
Maya menyandarkan punggungnya pada dinding kamar yang putih bersih, kedua kakinya berselonjor di tepi tempat tidurnya yang terbuat dari kayu, di tangannya terdapat sebuah modul Biomedik Dasar yang ditegakkan di atas sebuah bantal kecil di atas lututnya.
“Driing…Driing….”
Suara ponsel berbunyi memecah keheningan kamar kos di sore itu. Maya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil dekat dipan. Sebuah video call dari Ryan, gadis itu melihat penunjuk waktu dalam ponselnya.
“Pukul 5 sore. Artinya di New York adalah pukul 5 pagi,”gumam Maya sambil meletakkan buku di atas tempat tidur dan menggantinya dengan ponsel.
Nampak wajah Ryan yang tampan dengan rambut yang sedikit acak-acakan, tubuhnya dibalut kaos lengan panjang warna hitam dan separuh tubuhnya tertutup selimut. Cowok itu memiringkan badannya untuk menegakkan ponselnya ke sandaran kepala dari tempat tidurnya.
“Apa kabar,May?”
“Baik. Kok sepertinya kamarnya beda lagi. Kamu pindah apartemen lagi?”
“Iya. Aku pengen sendirian, lebih bebas,”sahut Ryan sambil memeluk guling.
“Sendirian aja di situ?”tanya Maya sambil mengubah posisinya dengan tengkurap.
“Iya. Rada serem sih kalau malam soalnya ada satu kamar kosong dekat dapur.”
Maya hanya tertawa dan memamerkan lesung pipitnya yang dalam,menghiasi kedua pipinya yang putih bersih.
“Oh ya aku mau cerita. Beberapa hari lalu akum impi terbang ke Jogja, lalu kepergok art dan jatuh dari atas jendela kamar kosmu.”
“Dua hari lalu aku juga mimpi sama.”
“Ya benar…Dua hari lalu.”
“Kok mimpi kita bisa samaan sih?”
Maya mengerutkan keningnya, Ryan hanya tersenyum, tanpa sadar matanya kembali meredup dan tertidur.
“Uuh…Ryan! Sekalinya video call langsung tidur aja,”gerutu Maya sambil mematikan ponselnya.
__ADS_1
Di sebuah kamar apartemen yang terletak di unit paling tinggi, Ryan sedang terlelap dalam tidurnya, lampu dalam kamarnya remang-remang dan sinar mentari belum beranjak dari peraduannya. Di luar kamar, terdapat sebuah sofa besar dengan televisi yang dirapatkan masuk ke dalam dinding, di sebelah sofa terdapat sebuah jendela kaca geser berukuran persegi panjang yang sangat besar. Ada dua lapis korden yang menutup jendela, lapisan putih yang tipis di bagian dalam dan lapisan kain tebal berwarna krem di bagian luar. Di ruang tengah terdapat sebuah mini bar yang berhadapan dengan sebuah kamar yang masih kosong. Sementara di belakang terdapat kitchen set dan sebuah kulkas dua pintu yang terisi penuh dengan susu sachet warna merah dengan tulisan : rasa water melon, dragon fruit dan tomato. Hanya cowok itu yang tahu apa sebenarnya kandungan susu khusus yang dikonsumsinya sebagai vitamin penambah stamina.
Sebuah bayangan hitam berkelebat dan masuk ke kamar kosong. Kemudian keluar lagi, membuka pintu kulkas dan mengambil sebuah susu warna merah dari dalam dan membawanya kembali ke kamar kosong.
“Kreek….”
Ryan memicingkan matanya, telinganya yang tajam mendengar sebuah bunyi decitan pintu dari kamar sebelah yang kosong. Cowok itu beranjak bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ditatapnya wajahnya yang tampan di depan cermin, di bawah matanya nampak bayangan hitam yang samar-samar akibat terlalu sering tidur dini hari sejak pindah apartemen. Hatinya sering gelisah karena sendirian dan banyak berpikiran buruk seperti film-film horror yang ia lihat selama ini. Tangannya yang kekar memegang gagang pintu dan membukanya, sudut matanya ditebarkan ke seluruh ruangan di depannya yang masih gelap.
“Ceklek…”
Lampu di ruangan tengah menjadi terang seketika. Ryan berjalan ke arah balkon untuk melihat suasana di luar apartemen. Disibaknya korden, langit masih gelap, mentari baru muncul dari ufuk timur, warnanya semburat jingga, kemudian ditutupnya lagi korden itu. Ryan berjalan ke arah kitchen set untuk mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air mineral dari sebuah dispenser yang berdiri dengan manis di sebelah kitchen set.
“Glek..Glek…”
“Segar rasanya minum air putih di pagi hari,”batin Ryan sambil melirik ke arah kulkas untuk membuat cereal.
