
Pagi itu Maya bangun sangat pagi, waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi. Ia terbangun dan menatap kedua lututnya yang abses, nanahnya mulai mengering. Ia ingat hari ini adalah hari pertama puasa, tahun pertama sahur tanpa mama, sekaligus sahur pertama di rumah kos. Ia harus menyiapkan sendiri sarapannya. Diketuknya pintu kamar Wulan, kamarnya masih tampak gelap. Suasana di luar kamar juga masih tampak sepi, udara dingin menyergap merasuk tulang. Aya kembali ke kamarnya dan mengenakan jaket untuk menghangatkan badan.
“Tok…Tok…Tok…”
Diketuknya dengan pelan pintu kamar sahabatnya, Wulan nampak belum juga bergeming. Gadis itu masih lelap dalam tidurnya. Maya menarik napas panjang, kembali diulanginya mengetuk pintu dengan pelan. Terdengar suara dari dalam, Wulan menyalakan saklar lampu.
“Ceklek…”
“Siapa?”teriaknya dari dalam.
“Aku…Maya,”sahut gadis itu dari luar pintu.
Wulan membuka pintu dan menjulurkan kepalanya, rambutnya acak-acakan, matanya menyipit kesilauan.
“Busyet…Pagi bener. Ada apa,May?”
“Mau sahur pakai apa kita?”
Wulan menepuk jidatnya sendiri,”Aduh…Aku lupa beli roti. Beli di warung aja yuk!”
“Boleh aja.Yuk!”ajak Maya sambil mengunci pintu kamarnya.
Tak lama kemudian Wulan keluar dengan piyama panjangnya dan mengunci pintu kamar.
Keduanya berjalan berdampingan keluar rumah kos, menyusuri jalanan sekitaran kos untuk mencari warung yang buka.
“Biasanya paling lengkap warung makan yang ini. Tapi mengapa tutup?”keluh Wulan kesal.
“Coba kita jalan ke sebelah sana,Lan.”
__ADS_1
Dua puluh langkah kemudian mereka sampai di sebuah warung makan yang menyala terang.
“Assalamualaikum…”sapa Maya dengan lantang.
Seorang laki-laki muda mengenakan kaos putih dan sarung muncul dari dalam.
“Ada apa,Neng?”
“Ada masakan apa di sini?”tanya Wulan dan Maya hampir berbarengan.
Keduanya tampak celingukan melihat keadaan warung yang kosong tanpa makanan.
“Maaf,Neng. Kita hanya menyediakan indomie goreng,indomie kuah atau nasi goreng.”
Sejenak dua gadis itu perpandangan, lalu Maya membuka mulutnya.
Kalau begitu dua bungkus nasi goreng spesial pakai telur.Cabenya dikit aja.”
Dua gadis duduk bersebelahan di bangku panjang sebuah warung…
Maya duduk bersidekap untuk menghangatkan badan, sementara itu Wulan sibuk memainkan ponselnya.
“Kalau begini terus, bisa-bisa kita sahur tiap hari pakai nasi goreng,”ucap Wulan sambil tertawa.
“Nanti malam kita ke supermarket. Beli bahan makanan untuk masak sendiri. Gimana?”saran Maya sambil tertawa.
“Mana sempat?”ucap Wulan.
Keburu telat,”sahut Maya.
__ADS_1
Keduanya pun tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, laki-laki penjaga warung keluar lagi sambil membawa dua bungkus nasi goreng dalam kemasan kertas warna kecoklatan dan memasukkannya ke dalam kantung plastik warna putih, memberikannya pada Maya. Wulan mengambil alih satu plastik yang kemudian ditentengnya.
“Ini ambil aja kembaliannya,”kata Maya sambil mengambil selembar uang lima puluh ribuan dan menyerahkannya pada si penjaga warung.
"Wah..Terima kasih banget,”sahutnya sambil memukul-mukulkan uang kertas di atas meja,
Tujuannya sebagai jampi-jampi agar warung makannya laris manis sepanjang hari. Dua bungkus nasi goreng dianggapnya sebagai penglaris di pagi hari. Keduanya pun pulang ke kos,lalu menikmatinya bersama di meja makan bawah dimana beberapa penghuni lainnya juga mulai bangun.
"Kalian beli makanan dimana?"tanya Astri penghuni kos di lantai satu sambil mengikat rambutnya.
"Warung makanan paling ujung," sahut Maya sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau untuk selanjutnya kita masak bergiliran?"tanya Ida,tetangga kamar Astri .
"Mana sempat,"sahut Wulan.
Suasana hiruk pikuk di pagi hari,membangunkan ibu kos mereka. Perempuan tua itu menggerakkan kursi rodanya, dan memanggil art-nya. Lalu mereka tampak bercakap-cakap untuk beberapa lama. Sang art tampak mendengarkan dengan wajah serius,lalu berjalan ke arah kerumunan anak kos.
"Pagi ...Kata Bu Laksmi, bilamana butuh masak untuk sahur, boleh patungan sehari sebelumnya titip mbak biar bisa belanja ke pasar. Kalian tinggal catat mau bikin menu apa,"papar art dengan panjang lebar.
" Wah boleh juga tuh Mbak,"sahut mereka hampir berbarengan.
"Terima kasih,Bu."
Maya mengajak teman-temannya untuk berterima kasih pada sang ibu kos yang telah memperlakukan mereka dengan baik.
Pagi itu seperti biasanya mereka kuliah pagi.Dosen yang biasanya killer pun terlihat lebih tenang, dan lebih banyak memberikan tugas harian. Demikian pula teman-teman lainnya yang biasanya mudah marah dan suka iseng, di bulan suci itu mereka dapat mengendalikan emosinya dengan lebih baik.
__ADS_1
Alangkah indahnya hidup bilamana semua berjalan seperti ini setiap hari.