Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 50: Pembuktian


__ADS_3

Hari demi hari,minggu berganti minggu, Maya membuktikan bahwa ia kuat menghadapi semua fitnah yang dituduhkan terhadapnya. Siang itu di tengah kesibukannya sebagai sekretasis OSIS dan peserta lomba KIR, gadis itu berbagi dengan tugas sekolahnya agar tak banyak tertinggal. Gadis itu belakangan sampai mengubah gaya rambutnya yang kepang dua menjadi kuncir satu hanya karena kegerahan harus mondar mandir ke sana kemari demi suksesnya lomba KIR yang akan ia hadapi bulan depan. Gadis itu tak rela memotong pendek rambutnya karena sang papa sangat suka melihatnya dengan rambut panjangnya yang hitam dan tebal berkilau. Menurut almarhum papanya, rambut adalah mahkota wanita, dan rambut itu bisa hidup abadi sekalipun pemiliknya telah mati dan terkubur dalam tanah. Maya yang kelelahan merasakan pusing namun pandangannya tak sampai kabur ataupun pingsan. Gadis itu telah mengkonsumsi vitamin khusus dengan zat besi namun tampaknya tak banyak berpengaruh, ia tetap saja merasa vertigo bahkan mual. Terlebih hari itu, Maya tengah datang bulan sehingga darah rendahnya semakin parah.


“Hoeks…”


Suara yang keluar buru-buru ia bekap dengan kedua tangannya dan buru-buru ijin ke kamar kecil ketika guru matematika sedang menuliskan soal di papan tulis.


“Maaf,Bu. Saya permisi ke kamar mandi sebentar.”


“Oh silakan. Jangan lama-lama,May.”


“Baik,Bu.”


Seisi kelas langsung gempar dan banyak siswa saling berbisik, sehingga guru menegur mereka untuk kembali diam dan mengerjakan soal pada buku masing-masing.


Maya muntah-muntah di kamar mandi dan suaranya terdengar oleh siswa kelas 12 yang kebetulan ijin ke untuk buang air.


Siswa itu adalah Rini,kakak kelas Maya yang berpenampilan trendy, tubuhnya tinggi semampai dan ia merupakan kenalan Alisha dalam kursus modelling. Kini mereka sering mengikuti ajang lomba modelling bersama. Tak pelak lagi,berita Maya muntah-muntah di toilet langsung sampai ke telinga Alisha dan kawan-kawan.


“Dring..Dring…”


Pesan masuk ke whatssup milik Alisha berbunyi kecil dan gadis itu mengecilkan suaranya takut ketahuan guru matematika yang sedang mengajar di depan kelas. Alisha sempat membaca isinya.


“Lis..Temen lo si Maya muntah-muntah di toilet kayak orang hamil aja deh.”


Alisha hanya membaca dan tak segera membalasnya karena ponsel itu buru-buru ia matikan daripada ketahuan guru dan disita.


Memasuki jam istirahat kedua, Alisha and the gang langsung menemui guru BP, rupanya mereka ingin membalas dendam sekaligus ingin agar si bintang kelas juga merasakan bagaimana rasanya diadili di ruang BP.


Langkah kaki ketiga cewek badung ini memasuki ruang BP yang sejuk dan damai dengan Bu Trisna yang duduk mencatat laporan hasil psikotes di mejanya.


“Selamat siang,Bu.”


“Siang juga. Alisha ada masalah apa lagi?”


Rupanya nama Alisha begitu dikenal di mata guru BP, sehingga hanya gadis itu yang disapanya.


“Bukan masalah,Bu. Kami boleh duduk di sana?”

__ADS_1


“Oh silakan,”sahut Bu Trisna sambil mengambil posisi duduk di hadapan ketiga gadis itu. Alisha duduk di tengah, sementara Sandra dengan gaya tomboy duduk di samping kanannya sambil membawa ponsel berisi foto dan rekaman video Maya di kamar mandi sedang muntah-muntah. Di sisi kiri Alisha adalah Niken yang siap dengan foto Maya di Instagram milik Ryan Ketiganya telah merencakan akal busuk agar Maya dituduh sedang hamil.


“Begini. Kami punya bukti bahwa siswa yang selama ini ibu anggap nomor satu, berprestasi ternyata tak lebih dari perempuan ******!”


“Apa-apaan ini?Kalian menunjukkan foto-foto di luar sekolah.Ini bukan tanggung-jawab kami sebagai guru.”


“Kalau siswi sekolah ini sampai hamil.Apakah bukan tanggung jawab guru juga?”


