
Sore itu cakrawala nampak indah, semburat jingga di ufuk barat tang terletak di sebuah rukan tiga lantai di daerah perkantoran yang cukup ramai.
“Kamu pakai pengacara? Bukannya mahal?”tanya Maya dengan mata terbelalak dan mulut menganga.
“Biar kita gak ribet,May. Cukup tanda tangan di surat kuasa. Aku yang bayar,”kata Ryan dengan tatapan yang tulus.
Sebuah rukan dengan plang nama : Irvan Jaya Kusuma & Associates Law Firm. Pertama memasuki lantai satu dihadapkan dengan meja receptionist dan kursi tunggu yang memanjang. Ada dua orang receptionist wanita yang berpakaian seragam biru navy, dengan komputer PC di hadapannya,sibuk mencatat dan memasukkan setiap data tamu yang berkunjung.
“Selamat sore,Pak. Ada yang bisa kamu bantu?”sapa salah seorang di antara mereka dengan senyuman yang ramah.
“Sore. Saya mau bertemu Pak Irvan,”sahut si ganteng sambil mengeluarkan kartu namanya.
“Apakah bapak sudah menghubungi beliau sebelumnya?”tanya receptionist berwajah manis dengan rambut yang disasak.
“Sudah,Bu.”
“Silakan tunggu dulu.. Pak Irvan masih ada tamu.”
Maya melirik jam dinding yang berada di belakang meja receptionist.
“Pukul tiga lewat sebelas menit,”gumam Maya sambil mengambil posisi duduk di dekat Ryan yang sibuk dengan ponselnya.
Gadis itu sibuk memainkan kukunya sambil berpikir tentang apa saja yang akan ia sampaikan di depan pengacara nanti. Ryan telah selesai dengan ponselnya dan menatap gadis itu yang terdiam membisu.
“Gausah bingung,May. Cerita aja sejujurnya. Aku udah hubungi polisi yang nangani kasus kamu kok.”
“Setelah ada pengacara. Urusan dengan polisi bisa diwakilkan dengan Pak Irvan bukan?”
“Pasti. Tapi tentunya akan hubungi kamu dulu,May. Segala keputusan atas seijin klien.”
“Tapi…Aku jadi gak enak banget Ryan. Kamu keluar duit berapa buat aku?”
“Gausah diitung-itung. Daripada kita repot sendiri ngurus ke sana ke sini. Bentar lagi kita kan masuk sekolah. Konsentrasi buat kenaikan kelas tiga dan lain-lain,”papar Ryan panjang lebar.
“Papa kamu gak marah kalau tau soal ini?”
Si ganteng menggelengkan kepala,”Justru dia yang suruh aku pakai pengacara,May. Aku tulus kok. Papa juga tulus bantu kamu”
“Terima kasih banyak,Ryan. Sampaiin juga buat om.”
Dalam ruang tunggu yang sama, duduk seorang wanita paruh baya dengan tubuh subur dibalut gaun berbunga dengan warna dasar krem, matanya sembab seperti habis menangis, dan ada sebuah luka memar di pelipis kiri serta tangan kanannya. Tangan kanannya memegang selembar kertas putih,
“Maaf. Ibu pegang nomor urut berapa?”tanya Maya memberanikan diri untuk bertanya.
Pantatnya terasa panas sudah hampir satu jam menunggu di ruang tunggu.
“Nomor tiga puluh empat,Dek.Ada kasus apa?”tanyanya sambil menyeka air mata.
“Penculikan dan rencana pembunuhan,Bu.”
__ADS_1
“Yang bener?”tanya ibu itu seakan tak percaya, matanya terbelalak dan menghentikan isak tangisnya sesaat, namun suaranya masih serak.
“Benar,Bu. Ibu kasus apa? Maaf,”tanya gadis itu balik bertanya.
“Biasalah laki-laki. Selingkuh dan kdrt.”
“Sudah visum,Bu?”
“Ini..”sahutnya seraya menunjukkan selembar kertas visum.
“Nomer tiga puluh empat. Silakan masuk,”seru salah seorang receptionist.
Ibu paruh baya di sebelah gadis itu beranjak berdiri dan masuk ke dalam.
Nomor antrian Maya adalah tiga puluh lima,artinya sebentar lagi adalah gilirannya.
“Setelah ibu itu keluar, giliran kita yang masuk,”bisik Maya ke telinga Ryan.
“Baiklah. Aku ke minimarket sebelah dulu. Beli minuman buat kita. Cuma sebentar kok,”pamit cowok itu dengan buru-buru.
Tak lama kemudian Ryan kembali lagi dengan memegang sebuah plastik warna putih dengan logo sebuah minimarket dan memberikannya sebuah untuk gadis itu. Cowok ganteng itu membuka tutup botol, tangannya yang kekar menuangkan cairan dalam botol ke dalam mulutnya, jakunnya bergerak-gerak di lehernya yang bening,
“Seger banget,May. Cobalah itu teh rasa ocha merk baru.”
“Boleh. Tapi nanti aja deh. Takut beser. Bentar lagi kita dipanggil.”
