
Ryan tampak berseri-seri siang itu, duduk di teras rumah sang pujaan hati sambil memandang burung nuri pelangi yang berkicau di dalam sangkar. Cakrawala bersinar cerah, bunga-bunga pun bermekaran indah di halaman rumah Maya.
“Udah lama nunggu?”seraut wajah cantik nan imut menyeruak dari balik korden jendela.
“Baru sepuluh menit. By the way burungnya lucu,May.”
“Iya lucu…Bentar aku buka pintu.”
Kemudian terdengar pintu dibuka diiringi suara kunci bergemerincing.
“Itu burung pemberian teman mama,”kata Maya sambil membuka pintu lebar-lebar.
“Oh ya? Beberapa hari lalu belum ada,May.”
“Pemberian Tante Siska yang suaminya jualan di pasar burung.Hadiah juara satu katanya.”
Si cogan menjentikkan kedua jarinya ke arah burung nuri sambil bersiul-siul. Maya memperhatikan Ryan yang hari itu tampak sangat tampan dalam balutan t shirt biru tua dipadukan jeans warna putih. Cowok itu menatap dengan ujung matanya dan tertawa.
“Hayo…naksir ya?”ledeknya sambil terkekeh.
Tawanya terhenti lalu cowok itu menatap sosok Maya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
“Ada yang salah dengan penampilan aku?”tanya gadis itu dengan wajahnya yang polos.
“Enggak. Malah cantik dengan rambut diurai terus pakai bando.”
Keduanya lalu tertawa, mama yang penasaran ikut menengok keluar lalu tersenyum-senyum dibuatnya. Perempuan ini pernah mengalami masa muda, jadi sangat paham rasanya jatuh cinta.
Maya tampak sangat cantik dengan t shirt warna merah yang senada dengan warna bandonya, yang dipadukan dengan shorts dari bahan jeans dengan warna biru tua. Nampak sangat menarik dan berbeda dari biasanya.
“Tumben tuh cewek pakai celana pendek. Tapi oke juga kakinya putih mulus,”batinnya.
Ryan sangat gembira dan hatinya pun berbunga-bunga,pandangan matanya tak lepas dari Maya yang imut dan lucu.
“Ma…Maya pergi dulu,”pamitnya sambil memeluk sang mama.
Ryan menganggukkan kepala sambil berpamitan pada Tante Wulan yang melepas kepergian mereka dengan melambaikan tangan kanannya.
Mobil milik Ryan adalah lamborgini aventador dengan bukaan pintu ke atas yang disebut scissor’s doors. Para tetangga banyak yang terkagum-kagum melihat mobil mewah milik Ryan. Keakraban Maya dengan Ryan yang kaya raya menjadi sebuah buah bibir baru di kalangan tetangga. Tak sedikit yang merasa simpati, namun tak kurang pula yang bersikap dengki. Beberapa di antara mereka saling berbisik dan tertawa. Maklum di daerah sana kebanyakan penghuni hanya memiliki mobil yang biasa-biasa saja. Di dalam mobil, Ryan menyalakan pendingin udara dan menyetel instrumentalia klasik yang lembut. Keduanya memasang seat belt dan Ryan mulai mengemudikan mobilnya ke arah Bogor. Gadis itu menebarkan pandangan ke luar jendela, awan berarak-arak dan sinar mentari menghangatkan pagi sementara embun yang jatuh di atas dedaunan seakan mengusir kesunyian hati dan mengubahnya menjadi kasih yang hangat dari dua insan yang sedang kasmaran. Ryan merengkuh jari jemari Maya dengan lembut. Gadis itu kaget dan lamunannya buyar. Kini ia memandang wajah Ryan dari samping.
“Tampan banget,”bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Saking tampannya cowok itu,Maya tak kuasa menatapnya lama-lama, seakan jantungnya berdetak lebih keras dan ia tak ingin sakit jantung gara-gara memikirkan cowok itu.
“Nanti ada jalanan menaik dan menurun,May. Kalau kamu mual, kulum aja permen ini,”kata Ryan sambil menunjukkan aneka permen rasa peppermint dan buah-buahan yang berada di kotak antara dua jok bagian depan. Tangannya yang kekar memegang kemudi.
Gadis itu hanya mengiyakan lalu mengambil sebuah permen rasa mint, jari jemarinya yang lentik membuka bungkus permen dan memasukkan isinya ke dalam mulut.
“Kamu mau?”
Ryan menganggukkan kepala, lalu gadis itu mengambil satu lagi dan membukanya untuk cowok itu.
“Nih…”kata Maya sambil memasukkan butiran permen rasa mint ke dalam mulut Ryan.
“Aduh…”pekik Maya pelan.
Cowok itu iseng menggigit jari Maya dengan bibirnya yang membuatnya kaget dan berteriak.
“Apa-apaan sih kamu?”
Keduanya pun tertawa bersama. Perjalanan yang cukup jauh membuat gadis itu mengantuk dan tertidur. Ryan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengemudikan mobilnya dengan kecepatan 200 km/jam. Mobil meleset sangat cepat bagaikan terbang,hati Ryan sangat senang.
