
“Papa,”suara lirih Ryan menyadari sang papa telah berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar.
Sosok sang papa nyaris merupakan kembaran Ryan dengan tinggi badan nyaris sama dan raut wajah sama sempurnanya, sangat elok dan menawan.
Papa tersenyum dan menutup pintu lalu berdiri di samping meja belajar dimana Ryan sedang memasukkan buku-buku untuk mata pelajaran esok hari.
“Datang kok gak bilang-bilang. Bikin kaget aja,”celetuk si ganteng sambil tertawa.
“Kamu lupa kalau kita ada darah vampire?”
Ryan mengangguk dan menggandeng tangan papa ke sofa panjang yang terletak di depan tempat tidurnya.
Sepasang tangan yang masih kekar dan penuh otot menunjang tubuhnya yang atletis tak lekang dimakan usia. Pahatan wajah sang papa nyaris sempurna,sekilas sangat mirip dengan Ryan. Pakaian kerjanya telah berganti dengan jeans belel dan t shirt biru muda layaknya anak muda.
“Waktu Ryan kecil, papa pernah bilang agar kita berbuat sewajarnya aja seperti manusia lain.”
“Benar. Papa pakai mobil kok,”kata sang papa sambil mengusap kepala sang putra dengan lembut.
“Oh ya? Omong-omong nih,Pa. Ryan mulai suka sama temen cewek. Tapi dia ada masalah.”
“Yang namanya Maya kan?”
“Benar. Dan malam ini papa bisa bantu Ryan cari sesuatu di lokasi? Insting Ryan ada sesuatu di sana.”
“Nah itu..Kata para leluhurmu, itu semua ada kaitan sama kamu,Nak. Mungkin saja pelakunya juga cewek yang pernah kamu tolak dulu.”
“Maksud papa?”
“Ya temen wanita yang pernah suka kamu. Dia anggap Maya itu rival.”
Ryan duduk mematung dan angannya melayang di masa lalu dimana Alisha suka caper di depannya dan gadis itu sering berniat jahat pada Maya.
“Mau papa temani?”
Tepukan tangan kanan papa di pundak Ryan membuyarkan lamunan cowok itu.
“Boleh,Pa. Kita naik mobil?”
Papa menaikkan alis dan mengangkat bahu, sejenak kemudian menganggukkan kepala.
Malam itu papa mengajaknya berputar mengelingi perkampungan di sekitar rumah.
“Ini rumah kuncen. Di belakang rumah kita ada kuburan massal. Mamamu ada di sana.”
“Mengapa papa baru cerita sekarang?”tanya Ryan sambil melirik ke arah papa yang berada di sisi kanannya,mengemudikan mobil.
“Papa terlalu bersedih sejak kepergian mamamu. Papa habiskan waktu di peternakan atau di pabrik susu biar bisa melupakan mamamu,Nak.”
__ADS_1
“Jadi siapa yang mengurus Ryan waktu kecil?”
“Semua art di rumahmu itu. Mereka bergantian merawatmu sejak mama meninggal waktu melahirkan.”
Ryan terdiam dan pandangannya lurus ke depan. Papa memegang tangan kanan Ryan dan menghiburnya,”Tapi papa yakin,mamamu pasti tetap menjagamu di sana.”
“Jadi semua salah Ryan?Mama harus meninggal saat melahirkan?”
Papa menggelengkan kepala,”Itu sudah takdir para Vlad III Vampire. Pernikahan dengan manusia perempuan, dan berakhir dengan kematian.”
“Mengapa harus demikian,Pa?Jadi nanti Ryan menikah dengan manusia dan dia harus mati juga?”
Wajah Ryan seketika berubah sendu, cowok itu teringat wajah lugu Maya yang selama ini banyak menderita.
“Seharusnya tidak terjadi lagi. Karena kamu adalah generasi keenam.”
Ryan menghela napas panjang dan merasa lega.
“Lalu mama Ryan seperti apa,Pa?”
“Dia mati karena kehabisan banyak darah ketika melahirkanmu,Nak. Namanya Annisa. Perempuan yang sangat cantik dan baik hati.Kuburnya selalu papa jenguk tiap malam.”
“Jadi…Papa sebenarnya selalu jenguk Ryan tiap malam?”
Sang papa mengangguk dan tersenyum,”Itulah dunia kita,Nak. Banyak hal di luar nalar manusia. Tapi di sisi lain kita punya jantung,punya napas dan punya hati seperti manusia.”
