Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 125: Dijenguk Papa


__ADS_3

Pagi itu Ryan memberi kabar pada papa bahwa mobil Alphard hitam milik papa hancur bagian bempernya.


“Yang bener?” papa bertanya dengan suara yang sedikit serak.


Ryan tahu kalau sang papa tidak terbiasa bangun terlalu pagi. Tak bisa dibayangkan betapa kagetnya sang papa yang sudah berumur,mendengar kabar buruk di saat baru membuka mata.


“Benar,Pa. Ini Ryan sudah di Rumah Sakit ABC. Kondisi Pak Kardi sudah membaik,hanya empat giginya tanggal. Maya amnesia tapi dari luar tak ada luka berarti. Yang paling parah adalah mobil kita,”papar si ganteng panjang lebar.


“Kalau begitu papa segera pesan tiket pesawat. Urusan mobil biar sekretaris papa yang urus dengan pihak asuransi. Jaga diri baik-baik di sana,”pesan papa dengan suara direndahkan.


“Baik,Pa. Hati-hati juga papa jaga diri. Bye..”


Siang itu juga Tuan Robert terbang menuju kota Solo dimana Pak Kardi dan Maya dirawat. Sesungguhnya sang papa kaget luar biasa mendengar berita tabrakan itu, bukan karena biaya kerusakan yang harus ditanggung. Semua kerusakan mobil sudah ditangani pihak asuransi. Hal paling menggelisahkan sang papa adalah apabila sang pengemudi meninggal dunia, mereka harus menyantuni kehidupan seluruh keluarga Pak Kardi. Kalau hal itu diabaikan,kemungkinan besar mereka akan meneror keluarga Tuan Ryan.


Siang itu Bandara Adi Sumarmo amat ramai seperti biasanya, kondisi bandara yang sudah lebih modern hampir menyerupai semua fasilitas yang ada di bandara internasional lainnya. Dan yang unik, bandara ini menggunakan tema Jawa sehingga banyak dijumpai ornament wayang di beberapa sudut ruangan, juga suara alunan instrumentalia dengan gamelan yang diperdengarkan. Ryan menjemput sang papa menggunakan taksi online. Sudah sepuluh menit yang lalu pesawat yang ditumpangi papa landing, namun beliau belum nampak juga. Hingga akhirnya cowok itu memutuskan untuk menunggu di sebuah outlet ayam goreng di dekat pintu keluar. Suasana di dalamnya tak kalah ramai sehingga ia harus menunggu pengunjung lain menyelesaikan makanannya.


“Untuk berapa orang?”tanya seorang pelayan yang baru saja selesai mengelap meja dan menyingkirkan semua piring kotor.


“Silakan duduk.”


“Terima kasih.”


Ryan duduk di bagian dalam, tepat di depan wastafel. Sesekali lehernya bisa dijulurkan untuk melihat wajah atau rambut untuk memastikan penampilannya.


“Mau pesan apa,Mas?”tanya seorang pelayan wanita bercelemek logo restoran tersebut dengan ramah.


“Saya pesan minuman dulu. Es the manis 1 dan air mineral no ice 1.”


Pelayan segera mencatatnya dalam sebuah kertas kecil dan berlalu ke dapur.


Tak lama kemudian ia meletakkan segelas es teh manis dan sebotol air mineral sesuai pesanan.


“Terima kasih,Mbak.”


Ryan menyeruput es teh manis dengan sedotan, perutnya yang lapar sedikit terobati dengan cairan gula yang membuatnya kenyang sesaat.

__ADS_1


“Driing…Driing…”


Sebuah pesan singkat dari papa masuk melalui ponsel miliknya, Ryan bergegas membalasnya dengan mengatakan bahwa ia berada di restoran TUP.


Robert Sanders menyeret koper warna silver ke sebuah outlet yang menjual ayam goreng. Wajahnya yang tampan sekilas sangat mirip Ryan, sang putra, dan tubuhnya yang tinggi atletis semakin mempesona dalam balutan t shirt warna merah kombinasi hitam yang dipadukan celana jeans warna hitam. Sepatu vantofelnya juga berwarna hitam, membuat penampilannya makin perlente. Sudut mata sang papa diarahkan ke segala penjuru untuk mencari keberadaan Ryan. Akhirnya beliau menemukan sebuah meja kecil yang terletak paling ujung di depan wastafel. Robert Sanders menyeret kopernya melintasi kursi-kursi yang berhimpitan karena padatnya pengunjung yang makan siang.


