
Alisha yang sohor dengan sebutan miss popular duduk dengan songongnya di atas meja saat istirahat pertama. Postur tubuhnya yang tinggi semampai dengan lekukan tubuh yang sempurna, makin lengkap dengan wajah blasteran dan rambut blonde panjangnya yang ikal ala Korea.
“Woi..Kalian berdua udah denger belum berita baru di sekolah ini? Teriak Alisha dengan suara keras di hadapan dua sahabatnya, Sandra si tomboy dan Niken si badung.
“Apaan?” seru mereka nyaris bersamaan.
“Itu tuh…Kapten basket yang baru denger-denger lagi naksir sama si pin-cang ya..pincang.”
“So sweet dong. Jalannya pasti serasi,” ejek Sandra sambil menirukan cara berjalan Maya.
“Iya. Pasangan paling serasi sepanjang abad ini. Si pincang dan Kapten Basket,” celetuk Niken dengan suara keras.
Akhirnya mereka tertawa terpingkal-pingkal, membuat beberapa siswa yang di luar kelas pun menengok ke dalam.
Maya yang sedang duduk dan mencatat pelajaran langsung terhenyak di kursi, matanya terbuka lebar, namun mulutnya terkunci tak mampu berkata-kata. Gadis cantik kepang dua itu hanya mampu bersedih. Ika yang duduk di sampingnya merasa perbuatan Alisha sudah melewati batas.
“Cukup! Kalian ini sudah keterlaluan!
“Mau jadi pahlawan? Memang lo belum tau siapa gue hah!”bentak Alisha yang turun dari atas meja dan menghampiri Ika yang masih duduk di kursi.
“Ditegur kenapa nyolot sih?”protes Ika sambil berdiri.
Alisha mengangkat kerah baju Ika dengan mata melotot dan mimik wajah sengit.
“Gue bisa bikin hidup lu hancur kalau ikut campur!”
“Lo pikir gue takut sama lo! Gue bakal laporin lo ke BP!”ancam Ika dengan berani.
“Plaak…”
Sebuah tamparan mendarat di pipi Ika, membuat Maya kaget dan ikutan berdiri. Ika merasakan pipinya panas dan perih, gadis itu memegang pipi kanannya yang terkena tamparan keras dari Alisha, si gadis sombong dan kasar. Maya menghiburnya dan mengucapkan terima kasih.
“Cukup! Gue tahu diri kok kalau gue miskin dan jelek. Gak seperti kamu! Tapi bukan berarti harus dihina!”teriak Maya sambil berdiri.
Alisha menghampiri dan hendak memukul pipi Maya, namun sebuah tangan mencekal tangan Alisha. Ryan, si cowok keren datang tiba-tiba ke dalam kelas dan melerainya.
“Oh…Jadi lo mau jadi pahlawan! Gak trima gadis pujaan lo dibully hah!”teriak Alisha dengan mata melotot dan tangan satunya hendak menampar Ryan.
Affandra, sang ketua OSIS datang karena ada seorang siswa melaporkan kejadian ribut-ribut dalam kelas.
“Ada apa ini?”tanya Affandra sambil mengerutkan dahi.
“Tanya aja sama mantanmu yang sinting ini!”teriak Ryan lantang.
“Lo berani ngatain gue sinting hah! Lo belum tau mama gue anggota DPR? Lo belum tau papa gue orang paling kaya! Gue bisa berbuat apa aja! Sesuka guelah…”pekik Alisha dan tertawa penuh kemenangan.
“Dasar cewek gila! Ayo ke ruang BP,”seret Affandra sambil menarik lengan Alisha yang berteriak-teriak sepanjang jalan.
Alisha melarikan diri dan berlari sekencang-kencangnya. Namun Ryan mengejarnya dan menangkapnya kembali.
Miss popular tertangkap dan meronta-ronta,”Cowok sialan! Mau cari perkara sama gue?”
“Gue cuma mau bikin lo kapok! Lo pikir seluruh dunia ini milik lo sampai lo semena-mena terhadap Maya!”gantian si cowok keren yang berteriak.