Ryan turun dari mobil dan mengikuti sang papa yang berlari secepat kilat nyaris seperti manusia terbang melompati pepohonan dan melewati jurang, turun ke bagian tanah datar yang nyaris tak dihuni manusia.
“Ada apa,Pa?”
“Seperti ada kilatan cahaya.”
“Sama. Insting Ryan tadi siang juga begitu.”
“Kamu ke arah kanan.Papa ke arah kiri. Lima menit lagi kita kumpul di atas, depan mobil.”
“Siap,Pa.”
Lalu Ryan melesat masuk ke dalam rimbunnya dedaunan yang ada di atas pohon trembesi dan beringin yang ada di sana.
“Cuma ada sarang burung,”gumam si ganteng sambil menyaksikan anak-anak burung menadahkan kepalanya, sang induk memasukkan cacing kecil ke mulut mereka.
“Apa rasa darah burung ya?”batin Ryan sambil duduk bertengger di ranting yang paling besar tak jauh dari burung membuat sarang.
Ryan hampir lupa akan janjinya dengan papa. Mereka harus naik ke atas setelah lima menit di bawah. Cowok superkeren itupun melesat dengan cepat ke atas. Jurang itu tak terlalu dalam, hanya sekitar tiga meter dan agak lantai.
“Untungnya Maya jatuh di tempat landai,”gumamnya sambil mengamati sekeliling mencari sang papa yang belum nampak juga.
__ADS_1
Ryan menunggunya di mobil sambil mendengarkan lagu instrumentalia yang membuatnya terkantuk-kantuk dan tertidur beberapa menit sambil terduduk hingga sebuah ketukan di kaca mobil bagian depan mengagetkannya. Ryan membuka kaca mobil, nampak seorang laki-laki tua dengan tubuh kurus dan mengenakan caping petani berdiri di hadapannya.
“Bapak siapa?”tanya si ganteng dengan penuh selidik.
“Saya Pak Suminta. Kebetulan lewat sini. Di sini jarang ada orang lewat.”
“Benar,Pak. Saya sedang menunggu papa saya.”
Pak tua mengangguk lalu pamit pergi. Tapi belum lima langkah dia kembali lagi sambil membawa sebuah benda dalam kondisi rusak parah.
“Ada apa lagi,Pak?”
“Nak.. Saya satu-satunya penduduk di sini. Saya menemukan ini. Mungkin milik anak gadis yang tempo hari jatuh di jurang,”katanya sambil menyodorkan sebuah ponsel dalam keadaan rusak karena terjatuh.
“Nama anak gadis itu siapa,Pak?”
“Maya. Bapak jarang ke kota.Hanya sebulan sekali menjual kayu bakar,”sahutnya dengan wajah polos.
Ryan paham maksud bapak ini, lalu ia menerima ponsel yang sudah hancur itu.
“Tolong antarkan ke polsek terdekat,Nak. Tempo hari kami sudah membuat laporan di sana.”
“Saya kenal Maya,Pak.”
Wajah pak tua berubah menjadi sumringah, diusapnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil mendongak ke atas tak henti-hentinya mengucapkan syukur,”Alhamdullilah.”
“Doa bapak dikabulkan juga Nak,”sahut pak tua yang malam itu tampak sangat bahagia.
Ryan mengamati sosok tua itu berjalan pergi hingga punggungnya benar-benar menghilang dari penglihatannya.
Tak lama kemudian sang papa membuka pintu.
“Papa? Kok lama bener..Udah hampir satu jam lho,”keluh Ryan dengan muka ditekuk.
“Papa abis ketemu ayam di bawah.”
Ryan menatap wajah sang papa dan berteriak,”Papa! Kenapa ayam juga dimakan darahnya?”
“Papa haus banget,Nak. Maafin papa,”sahutnya sambil mengelap sisa darah yang menetes di bawah bibirnya.
“Ini yang kita cari,Pa.”
“Hebat anak papa!”
“Bukan Ryan,Pa. Tapi seorang laki-laki tua yang pernah ketemu Maya sebelumnya.”
“Bagus..bagus…”kata papa sambil menepuk bahu Ryan.
__ADS_1
Papa memasang seat belt dan melajukan mobilnya. Ryan termenung melihat kelakuan papa dan dirinya yang sering tak terkendali ketika mencium bau darah segar. Keinginannya menjadi manusia secara sempurna seringkali terganjal dengan satu keinginan yaitu minum darah yang akan membuatnya selalu kuat dan hidup abadi. Merekalah keturunan vampire vegetarian yang tidak lagi minum darah manusia tapi seluruh darah binatang yang ada di muka bumi.