Sandra menyodokan ponsel berisi rekaman video suara Maya sedang muntah-muntah di kamar mandi hingga saat dia keluar dari kamar mandi dan menutup mulutnya.


“Kalian gak bisa sembarangan menuduh! Harus ada pembuktian. Baiklah saat ini juga pihak sekolah persiapkan test pack dan Maya harus kami giring untuk periksa air seni.”


“Tapi..Apakah pemeriksaan siang hari datanya akan akurat?”tanya Sandra dengan hati-hati.


“Kita akan ulang lagi keesokan paginya. Apakah kalian sudah puas?”sahut Bu Trisna dengan suara keras dan tegas.


Ketiganya hanya mengangguk dan sedikit salah tingkah, lalu berpamitan.


“Lima menit lagi ibu akan ke kelas kalian setelah ijin dengan wali kelas.”


Seisi kelas langsung gempar ketika dilihatnya Bu Trisna memasuki kelas bersama Pak Tarno. Mereka memanggil Maya,Ryan dan kelima saksi lainnya termasuk Alisha and the gang ke kamar mandi untuk membuktikan bahwa Maya tidak hamil.


“Apa-apaan nih,Bu? Saya ikut tersinggung. Kami tidak melakukan apa-apa selain makan di Bandung,”protes Ryan dengan wajah kebingungan.


“Benar,Bu. Saat ini saya juga sedang menstruasi. Saya memang menderita tekanan darah rendah. Kalau terlalu capek sering kumat,”papar Maya panjang lebar.


“Udahlah. Ikutin prosedur kami,”kata Bu Trisna sambil menyodorkan sebuah mangkuk plastik dan sebuah test pack.


Maya berjalan dengan les mengikuti mereka ke kamar mandi, di belakangnya ada Ryan yang berjalan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Cowok itu menunggu di luar kamar mandi cewek.


“Jangan ditutup pintunya,May! Biar ibu jadi saksi kalau kau tidak mencampur urine dengan air.”


“Baiklah,Bu, Saya tutup sedikit saja karena malu.”


“Boleh. Test pack kamu celupkan di dalam air seni. Di luar saja kita tunggu hasilnya.”


Maya pun keluar dengan membawa urine yang sedikit bercampur darah karena hari itu ia benar-benar sedang datang bulan.

__ADS_1


Mereka menunggu sepuluh detik untuk melihat hasilnya apakah keluar satu atau dua garis biru.


Jantung Maya berdebar meskipun ia merasa sama sekali tidak bersalah, tapi langkah ini dianggapnya keterlaluan. Tuduhan tanpa bukti.


“Garis satu!”seru guru BP itu.


“Kalian sudah puas? Artinya teman kalian tidak hamil sama sekali!”


“Ta..Tapi,Bu. Kalau sudah melakukan bukan berarti pasti hamil kan?”tanya Alisha yang sepertinya ingin mencari-cari masalah.


“Benar lho Bu,”timpal Sandra dengan wajah nyinyir.


Maya hanya menghela napas panjang dan berusaha tetap sabar.


“Jadi mau kalian ini apa? Cek keperawanan di dokter spesialis kandungan?”tanya Bu Trisna dengan nada kesal.


“Iya,Bu.”


Alisha and the gang menjawab berbarengan, sementara siswi lainnya hanya terdiam dan bersikap sebagai saksi saja.


“Untuk itu kalian urus sendiri! Kalian diskusikan sendiri bilamana Maya berkenan.”


Bu Trisna meninggalkan mereka dan kembali ke ruang BP dengan wajah kesal, dalam hatinya ia tak percaya dengan semua tuduhan mereka karena yakin Maya itu siswa teladan, ayahnya pun bekas guru teladan di yayasan mereka.


“Puas kalian?”seru Ryan ketika dilihatnya rombongan siswi itu keluar dari kamar kecil.


“Belum!” seru Alisha sambil melengos.


“Jadi apa lagi yang kalian inginkan?”tanya Ryan dengan nada marah.


“Kami ingin periksa keperawanan Maya hari ini juga!” seru Sandra tak kalah sengit.


Niken menatap Ryan dengan wajah nyinyir.


“Oke! Pulang sekolah kita sama-sama ke rumah sakit! Cari dokter spesialis kandungan dan periksakan Maya di sana. Gue yang bayar! Puas?”seru Ryan sambil menggandeng tangan Maya pergi dari tempat itu.


Kerumunan pun bubar dan mereka kembali ke kelas.

__ADS_1


__ADS_2