Ryan menatap kulkas 2 pintu itu dengan keheranan, pintunya terbuka sedikit, padahal tidak banyak makanan tersimpan di sana yang membuat pintu itu harus memaksakan diri untuk ditutup.
“Perasaan tadi malam akku sudah tutup dengan rapat,”gumam Ryan sambil memeriksa pintu.
Jumlah susu itu sangat banyak sehingga cowok itu tak berpikiran untuk menghitungnya. Ia berjalan ke arah kamar kosong dan menyalakan lampu untuk mengecek keadaan dalam kamar itu, lalu menguncinya dari arah luar.
Ryan duduk dan termenung di atas sofa dan menyalakan televisi di ruangan itu. Ia membuka chanel berita terkini sambil meraih ponselnya untuk mengirim pesan pada Ahmad. Ia telah memutuskan untuk memanggil Ahmad dan mempekerjakannya sepulang bekerja di manajemen apartemen ini. Pemuda itu pasti menolaknya dengan tegas bila ia memintanya utnuk menemaninya tanpa melakukan tugas apapun.
“Telpon saya biar jelas,”begitulah balasan singkat dari Ahmad yang ditujukan untuk Ryan pagi itu.
Waktu masih menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit sedangkan hari ini kuliah matrikulasi dimulai pukul 10 pagi. Ryan kembali merebahkan diri di atas sofa, sudah lama ia tak melakukan olahraga basket. Ia rindu pada olahraga kesukaannya, dan berharap suatu saat akan menemukan tim baru di kota ini.
“Ahmad…Aku tawarkan kamu pekerjaan bersih-bersih di apartemen dengan gaji US $ 1000 per bulannya,”seru Ryan ketika memulai percakapan di telpon.
“Wow…Fantastis,”sahut Ahmad.
“Kerjaanmu hanya mengepel, mencuci dan setrika pakaian. Deal?”tanya Ryan dengan suara agak keras.
__ADS_1
“Baiklah. Nanti malam sepulang kerja aku ke sana,”sahut Ahmad dengan nada riang gembira.
“Jangan lupa nanti malam ya!”
“Siap Tuan,”sahutnya sambil menutup telpon.
Malam harinya sekitar pukul sepuluh malam, Ahmad sudah berdiri di depan pintu kamar Ryan setelah sebelumnya ia memberitahukan kedatangannya melalui whatssup.
“Ayo masuk! Kamarmu yang itu. Silakan kamu bersihkan sendiri. Di dalam lemari ada seprai yang bisa kamu pakai.”
“Terima kasih Tuan,”sahutnya sambil mendorong koper ke dalam kamar dan menyalakan saklar di dalamnya.
Ryan mengintip dari balik pintu, dilihatnya Ahmad dengan gesit membersihkan kamar itu dan memasang seprai. Bibir Ryan mengembang, hatinya berbunga-bunga dan berharap dapat tidur lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya. Pemuda itu mengumpulkan sampah di dalam sebuah kantong plastik berukuran besar. Sepasang mata milik Ryan menatap pada sebuah bungkusan warna merah di dalam plastik sampah bagian atas.
“Itu apa.Mad?”tanyanya pada pemuda itu.
Ahmad berjalan mendekati plastik sampah, memungutnya dan memberikannya pada Ryan.
Ryan menerima bungkus bekas susu sachet itu dengan keheranan, sejak ia pindah ke kamar ini tak sekalipun ia minum susu dan membuangnya di dalam kamar kosong.
“Ah…Sudahlah mungkin tikus yang membawa bungkus bekas itu ke dalam kamar ini,”batin Ryan sambil berusaha melupakan kejadian ini.
“Itu susu apa,Tuan?”
Jantung Ryan berdebar keras ketika Ahmad menanyakan mengenai susu yang limited edition dan tak dijumpai di negara manapun di dunia ini.
“Oh…Itu susu buatan pabrik papa,”sahut Ryan memberikan alasan sekenanya.
Ahmad tampak tak ingin mengetahuinya lebih jauh, ia membuang plastik sampah itu keluar kamar. Ryan menarik napas lega, dan berencana akan membeli sebuah kulkas lagi untuk menyembunyikan semua susunya di kamar.
Malam semakin larut dan dua pemuda itu telah tidur di kamar masing-masing. Ryan tidur dengan pulas di dalam kamarnya yang remang-remang. Ia berharap tak mengalami rasa cemas seperti malam-malam sebelumnya. Tiba-tiba ketika hari menjelang fajar, telinganya menangkap suara orang merintih dan berteriak-teriak minta tolong. Ryan membuka matanya yang terasa masih sangat lengket dan tubuhnya masih terasa sulit bergerak.
“Help me! Please help me!”
__ADS_1
Ia memasang telinganya tajam-tajam, sebuah erangan dan teriakan minta tolong dari kamar sebelah. Sontak Ryan bangun dan membuka pintu, diketuknya keras-keras kamar Ahmad.