Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 108: Kekecewaan Maya


__ADS_3

Sore itu sepulang dari laboratorium, Maya melipat jas praktikum dan memasukkan ke dalam tas, dibukanya ponsel untuk membaca balasan chat yang dikirimkan pada Ryan melalui whatssup. Gadis itu memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, lalu menggantungkan talinya di bahu kanannya. Wajahnya berubah muram, ada segumpal kekecewaan yang terasa sesak di dalam dada, sejuta pertanyaan berkecamuk di dalam dada. Ryan tak membalas pesannya lebih dari 24 jam.


“Tak biasanya dia begitu. Atau jangan-jangan dia punya cewek lain di sana?”tanya Maya dalam hati.


Gadis itu berjalan menyusuri halaman kampus yang riuh rendah dengan suara mahasiswa yang berjalan ke arah parkiran mobil maupun parkiran motor. Langkah kakinya terasa tak bertenaga, ia berusaha menahan air mata yang seakan ingin tumpah.


“Hai,May! Tungguin aku,”kata Wulan yang tiba-tiba mengagetkannya dengan sebuah tepukan pelan di bahu kirinya.


Gadis manis itu memperhatikan wajah Maya dalam-dalam,lalu berjalan di sampingnya sambil memeluk pinggang Maya.


“Aku tau kamu sekarang pasti sedang sedih. Itu resikonya kalau pacaran jarak jauh.”


Maya berusaha bersikap tenang dan tetap tersenyum,”Gak ada apa-apa kok,Lan. Cuma galau karena Ryan belum balas pesanku semalaman.”


Wulan menyibakkan anak rambut yang menutupi matanya sambil melepaskan tangannya dari pinggang Maya.


“Mungkin dia lagi sibuk,May. Apakah sudah kau coba telpon juga?”


“Semalam udah. Tapi gak diangkat juga.”


“Nah…Sekarang kamu coba telpon lagi.”


Maya mengambil ponsel dari tasnya sambil berjalan pulang ke kos. Tapi tak lama kemudian ponsel itu kembali dimasukkan kembali ke dalam tas.


“Lho kenapa,May?”tanya Wulan keheranan,menyaksikan Maya tak mengucapkan sepatah katapun melalui ponselnya.


“Ponselnya benar-benar mati,”sahut Maya dengan bola mata yang memerah menahan tangis.


“Coba kamu cek ke orang tuanya,May. Jangan berburuk sangka dulu,”saran Wulan sambil membuka pagar rumah kos.


“Aku ke kamar duluan Lan,”pamit Maya ketika dilihatnya Wulan berjalan ke arah kantin yang berada di bagian depan rumah kos mereka.


Pemilik kos menyewakan bagian samping rumahnya sebagai sebuah kantin mungil untuk memenuhi kebutuhan seluruh anak kos.


Sesampainya di kamar, Maya mengunci pintu dan melemparkan tasnya ke lantai,lalu buru-buru merebahkan dirinya di atas tempat tidur dalam posisi tertelungkup, wajahnya dijatuhkan di atas bantal dan menangis sejadi-jadinya hingga suaranya berubah serak, hidungnya memerah dan matanya pun sembab. Saking sedihnya, Maya tertidur tanpa sempat mandi. Hari itu rasanya gadis itu benar-benar kehilangan gairah hidup. Pikirannya mulai macam-macam, berbagai pikiran buruk datang silih berganti di benaknya. Ketika ia terbangun, waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, Maya buru-buru ke kamar mandi dan mencuci muka lalu memesan makanan online karena kantin depan telah tutup.

__ADS_1


Sambil memegang sendok dan garpu, Maya berkali-kali menatap layar ponselnya sekedar memastikan apakah Ryan telah membalas pesannya atau menelponnya seperti ia lakukan hari-hari sebelumnya. Gadis itu makan dengan terpaksa karena perutnya sudah berbunyi dan melilit kelaparan.


“Jangan-jangan Ryan ganti nomor telpon. Atau…Di acari perempuan bule yang cantik dan menarik di sana,”gumam Maya sambil menelan makanan tanpa selera.


Ketika Maya hendak menghabiskan sendok terakhir makanannya, sebuah dering telpon berbunyi. Segala kegundahan gadis itu sirna seketika, ia buru-buru meraih ponselnya dan berharap itu telpon dari Ryan.


“Boy?”


Mendadak harapan Maya pupus sudah, Ryan benar-benar telah melupakannya, hampir dua hari ia tak memberi kabar. Untuk menghubungi Om Robert rasanya enggan, ia tak ingin membebani masalah mereka pada calon mertuanya.


“Malam,Boy. Ada apa?”


“Malam,May. Kok suaramu beda? Serak banget.”


“Oh ya? Enggak kok. Ada apa,Boy?”


“Gimana kalau besok kita jalan ke mall sepulang kuliah?”


Maya sejenak berpikir, namun tiba-tiba niatnya membalas dendam atas semua perlakuan Ryan yang sudah tak mempedulikannya lagi, telah membuat tekadnya bulat untuk berselingkuh.


“Jangan lupa,May. Yaudah aku pamit dulu. Mau antar mama ke apotek 24 jam.”


“Oke. Sampai jumpa besok.”


