Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 107: Ryan Kecelakaan


__ADS_3

“Bener kamu mimpi kita nikah?”tanya Maya di suatu malam.


Ryan pagi itu menelpon kekasihnya, perbedaan waktu 12 jam antara Jogja dengan New York membuat Ryan harus menelpon sesegera mungkin sebelum dirinya pergi ke kampus.


“Iya. Tanda-tanda aku akan mati. Benar begitu?”


“Hush! Pamali lho. Mimpi itu hanya bunga tidur. Jangan berpikiran negatif,”nasehat Maya sambil duduk di tepi tempat tidur.


“Tapi andaikan aku beneran mati. Kamu bakal jadi janda, tapi gadis, gadis tapi janda,”seloroh Ryan sambil tergelak.


“Gak boleh gitu lho. Ucapan itu doa! Ngomong yang baik-baik aja deh,”kata Maya sedikit kesal.


“Iya..Iya…Maaf. Udah dulu,May. Aku mau siap-siap dulu.”


“Okay. Take care ya!”


Gadis cantik itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, diambilnya bantal bertumpuk dua sehingga punggungnya bisa lebih tegak dalam posisi terduduk. Maya teringat kejadian beberapa tahun silam, saat dirinya masih di kelas V SD. Waktu itu pagi-pagi buta papa sudah bangun dan berlari-lari kecil mengelilingi kompleks, sementara mama sibuk di dapur menyiapkan sarapan.


“Ma..Masak apa hari ini?”


“Nasi goreng,”sahut mama sambil terus mengaduk nasi dengan spatulanya.


“Papa kok sudah selesai jogging?”tanya Maya sambil menarik kursi untuk duduk.


Saat ini waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi namun Maya telah siap berangkat ke sekolah.


“Papa kan buru-buru mau antar kamu ke sekolah sekalian ngajar.”


“Ih..Papa bukan hari Minggu kok jogging. Buruan nanti Maya telat,”tegur mama.


“Ini gara-gara semalam papa mimpi menikah.”


“Hah? Hati-hati lho,Pa. Banyakin doa,”saran mama sambil memindahkan nasi goreng ke dalam tiga piring ukuran sedang.


“Ah..Mama. Jangan berpikiran buruk ah,”sahut papa sambil bergegas masuk ke kamar dan mengeringkan tubuh sebelum mandi.


Dua puluh menit kemudian, papa sudah tampak rapi dengan kemeja lengan panjang bermotif korpri dan celana kain warna hitam. Setelah itu,Maya tak mau mengingat kejadian itu lagi, karena 10 menit kemudian mereka dibawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan.

__ADS_1


Gadis itu meneteskan air mata, mengingat masa lalunya yang menyedihkan. Ia kehilangan papa di usia yang masih sangat belia, dan sejak itu ia harus menjadi gadis pincang bertahun-tahun. Dielusnya kedua kakinya yang kini sudah pulih, Maya sangat bersyukur akan kehidupan baru yang Allah berikan. Disekanya air mata yang mengalir di kedua belah pipinya. Tubuhnya dimiringkan ke kanan dan ke kiri, namun hasilnya sama saja, susah untuk memejamkan mata. Sementara itu malam semakin larut, suasana di luar kamar kos sangat hening, hanya terdengar suara musik dangdut yang sama-samar diputar dari perumahan kampung di belakang rumah kosnya. Gadis itu teringat akan mimpi Ryan semalam, hati kecilnya sangat gelisah memikirkan firasat buruk yang mungkin menimpa calon suaminya.


“Semoga Ryan baik-baik saja,”gumam Maya sambil memiringkan tubuh ke arah kanan menghadap tembok sambil memeluk guling.


Gadis itu memutar lagu-lagu romantis dari ponselnya dan diletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Kini perasaannya jauh lebih tenang, perlahan-lahan ia dapat memejamkan mata dan tertidur selama beberapa jam hingga alarm dari ponselnya berbunyi nyaring.


Maya membuka matanya yang terasa masih sangat mengantuk akibat tidur larut malam. Dipandangnya jam dinding yang terpaku di atas pintu, sudah jam 6 pagi. Itu artinya satu jam lagi ia harus sampai di kampus. Sontak bangkit dari tempat tidur, melipat selimut, membuka korden kamarnya dan berlari ke kamar mandi. Maya tak membutuhkan waktu lama untuk mandi dan mempersiapkan pakaiannya. Gadis itu jarang memulas wajahnya dengan aneka jenis riasan, namun wajahnya tetap tampak cantik alami. Diambilnya cereal dan dijerangnya di atas mangkok. Kini dirinya duduk sambil menghadap sebuah diktat kuliah yang tebal untuk dibaca.


“Driing…Driiing…”


Sudut mata gadis itu bergerak cepat meraih ponsel yang terletak di ujung meja, sebuah nomor milik Om Robert menghubunginya. Antara senang dan cemas menjadi satu, gadis itu bahagia karena mendapat perhatian dari sang mertua, namun di sisi lain ia sangat cemas memikirkan mimpi Ryan tentang pernikahan. Jantungnya bergerak lebih cepat ketika menempelkan ponsel ke telinganya.


“May…Ini Om Robert. Ryan kecelakaan.”


Bibir milik Maya seakan terkatup rapat tak bisa berkata-kata, lututnya seketika lemas dan jari jemarinya bergetar sehingga sendok yang dipegangnya lepas kembali dan jatuh di atas mangkok.


“May…Kamu dengar kata om?”


“I..Iya,Om. Lalu sekarang bagaimana keadaannya?”


“Hari ini om ke New York. Kamu nyusul aja karena belum ada visa. Om harap keadaannya gak parah.”


