Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 155: Amanat dan Pertikaian


__ADS_3

Pagi itu cuaca cerah tiada berawan, sinar mentari menyinarkan sinarnya menembus jendela kaca rumah Ryan di Jogja. Ia duduk menghadap jendela, di tangannya tergenggam ponsel yang diletakkan dekat dengan telinganya. Papa sedang menelponnya dari Jakarta, nampaknya ada sesuatu hal yang penting harus disampaikan. Sementara itu Maya sedang sibuk lari pagi mengelilingi halaman rumah yang luas. Wajahnya berkeringat, rambutnya yang dikuncir satu tampak bergoyang ke kanan dan ke kiri, tubuhnya dibalut setelan olahraga warna merah muda. Ryan mencarinya di sekeliling rumah untuk menyampaikan sebuah berita penting.


Gadis itu duduk di atas batu yang menghadap kolam renang di belakang rumah sambil beristirahat dan menyeka keringatnya dengan sebuah handuk ukuran kecil berwarna putih.


“Hai,May!”seru Ryan mengagetkan gadis itu.


Maya membalikkan tubuhnya dan bangkit berdiri mendekati cowok itu.


“Hai…Ada apa?”


“Ada berita penting dari papa untuk kita.”


“Oh ya…Apakah itu?”


Cowok itu tersenyum lebar, bola matanya berbinar-binar, ia memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih. Ryan nampak sangat tampan pagi itu, tubuhnya yang tinggi atletis dibalut kaos warna hitam dengan logo sebuah merk kenamaan dipadukan dengan celana jeans warna putih.


Netra hitam milik gadis itu bersitatap dengan netra coklat muda milik Ryan, cowok itu menggandeng tangan gadis itu untuk duduk di kursi panjang yang biasa dipergunakan untuk berjemur, tepat di bawah payung warna-warni.


“Jadi, menurut papa sebaiknya kita nikah sebelum aku kembali ke Amerika,”ujar Ryan sambil duduk miring di kursi panjang sebelah gadis itu.


“Lalu setelah itu kita LDR selama bertahun-tahun?”


“Begitulah kata papa. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan katanya.”


“Baiklah. Aku nurut saja. Masa kuliahku juga masih lama,”sahut Maya sambil menyandarkan bahunya di kursi itu.


“Artinya kita harus mulai fitting pakaian pengantin ke Jakarta. Dan saat liburan kuliahmu kita akan nikah di sana,”ucap Ryan sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya.


“Masih delapan bulan lagi.”


“Memang begitu. Biasanya persiapan enam bulan hingga satu tahun.”


“Minggu depan saja kita balik ke rumah papa. Besok aku antarkan kamu kembali ke kos,”ujar Ryan bangkit berdiri.


“Mau renangkah?”


“Ayuk!”


“Tunggu .Aku ganti pakaian dulu.”

__ADS_1


Tak lama kemudian keduanya beraksi mengelilingi kolam renang. Airnya hangat, sinar mentari belum naik di atas kepala. Ketika keduanya sedang asyik berlomba dengan renang gaya bebas. Sebuah benda jatuh dari atas, entah dari pohon atau dari langit.


“Byuur…”


Keduanya bangkit dan segera melakukan injak-injak air.


“Kau dengar suara apakah itu?”tanya Maya sambil meneliti sekitar kolam renang.


“Coba aku menyelam ke bawah. Kamu duduk di tepi kolam renang saja.”


Gadis itu duduk di tepi kolam renang dan melepaskan kacamata renangnya, tubuhnya dibalut pakaian renang berlengan panjang dan celananya pun panjang. Rambutnya nampak basah , bulir-bulir air masih memenuhi seluruh bagian dari wajahnya yang cantik.


Ryan tampak menyelam hingga ke dasar kolam renang untuk beberapa saat. Siluet tubuh cowok ganteng itu nampak dari atas sedang bergerak-gerak di dasar air. Ryan menangkap sesuatu yang nampaknya sulit digenggam. Gadis itu mulai kuatir seandainya ia akan kehabisan napas di dalam air. Maya bergegas memanggil tukang kebun yang sedang memotong pepohonan agar tampak rapi.


“Pak..Pak…Tolong dong kemari,”teriak Maya pada seorang laki-laki tua yang sedang memegang gunting tanaman.


Laki-laki itu buru-buru meletakkan gunting rumputnya ke tanah dan berlari menghampiri gadis itu.


“Ada apa,Neng?”tanyanya dengan gugup.


“Bantu Ryan ke dalam. Dia lama belum muncul juga,”pinta Maya sambil sesekali menengok ke dasar kolam dengan cemas.


Tak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh tukang kebun datang kembali bersama salah seorang satpam berseragam hitam dengan nama tag keemasan mendekati kolam renang. Pak kebun kembali menjalankan tugasnya merapikan tanaman. Satpam itu langsung meneliti keadaan di dasar kolam renang. Ia melihat siluet tubuh anak majikannya sedang bergerak sambil menangkap sesuatu.


