
Di perbukitan jauh dari vila…
Ryan mengulangi pertanyaannya dengan suara keras,”Siapa kau jahanam?”
Makhluk itu berlari mengelilingi Ryan dan sang kekasih, seakan mengejek tiada henti.
“Kau anak Robert! Keturunan vampire pengkhianat! Kalian telah membunuh Akasha, Jane dan Alec. Sekarang kau harus mati!”
“Kami bukan vampire lagi! Jahanam kau! Siapa kau sebenarnya?”teriak Ryan sambil berdiri membusungkan dada.
Semangatnya kembali berkobar ketika leluhurnya kembali diungkit. Maya masih bersembunyi di balik punggung kekar milik Ryan, jari jemarinya yang lentik mencengkeram dengan kuat lengan Ryan. Wajahnya sedikit mengintip untuk melihat sosok asing tadi.
“Akulah pemimpin volturi! Penguasa kaum vampire yang akan menghabisi golongan pengkhianat !”
“Aku akut,Ryan…”keluh Maya setengah berbisik.
“Udah tenang aja.”
Ryan berusaha menghibur kekasihnya meskipun hati kecilnya juga masih terheran-heran dengan sosok di depannya. Mata batinnya menembus dan dapat berkomunikasi dengan sang papa dan para leluhurnya untuk meminta bantuan mereka karena posisinya terjepit. Makhluk itu hendak mematahkan lehernya, dia berlari dan terus memutari tubuh Ryan agar cowok itu pusing dan tersungkur ke tanah.
“Jangan kamu liat gerakannya!Dia sengaja bikin kita pusing. Semacam hipnotis.”
Maya hanya mengangguk dan memejamkan mata dengan pasrah sambil terus berdoa.
Tak lama kemudian kelima sosok menyerupai sang ayah datang berkeliling mengitari tubuh Ryan yang saat ini seakan melayang saking pusingnya. Makhluk yang mengaku pimpinan volturi itu memiliki kekuatan untuk melumpuhkan lawan dengan membuatnya pusing tujuh keliling.
“Dia siapa,Pa?”seru Ryan pada sang papa yang kini datang melindunginya.
“Dia pemimpin volturi, Aro!”
“Hah? Siapa pula itu?”batin Ryan keheranan.
__ADS_1
Aro, vampire berkulit pucat yang sangat berkuasa, tak mau ikut aturan tetapi malah mengatur para vampire lainnya itu telah hidup ribuan tahun lamanya. Ia tak memiliki jantung, dan hanya bisa mati bila kepalanya dipenggal sesame vampire, tentunya yang memiliki kekuatan jauh di atas Aro. Papa dan empat leluhur lainnya mengerahkan tenaga untuk melawan Aro yang terus menyerang. Sasaran utamanya adalah membunuh Ryan yang diketahuinya akan membuat hubungan khusus dengan manusia dan membuat populasi vampire semakin musnah. Gerakan yang sangat cepat dari para keturunan vampire itu membentuk lingkaran-lingkaran energi yang membuat angin di sekitarnya berhembus kencang. Mereka bertarung bagaikan terbang di udara. Penyakit darah rendah Maya kembali kambuh, ia jatuh pingsan. Ryan buru-buru menggendongnya dan berlari menjauhi Aro. Sadar sasarannya melarikan diri, ketua volturi yang bengis itu mengejar. Posisi Ryan terancam karena gadis itu berada dalam gendongannya. Salah bergerak sedikit gadis itu akan menjadi perisai dirinya, bahkan bisa mati di tangan Aro. Sang papa mengejarnya dan berusaha menghalangi niat Aro. Keempat leluhur lainnya pun mengepung Aro dengan posisi melingkar. Ryan berusaha melindungi Maya dari nafsu jahat Aro yang ingin memenggal kepalanya.
“Hentikan! Kau yang akan kalah melawan Ryan!”seru Robert dengan wajah merah.
Aro tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema di seluruh angkasa, tubuhnya ringan berloncatan ke sana kemari di angkasa.
“Dia cuma anak bawang! Anak kemarin sore. Gak bakal menang melawan ketua volturi,”seru Aro sambil terkekeh.
Aro menjulurkan lengannya sehingga tampak memanjang dan nyaris menyentuh puncak kepala Ryan yang masih menggendong Maya dengan kedua tangannya.
Empat kakek leluhur Ryan tampak mengejar Aro ke angkasa dan berusaha memukul anggota badan Aro.
“Brak…..”
Seketika tangan kanan Aro terpenggal dan melesat sejauh 3 meter. Patahan lengan sebatas pergelangan sikunya masih bergerak-gerak di atas tanah dalam kondisi berlumuran darah segar.