Maya sedikit lega dan kekecewaannya sedikit terobati.


Maya berjalan ke arah lemari pakaiannya dan memilih pakaian yang paling pantas untuk kuliah sekaligus kencan pertamanya esok hari. Jari jemarinya yang lentik bergegas melepas cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya dan menyimpannya di dalam laci dan menguncinya. Tanpa mengenakan cincin itu, ia merasa lebih lega tanpa dibebani dosa. Maya bisa tersenyum kembali meskipun hatinya masih terasa perih.


Esok harinya, Maya kembali bersemangat menjalani hari-harinya di kampus. Cita-citanya menjadi seorang dokter spesialis anak tak akan pernah pupus. Wulan, sahabatnya nampak sedang melihat Maya kembali dapat menebarkan senyum manisnya ke semua orang. Namun gadis itu sama sekali tak mengetahui bahwa Maya hari ini akan merencanakan sebuah kencan dengan Boy yang telah lama mengincarnya sejak mereka menginjakkan kakinya di kampus ini.


“Gimana,May? Siap?”


Maya menganggukkan kepala ketika Boy membukakan pintu mobil untuknya. Gadis itu kembali terkenang saat-saat di SMA dimana Ryan setiap hari menjemput dan mengantarkannya kembali ke rumah. Ingin rasanya Maya kembali ke masa lampau, masa dimana sang mama masih hidup. Tanpa terasa air matanya menetes, dan ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangannya.


“Kok kamu sedih,May? Pasti sedang ada masalah dengan kekasihmu ya?”

__ADS_1


Boy seakan mengetahui isi hatinya, cowok itu pasti tahu kalau dirinya hanya dijadikan bahan pelampiasan karena sudah ratusan kali tawarannya mengajak Maya jalan ditolak dan terus ditolak dengan berbagai alasan.


“Enggak..Aku cuma inget mama.Kangen,”sahut Maya yang sedang berpura-pura.


“Maaf kalau aku salah,”kata Boy sambil menggenggam jari jemari milik Maya.


Gadis itu ingat Ryan juga suka mengelus jarinya di mobil, bedanya jari jemari kokoh milik Ryan lebih lembut karena tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sedangkan jari jemari milik Boy lebih kasar karena cowok itu memiliki hobi kebut-kebutan dan otak-atik sepeda motor juga.


Boy membawa Maya makan malam di sebuah restoran Jepang di sebuah mall. Sengaja mereka mengambil tempat agak ke dalam yang lebih tenang. Gadis itu dapat mengamati wajah Boy dari dekat, sikapnya sopan dan sangat perhatian.


“Ganteng juga. Untung ada dia. Kalau enggak, bisa-bisa aku tekanan batin kalau kelakuan Ryan begini terus,”batin Maya sambil mengambil sumpit dan mulai makan.


Maya tampak cantik dibalut blus warna krem yang dipadukan dengan kulot warna coklat tua, bibirnya dipulas tipis dengan lipstick warna merah muda. Boy pun tampak gagah dibalut kemeja warna biru tua dipadukan dengan celana kain warna putih.


“Gimana kamu nyaman gak jalan sama aku?”tanya Boy mengagetkan Maya.


Gadis itu tak menyangka bahwa cowok itu akan melemparkan sebuah pertanyaan yang paling tidak ia sukai. Maya hanya tersenyum sambil mengambil sebuah gelaas berisi jus wortel lalu meminumnya. Sorot mata Boy yang tajam menatap Maya dengan penuh cinta, Maya dapat merasakan itu, dan kini hatinya berdebar-debar. Perasaan itu buru-buru ditepisnya, karena statusnya dengan Ryan masih tanda tanya padahal tujuh purnama lagi mereka akan menikah.


“Driing…Driing…”


Maya buru-buru pamit untuk mengangkat telpon di tempat yang agak jauh. Boy mempersilakannya dan meneruskan makan malamnya. Tak lama kemudian Maya kembali lagi, duduk di hadapannya dengan wajah memucat dan bibir seakan terkunci. Maya merasa sangat bersalah setelah mendengar penjelasan dari Om Robert. Beliau baru tersadar dan membantu menge-charge ponsel Ryan yang tidak menggunakan password sehingga dapat membaca semua pesan calon menantunya. Niatnya semula tak memberitahukan keadaan Ryan akhirnya dicabut, takut sesuatu yang lebih fatal terjadi.


“Ryan koma.”


“Hah?”


Boy kaget dan menjatuhkan sumpitnya di atas piring.


Semua dugaan Maya keliru, kini gadis itu digelayuti sejuta perasaan bersalah. Air matanya tak tertahankan lagi membayangkan calon suaminya tergolek tak berdaya di ruang ICU antara hidup dan mati. Boy mengusap punggung Maya untuk menghibur gadis itu.


“Berdoa aja,May. Niscaya Allah akan memberikan kesembuhan buat umatnya.”


Gadis itu hanya mengangguk, dadanya terasa sesak, dan pandangannya mulai kabur.


“May…Bangun May,”tangan Boy mengguncang-guncangkan tubuh Maya yang ambruk di pangkuannya. Maya pingsan karena tak kuasa menahan sedih dan sejuta perasaan bersalahnya.

__ADS_1


__ADS_2