Maya meneteskan air mata, tak terasa sepuluh menit di meja makan membuat hidungnya merah dan matanya sembab. Ia tak memiliki semangat lagi untuk menghabiskan sarapannya. Bergegas diraihnya tas kuliahnya dan berlari ke kampus.


“May…Abis nangis?”tanya Wulan yang ternyata sampai lebih dulu di kampus.


“Iya..Ryan kecelakaan,”sahut Maya lirih.


“Terus gimana keadaannya?”


Gadis itu hanya mengangkat bahu sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.


Di sebuah rumah sakit di Kota New York…


Ryan terbaring di sebuah rumah sakit dalam keadaan dibalut perban pada bagian kepala dan kedua kakinya. Kondisinya belum juga sadar, matanya masih terpejam. Di sampingnya berdiri mesin EKG (elektrokardiogram) yang berbunyi untuk menunjukkan detak jantung. Ahmad berjalan mondar-mandir di ruang tunggu, dokter dan para perawat tak mengijinkannya menunggu terlalu lama di ruang ICU demi kenyamanan pasien.


“Prak…Prak…Prak…”

__ADS_1


Suara sepatu vantofel yang beradu dengan lantai rumah sakit, terdengar nyaring di telinga. Di ujung hanya ada seorang pria bule berusia sekitar lima puluh tahun sedang duduk terpekur menatap lantai, menunggui sang istri yang sedang terbaring dalam keadaan sekarat. Aroma karbol dan obat-obatan menyeruak ketika pintu ruang ICU dibuka dan seorang perawat muda keluar sambil membawakan medical record milik para pasien.


“Hello. May I come in? I want to meet Ryan,my friend,”kata gadis itu dengan suara pelan.


Ahmad memperhatikan sosoknya yang tinggi menjulang, tubuhnya yang sawo matang nan tinggi semampai dibalut celana jeans ketat warna putih dipadukan dengan tank top warna hitam. Sepatunya berhak tinggi menjadikan kepala gadis itu nyaris menyentuh kusen pintu.


“Okay. Please come in.”


Gadis itu membuka pintu pelan-pelan, dilihatnya sosok Ryan yang biasanya terlihat tampan rupawan,kini tergolek tak berdaya dengan selang infus menempel di hidung dan pergelangan tangannya. Di bagian dada ada sebuah alat bundar berwarna putih yang terhubung dengan kabel pada mesin EKG.


“Oh no!!”seru gadis itu sambil menutup mulutnya.


Ameera berubah sikap setelah melihat Ryan dalam keadaan koma dan kedua kaki dibalut perban. Gadis itu buru-buru keluar ruangan ICU dan berlari meninggalkan rumah sakit. Rasa simpatinya seketika buyar ketika dia membayangkan sosok Ryan tak lama lagi akan berubah menjadi seorang pemuda cacat yang menjalani hari-harinya di atas kursi roda.


Ahmad duduk di sebuah bangku yang terpisah dari bapak di sebelahnya. Pemuda itu terpaksa cuti dari tempat kerjanya setelah mendengar kabar bahwa Ryan kecelakaan. Tadi siang sepulang kuliah, Ryan menyeberang jalan yang terlihat lengang. Namun takdir tak dapat ditolak ketika sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi dan menabraknya hingga terpental sejauh hampir dua meter. Polisi segera turun tangan menangkap pemuda yang mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk berat. Ahmad mengepalkan kedua telapak tangannya di atas paha sambil membungkukkan badan. Dirinya berharap orang tua Ryan segera tiba di kota ini.


“Mungkin besok pagi Om Robert baru tiba. Dan aku tak tega meninggalkan tuan sendirian di sini,”batinnya dengan mata berkaca-kaca.


Ahmad tak mau bergeming dari tempatnya duduk meskipun hari telah malam, tubuhnya terasa letih dan perutnya pun berbunyi. Namun sungguh pemuda itu tak memiliki semangat hidup menyaksikan Ryan dalam kondisi koma. Mereka sudah hidup bersama layaknya saudara kandung, baik dalam suka dan duka.


Sebuah tepukan di pundak membangunkan Ahmad, pemuda itu mengucek-ucek matanya yang silau oleh cahaya mentari yang masuk dari celah-celah jendela.


“Kau yang bernama Ahmad?”tanya seorang pria blasteran berusia paruh baya.


Wajahnya sangan tampan, dan postur tubuhnya tinggi atletis menyerupai Ryan dalam versi tua.


“Om Robert?”tanya Ahmad terbata-bata.


Beliau menganggukkan kepala dengan pelan, wajahnya nampak prihatin, dan seakan menahan isak tangis.


“Om barusan melihat kondisi Ryan. Sekarang kamu pulang dulu. Jangan lupa mandi dan makan. Ini ada sedikit uang untukmu,”kata Om Robert sambil mengulurkan sebuah amplop warna putih dalam keadaan tertutup.


“Oh gausah,Om. Saya masih ada uang,”tolak Ahmad sambil tersenyum.


Om Robert paham Ahmad pemuda yang jujur dan tulus, namun ia memiliki taktik baru agar Ahmad mau menerima uang itu.


“Terima saja. Untuk memnbayar tagihan listrik dan lain-lain di apartemen,”ujar Om Robert.

__ADS_1


“Baiklah,Om. Terima kasih. Saya permisi pulang dulu.”


Om Robert menganggukkan kepala, ia berjalan memasuki ruang ICU dengan perasaan yang sangat sedih menyaksikan putra tunggalnya tergolek dalam keadaan yang belum sadar juga. Dirinya menghadapi dilema untuk mengabarkan hal ini pada calon menantunya, ia takut Maya akan shock dan makin terpuruk dalam kesedihannya dan berakibat fatal pada kuliahnya.


__ADS_2