Aro mengaduh, wajahnya meringis kesakitan, nyalinya tak juga surut. Ia malah semakin marah bagaikan cacing kepanasan. Tangan kiri berusaha menggapai bagian lengan kanannya yang terputus, namun Ryan berusaha menendangnya sejauh mungkin. Robert berusaha menggagalkan rencana Aro,bahkan berusaha memukul tangan kirinya sekuat mungkin.
Tangan kiri Aro putus dan terpental sejauh 5 meter,kini dua lengannya terpenggal dan terpental dalam lokasi yang berjauhan. Vampire pucat itu kini mengerang kesakitan dalam kondisi tubuh yang buntung tanpa lengan. Aro makin menggila, gigi taringnya menyeringai dan matanya merah menyala. Kini kedua kaki Aro mengamuk dan membuat gerakan berputar bagaikan angin ribut yang membuat para leluhur jatuh terpental saling menjauh. Ketua kaum volturi itu bangkit dan merasa mendapatkan peluang lagi untuk menang. Kini kedua lengan Aro yang terpenggal tumbuh lagi secara cepat, ia berteriak kegirangan sehingga suaranya menggema hingga ke angkasa luas. Aro yang tidak percaya bahwa hidupnya akan berada di ujung maut ketika bertarung melawan Ryan, makin menggila dan berusaha meraih kepala Ryan. Cowok itu dalam keadaan terjepit karena Maya belum siuman juga. Ia melesat jauh ke angkasa dan bertengger di sebuah pohon besar yang sangat tinggi. Direbahkannya tubuh gadis itu di cabang pohon yang terbesar, lalu tangan kirinya meraih susu sachet dalam kantong celananya dan membuka tutupnya, membuka mulut gadis itu lalu meminumkannya.
Maya menggeliat dan membuka matanya pelan-pelan.
“Aku dimana?”
“Di atas pohon,”sahut Ryan dengan tenang.
Gadis itu menoleh ke bawah dan seketika itu juga wajahnya pucat pasi dan nyaris muntah.
“Kamu harus percaya diri. Maaf..Aku terpaksa meminumkan susu ini,”kata Ryan sambil tertunduk.
Maya merasakan lidahnya manis dan sedikit amis, namun tenaganya semakin kuat.
__ADS_1
“Aku tau kamu sangat terpaksa melakukannya,Ryan. Aku akan merahasiakan kejadian ini,”sahut Maya sambil beranjak bangun dan duduk di atas dahan pohon yang ditumbuhi banyak dedaunan rimbun.
“Sekarang kita turun ke bawah!”
“Aku gak bisa,Ryan. Aku takut,”keluh Maya yang merasakan kakinya gemetar.
“Kamu harus percaya. Sekarang kuat. Ayo ikuti apa yang aku lakukan,”kata Ryan sambil menggenggam tangan Maya.
“Wush….”
Kedua remaja itu turun dari atas pohon bagaikan terbang. Maya sama sekali tak mempercayai semua itu, gadis itu mencubit lengannya sendiri.
“Sakit…”keluhnya sambil meringis.
Akhirnya gadis itu sadar bahwa ini semua bukanlah mimpi, hidupnya serasa masuk ke dalam cerita dongeng.
Aro menengadahkan kepalanya ke atas,melihat dua remaja itu turun dari atas pohon. Ketua kaum volturi itu melesat ke atas dan hendak meraih puncak kepala Ryan. Cowok itu terpental namun bangkit kembali dengan gagahnya. Angin di sekitarnya bergulung-gulung sehingga menimbulkan udara dingin yang bercampur dengan debu-debu beterbangan, angin itu juga menerbangkan daun-daun kering di sekitarnya.
“Hufft….”
Aro mendengus sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangannya. Ia kembali menyerang Ryan yang kini semakin kuat karena Maya mampu melindungi dirinya. Kedua tangan remaja itu saling bergandengan dan memperkuat tenaganya untuk melawan Aro yang kini berdiri di hadapannya.
“Mati kau hari ini!”seru Aro sambil terkekeh, gigi taringnya menyeringai dan matanya makin merah menyala bagaikan lampu.
“Ayo kita bertarung!”tantang Ryan yang kini melesat ke udara.
Aro meraih puncak kepala Ryan dan bersiap memutarnya hinggal terpenggal. Maya berusaha menendang Aro namun dirinya terpental. Sang papa dan para leluhurnya turut membantu dan menghalau rencana Aro. Sungguh tak disangka,Ryan berhasil melepaskan diri dan kini kedua telapak tangannya berhasil meraih batok kepala Aro yang mengerang kesakitan.
“Hentikan! Aku mengaku kalah!”
Ryan menghentikan rencananya ketika dilihatnya sang papa memberi kode untuk mengampuni.
__ADS_1
Liciknya Aro melesat kabur sambil mengucapkan sumpah serapah,”Awas kau! Suatu saat aku datang menuntut balas!”