
Mentari makin tinggi, kini berada tepat di puncak kepala, sinarnya yang panas menyengat membuat mahasiswa lebih suka menghabiskan waktu menunggu di perpustakaan yang dingin. Terlebih pula kantin hanya satu yang buka, itupun hanya menyediakan minuman dan cemilan ringan.Maya merasakan tubuhnya lemas tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ia berpuasa. Sejak kecil ia sudah terbiasa melakukan puasa penuh setiap hari. Namun tahun ini suatu hal aneh dirasakan dirinya, muda lelah, tenggorokan pun terasa kering dan tercekat, ,membuatnya ingin cepat-cepat pulang dan tidur.
“May..Kok diem aja dari tadi?”tanya Wulan sambil menepuk bahu gadis itu dengan pelan.
“Aku lagi baca. Kuliah berikutnya masih 45 menit lagi kan?”tanya Maya untuk meyakinkan.
Wulan mengangguk, lalu keduanya tenggelam dalam kebisuan karena petugas perpustakaan pasti akan menegur pengunjung yang bercakap-cakap di dalam ruangan. Maya telah habis membaca satu buku berisi 67 halaman tentang kesehatan anak, kini dirinya berjalan menuju lorong antar lemari untuk mencari buku bacaan lainnya. Hentakan sepatunya dengan keramik dapat didengar dengan jelas melalui indra pendengaran, saking senyapnya suasana di perpustakaan. Karena itu Maya harus berhati-hati dengan sedikit mengangkat ujung belakang sepatunya.Matanya terpaku pada sebuah buku yang berada di atas kepalanya, tangannya bergerak untuk meraihnya dengan hati-hati agar buku-buku di sebelahnya tidak jatuh menimpa kepala.
“Vampire Mountain oleh Darren Shan?”gumamnya.
Tiba-tiba Wulan mengikutinya, Maya menyembunyikan buku itu di belakang pakaiannya dan berpura-pura sedang mencari buku lainnya. Wulan kembali setelah mendapatkan buku yang ia cari, sementara itu Maya diam-diam membacanya di lorong. Gadis itu sangat penasaran dengan isinya.
__ADS_1
“Oh ternyata hanya cerita rekaan. Aku pikir sesuatu yang non fiksi,”pikirnya sambil mencari buku-buku lainnya.
Kembali ke tempat duduknya, Wulan asyik membaca untuk menghabiskan waktu senggangnya. Maya duduk terdiam dan mengatur napasnya, dengan tujuan ia dapat mengumpulkan energinya di ruangan sejuk sambil terkantuk-kantuk. Sepuluh menit sudah gadis itu tertidur dalam posisi terduduk, sahabatnya pun tidak memperhatikannya. Maya baru teringat akan kekasihnya, ia dapat memainkan ponselnya di perpustakaan asal tidak membuat gaduh dengan suara-suara. Ryan memberitahu bahwa sore nanti ia akan kembali ke Jakarta dengan pesawat udara dan berpesan agar gadis itu rutin meminum susu warna merah yang ia berikan. Maya tercengang membaca nasehat dari sang kekasih.
“Bukannya kamu lebih manusia daripada seorang vampire,Ryan? Mengapa harus selalu rutin meminumnya?”tanya Maya yang melemparkan pertanyaan melalui whatsapp.
“Benar. Namun di dalam darah sebenarnya ada semacam protein yang cepat sekali memulihkan sel-sel tubuh kita yang rusak. Suatu hal tidak biasa dilakukan oleh manusia,namun para vampire mengetahuinya,”sahut Ryan.
Kini Maya paham mengapa dirinya lebih mudah lelah dibandingkan puasa tahun-tahun sebelumnya, ibarat sebuah mobil yang biasa diisi pertamax, suatu ketika diisi kembali dengan pertalite maka mobil itu akan tetap berjalan namun tetap dirasakan bedanya, tarikannya tidak sekuat ketika menggunakan pertamax.
Gadis itu baru sadar, lupa meminum susu pemberian Ryan berminggu-minggu, dan tentu saja persediaan susunya masih sangat banyak. Untung selama ini Wulan tidak pernah kepo untuk membuka isi kulkas di dalam kamarnya.
__ADS_1
“Yuk kita kembali ke kelas,May!”ajak Wulan membuyarkan lamunan gadis itu.
Maya mengangguk sambil merapikan buku-buku itu dan membawanya ke petugas untuk dicatat sebagai buku yang akan ia pinjam.
“Nanti sore les online biar kamu yang pegang ya!”ucap Maya sambil memasukkan buku pinjamannya ke dalam tas.
“Ada apa,May?”
“Aku sedang datang bulan, fisikku kurang fit,”sahut Maya mencari-cari alasan.
“Baiklah,May. Istirahat saja di kamar.”
__ADS_1
“Terima kasih,Lan. Kau memang sangat pengertian.”
Maya menarik napas lega,lagi-lagi Wulan tidak menanyakan hal lebih pribadi lainnya,dan ia bersyukur kulkas di kamarnya bisa dikunci. Ia tak akan pernah membiarkan sang sahabat membuka isi kulkasnya.