Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 34: Di Pabrik Susu


__ADS_3

“Mari, Den. Saya antar,”sapa seorang satpam di pintu keluar sambil membungkukkan badan.


Satpam berpakaian coklat-coklat mirip seragam polisi itu berjalan dengan gesit memandu keduanya mengelilingi pabrik.


“Bapak tadi kirim pesan ke saya untuk mengantarkan ke pabrik. Perkenalkan nama saya Wiwin,”kata satpam itu sambil mengulurkan tangan.


Hanya lima langkah mereka telah memasuki ruangan pabrik yang terdiri dari tangka-tangki susu dalam ukuran sangat besar. Beberapa karyawan lalu lalang dalam balutan seragam putih dan tutup kepala warna hijau.


“Perkenalkan ini Pak Iman,kepala bagian produksi yang akan menjelaskan kepada kalian,”papar Pak Wiwin.


“Perkenalkan ini Ryan,putra boss kita. Dan ini Neng Maya temannya. Permisi saya tinggal dulu,”pamit Pak Wiwin meninggalkan tempat.


Pak Iman, seorang laki-laki paruh baya dengan tubuh lumayan gemuk dan perut buncit. Tubuhnya tidak seberapa tinggi dan rambut kepalanya yang tipis dipenuhi uban, tubuhnya dibalut seragam putih-putih yang longgar. Tubuhnya yang gemuk tak menghalanginya untuk bergerak lincah dan cekatan mengantarkan dua remaja itu mengelilingi pabrik.


“Jadi begini. Susu yang berasal dari peternakan dibawa kemari menggunakan truk tangka yang berkapasitas 10 hingga 12 ribu liter. Ryan pasti sering liat kan dulu?”katanya sambil tertawa.


Ryan mengangguk dan tertawa, ia ingat masa-masa kecil dulu sering diajak papa main ke pabrik sambil bermain dengan para satpam.


“Nah susu dari truk tangka diperiksa dulu bau, suhu dan kandungan bakterinya di laboratorium sebelum dituang ke dalam tangka-tangki besar yang ada di sana,”imbuh Pak Endang sambil menunjuk tangka ukuran besar.


“Itu namanya apa,Pak?”tanya Maya sambil memperhatikan tangka besar penuh dengan pipa itu.


“Itu namanya tangka pencampuran. Kapasitasnya 30 ribu liter. Di sanalah susu dicampur dengan bahan lain seperti gula dan aneka rasa yang ingin ditambahkan misalnya rasa buah pisang,”papar Pak Iman panjang lebar.


Kemudian laki-laki paruh baya itu mempersilakan mereka duduk di sebuah meja yang terdiri dari empat kursi yang terletak di ujung pabrik.


“Nah..Kita istirahat dulu sebentar. Bapak pamit mau cek karyawan dulu.”


Pak Iman meninggalkan mereka dengan berjalan cepat-cepat ke ruangan lain. Tak lama laki-laki itu kembali lagi dengan tergopog-gopoh.

__ADS_1


“Tahap berikutnya adalah sterilisasi susu dengan teknologi UHT. Caranya susu dipanaskan dalam temperatur tinggi selama empat menit. Setelah dingin lalu masuk ke mesin pengemasan.”


“Tuh,May. Kamu mau tanya apa aja silakan ke Pak Iman,”seloroh Ryan sambil tertawa.


“Bentuk kemasannya apa saja,Pak?”


“Ada berbagai ukuran. Ada yang kardus 1 literan, kardus kecil 250 ml, ada kardus kecil 180 ml dan ada kemasan pouch ukuran 180 ml,”kata Pak Iman panjang lebar.


“Lalu setelah masuk pengemasan tidak langsung didistribusikan. Tapi diteliti dulu dengan diambil 10 sampel yang diperiksa selama 1 minggu. Masing-masing pemeriksaan adalah 20 menit,”paparnya lagi.


“Wah..Harus hati-hati banget ya,Pak?”


“Pastinya..Karena ini menyangkut minuman yang harus dikonsumsi manusia. Yang diperiksa itu bagaimana aromanya, rasanya dan juga kemasannya. Kalau semua lulus QC baru didistribusikan.”


“Terima kasih banyak nih,Pak. Sudah banyak memberikan penjelasan kepada kami,”kata Maya sambil tersenyum memamerkan kedua lesung pipitnya yang menambah manis wajahnya yang cantik.


“Terima kasih,Pak. Kami mau jalan-jalan keliling pabrik dulu,”pamir Ryan sambil menjabat tangan sang kepala pabrik.


