Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 130: Iri yang Bikin Runyam


__ADS_3

Sepulang kuliah, Saskia yang masih geram datang menemui Boy yang bersiap mengambil sepeda motornya di parkiran. Tiba-tiba gadis itu menarik tangan Boy dengan kasar.


“Eh…Mau ngapain lagi sih kamu? Perempuan apaan kasar banget!”


“Mau ngingetin laki-laki buaya macam kamu!”


“Buaya? Lalu hubungan kita itu apa ya?”tanya Boy sambil tertawa mengejek.


Saskia sejenak terdiam, lalu kembali dengan bengisnya ia melotot.


“Gatau malu deketin cewek orang!”


“Lalu hubungan dengan kamu apa ya?”sahut Boy sambil menjentikkan jarinya di dagu.


Saskia menghentakkan kakinya ke tanah karena kesal, lalu dia kabur bergabung dengan para sahabatnya.


Para mahasiswa yang bersiap mengambil motornya tertawa cekikikan ke arah Boy.


“Kasian deh…Yang punya penggemar berat sampai tergila-gila,”seru salah seorang dari mereka.


Boy melirik dan tersenyum, ia tak mempedulikan siapa di antara mereka yang mengolok-olok. Cowok itu menuntun motornya, memasang helm dan berlalu dari kampusnya.


Di mobil milik Saskia..


Gadis itu bersungut-sungut sambil mengenakan seat belt di belakang kemudi. Ketiga sahabatnya saling berpandangan.


“Udahlah,Sas. Jangan mikirin cowok melulu. Yuk kita ke mall,”ajak Echa sambil mengikat rambutnya yang panjang.


“Iya..Banyak cowok keren di mall,”imbuh Ira sambil merapatkan punggungnya ke jok mobil.


Reni hanya mengangguk-angguk mengiyakan sahabatnya.


“Yuk deh…Aku traktir kalian makan,” ajak Saskia sambil tersenyum.


“Nah itu baru mantap!” seru Reni kegirangan.


Di sebuah mall…


Empat cewek itu berkumpul dalam sebuah meja panjang, di depannya telah siap delapan daging siap dibakar dan delapan sayuran dan aneka steamboat siap dieksekusi di dalam panci perebus.

__ADS_1


“Yihaiiii….”seru Echa bersorak kegirangan dalam hati.


Keempatnya menikmati santap malam mereka yang dipercepat. Tiba-tiba muncul sosok pemuda ganteng rupawan, tubuh tinggi dan kulit terang, siluet wajahnya benar-benar sempurna, rahang yang tegas, sepasang alis yang lebat, bola mata yang dalam dan berwarna kecoklatan , hidung yang mancung dan sepasang bibir tipis berwarna merah muda.


Saskia terpana sehingga sepasang sumpitnya jatuh berdenting di atas meja. Echa mengamati arah mata Saskia dan berhenti di sebuah titik. Cowok tampan paripurna sedang berdiri di meja kasir. Tak berapa lama kemudian seorang gadis dengan langkah kaki diseret mendekatinya, sang cowok melingkarnya tangannya di pinggang dan mereka menuju sebuah meja yang agak jauh dari Saskia.


“Maya? Lagi-lagi dia,”umpatnya kesal.


“Ada apa sih,Sas?”tanya Reni sambil ikutan menatap sepasang kekasih itu.


“Lho itu kan memang calon suaminya Maya. Kalian belum tau?”ucap Echa sambil tertawa.


“Jadi gimana ceritanya tuh cewek bisa laku keras?”tanya Saskia penasaran.


“Aku kurang tau persisnya. Tapi denger-denger tuh mereka pacarana sejak SMA dan udah menikah secara agama gitu. Tapi belum satu atap,”papar Echa panjang lebar.


“Yang gituan gausah kamu harapkan lagi,Sas!”seru Ira sambil mengunyah makanan.


Saskia refleks menendang kaki Ira karena kesal, membuat gadis itu nyaris tersedak makanan.


Jauh di meja seberang…


“Yang ini lebih ganteng daripada si cucunguk Boy. Pantas saja Maya tak bereaksi ketika didekati Boy,”gumam Saskia dalam hati.


Maya yang sedang sibuk membakar daging dan memberikannya ke piring milik Ryan, tidak menyadari dirinya sedang diamati. Ryan pun tidak mempedulikan keadaannya di sekitarnya, ia tengah asyik meluapkan kerinduannya dengan bercanda dan bercerita.


