
Lagu prosesi pengantin mengalun merdu, mengiringi langkah Maya dan Ryan memasuki ballroom sebuah hotel bintang lima. Sepuluh pagar ayu berada di kanan dan kiri jalan yang beralaskan karpet merah. Enam orang penari menyambut kedatangan pengantin sambil menabur bunga. Para pengunjung berdiri untuk memberikan penghormatan pada pengantin. Acara dipimpin oleh dua orang master of ceremony dan dimeriahkan oleh tiga orang penyanyi kenamaan.Sepasang pengantin duduk di singgasana yang megah sementara pengunjung mulai menempati tempat duduknya masing-masing, acara berlangsung seru dan meriah. Ada empat orang pengapit, sepasang pengapit kecil laki dan perempuan yang bertugas menabur bunga saat awal masuk dan dua pengapit besar yang bertugas membantu membawakan ekor gaun pengantin agar tidak terinjak. Pengantin laki-laki tampak sangat tampan dalam balutan jas warna hitam, dasi kupu-kupu, dan sebuah bunga tersemat di dada sebelah kiri sementara itu pengantin wanita tampak cantik dan anggun dalam balutan busana pengantin internasional dengan ekor menjuntai sepanjang dua meter.
“Aku bahagia banget hari ini May,”ucap Ryan ketika duduk di singgasana.
“Sama. Akhirnya bisa juga kini jadi pengantin,”sahut Maya sambil tertawa.
Fotografer dan videographer di bawah sibuk mengabadikan momen-momen penting.
Kue pernikahan setinggi tujuh tingkat menghiasi pesta pernikahan megah mereka. Semua pengunjung tampak gembira menghadiri pesta pernikahan mewah yang dihadiri tak kurang dari 3000 pengunjung. Semua tampak bahagia menikmati hiburan dan hidangan pesta yang beraneka ragam dan sangat enak.
Saat paling menegangkan untuk para pengunjung adalah saat acara lempar bunga oleh pengantin wanita. Maya membalikkan tubuhnya membelakangi pengunjung yang masih lajang. Sebagian besar dari mereka adalah teman-teman kedua pengantin yang berharap dapat menangkap bunga dari pengantin wanita.
“Ayo,May! Lempar cepat!”seru Affandra yang juga hadir di pesta pernikahan itu.
Waktu pernikahan keduanya diselenggarakan ketika liburan semesteran tiba, sehingga semua teman keduanya memiliki waktu untuk menghadiri momen indah tersebut.
Wulan berdiri dengan jantung yang berdegub kencang, hubungannya dengan seorang kakak tingkat di Fakultas Kedokteran Umum masih sebatas pendekatan dan belum terlalu dalam. Pengunjung yang masih lajang berdiri membentuk separuh lingkaran. Ryan memandang sambil tertawa ketika Maya membalikkan badan dan bersiap melempar sejauh mungkin.
“Ayo tangkap!”serunya sambil tertawa.
“Hup….”
Akhirnya rangkaian bunga cantik itu berhasil ditangkap Alisha. Wulan hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
“Artinya pernikahanku masih lama. Yasudahlah,”batin Wulan sambil menenangkan diri.
“Terima kasih May. Aku memang akan menikah tahun depan,”ucap Alisha sambil memeluk Maya.
Kini keduanya sudah berbaikan dan tidak lagi bermusuhan seperti masa SMA mereka dulu.
“Oh ya? Siapa calonmu?”tanya Ryan yang ikut nimbrung dengan rasa penasaran.
Alisha hanya tersenyum, kemudian Affandra angkat bicara.
“Calon dia orang hebat. Politikus dan seorang pengusaha ,”ujar Affandra.
“Hush! Main bocorin rahasia orang aja,”tegur Alisha sambil tertawa.
__ADS_1
Kedua pengantin pun ikut tertawa, rupanya Alisha sangat beruntung sepanjang kehidupannya. Selain cantik dan kaya raya, ia dikelilingi oleh orang-orang berpengaruh dan berlimpah materi.
“Selamat ya..Semoga pernikahan kalian langgeng,”ucap salah seorang tamu ketika berpamitan. Keduanya berdiri di pintu keluar didampingi orang tua dan para wali.
“Terima kasih atas kehadirannya,”ujar Ryan sambil menjabat tangan mereka satu-persatu.
“Terima kasih atas kedatangannya,”ucap Maya pada pengunjung lainnya.
Pesta pun usai, sebagian besar teman SMA dan kuliah Maya hadir di pesta pernikahan itu. Mereka turut berbahagia, kisah cinta semasa SMA dapat berlanjut hingga kini dan selamanya.