“Nomor urut tiga puluh lima. Dipersilakan masuk,”seru receptionist.
“Sore…Kalian pacaran ya?”tanya Pak Irvan seakan bergurau.
“Sore juga,Pak. Hehe…”sahut Ryan sambil meletakkan sebuah map berisi ketikan tangan Maya mengenai urutan peristiwa tempo hari.
Pengacara itu mengambil map dan membukanya lembar demi lembar serta membacanya dengan mimik serius, keningnya berkerut dan matanya fokus menatap kertas.
Sepuluh menit kemudian, pengacara itu membuka percakapan,”Jadi begini…Langkah awalnya adalah tanda tangan surat kuasa. Untuk biayanya nanti ada fee yang kami tentukan dan ada biaya transportasi juga untuk penyelidikan ke luar kota. Karena kejadiannya di luar Jakarta, yaitu di Bogor.Nanti kita Kerjasama juga dengan polisi.”
“Biayanya berapa,Pak?”tanya Ryan sambil memajukan kursinya yang memiliki roda di bagian bawahnya.
“Lima puluh juta.”
“Hah? Mahal amat,Pak. Tempo hari bapak bilang tiga puluh juta,”sanggah cowok itu.
Maya membelalakkan matanya dan merasa tak enak hati dibantu orang lain dengan uang yang sangat memberatkan.
“Tolonglah,Pak. Beri kami keringanan,”pinta gadis itu dengan wajah sendu.
“Baiklah tiga puluh juta plus ongkos transportasi bilamana perlu ke Bogor. Deal?”
“All in aja bisa,Pak?”nego Maya sekali lagi.
__ADS_1
“Baiklah. Anggap aja saya menolong kalian.”
“Bu Anna…Tolong kamu print dokumen surat kuasa. Ini KTP-nya tolong foto copy sekalian,”perintah Pak Irvan pada asisten pribadinya yang duduk di meja seberang dan masih satu ruangan dengannya.
“Baiklah,Pak. Saya kerjakan secepatnya.”
Bu Anna adalah sarjana hukum yang bekerja sebagai asisten Pak Irvan dan menghandle semua urusan di kantor. Wanita tiga puluh delapan tahun ini tampak bijaksana, rambutnya pendek di atas bahu dengan rahang kotak namun manis, kacamatanya dibingkai hitam menambah kesan bahwa ia adalah wanita karir yang tangguh.
“Kalian mau minum apa?”
“Oh terima kasih,Pak. Kami sudah banyak minum di depan. Kembung nanti,”sahut Ryan sambil tertawa.
Pak Irvan pun ikut tertawa. Kemudian pengacara itu mengajak mereka ngobrol sambil menunggu dokumen surat kuasa selesai dibuat.
“Kamu Ryan Sanders? Kok sepertinya saya pernah dapat klien yang nama belakangnya sama. Bentar saya ingat-ingat.”
“Robert Sanders?”
“Betul! Untuk urusan bisnis waktu itu. Kamu putra Pak Robert? Yang punya pabrik susu kan?”
“Iya benar,Pak.”
Keduanya akhirnya tertawa terbahak-bahak.
“Bapakmu itu orang baik. Dulu saya sudah selesai kasusnya tapi masih diajakin nongkrong ada lima harian dan ditraktir terus.”
“Oh ya? Papa nanya masalah apa aja,Pak?”
“Ya..dia kan kuliah bisnis. Jadi masih awam soal hukum makanya nanya saya terus soal hukum.”
“Tapi papa sekarang ada pengacara pribadi di kantor,Pak.”
“Iya. Si Julian kan? Itu pengacara muda, saya yang cariin juga. Karena saya kan udah gak sempat kalau jadi pengacara perusahaan lagi.”
“Oh begitu ya…”
“Permisi,Pak. Ini dokumennya sudah siap. Silakan dibaca dan ditanda tangani,”kata Bu Anna sambil meletakkan dua lembar kertas yang disatukan dengan penjepit segitiga di atas meja.
Kemudian Pak Irvan membacakan seluruh dokumen surat kuasa.
“Apakah kalian merasa sudah cukup denga nisi surat kuasa tadi atau ada yang mau ditambahi?”
“Gimana,May?” tanya Ryan meminta pertimbangan gadis itu.
“Cukup,Pak. Yang penting nanti koordinasikan dengan polisi mengenai lokasi temuan garasi misterius di rumah petak,”pinta gadis itu sambil membuka tutup pulpen dan menandatanganinya.
“Pasti.. Saya doakan masalah ini cepat selesai.”
Ryan megeluarkan selembar cek dan menyerahkan kepada pengacara itu. Sebuah kuitansi bukti bayar diserahkan pada Ryan.
__ADS_1
Pak Irvan menjabat tangan kedua remaja itu, dan berpesan untuk tak sungkan-sungkan menghubunginya bila perlu.
Di mobil, Ryan merasa penasaran dan ingin menemui Alisha tanpa sepengetahuan Maya. Ia ingin menyelidiki gadis itu dengan caranya sendiri.