Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 132: Persahabatan dan Pertolongan


__ADS_3

Di kantin kampus…


Wulan nampak termenung, hari ini gadis itu nampak terdiam seakan ada suatu masalah yang menggelayuti pikirannya. Diaduknya es jeruk dengan sendok pengaduk berulang-ulang, tatapannya seakan tak beralih dari sebuah gelas di hadapannya. Sementara tangan kirinya digunakan untuk menopang rahang kirinya. Maya yang sedari tadi menunduk dan memainkan ponselnya, kini mengangkat wajahnya dan menatap sahabatnya.


“Kamu sehat-sehat aja,Lan?”


Sontak Wulan kaget dan menghentikan adukannya, matanya membalas tatapan gadis di hadapannya.


“Aku baik-baik aja,”sahut Wulan dengan senyum yang dipaksakan.


“Kamu mau makan apa? Aku mau pesan bakso kuah aja. Biar aku yang bayar sementara kamu cuti kerja,”ucap Maya sambil beranjak bangun dari kursi.


Wulan menggeleng, kemudian memainkan ponsel miliknya.


“Ayolah…temani aku makan bakso.”


Akhirnya Wulan hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


Akhirnya dua mangkuk bakso diantarnya pelayan ke meja mereka. Dua orang sahabat itu menikmati makanannya dengan santai. Pelajaran berikutnya masih 45 menit lagi, artinya masih banyak waktu tersisa terlebih makanan itu masih sangat panas dan mengeluarkan asap yang mengepul.


“Semalam Saskia telpon aku.”


“Hah? Ngapain,May?”


“Minta bantuan cara membuat laporan praktikum.”


“Lalu kamu bantu contekin?”


Maya mengangguk, senyumannya begitu tulus, bibirnya mengembangkan senyuman manis dan sorot mata yang bening.


“Berbuat kebajikan, menebar kedamaian merupakan perbuatan terpuji yang disukai Allah.”


“Benar. Tapi manusia seperti pasti akan kembali berbuat jahat.”


“Semoga kali ini tidak,Lan. Beri kesempatan buat orang lain bertobat.”


Maya mengambil sendok dan memotong bakso menjadi bagian kecil-kecil. Dimasukkannya potongan bakso itu ke mulutnya dan mengunyahnya.


“Sebenarnya aku sedang bingung,May. Lama gak kerja, gak ada pemasukan,”keluh Wulan sambil mengunyah makanan.


Akhirnya gadis itu membuka suara dan menyatakan perasaannya.


“Makanya,Lan. Bua tapa kamu belain cuti kerja buat nemenin aku kuliah?”

__ADS_1


“Aku kuatir aja,May. Kasian kamu udah gak punya orang tua.”


“Dirimu yang lebih kasian,Lan.”


“Aku bertekad bisa lulus kuliah di sini tanpa kekurangan biaya. Kamu kan tau Bidikmisi hanya membantu biaya hidup mahasiswa yang jumlahnya terbatas, sedangkan aku juga harus membantu biaya sekolah adik-adikku,”papar Wulan panjang lebar.


Maya menganggukkan kepala dan berpikir. Wulan tampak menghela napas panjang, ia membalikkan sendok dan garpunya secara terbalik,menandakan ia telah menghabiskan makanannya. Maya meneguk es teh dari gelasnya dan menyilangkan dua tangannya di atas meja.


“Kalau begitu, gimana kalau kamu bantu aku bimbel online?”


Sejenak Wulan berpikir, otaknya berpikir keras untuk memutuskan tawaran dari sahabatnya.


“Boleh aku coba dulu,May?”


“Silakan.”


Maya tersenyum memamerkan dua lesung pipitnya yang dalam dan menggemaskan.


Saat mereka kembali ke kos…


Wulan duduk sendirian di kamarnya, Maya ada di kamar sebelahnya. Sebuah pesan dari keluarganya melalui whatsapp miliknya, cukup membuat Wulan gundah gulana.Sang ayah di kampung meminta bantuannya untuk mengirimkan uang sebesar satu juta rupiah sebagai bantuan untuk adiknya yang akan masuk SMA. Wulan termenung, saling meremas jari jemarinya, sadar saldo tabungannya tinggal ratusan ribu dan tak akan cukup mengumpulkannya dalam waktu secepat itu. Orang tuanya yang hanya buruh tani, tapi memiliki cita-cita setinggi langit. Mereka sangat berharap Wulan sebagai anak sulung dapat membantunya mencari uang sebagai biaya pendidikan adik-adiknya namun Wulan sendiri bertekad menjadi seorang dokter yang waktu pendidikannya lama. Ayah dan ibunya dahulu sempat mengusulkan agar gadis itu mengambil jurusan diploma saja agar cepat lulus dan bekerja, namun Wulan tetap kukuh dengan cita-citanya. Setelah ia diterima di Fakultas Kedokteran , kedua orang tuanya sangat bangga bahkan menyanjung-nyanjungnya sebagai panutan bagi adik-adiknya, namun tuntutan mencari uang tetap mereka tekankan.