Keduanya berkeliling pabrik dan Ryan memperlihatkan tangka-tangki besar termasuk tangka pencampuran. Gadis itu memperhatikan dari dekat aneka rasa atau flavour yang dipakai, namun tak dijumpainya warna merah seperti susu yang diminum si ganteng di rumahnya. Gadis itu ingin bertanya namun niat itu diurungkannya, takut membuat Ryan tersinggung dengan pertanyaannya yang terlalu kepo.


“May..Aku ma uke toilet dulu. Kau jalan-jalanlah dulu. Tapi jangan keluar dari pabrik. Okay?”


“Sip…”


Gadis itu membentuk huruf O dengan jari jemarinya yang menandakan bahwa ia setuju. Maya berjalan berkeliling dan memperhatikan setiap pintu ruangan yang ia lalui. Karyawan sibuk dengan tugasnya masing-masing.


Derap langkah sepatu sneakersnya beradu dengan lantai sehingga menimbulkan suara berdebum ketika ia melalui sebuah lorong yang sepi dari para karyawan. Sudut matanya dilemparkan ke seluruh isi lorong yang sunyi itu. Ada sebuah pintu dengan tulisan di atasnya : Ruang R&D (Research & Development) dengan berbagai tabung reaksi dan warna warni zat makanan tersusun rapi dalam kotak persegi panjang dan kotak. Ada dua orang peneliti duduk membelakangi jendela dan seorang di antaranya meneliti dengan bantuan mikroskop. Maya berjalan ke ruangan-ruangan sebelahnya. Ada suatu ruangan yang menarik perhatiannya, sebuah ruangan paling ujung yang tampaknya jarang terjamah manusia. Ia mendekatinya, gagang pintunya tampak kuno dan mulai berkarat. Maya penasaran dengan ruangan yang nampak gelap tak berpenghuni itu. Melalui jendela yang dilapisi teralis besi itu ia mengintip dari arah luar.


Jari jemarinya pelan-pelan membuka korden kain yang mulai berdebu dan bau apeknya menyeruak masuk ke hidung gadis itu.

__ADS_1


“Ha…Hatchii..”


Maya memencet kedua lubang hidungnya dengan tujuan agar suara bersinnya tidak terdengar orang lain. Hidungnya terasa gatal karena menghirup banyak debu.


Dilihatnya ada sebuah cawan sangat besar dengan cairan warna merah menyerupai darah, namun ia tak yakin dengan pandangannya karena ruangan nyaris tertutup tak menyisakan sinar matahari masuk sedikitpun. Jantungnya berdebar makin kencang, bulu kuduknya mulai merinding dan lututnya mulai gemetaran. Maya membalikkan badannya untuk berlari sekencang-kencangnya namun sebuah tangan kekar menahannya.


“Lepasin… Lepasin aku!”teriak Maya tanpa mau menoleh untuk melihat siapa orang yang telah mencekal tangannya.


Maya mulai ketakutan dan hampir menangis. Andai bisa ia akan terus berlari tanpa mempedulikan satu tangan lainnya yang dicekal seseorang dengan sangat kuat. Maya takut satu tangannya akan terputus seperti yang ia lihat dalam film-film horor.


Gadis itu menutup muka dengan sebelah tangannya dan mulai pasrah. Bibirnya kelu, meskipun ia berniat untuk berteriak dan meminta tolong Ryan.


“May…Ini aku! Ryan.”


Maya membuka matanya dan bernapas lega. Dengan menahan air matanya yang mengambang dan hampir jatuh, gadis itu tak sadar memeluk Ryan.


“Maafin aku. Jalan terlalu jauh.”


Maya tak kuasa menahan air matanya dan menangis lirih. Ryan menghapus air mata gadis itu dan menuntunnya keluar dari lorong yang sunyi itu.


“Kamu pasti ketakutan karena habis melihat ruangan paling ujung kan?”tanya Ryan seakan bisa menebak isi hati gadis itu.


Maya mengangguk pelan, jari jemarinya terasa dingin dan lututnya masih gemetaran.


“Itu ruangan khusus papa untuk mengecek semua Analisa bagian R&D. Hanya papa yang boleh masuk sana dan memang jarang dipakai.”


“Jangan takut lagi,May. Di sini aman-aman aja. Kalau kamu masih pengen liat. Yuk kita ke peternakan sapi perah dekat sini.”


“Boleh…Tapi aku mau minum air dulu. Kita beli di jalan ya..”pintu Maya yang merasakan lehernya sangat kering dan lidahnya kelu.

__ADS_1


__ADS_2