaos merah yang membalut tubuhnya berpadu dengan celana jeans warna biru muda. Ryan tampak gagah dengan jaket jeans dan celana panjang dari bahan yang sama. Mereka tampak duduk berdua dan saling memandang. Tangan kokoh milik cowok itu menggenggam jari jemari lentik milik Maya. Sementara di belakangnya, sang wakil ketua kelas,Amir sedang sibuk melantunkan lagu romantis dengan gitarnya.


“Kisah kasih di sekolah…Takkan kulupa….”


“Aku bahagia banget,May. Akhirnya bisa naik kelas dengan nilai di atas KKM semua,”bisik Ryan yang memberikan senyumannya yang termanis.


“Itulah balasan atas semua kerja kerasmu belajar selama ini,”sahut gadis itu sambil merebahkan sandaran kursinya.


Perjalanan menuju villa di Puncak,Bogor masih satu jam lagi, sebagian besar siswa tertidur di mobil. Hanya beberapa yang masih sibuk bercengkerama dan menikmati pemandangan yang dilalui sepanjang perjalanan.


“Rasanya pengen tiap hari bisa berdua sama kamu,”kata Ryan sambil mengerlingkan mata.


Maya yang terkantuk-kantuk,sontak terbangun dan memicingkan mata sambil tersenyum.


“Ah..kamu ngegombal mulu sih? Bayangan cintamu seakan perfect banget,”sahut Maya yang merasa tak enak hati menjadi pusat perhatian teman-temannya di bis.


“Prikitiw…”terdengar ledekan dari belakang bis.


Ketika mentari makin berada di puncak kepala, bis berhenti di deretan villa yang dikelilingi oleh kebun bunga warna-warni.


“Puncak sekarang panas ya?”tanya Ryan pada sang kondektur.


“Ya beginilah. Tapi kalau malam dinginnya luar biasa,”sahutnya sambil membuka pintu. Para siswa berbondong-bondong turun sambil membawa tas ransel dan bawaannya masing-masing.Jumlah murid ada 35 orang, tiap villa dihuni oleh 7 siswa jadi villa yang disewa sebanyak 5 buah.


Lagi-lagi Ryan beruntung dapat menempati satu villa yang sama dengan Maya. Hanya beda kamar, ada dua buah kamar di bawah yang dihuni oleh Ryan,Doni, Martin dan Tino. Sedangkan kamar lainnya digunakan Maya, Ika, dan Dinar. Sedangkan kamar atas merupakan kamar khusus yang akan digunakan oleh guru jaga mereka, Pak Fatih. Kamar mandinya hanya satu yang terletak di luar kamar sehingga mereka harus berbagi ketika menggunakannya.


Sesampainya di kamar, Doni buru-buru memesan tempat karena ia ketakutan untuk tidur di pinggir. Ranjang besar berukuran king size itu harus ditiduri empat cowok yang tidur berjejer bagaikan ikan dijemur.


“Gue tidurnya gak mau paling ujung,”kata Doni sambil menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


“Kenapa? Lu takut?”tanya Martin dengan mulut yang dimonyongkan.


“Udah..Jangan ribut! Biar gue yang tidur paling ujung deket jendela,”kata Tino yang bertubuh tinggi besar.


“Gue juga gak apa-apa kalau Tino takut. Kita bisa gantian,”kata Ryan menengahi.


Maya tidur di tengah-tengah antara Ika dan Dinar. Gadis itu membawa selimut dari rumah yang bisa dipakai mereka bertiga.


Malam pertama mereka di villa, anak-anak lelaki mengajaknya membakar jagung di kebun belakang villa. Maya, Ika, dan Dinar menyambut dengan gembira usulan itu. Sayangnya ketika malam turun, hujan turun dengan lebatnya sehingga rencana mereka batal dan terpaksa membeli makanan online. Setelah menyantap makan malam beramai-ramai di meja makan besar yang terletak di bawah tangga, mereka duduk-duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi. Pak Fatih mengajak Ryan bermain catur hingga malam tiba. Maya dan dua teman putrinya tidur duluan di kamar. Hingga malam kian larut, semua penghuni villa itu masuk kamar dan tertidur. Ryan merasakan tengkuknya terasa dingin, bulu kuduknya merinding tanpa sebab. Cowok itu memasang telinganya lebar-lebar, di luar terdengar langkah kaki yang beradu dengan ubin dan suara itu datang berulang-ulang. Ryan memberanikan diri untuk membuka pintu, sambil melihat ke arah tiga rekannya yang sudah pulas tertidur.


“Dug…Dug…Dug..”


Telinganya ditempelkan ke daun pintu, suara itu makin jelas dan nyata.


“Mungkinkah Pak Fatih lari-lari jam segini?”gumam Ryan sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 2 lewat 17 dini hari.


“Kreek..”


Pintu kamar dibukanya, kepalanya dikeluarkan sedikit ke luar kamar untuk mengamati keadaan sekeliling yang sepi.


“Heran…Gak ada manusia,”batin Ryan sambil melanjutkan tidurnya.


“Andaikan itu langkah Pak Fatih, kakinya cuma dua. Anak perempuan sudah terlelap. Tak mungkin mereka,”pikir Ryan yang memandang ke langit-langit kamar.


Di kamar sebelah, Maya merasakan kandung kemihnya sakit. Tadi ia kebanyakan minum dan kebetulan hari juga hujan. Gadis itu merasakan udara sangat dingin, tangannya mengambil sebuah sweater warna warni yang dibawanya dari rumah. Karena tak tahan lagi,Maya melupakan rasa takutnya dan menuju kamar mandi yang terletak di ujung, dekat meja makan besar yang remang-remang.


“Aduh…Kenapa aku jadi ketakutan sih? Lampunya memang kurang terang,”batin Maya.


Di dalam kamar mandi, Maya duduk dan melepaskan semua hasratnya.


“Lega…”


Tapi tiba-tiba rasa takutnya kembali muncul ketika baru hitungan detik di kamar mandi, pintu sudah digedor orang dari luar.


“Tok…Tok…Tok…”


“Aduh…Ini siapa? Apa gak paham ada orang baru masuk?”gerutunya sambil mengenakan kembali celananya.

__ADS_1


“Krek…”


Pintu kamar mandi dibuka, kepalanya celingukan mencari siapa yang telah mengetuk pintu itu, namun keadaan sangat sepi. Maya buru-buru kembali ke kamarnya dengan napas terengah-engah. Kakinya terasa gemetar dan telapak tangannya dingin, wajahnya pucat pasi.


__ADS_2