Ballroom kembali sepi, hanya beberapa kerabat dekat yang masih tertinggal. Beberapa keluarga besar Maya dari berbagai daerah masih ada di ruangan itu.
“Nah..Maya akhirnya kamu mendapat keluarga baru. Mama dan papa pasti ikut bergembira melihatmu dari Surga,”ucap Tante Westi adik sang mama.
“Iya,Tan. Aku sangat bahagia hari ini,”sahut Maya dengan bola mata berbinar-binar.
“Jangan lupa tetap semangat melanjutkan kuliahmu May,”pesan Om Irwan adik sang mama yang lain.
“Pasti,Om. Setelah ini Ryan juga akan balik ke Amerika untuk kuliah,”sahut Maya sambil menganggukkan kepala.
“Bagus!”seru Om Irwan sambil tertawa lebar.
“Iya,Tan. Maya juga belum bisa bagi waktu. Kuliahnya padat tiap hari,”sahut Maya sambil tertawa, bola matanya berbinar-binar.
“Kami pamitan dulu,nih.”
“Hati-hati di jalan tante,om…Terima kasih atas kehadirannya,”seru Maya sambil melambaikan tangan ke arah mereka.
“Nah..Kalian kini sudah resmi menjadi pasangan suami isteri. Tapi harus mengutamakan kuliah kalian masing-masing. Bulan depan Ryan akan kembali ke Amerika dan kamu kembali ke Jogja,”ujar Om Robert sambil menepuk bahu Ryan.
“Iya,Om. Eh papa Robert,”ucap Maya sambil tertawa.
“Mulai sekarang panggil papa. Papaku kan papamu juga mulai saat ini,”ujar Ryan sambil tertawa.
Mobil pengantin pun pulang, dan keduanya menggantinya dengan mobil milik pribadi untuk pulang ke rumah.
“Selamat ya,Den. Semoga pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan,”ujar Pak Ujang yang memegang kemudi.
__ADS_1
“Makasih Pak,”ucap Ryan sambil tertawa.
“Den Ryan ini bapak anter jemput sekolah dari masih kecil. Jaman kalau ngegambar masih urek-urek,”ujar supir itu sambil tertawa.
“Urek-urek apaan,Pak?”tanya Maya sambil terkekeh.
“Itu lho…Benang ruwet,”sahut Pak Ujang sambil tergelak.
Ryan hanya tertawa sambil mengenang masa kecilnya yang tiap ke sekolah selalu diantar jemput Pak Ujang dan pengasuhnya.
“Oh..Menggambar benang kusut. Tapi memang sampai sekarang Ryan gak pinter gambar sih,”ledek Maya yang disambut cubitan Ryan di pipi kiri.
“Ah kamu! Sakit tau…”teriak Maya sambil meringis.
“Pengantin baru gak boleh berantem! Pamali,”tegur sang supir sambil tertawa.
Robert Sanders mengendari mobilnya sendiri ke arah lain.
Mobil memasuki halaman rumah Ryan yang sangat megah di ibukota, sepuluh art telah siap menyambut di depan rumah. Mereka menurunkan baki berisi sumbangan para tamu dan kado lainnya. Sementara yang lain bertugas membantu mengangkat ekor gaun pengantin yang sangat panjang dan membantu Maya hingga mencapai kamar.
“Capek banget hari ini,”keluh Maya saat mereka berada di kamar.
“Aku mandi dulu May,”seru Ryan sambil melempar jasnya ke pakaian kotor.
“Itu dilaundry lalu Pak Ujang mesti balikin lagi lho,”ujar Maya mengingatkan.
“Iya tau kok.”
Maya membersihkan wajahnya di depan cermin dan melepaskan semua hiasan rambut. Dandanan yang sangat tebal dan berlapis-lapis itu membuatnya harus membersihkan wajahnya berulang-ulang hingga bersih.
Ryan muncul dengan wajah yang masih dipenuhi bulir-bulir air, ia mengambil pakaiannya di lemari. Kini gantian Maya membersihkan diri di kamar mandi. Gemericik air yang keluar dari pancuran shower mengguyur rambut dan tubuh Maya. Air yang hangat dan menyegarkan. Maya memandang wajahnya di depan cermin yang terletak di atas wastafel kaman mandi.
“Kini aku bertambah dewasa dalam tugas, sebagai istri dan calon ibu kelak,”gumamnya sambil mengeringkan rambut dengan pengering rambut.
Kini Maya memilih pakaian tidur warna merah marun yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.
“Cantik banget May,”puji Ryan.
__ADS_1
Netra hitam milik Maya beradu pandang dengan netra coklat muda milik Ryan, mereka pun tersenyum dan menikmati malam pertamanya yang indah.