“Untung Maya tertidur. Kalau tidak, ia pasti akan berteriak-teriak,”batinnya.
Jarak yang seharusnya ia tempuh dalam satu setengah jam, dapat ia tempuh dalam waktu lima puluh menit saja. Ryan menghela napas lega setelah ia sampai di pabrik susu milik sang papa yang lokasinya tak terlalu jauh dari peternakan sapi perah milik papanya.
Gadis itu membuka kelopak matanya pelan-pelan, ia tampak silau sehingga menutupi matanya dengan punggung tangan.
“Bener udah sampai?Kok cepet,”tanya Maya keheranan sambil melepas seat belt dan menegakkan posisi duduknya.
“Benerlah. Tuh lihat kita parkir di depan pabrik. Itu kantor papa di sebelah kiri pabrik. Nanti kita ketemu papa dulu,baru kita keliling pabrik,”papar Ryan sambil membuka pintu.
Gadis itu mengambil tasnya dan meletakkannya di bahu kanannya sambil menatap wajahnya di spion mobil bagian kiri untuk memastikan rambutnya dalam kondisi rapi.
“Yuk kita ke dalam May,”ajak si ganteng sambil menarik tangan Maya menuju kantor sang papa.
Memasuki pintu utama, terdapat dua receptionist berseragam hitam dengan nametag yang melingkar di leher mereka dengan nama kantor PT Milky Milk. Ryan membawa gadis itu menghadap mereka.
“Pagi…Papa saya ada di ruang mana saat ini?”
“Pagi…Oh…Boss ada di ruangan pribadinya. Ini Ryan putra Pak Robert Sanders bukan?”
“Benar Pak,:sahut si cogan pada receptionist laki-laki yang berkacamata.
__ADS_1
Kemudian laki-laki itu menekan sebuah line dan memberitahu sekretaris pribadi papa bahwa akan ada tamu yang ingin menemui boss besar,yaitu anaknya. Laki-laki itu mengangguk dan menutup gagang telponnya.
“Silakan naik ke lantai dua,”sahutnya sambil tersenyum ramah.
Dua remaja itupun bisa cepat ke dalam lift karena kebetulan sudah ada orang yang baru masuk.
“Tiing…”
Pintu lift terbuka di lantai dua, Ryan buru-buru menggandeng Maya menuju ruang pribadi sang papa yang terletak di bagian depan di belakang ruangan para staff yang berderet di bagian luar. Seorang sekretaris berwajah hitam manis dalam balutan blazer warna krem mempersilakan mereka masuk sambil tersenyum.
“Pagi,Pa…”sapa Ryan sambil berdiri membungkukkan badan bersama Maya.
Sang papa membalikkan kursinya menghadap mereka dan tersenyum. Nampaknya sang papa baru selesai menerima telpon koleganya dari ponsel. Pak Robert berdiri dan menjabat tangan mereka lalu mempersilakan mereka duduk di depannya. Di depan meja papa terdapar dua kursi yang mirip kursi yang dipakai papanya namun dalam ukuran lebih kecil. Sementara di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja dan sofa besar yang menghadap sebuah televisi layar datar ukuran 50 inch tempat papa berkaraoke melepas penat seusai jam kerja. Di ujung terdapat sebuah kulkas satu pintu yang berisi aneka minuman dalam kemasan termasuk susu produksi pabrik ini.
“Selamat pagi juga,”sahut papa sambil tersenyum.
Maya takjub menatap wajah Om Robert yang tak ubahnya bagaikan kembaran Ryan, tak lekang oleh waktu, tetap tampan di usia tua, hanya warna rambutnya telah mendua.
“Pacar kamu?Cantik juga,”puji papa sambil tertawa.
Maya tersipu malu dan kedua pipinya langsung memerah.
Ryan hanya tertawa gembira, sebelah matanya berkedip dengan genit ke arah Maya yang membuat gadis itu makin salah tingkah.
“Mau minum apa kalian?”tanya papa dengan ramah.
“Ah.. Gausah repot-repot Om,”sahut Maya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan mulut.
“Air mineral aja dua Pa,”sahut Ryan.
Tangan kukuh milik papa dengan gesit membuka lemari pendingin dan mengeluarkan dua botol air mineral dingin ke atas meja dan mempersilakan mereka minum.
“Kalian udah breakfast belum?”tanya papa sambil membuka ponselnya hendak memesan makanan online.
“Oh udah,Pa. Kami kemari mau keliling pabrik sambil study tour,”sahut Ryan menjelaskan maksud kedatangannya.
“Oh silakan. Nanti minta tolong satpam yang jaga di samping untuk nganterin kalian. Di pos kan ada emoat satpam yang jaga,”papar papa sambil membuka-buka dokumen yang harus ia tanda tangani.
“Ryan pamit dulu,Pa. Nanti sekalian pulang aja ya.. Gak mampir kantor lagi,”jelas Ryan sambil berdiri ke arah pintu keluar.
“Kami permisi dulu Om,”pamit gadis itu sambil menundukkan kepala memberi hormat.
__ADS_1
“Hati-hati ya kalian,”pesan Om Robert sambil melanjutkan pekerjaannya.
Dua remaja itu pun menuju ke arah pabrik.