“Itu Den Ryan bisa berenang di dasar kok. Bukan tenggelam. Apakah bapak masih diperlukan? Satpam satu lagi sedang ke kamar kecil, jadi gak ada yang jaga di pos,”paparnya sambil membungkukkan badan.


“Yaudah. Bapak silakan kembali ke pos jaga,”ujar Maya sambil menjulurkan leher untuk mengamati keadaan Ryan yang hampir tiga puluh menit masih di dasar kolam renang.


Gadis itu cemas karena manusia hanya bisa bertahan hidup tanpa bernapas selama tiga menit.


“Ini setengah jam. Ryan masih bergerak dengan lincah tanpa menghirup oksigen,”gumamnya antara kagum dan cemas.


Seorang art dengan seragam hitam dan celemek putih berenda datang mendekatinya.


“Sarapan sudah siap,Neng.”


“Terima kasih,Mbak.”


Maya kembali mendekati bibir kolam renang dan berteriak, entah apakah suara teriakannya sampai ke dasar kolam renang atau tidak.

__ADS_1


“Ryan…Ayo ke atas! Sarapan sudah siap!”seru gadis itu sambil menunduk ke kolam renang.


Ryan belum juga muncul dari dasar kolam renang, gadis itu berkeringat dingin. Diambilnya handuk untuk menyeka keringatnya. Sambil berjemur di bawah mentari, gadis itu mengeringkan diri. Tiba-tiba terbersit keinginan untuk menyelam ke dasar kolam untuk mengetahui apa yang terjadi. Diinjaknya anak tangga menuju kolam renang, dicelupkan kepalanya ke dasar kolam untuk mengetahui apa yang terjadi. Alangkah terkejutnya ia, ternyata Ryan sedang asyik berdebat dengan sesosok vampire yang pernah ia lihat sebelumnya, Aro. Seorang vampire yang menentang pernikahan vampire dengan manusia. Benda yang jatuh ke dasar kolam renang nampak kecil dan hitam.


“Mungkin seekor kelelawar. Tapi setelah aku amati dari dasar kolam renang ia menjadi seekor vampire. Itulah mengapa Ryan melarangku untuk ikut berenang ke dasar kolam,”batinnya.


Belum sempat gadis itu mengangkat wajahnya, Aro telah memergoki Maya dan berusaha menariknya ke dasar kolam. Vampire itu ingin membunuhnya agar Ryan kelak menikah dengan sesame vampire.


“Mengapa kau melanggar pantanganku,May?”teriak Ryan dari dasar kolam.


“Aku takut kamu cedera!”seru Maya yang tiba-tiba bisa berkomunikasi di dasar air.


Dengan sigap terjadi perkelahian antara Aro dengan Ryan untuk memperebutkan gadis itu.


Gadis itu diseret hingga ke dasar kolam, Maya pun menahan napasnya. Namun lama-kelamaan ia menyerah juga karena tidak diberi kesempatan untuk mengambil udara di atas air. Maya pingsan dan tubuhnya melayang-layang di tengah air. Ryan takut gadis itu akan mati kalau kelamaan tidak ditolong. Diserangnya Aro yang sudah sangat keterlaluan, padahal ia tahu seluruh leluhur Ryan telah memutuskan untuk menikah dengan manusia, bukan lagi golongan vampire sejati. Pertarungan mereka akan menyebabkan salah satu dari mereka mati.


“Biarkan gadis itu kembali ke daratan Aro! Lawanlah aku kalau kau memiliki dendam dengan seluruh leluhurku!”


Aro tertawa menyeringai, Ryan merasa ajalnya sudah dekat. Bisa juga Maya akan mati hari itu juga. Jadi pernikahan mereka akan batal karena kedua calon pengantin akan mati di kolam renang. Tiba-tiba angin disertai suara ceburan sangat keras masuk ke dasar kolam renang. Ryan memalingkan wajahnya dan tersenyum.


“Papa!”


“Cepat kau selamatkan Maya ke atas! Biar papa yang menghabisi Aro yang sudah keterlaluan,”ujar papa dengan wajah memerah menahan marah.


Ryan buru-buru mengangkat tubuh gadis itu ke atas kolam renang dan membaringkan di atas kursi panjang tempat berjemur. Maya batuk-batuk setelah Ryan memberikan napas buatan.


“Dimanakah aku?”


“Kamu di sini. Papa yang sedang di dasar kolam melawan Aro.”


Maya masih sangat lemah, ia hanya bisa berbaring di atas kursi panjang. Ryan gentian yang kuatir akan keselamatan sang papa. Ia sesekali melongok ke dasar kolam, siluet tubuh sang papa bergerak ke sana kemari.


Kedua remaja itu bersiap untuk ganti pakaian, ketika sebuah suara cipratan air membuat mereka menengok ke belakang.


“Papa…Terima kasih atas pertolongannya,”seru keduanya hampir berbarengan.


Papa tertawa sambil membawa seekor bangkai kelelawar.


“Aro telah mati. Papa akan kembali pulang. Jaga diri kalian baik-baik karena dua teman Aro pasti akan membalas dendam.”

__ADS_1


Keduanya melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal pada sang papa yang melesat tinggi ke angkasa.


__ADS_2