Saskia sungguh tidak tahan menyaksikan keromantisan antara Maya dengan Ryan yang sama sekali belum dikenalnya. Gadis itu buru-buru menghabiskan makanannya dan bersiap meninggalkan tempat.


“Kok buru-buru amat?”tanya Echa sambil mengangkat kedua alisnya.


Ketiga sahabatnya makan dengan santai sambil bercengkerama untuk melepaskan lelah sepulang kuliah, apalagi besok adalah hari Sabtu. Namun tidak bagi Saskia yang sedang dilanda iri hati, dengki dan penasaran akan kehadiran seorang cowok ganteng yang diidamkan. Nalarnya seakan goyah bergeser dari rambu-rambu yang mematokinya. Cinta membuat seseorang lupa diri bahkan tidak tahu diri, itu yang saat ini dirasakan Saskia.


Saskia dengan kasar menarik tangan Echa yang makan paling lambat.


“Ya ampun…Kenapa sih,Sas!”serunya sambil meraih botol air mineral.


Makanan terasa masih tercekat di leher, Echa kesulitan menelan makanan, masih satu mangkuk shabu-shabu belum ia habiskan gara-gara kelamaan membakar daging. Gilirannya selalu paling akhir setelah semua sahabatnya selesai dengan tugas membakar daging.


Keempatnya bangkit dari kursi dan hendak berjalan ke arah pintu keluar. Saat itu juga Maya menyentuh bahu Ryan dan menunjukkan mereka yang di sana adalah teman kuliahnya. Ryan langsung menatap keempatnya. Saskia ketakutan dan kabur buru-buru.

__ADS_1


“Oh…Jadi itu Saskia yang udah jahatin kamu?”tanya Ryan dengan mata terbelalak.


Meskipun hanya hitungan detik dan melihat dari kejauhan, namun naluri seorang vampire membuatnya dapat merekam semua gambar dengan lebih jelas dan lebih lama. Sosok Saskia telah masuk ke dalam memori otak Ryan, seorang keturunan vampire yang ganteng paripurna dan memiliki ciri lebih banyak sebagai seorang manusia dibandingkan vampire.


“Makan aja dulu. Gausah pedulikan mereka. Aku selalu siap melindungi kamu,May.”


Maya hanya menganggukkan kepala, lalu menuangkan shabu-shabu ke dalam mangkuk kecil dan diletakkan di atas meja Ryan. Keduanya tertawa bahagia sambil menikmati hidangan malam.


Sementara itu, di luar restoran, Saskia berjalan terburu-buru diikuti langkah kaki ketiga sahabatnya.


“Sas…Tunggu! Jangan cepet-cepet!”seru Ira sambil menarik tangan Reni dan Echa.


“Pokoknya kita harus pulang cepat!”


“Katanya kita mau cari cowok di mall,”ucap Echa dengan bersemangat.


“Ayolah,Sas. Please,”ajak Ira .


“Ayolah,Sas. Pasti banyak yang lebih ganteng dari mereka,”kata Reni sambil tertawa.


“Kalian gila ya !Liat aja, mereka semuanya bapak-bapak, om-om. Mau kalian terjebak om hidung belang?”kata Saskia sambil membalikkan badan menatap ketiga sahabatnya.


“Bruuk…”


Tiba-tiba Saskia yang berjalan terburu-buru menabrak seorang laki-laki tampan berkulit kuning langsat dengan mata sedikit sipit, ala penyanyi band Korea.


Seketika hati gadis itu berbunga-bunga, ia serasa menari-nari di tengah kebun bunga. Membayangkan berdansa dengan kekasih pujaan hatinya.


“Papa….”


Seorang gadis kecil berlari-lari ke arah laki-laki tampan itu diikuti seorang wanita muda yang sangat cantik. Tubuhnya langsing , meskipun tak begitu tinggi namun sangat menarik laksana Barbie hidup, rambutnya dicat kekuningan dan polesan yang melekat di wajahnya begitu natural, tubuhnya yang elok dibalut gaun terusan yang sangat seksi.


Seketika hati Saskia hancur berantakan, patah hati dalam hitungan dua detik.


“Eh maaf…maaf,”ucap laki-laki itu sambil menggendong si kecil dan mengelus rambutnya.


“Makanya,Mbak. Kalau jalan liat-liat. Untung bukan nabrak anak kecil,”omel wanita tadi.


Saskia hanya tertawa meringis sambil mengangguk-angguk.

__ADS_1


Ketiga sahabatnya yang berjalan di belakangnya tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah Saskia.


__ADS_2