__ADS_1
Koridor sekolah menjadi ramai oleh pertengkaran mereka. Ryan memegang kedua tangan Alisha kuat-kuat sehingga tangan Alisha memerah dan merasa sakit, diseretnya gadis songong it uke ruang BP. Alisha menendang kaki Ryan, hendak melarikan diri lagi. Cowok keren hilang kesabaran, diangkatnya tubuh Alisha dan digendongnya ke ruang BP menemui Bu Trisna guru BP.
“Bluk…”
Dijatuhkannya tubuh Alisha ke atas kursi ruang BP.
“Lapor bu. Selamat siang. Alisha kdrt terhadap Ika dan membully Maya,”lapor Ryan dengan posisi berdiri yang tegak bagaikan seorang tentara melapor kepada sang komandan.
“Siang juga,”sahut Bu Trisna sambil berjalan ke arah Alisha.
“Kamu lagi?”sindir Bu Trisna ketika melihat Alisha yang duduk di kursi ruang BP.
Alisha menatap wajah Bu Trisna tanpa ekspresi, wajahnya datar tanpa perasaan bersalah.
“Ibu akan membuat surat panggilan untuk kedua orang tuamu. Besok harus datang!”ancam guru BP itu dengan tegas.
Bu Trisna menatap dengan sorot mata tajam, gaya duduknya tetap tenang dan perilakunya menunjukkan kalau guru BP itu seorang psikolog yang memahami tiap permasalahan muridnya.
“Kamu boleh kembali ke kelas Ryan,”kata guru BP itu kepada Ryan.
“Terima kasih,Bu.”
Alisha tambah dendam terhadap Ryan. Pertama karena cintanya tak berbalas. Kedua karena Ryan membela Maya dan membuat dirinya harus mendekam kembali di ruang BP.
Alisha melirik ke arah Ryan dengan sorot mata penuh kebencian.
“Orang tua saya belum tentu mau datang ke sekolah,”sahut Alisha.
“Terserah. Yang pasti peraturan sekolah harus ditaati selama kamu masih kamu masih terus ingin belajar di sekolah ini!”
“Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah kalau sikapmu begini terus!”kata Bu Trisna sambil meletakkan jari telunjuknya di depan muka Alisha.
Gadis sombong itu terhenyak dan berdiri mematung, mulutnya terkatup rapat, aliran darahnya seketika mendidih namun telapak tangannya terasa dingin seperti es.
“Maafkan saya,Bu.”
“Silakan duduk dulu. Kamu isi form ini dan tuliskan semua kejadian di kelas tadi.”
“Baik,Bu.”
Jari jemari Alisha bergetar ketika mengisi form laporan kejadian perkara di ruang BP, ia membayangkan orang tuanya pasti marah besar. Jangankan untuk datang ke sekolah, mendengar kejadian ini pun dapat dipastikan mereka marah besar. Papa telah menyediakan semua fasilitas terbaik agar Alisha menjadi siswa berprestasi dan mengejar cita-citanya setinggi mungkin, bukan menjadi anak berandalan di sekolah. Namun sifat angkuh dan egonya yang sangat besar, memporakporandakan keingingan kedua orang tuanya.
Keringat dingin membasahi tengkuk gadis itu ketika menyerahkan kertas yang telah ia isi dengan sempurna.
“Ini,Bu. Apakah saya boleh kembali ke kelas?”tanya Alisha dengan wajah penuh harap.
Bu Trisna menatap gadis itu dari ujung kepala ke ujung kaki dengan sorot mata tajam dan nyaris tanpa senyuman.
Alisha berdiri dengan tubuh sedikit gemetar, dirinya menjadi salah tingkah diperhatikan guru dengan penuh selidik.
“Bagaimana,Bu?” gadis itu memberanikan diri untuk bertanya sekali lagi karena bel tanda masuk kelas telah berbunyi, Alisha tak ingin ketinggalan pelajaran.
“Boleh. Tapi jangan lupa minta maaf untuk Ika. Dan besok salah satu orang tuamu harus hadir tepat pukul 10 pagi. Tidak boleh diwakilkan.”
__ADS_1
“Baik,Bu. Terima kasih.”