“Papa…”seru Ryan sambil beranjak bangun dari kursinya.


Bibir tipis cowok itu menyungging senyuman manis, dipeluknya tubuh sang papa yang menebarkan bau harum yang maskulin.


Papa mencium pipi Ryan berkali-kali, kanan dan kiri. Sebagai orang tua tentu saja dia kuatir dan sangat bersyukur Ryan tidak ikut serta dalam mobil semalam.


“Papa mau makan apa?”


“Apa ajalah. Ayam goreng, kentang dan sup ayam juga boleh,”sahut sang papa sambil mengambil posisi duduk di hadapan Ryan.


Cowok itu melambaikan tangan ke arah pelayan, dan seorang pelayan laki-laki datang menghampiri meja mereka.


Ia mencatat semua pesanan Ryan dan sang papa, mengulanginya sekali lagi untuk memastikan pesanan itu tidak salah, dan menagih bayarannya.


“Saya bayar di kasir,”pinta papa.


Papa berjalan mengikuti petunjuk dari pelayan tersebut, membayar semua pesanan dengan cara menggesek kartu debitnya, lalu kembali lagi ke meja yang tadi.


“Abis dari rumah sakit. Papa akan ke show room mobil.”


“Untuk apa,Pa?”


“Mobil bekas tabrakan gak baik untuk dipakai lagi. Papa beli yang baru untukmu.”


“Wah…Terima kasih,Pa. Tapi…”


“Tapi kenapa?”


“Apakah bukan pemborosan namanya?”

__ADS_1


Papa menggelengkan kepala, “Justru papa melindungi jangan sampai kesialan datang kedua kalinya.”


Ryan hanya bisa terdiam sambil memotong ayam goreng di hadapannya. Ia menganggap semua keputusan papanya adalah yang terbaik, dan ia menerimanya tanpa banyak protes.


Di dalam sebuah taksi yang mengantarkan mereka ke Rumah Sakit ABC…


“Papa mau ke rumah dulu?Naruh koper atau ganti sepatu dengan sandal?


“Kalau kejauhan mending kita ke rumah sakit dulu. Koper papa kecil jadi tidak merepotkan,”sahut papa sambil menegakkan punggungnya.


“Langsung ke ruma sakit,Pak. Sesuai pesanan saja,”pinta Ryan pada pengemudi yang duduk sendirian di depan.


“Siap,Tuan."


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, memasuki sebuah rumah sakit swasta yang paling lengkap di kota itu. Papa berjalan sambil menyeret kopernya ke ruang receptionist lalu berjalan cepat-cepat ke ruang ICU dimana Pak Kardi dirawat.


“Oh…Tuan. Terima kasih sudah datang menengok,”ucap Pak Kardi yang kini sudah bisa duduk di atas ranjang.


Suara yang keluar dari mulutnya terdengar sedikit berbeda dari sebelumnya, karena gigi bagian depannya tanggal sebanyak 4 biji dan menimbulkan perubahan dalam artikulasi.


Papa dan Pak Kardi tampak berbincang-bincang agak lama sebelum pindah ke ruang rawat inap untuk menengok kondisi Maya.


Gadis cantik itu nampak sedang duduk sambil menonton televisi dari atas ranjang rumah sakit. Perban di kepalanya telah digantikan oleh sebuah plester berukuran besar. Sorot matanya diarahkan pada Ryan dan sang papa, namun Maya hanya terdiam seakan tak mengenalinya.


“May…Ini papa,”ucap Ryan sambil menyeret dua buah kursi agar dirinya dan papa bisa duduk di dekat Maya.


Ryan membisikkan beberapa potong kalimat di telinga Maya agar gadis itu bisa pulih ingatannya secara perlahan. Maya hanya mengangguk, tatapan matanya masih kosong.


“Kata dokter, ingatan lama milik Maya akan hilang akibat bentura keras. Namun bisa pulih juga,Pa.”


Papa hanya mengangguk-angguk, wajahnya tampak sendu.


“Kasian Maya,Pa. Ia harus ijin dua hari dari kampus. Tapi hari Rabu nanti harus hadir pada mata pelajaran praktikum.”


“Dalam kondisi seperti ini kau yakin , dia bisa mengikuti kuliah?”tanya papa yang meragukan kemampuan Maya pasca tabrakan.

__ADS_1


“Ryan akan minta Wulan mengajarinya dari awal,Pa. Ryan yakin ia akan sembuh.”


Papa hanya menatap wajah Ryan tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.


__ADS_2