“Tok…Tok…Tok…”


Sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunan Wulan, ia bergegas membukakan pintu dan menjulurkan lehernya untuk melihat siapa yang datang. Sosok Maya dengan wajah cerah muncul dari balik pintu dengan membawa dua bungkus makanan dengan pembungkus aluminium foil.


“Terima kasih,May.”


Melihat wajah sahabatnya yang mendung, Maya kembali melontarkan pertanyaan.


“Ada masalah lagi?”


“Biasalah adikku kan banyak.”


“Butuh uang berapa?”


“Aku nggak enak buat ngomong sama kamu. Takut dibantu.”


Maya terkekeh, keduanya duduk di atas karpet di dalam kamar Wulan yang bersih dan rapi.


“Membantu yang sedang kesusahan, andaikan kita mampu. Itu suatu berkah. Allah akan membalasnya berlipat ganda,Lan.”


“Jadi kamu tulus mau bantu aku,May?”

__ADS_1


“Iya. Tapi kalau kamu segan. Akan aku potong dari gajimu.”


“Iya , potong gaji mengajar aja,”sahut Wulan yang mulai bisa tersenyum.


Maya memeluk Wulan dengan erat, diusapnya punggung sahabatnya dengan penuh kasih.


Kini keduanya menikmati jajanan ringan yang berisi ayam goreng krispy berbumbu yang dibeli Maya melalui ojek online. Makanan yang terbilang mahal bagi Wulan si anak kampung dengan keadaan ekonomi serba kekurangan. Sekali lagi ia bersyukur karena Maya yang keadaan ekonominya lebih baik mau berbagi kenikmatan bersamanya.


“Berapa nomor rekening ayahmu,Lan? Sini biar aku yang transfer,”ucap Maya sambil memasukkan potongan ayam dengan lidi panjang.


“Nantilah , setelah makanan kita habis.”


Maya mengangguk sambil membuka botol air mineral yang disuguhkan Wulan kepadanya.


Maya meremas aluminium foil bekas pembungkus jajanan, dan celingukan mencari tempat sampah di kamar Wulan.


“Sini biar aku aja yang buang,”kata Wulan sambil mengulurkan tangannya.


Maya menyodorkan bekas pembungkus yang kini telah berubah menjadi gulungan mirip bola, Wulan mengambilnya dan memasukkannya ke dalam sebuah bak kecil terbuat dari plastik yang letaknya agak tersembunyi, di belakang meja di sebelah dinding kamar mandi.


“Makasih,Lan. Udah jadi pasukan bersih-bersih,”canda Maya sambil terkekeh.


Wulan hanya tertawa sambil berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan.


“Mana nomor rekeningnya? Bentar lagi akum au balik ke kamar. Mau kerjain tugas untuk besok,”kata Maya terburu-buru.


Wulan meraih ponselnya yang sedang di-charge di atas meja belajar dan mencabutnya dari kabel.


“Ini nomor rekeningnya,”sahut Wulan sambil menyodorkan sebuah gambar dalam ponsel miliknya.


Maya membuka m-banking miliknya, jari jemarinya yang lentik menari-nari di atas keyboard ponselnya untuk mengetikkan sejumlah angka dan huruf.


“Done!”ucap Maya sambil tersenyum.


“Terima kasih banyak,May!”seru Wulan kegirangan, sepasang bola matanya berkaca-kaca.


Gadis itu menelan salivanya dan menahan rasa haru yang teramat sangat, semua permasalahan keuangan keluarganya telah terselesaikan dengan kehadiran Wulan. Ia makin mengasihi Maya dan berjanji akan berjuang bersama hingga kelak mereka lulus bersamaan dan dilantik menjadi dokter. Wulan bertekad untuk menjadi seorang dokter yang berbakti pada negara dan sukses membangun ekonomi keluarganya.


“Aku balik ke kamar dulu,Lan. Jaga dirimu baik-baik,”pamit Maya sambil membuka pintu.


“Kamu juga,May. Semoga kedua lututmu cepat sembuh,”ucap Wulan sambil menutup pintu.


Maya membuka kamarnya, dia menguncinya kembali.

__ADS_1


“Ceklek.”


Hari itu ia sangat bahagia, dapat membuat sahabatnya kembali tersenyum sekaligus membuka lapangan pekerjaan buat Wulan. Mulai saat ini, Wulan tak perlu lagi repot-repot bekerja di mall sepulang kuliah, ia bisa mencari uang secara online dengan memanfaatkan laptop atau ponsel miliknya.


__ADS_2