Alisha berbalik ke kelas dengan sejuta tanya tanya di otaknya, ia berusaha mencari alasan paling tepat agar kedua orang tuanya bersedia hadir di ruang BP.
Gadis songong itu buru-buru mencari Ika yang telah berbaris rapi dan meminta maaf.
“Maafin gue,Ka. Gue janji gak kasar lagi sama lu,”kata Alisha sambil menjabat tangan Ika.
“Gue maafin kalau lu minta maaf sama Maya,”kata Ika dengan pipi yang masih merah tercetak kelima gambar jari milik Alisha.
Miss popular mencari Maya, gadis lugu nan cantik jelita di antara barisan namun tak kunjung ditemuinya. Teman-teman yang lain bersorak riuh mengejek Alisha yang mengganggu ketua kelas menata barisan.
“Huuuu…. Baris dulu dong!”teriak salah seorang siswa.
Alisha tersadar dan masuk dalam barisan paling belakang.
Maya sedang mengikuti rapat OSIS, posisinya sebagai sekretaris OSIS membuatnya untuk terkadang meninggalkan kelaas demi mengurus organisasi sekolahnya.
Pulang sekolah Alisha duduk termenung menanti kedatangan mama dan papa. Diputarnya film drama Korea di sebuah tv kabel untuk mengusir rasa gelisahnya. Karena kelelahan gadis itu tertidur di sofa. Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut membangunkannya. Sang mama yang telah berganti pakaian rumah mengelus rambut putri tunggalnya dan mengajaknya makan malam.
“Alisha bangun,Nak! Papa udah siap di meja makan.”
Gadis itu kaget dan menggosok-gosok matanya mencari jam dinding, ia mengira hari telah pagi.
Alisha menggeliat dan beranjak bangun dari sofa.
“Eh mama…Alisha ketiduran. Oh ya.. ada surat dari sekolah,”kata gadis itu sambil mencari-cari sepucuk amplop dengan kop nama sekolahnya yang sedari tadi diletakkan di bawah bantal.
Gadis itu menemukannya dalam selipan sofa dan menyerahkan pada sang mama yang menerimanya dengan wajah keheranan.
“Ini apa,Nak? Surat teguran?”
Jantung Alisha berdetak keras seakan mau lepas dari tempatnya, langkahnya menjadi lunglai saat mendekati meja makan dimana sang papa telah duduk menanti.
“Pa..Ma… Alisha minta maaf. Tadi siang Alisha naik darah dan menampar Ika. Salah satu dari orang tua harus datang.”
Seketika papa beranjak bangun dari kursi dan marah memaki Alisha.
“Plaak…”sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri milik Alisha.
Gadis itu memegang pipi kirinya yang terasa panas dan perih, tulang pipinya terasa bergeser. Kemudian Alisha menangis meraung-raung dan kembali ke kamar, mama mengejarnya.
Semua lantai di rumah Alisha dilengkapi dengan lift, Alisha yang hendak ke lantai dua dapat dicekal sang mama dengan mudah karena harus menanti hingga tombol lift menyala di nomor satu.Alisha tetap berontak tak mau makan semeja dengan papa. Gadis itu masuk dalam lift dan menangis sambil berjongkok di dalamnya. Sang mama memapahnya keluar dari lift dan mengantarkan anak gadisnya ke kamar lalu menekan intercom agar art mengantarkan makanan Alisha ke dalam kamar.
“Udahlah,Nak. Jangan menangis terus-terusan. Nanti kamu bisa sakit.”
“Tapi Alisha diancam akan dikeluarkan dari sekolah kalau salah satu orang tua tak mau hadir di sekolah,”papar gadis itu sambil sesenggukan tak berhenti menangis.
“Iya. Biar mama besok yang datang. Kamu tenang aja, biarkan mama yang memberi penjelasan pada papa soal surat ini.”
Lalu mama menyeka air mata Alisha dan mencium kepala anak gadisnya.
Art datang dengan membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya serta segelas jus buah segar.
__ADS_1
“Nah..Kamu makan dulu biar sehat. Besok kan harus sekolah. Mama keluar kamar dulu ya!”
Alisha hanya mengangguk, hidungnya masih merah dan mekar, matanya pun sembab.